DSC07674-01

Review Matras Yoga: Happy Fit Eco Friendly

Seiring masih banyak yang bertanya pada saya mengenai rekomendasi matras yoga untuk pemula, jadi saya kembali menulis review seputar matras yoga. Kebetulan saya baru mencoba matras baru buatan lokal berbahan TPE, yaitu Happy Fit Eco Friendly Yoga Mat.

TPE (Thermal Plastic Elastomer) adalah paduan plastik dan karet. Simpelnya, matras yoga berbahan ini memiliki tekstur yang kuat namun fleksibel untuk dapat digulung atau dilipat. Bahan ini telah menjadi primadona karena terkenal dengan jenis matras yoga yang eco friendly.

Sebelum membahas lebih jauh, saya mau pamer dulu. Warnanya cakep banget ya!

Happy Fit Eco Friendly Yoga Mat memiliki dua lapisan warna.

Jujur nih…

Saya sebenarnya sudah punya matras yoga dengan bahan dan tekstur yang sama. Dan matras itu lama menjadi favorit saya karena ringan untuk dibawa-bawa dan juga memiliki cushion yang baik.

Buat para pemula, saya merekomendasikan matras yoga jenis ini!

APAKAH LICIN SAAT DIPEGANG?

Pertimbangan pertama para yogi memilih matras biasanya “Licin gak, ya?”. Matras yang licin memang mengurangin rasa nyaman dan jadi kurang konsen.

Hampir semua matras – yang mahal sekalipun– bisa terasa licin jika tangan sudah sangat berkeringat. Namun, kita bisa memilih yang paling sedikit rasa licinnya.

Makanya saya suka pegang-pegang teksturnya sebelum membeli. Kalau memang beli online, ya cari-cari review produknya.

Semoga review saya yang ini jadi bahan petimbangan teman-teman juga ya.. ehe..

Matras yoga berbahan TPE biasanya memiliki grip yang cukup baik. Jadi, masalah untuk tergelincir sepertinya lebih bisa diminimalisir.

Permukaan matras ini memiliki tekstur motif timbul, yang membuat tangan dan kaki kita lebih steady di atas matras. Lebih tertahan dari resiko geser.

Matras yoga yang baik membantu kita lebih stabil dalam melakukan gerakan

Namun, saat melakukan gerakan Adho Mukha Svanasana (Downward-Facing Dog Pose) memang agak sedikit geser. Berbeda dengan gerakan Plank Pose atau Head Stand Pose. Lebih steady. Begitu pun saat melakukan standing pose seperti warrior pose, kedua kaki cukup mantap menapak tanpa geser.

APAKAH CUSHION-NYA NYAMAN?

Buat yang mengalami masalah lutut, memang tidak disarankan memakai matras yoga dengan ketebalan di bawah 6mm. Semakin tebal tentunya semakin baik karena mengurangi penekanan ke lutut.

Tetapi… semakin tebal matras yoga biasanya mengurangi keseimbangan saat melakukan gerakan. Karena lebih goyang. Coba saja berdiri di atas bantal. Kaki kita seperti berada di atas kapal laut yang berombak: Oleng ke kanan dan kiri.

Matras yoga 6mm cukup nyaman untuk menopang lutut

Happy Fit Eco Friendly ini memiliki ketebalan 6mm. Buat saya sih ukuran ini pasling pas.

Dengan ketebalan seperti ini, bagian tubuh untuk menopang cukup merasa nyaman, namun masih bisa menjaga tubuh untuk tetap seimbang dan stabil saat melakukan gerakan tertentu.

Tapi… tingkat kekuatan lutut setiap orang berbeda nih!

Apalagi yang memang memiliki maslaah di bagian tersebut. Jika memang matras yoga dengan ketebalan 6mm masih terasa sakit, bisa memilih matras yoga dengan ketebalan 8mm.

APAKAH BISA DIPAKAI DALAM WAKTU YANG LAMA?

Pertanyaan ini saya masih sulit menjawab karena matras ini menjadi teman berasana saya baru satu bulan lamanya.

Menurut penerawangana saya, sepertinya sih akan bertahan sampai satu tahun ke depan dan selanjutnya. Karena bahan ini sangat mirip dengan matras saya yang lainnya dengan bahan TPE juga (Masih keukeuh gak mau nyebut merek biar gak ada pihak yang sakit hati heheh..).

Tingkat disiplin kita dalam menyimpan dan membersihkan matras yoga juga berpengaruh pada kekuatan bahan. Saat melakukan gerakan yoga, tubuh kita akan mengeluarkan keringat dan menempel pada matras. Bakteri suka pada tempat yang lembab.

Jadi… sebaiknya matras yang habis dipakai langsung dibersihkan kembali. Jika memang tidak bisa rutin setiap hari, minimal langsung dilap kembali hingga kering. Jadi matras kita tidak lembab.

Hindari terkena paparan sinar matahari langsung. Menjemur langsung di bawah sinar matahari akan membuat bahan matras kita kering dan rusak. Duh, sayang kan matrasnya!

Kalau mau dijemur sebaiknya tidak lama-lama. Di dalam ruangan dengan paparan suhu AC harusnya cepat kering juga sih.

Matras Happy Fit Eco Friendly ini biasanya saya lap dan dikeringkan di dalam ruangan. Dan dalam hitungan detik langsung kering kembali. Jadi saat saya gulung sudah tidak meninggalkan basah.

Matrasnya cepat kering karena sebenarnya matras ini berbahan closed-cell, yaitu tidak menyerap  air. Jadi  keringat yang mengalir tidak mengendap ke bagian dalam matras. Ini yang membuat matras bisa lebih bertahan lama.

APAKAH HARGA CUKUP BERSAHABAT?

Setiap teman yang menanyakan matras yoga, hal pertama yang saya tanya adalah:

Budget-nya berapa?

Jadi gini..

Saya juga masih mikir-mikir kalau harus membeli matras yoga yang terlalu mahal. Namun, demi kenyaman melakukan gerakan yoga, kualitas matras yoga gak mau saya kesampingkan.

Bahan TPE ini menjadi favorit saya, akan tetapi biasanya memang memiliki range harga di atas 500 ribu rupiah. Saya gak bilang murah tapi gak bilang mahal juga. Karena tidak sampai jutaan rupiah.

Tetapi buat pemula biasanya masih lumayan mikir beli matras harga segitu, kan?

Jika kamu mengintip web resmi Happy Fit Indonesia, harga matras yang saya pakai senilai Rp.380.000. Mengingat harga bisa berubah, asaya sarankan langsung meluncur dan cek sendiri.

Harga ini setengah harga dari matras saya sebelumnya yang memiliki bahan yang sama. Satu matras terdiri dari 2 warna. Ada 7 piilihan warna. Kalau yang saya pakai warna tosca-green.

Sebenarnya ada beberapa pilihan bahan untuk matras yoganya. Ada yang berbahan dasar PVC dan NBR dengan beberapa pilihan warna. (Bisa googling apa itu PVC dan NBR)

Nah, sekian review matras yoga tema Happy Fit Eco Friendly. Semoga membantu ya…

Processed with VSCO with  preset

9 Hal Tentang Tampon yang Wanita Harus Tahu

Menstruasi dan olahraga bukan pasangan yang tepat. Saya merasakan banyak kendala yang dialami ketika harus latihan atau mengikuti race saat darah mens sedang banyak-banyaknya. Selain fisik yang suka agak ngedrop, ada rasa takut kalau “nimbus” gara-gara terlalu pecicilan.

Nah, gimana kalau harus renang pas mens? Ngerinya kan makin-makin.

Ini yang saya alami ketika pertama kali mengikuti ajang Mini Triathlon tanggal 28 Januari yang lalu. Ketika itu saya harus berenang sejauh 400 m, bersepeda sejauh 22 km, dan juga berlari sejauh 5 km. Untuk event triathlon, waktu transisi juga dihitung. Jadi mana sempat harus ganti pembalut dulu, kan!

Aktivitas kaya gini gak mungkin pakai pembalut biasa , kan?

Akhirnya saya mulai mencari cara bagaimana masa menstruasi ini tidak menjadi penghambat. Mulailah mencari tahu tentang tampon. Selama ini sudah tahu tapi kayanya ngeri aja gitu pakenya. Ada alat yang masuk ke dalam lubang vagina, gimana gak ngeri?

Kemudian saya tanya ke teman-teman yang pernah memakai tampon. Rata-rata dari mereka mengatakan bawa memakai tampon itu aman dan cukup nyaman. Nah, baru deh saya beneran beli hihihi..

APA SIH TAMPON ITU?

Tampon tuh fungsinya sama seperti pembalut, yaitu menyerap darah menstruasi. Jika pembalut biasa berupa pad yang ditempel di celana dalam, tampon dimasukan ke lubang jalur menstruasi.

Tampon berbentuk silinder dan sangat mungil

Ini yang membuat tampon ini banyak digunakan oleh wanita yang aktif dan para atlet, karena bagaimana pun kamu bergerak, tidak akan luber kemana-mana. Karena kan lubangnya ditutup dan darah mens-nya diserap oleh tampon.

Tampon terbuat dari kapas lembut yang dipadatkan. Bentuknya silinder untuk memudahkan dimasukkan ke dalam jalur menstruasi. Daya serap dari tampon pun beraneka rupa, tergantung masa menstruasi yang kita alami. Pas lagi banyak-banyakannya disarankan memakai takmpon dengan daya serap yang tinggi, begitu pun sebaliknya.

APAKAH TAMPON BISA MERENGGUT KEPERAWANAN?

Pertanyaan ini sebenarnya tidak dari saya karena saya sendiri ibu dari dua orang anak. Tapi ada teman latihan saya yang takut memakai tampon karena masih perawan. Hmm..

Berita baik buat teman-teman yang masih perawan:

TAMPON TIDAK AKAN MERENGGUT KEPERAWANAN!

Karena yang bisa merenggut keperawanan adalah pasangan kita, bukan tampon.

Selaput dara adalah jaringan kulit sangat tipis yang menempel pada dinding vagina, bukan menutupi seluruh bukaan vagina. Dalam selaput dara terdapat bukaan pada baguan tengah untuk jalur darah menstruasi kelua dan sifatnya elastis. Jadi saat tampon dimasukkan, kemungkinan akan robeknya sangatlah kecil. Maka itu saya sarankan saat memasukkannya harus tenang dan rileka.

Selain itu, selaput dara juga bersifat elastis sehingga jika bisa meregang mengikuti tampon ataupun penis. Jadi sangat kecil kemungkinannya selaput dara akan sobek ketika menggunakan tampon.

Tapi tampon ini kan hanya alat berentuk silinder yang mungil yang berfungsi menyerap darah menstruasi, sedangkan status keperawanan kita ditentukan dengan adanya penetrasi di vagina. Jadi, selama tidak ada Mr.P yang masuk ke dalam vagina, status kamu masih perawan. Kalau ada yang bilang udah gak perawan gara-gara memakai tampon, sini sini bawa ke tante Fitri nanti tante tampar.

Ehe.

BAGAIMANA MENGAPLIKASIKAN TAMPON YANG BENAR?

Dalam kemasan, biasanya ada petunjuk penggunaan. Ada jenis tampin yang menyertakan aplikatir dan ada yang tidak. Kebetulan saya mendapat tampon yang tidak menyertakan aplikator. Kalau kamu ragu bisa juga buka-buka youtube.

Kalau mau tau cara saya, begini ya…

  1. Cuci tangan dengan sabun dan jangan lupa dikeringkan lagi ya!
  2. Duduk dengan nyaman di closet dan bersihkan vagina dari sisa-sisa darah dengan air.

Proses nomer satu dan dua ini buat saya wajib agar minimalisir masuknya bakteri dan kuman ke dalam lubang vagina. Organ kewanitaan mesti dijaga kan, gaes!

Bentuk tampon setelah lapisan plastiknya dibuka. Terdapat benang yang menjuntai di ekornya.
  1. Buka plastik yang membungkus bagian tampon.
  2. Tarik benang yang menjadi bagia dalam tampon karena nanti benang ini yang akan memudahkan kamu saat ingin melepaskan tampon.
  3. Buka bagian labia dengan jari jempol dan jari manis dari tangan kiri.
  4. Masukkan tampon dengan tangan kanan dan dorong dengan jari tengah hingga seluruh permukaannya masuk ke dalam.
  5. Oiya, benangnya biarkan menjuntai ke luar biar kamu tetap[ yakin tampon masih tersimpan di area yang aman hehe..
  6. Jangan lupa cuci tangan dengan sabun setelahnya!

Percayalah bahwa prosesnya gampang banget!

Cuma memang kita harus rileks supaya proses masuknya ini lancar. Kalau misalnya gagal, ganti dengan tampon baru dan ulangi lagi. Jangan disayang-sayang demi alasan menghemat, ya!

BAGAIMANA CARA MELEPASKAN?

Prosesnya hampir sama, kok.  Harus dimulai dengan mencuci tangan dengan bersih, lalu bersihkan juga vaginanya dengan air. Biar lebih nyaman dan juga higienis.

Kalau saya sih selalu memilih posisi duduk di closet untuk memasang dan melepas ta,pon dari vagina. Karena posisi ini membuat saya lebih santai dan kalau ada darah mens yang keluar gak meluber kemana-mana (ya kalau jatuh ke closet kan tinggal di flush!).

Dalam posisi duduk, tarik benang yang menjuntai hingga seluruh permukaan tamponnya keluar dengan selamat.

Setelah itu bersihkan tampon dan buang pada tempatnya. Ada beberapa orang yang langsung dibuang tanpa membersihkan dahulu. Kalau saya agak jijik membuang pembalut atau tampon yang masih berisi darah mens. Selain baunya yang mungkin akan kemana-mana, banyak bakteri yang menempel di pembalut/ta,pon bekas pakai.

Selain tampon, vagina kita juga mesti dibersihkan lagi sebelum memasang tampon atau pembalut yang baru.

Setelah itu bersihkan kembali tangan dengan sabun dan…

CLING!

APAKAH TAMPON BISA HILANG DI DALAM?

Agak konyol sih, tapi sejujurnya saya juga sempet kepikiran gini juga. Gimana ya kalau dia nyasar ke dalem?

Ternyata kemungkinan ini sangat kecil dan sangat tidak mungkin. Jadi tampon itu akan tetap pada tempatnya karena himpitan otot vagina kita. Kalau pun nyasar ke dalem ya tinggal masukkan jari kita ke dalam dan tarik ke luar.

BERAPA LAMA TAMPON HARUS DIGANTI?

Saya tahu dan merasakan sekali malasnya saat menstruasi itu mesti ganti-ganti pembalut. Nah, saat memakai tampon pun sama dan justru harus lebih rajin lagi.

Biarpun malas, tapi harus mau maksain badan mengganti tampon dengan disiplin. Sebaiknya setiap 3-5 jam diganti, terutama saat sedang banyak-banyaknya. Saat race minitri kemarin sih saya bisa bertahan memakai tampon selama 7 jam. Itu digunakan untuk berenang, bersepeda, berlari, dan menyetir pulang ke rumah (Alam Sutera – Bekasi).

Tapi saat mengikuti ajang Mini Triathlon kemarin, masa menstruasi saya berada dalam hari ketiga, sedangkan masa deras-derasnya itu di hari pertama dan kedua. Walaupun begitu cara saya ini tetap salah sih. Memakai tampon yang sama sampai 7 jam itu sepertinya hanya sekali dalam seumur hidup. Saya tidak akan membiarkan memakai tampon yang sama lebih darii 6 jam.

Biasanya kalau sudah kena basah langsung saya ganti karena daya serapnya akan berkurang jika sudah terkena air. Dan jadi gak nyaman juga.

Saya menggunakan tampon hanya di siang hari, karena alasan aktivitas. Terutama saat olahraga. Jika aktivitas cenderung sedikit saya memilih menggunakan pembalut. Jadi, kalau tidur sih sebaiknya menggunakan pembalut saja.

Perlu diingat, tidak disarankan memakai tampon yang sama lebih dari 6 jam! Jadi kamu boleh tidur menggunakan tampon apabila rela bangun tengah malah untuk menggantinya.

APA RESIKO JIKA TIDAK DISIPLIN DALAM ATURAN PENGGUNAAN TAMPON?

Dari penjelasan di atas saya selalu menuliskan wajib mencuci tangan terlebih dahulu agar tangan kita saat memakai tampon tetap higienis. Selain itu juga saya menulis untuk disiplin dalam mengganti tampon.

Semua ini ya tentu saja untuk mengurangi resiko terkena penyakit yang aneh-aneh. Apalagi saat saya mencari tahu tentang tampon tertulis juga soal Toxic Shock Syndrome (TSS).

Apa sih TSS?

Menurut artikel yang saya baca di situs Hello Sehat, TSS ini semacam penyakit langka yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Umumnya sindrom ini disebabkan oleh racun yang diproduksi oleh bakteri Staphylococcus aureus (staph), tapi pada beberapa kasus penyebabnya adalah racun dari bakteri streptococcus (strep) grup A.

Walaupun penyebabnya bukan karena tampon, tapi TSS bisa terjadi pada wanita yang menggunakan tampon. Kok bisa?

Jadi..tampon tidak hanya menyerap darah menstruas, tapi juga berbagai cairan alami yang dibutuhkan oleh vagina. Apalagi kalau memakai tampon dengan daya serap tinggi padahal darah mens kita sudah tidak dalam keadaan deras, nah kemungkinan cairan lain di dalam vagina kan terserap juga.

Tampon kan bisa dikatakan sebagai alat serap, jadi dia gak milih-milih yang diserap darah mens atau cairan lainnya. Dalam kondisi basah bakteri kan mudah banget tumbuh dan berkembang, salah satu kemungkinannya ya TSS ini.

Tidak perlu jadi takut menggunakan tampon, karena sebenarnya kasus ini sangat jarang. Hanya 17 dari 100.000 wanita yang memiliki risiko terserang TSS setiap tahunnya.

Tapi mencegang lebih baik daripada mengobati. Jadi, disiplin itu memang sangat perlu buat menghindari terkena penyakit yang tidak diinginkan.

Sebaiknya mengenali tanda-tanda terkena TSS ini. Biasanya TSS ditandai dengan munculnyaa ruam pada kulit, demam tinggi, mual atau muntah-muntah, diare, kulit pucat, dan nyeri otot atau kepala.

DI MANA BISA MENDAPATKAN TAMPON?

Tampon ini memang sangat jarang ya beredar di pasaran. Saya diberitahu teman kalau tampon bisa dibeli di drug store, seperti Watson, Guardian, Century, dll. Tapi ternyata tidak ada di setiap store-nya mereka. Saya cari di toko-toko obat di FX ya gak dapet. Untungnya saya dapat juga di Watson yang berada di Sumarecon Mall Bekasi.

Kebetulan hanya ada 1 merek di sana, yaitu Natracare. Ada pilihan yang daya serap regular atau super. Karena saya memakai di saat deras, jadi saya pilih yang super. Kira-kira bentuknya seperti ini…

Untuk pasar online, ada dua merek yang beredar di pasaran:Natracare dan Tampax. Coba cek di Tokopedia, Lazada, dan Shopee. Hati-hati barang palsu ya. Kalau harga yang terlalu murah sebaiknya dihindari. Ya jaga-jaga aja kan..

Processed with VSCO with  preset

Catatan Lari Sepanjang Tahun 2017

Tahun 2017 menjadi tahun yang banyak warna. Banyak hal baru lagi yang dialami, salah satunya mencoba hal yang tadinya saya takuti: berlari full marathon.

Dari niat cuma nyicipin aja tapi akhirnya malah dua kali nyobainnya. Seneng banget sih nyiksa diri!

Kemarin saya sempat iseng menghitung berapa banyak medali lari yang diperoleh tahun 2017. Teryata totalnya ada 20 medali, khusus untuk satu tahun itu. Jadi pengen napak tilas perjalanan berlari di 2017. Boleh, kan?

Pecah Virgin Full Marathon

Niat pertama mendaftarkan diri untuk mengikuti full marathon (FM) adalah menebus rasa penasaran. Walaupun taku banget menghadapin jarak yang buat saya  tidak biasa (42KM), tetapi ada juga rasa penasaran. Dari pada cuma penasaran kan mendingan nyobain langsung. Ya, gak?

Ajang lari FM pertama sengaja saya pilih yang agak jauh dikit, tapi gak jauh-jauh banget: Kuala Lumpur.  Standar Chartered Kuala Lumpur Marathon (SCKLM) menjad tempat sya melepaskan keperawanan berlari marathon. Kebetulan banyak juga temen-temen yang ikut. Jadi kayanya bakalan seru.

Pengalaman menjalani FM Pertama sungguh luar biasa. Terharu aja ternyata saya bisa melaluinya. Biarpun malam sebelumnya saya susah tidur karena nervous.

Race course marathon pertama cukup menantang karena banyak menghadapi tanjakan. Kontur di sana kan memang lumayan hilly. Tapi akhirnya bisa dilalui dengan catatan waktu resmi 5 jam 27 menit.

7 Kali Half Marathon

Karena punya target mengikuti ajang lari FM, maka saya mencoba membiasakan berlari jarak jauh dengan mengikuti race berjarak half marathon (21,1KM).

Ini trik saya biar mau long run sih. Kalau gak ada race suka ada aja alasannya yang membuat larinya gak sesuai target. Bosen aja kayanya.

Tanpa terasa ternyata medali untuk jarak HM di tahun 2017 sebanyak 8 kali dengan  race 2XU Compression Run 2017 sebagai penutup. Dan dengan selesainya race terakhir tersebut maka total medali HM saya ada 11 buah. Lumayan lah ya,,,

Suprisingly, medali yang menjadi favorit didapatkan di race jarak half marathon ini. Dua medali full marathon saya kayanya biasa aja. Best medal versi saya: Superball Run, Pocari Run, 2XU Compression Run.

Full Marathon Kedua di Jakarta Marathon 2017

Pengalaman FM pertama rupanya membuat saya jadi penasaran mau mencoba lagi. Setelah menghitung jeda waktu untuk persiapan menghadapi FM berikutnya, Jakarta Marathon adalah ajang lari yang paling tepat.

Sebenarnya sempat goyah juga mau menjalankan FM kedua ini. Karena banyak teman -termasuk pelatih saya sendiri- agak kawatir saya mengikuti race FM di Jakarta Marathon. Kalau pelari tau lah ya kenapa alasannya..

Tapi saya kembali menguatkan tekad dan jalani aja tanpa target waktu.  Ya karena udah bayar juga. Race-nya kan lumayan muahal!

Akhirnya bisa juga sih. Hehe,,

Menjalani 2 Kali Race Half Marathon dan 1 Kali Race Full Marathon dalam Waktu 1 Bulan

Bulan Oktober kemarin saya mengikuti race Superball Run dan Combi Run dengan jarak masing-masing 21KM. Jeda waktu antara kedua race hanya satu minggu.

Masih kelelahan habis panas-panasan di Superball harus lanjut panas-panasan lagi di Combi Run. Saat di Combi Run kaki mulai terasa goyah. Mulai kelelahan di KM 10, padahal masih ada 11 kilometer lagi yang harus ditempuh. Masing-masing bisa finish dengan jarak 2 jam 17 menit. Lumayan sih ya.

Oiya, di Superball Run kemarin mendapat limited finisher tee untuk 200 orang pertama yang berhasil menerobos garis finish. Gak nyangka juga sih, Ternyata saya gak lambat-lambat banget hehehe..

Tapi belum bisa santai dulu, karena 2 minggu lagi saya harus lari lagi di Jakarta Marathon dengan jarak 42KM itu. Matik gak tuh?

Pertama Kali Naik Podium

Sebelumnya memang sudah pernah mendapat peringkat kelima putri dan nyobain dapat hadiah saat mengikuti Lombok  Marathon 2016 dengan jarak 21KM, tapi gak pernah merasakan naik podium!

Beberapa hari sebelum race tiba-tiba mendaftarkan diri secara kolektif untuk race Jakarta Midnight Marathon. Saya pikir karena lokasi di sekitar CFD kan jadi berasa latihan. Selain itu saya juga kangen mengikuti race dengan jarak 10KM.

Pas larinya sebenernya sedang gak mood. Karena pas berangkat grasak-grusuk. Malahan BIB sempat ketinggalan padahal sudah di jalan. Akhirnya balik lagi ke rumah buat ambil racepack yang tertinggal.

Pas sampai venue, seperti biasa: mules. Jadi harus lari-lari ke toilet padahal 15 menit lagi harus start. Entah kenapa penyakit saya ini selalu kebelet pipis atau pun menjelang race.

Karena buru-buru, glu-gel yang jadi bekal sarapan sebelum berlari pun ketinggalan. Padahal saya belum makan dan habis pup pula. Yasudah deh di bawa santai aja.

Ketika di KM 3, jam saya gak sengaja kepencet. Yang membuat catatan waktu dan jarak lari saya hilang. Makin bete dong!

Saat nyaris memutuskan untuk keluar dari race (DNF), teman saya berkata kalau di depan saya baru sedikit jumlah pelari wanitanya. Itu artinya peluang untuk mendapat podium lumayan besar. Jadi semangat dong! Kesempatan yang langka banget!

Di KM 5 saya mulai menyalip pelari wanita yang berada di urutan 3. Pertama kali dalam hidup ditemani marshal sepeda sampai garis finish. Oh.. gini toh rasanya..

Akhirnya di tahun 2017 saya bisa merasakan pertama kali diiringi marshal sepeda dan pertama kali naik podium untuk jarak 10K wanita. Pelari lambat seperti saya ternyata ada kesempatan juga ya..

Cedera Terparah dan Terlama

Sepanjang saya suka lari dan ikut race, memang beberapa kali mengalami cedera. Tapi yang terakhir ini lumayan lama.

Mungkin memang kaki saya terlalu cape dan belum kuat berlari full marathon, betis kanan saya terasa nyeri sekali. Ya mungkin memang harus istirahat.

Borobudur Marathon pun akhirnya saya lepas. Meskipun sebenarnya jarak yang saya ikuti hanya 21KM. Agak sayang sih karena  katanya bagus banget yang tahun ini. Tapi kalau lagi cedera juga percuma kan?

Beda cerita dengan 2XU Compression Run. Saya pikir karena sudah sebulan jeda dari Jakarta Marathon dan setelahnya saya istirahat jadi gapapa lah sekali lari di 2XU Run ini. Jadi biarpun kaki masih belum pulih saya memaksakan untuk tetap ikut.

Dengan menahan rasa ngilu saya tetap berlari di 2XU dengan jarak 21,1KM. Finish dengan waktu  2 jam 21 menit. Melorot jauh ya dari HM sebelumnya.

Tapi memang gak bisa untuk ngejar speed dulu. Daripada gak bisa lari, kan?

Waktu yang merosot ini sebenarnya karena jaraknya juga  lebih, jika berpatokan dengan waktu di garmin watch saya. Kalau dilihat dari total pace-nya sih tidak ada penurunan sama sekali.

Taoi sukup hepi karena bisa tamat race terakhir di 2017. Bahagianya ternyata cuma sementara. 3 jam kemudian kaki kanan saya terasa nyut-nyutan parah. Bahkan jalan ke kamar mandi aja susah.

Esok harinya saya kembali mendatangi Dr. Susetyo, spesialis sport akupuntur, buat terapi. Setelah diakupuntur ternyata tidak langsung pulih. Harus sabar banget buat bisa balik lari lagi.

Alhamdulillah ketika saya menulis ini (1 bulan kemudian), kaki ini sudah kembali bisa berlari biarpun belum sepenuhnya pulih. Katanya sih pelan-pelan aja dulu sampai kaki bisa beradaptasi lagi. Tapi sabar itu memang berat ya!

Mengumpulkan 20 Medali dengan Jarak Berbeda

Perasaan sih gak banyak race yang saya ikuti, karena saya mengambil full marathon. Saya pikir kan harus ada istirahatnya. Tapi ternyata lumayan juga jumlahnya. Jadi 20 medali yang didapatkan sebagai berikut:

42K – Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon

42K – Jakarta Marathon

21K – BFI Run

21K – Komando Run

21K – Pocari Sweat West Java Marathon

21K – Maybank Bali Marathon

21K – Superball Run

21K – Combi Run

21K – 2XU Compression Run

17,8K – Titan Run

16,8K – Anyo Run

12K – Puma Night Run

10K –  Dirgantara Run

10K – Halim Runaway

10K – BNI UI Half Marathon

10K – Milo Run (First 2000 10K Finisher)

10K – Jakarta Midnight Marathon

8K – Bulungan Run

7K – Run and Recuit

5K – Sky Run

Walaupun belum ada target apa-apa, tapi 2018 ini saya akan tetap berlari. Berlari gak harus jarak jauh atau mengejar kecepatan. Saya mau menikmati prosesnya.

Semoga tahun ini semakin banyak warna dan cerita. Amin!

Mengintip Kreasi Masakan Indonesia di Kompetisi Food Plating

Makanan yang sama tapi harganya bisa tidak sama. Selain soal rasa, yang membedakan nilai suatu makanan adalah cara menyajikannya. Selain seni memasak, para chef juga biasanya memiliki keahlian dalam seni menata makanan.

Dri mata turun ke hati, lalu ke perut. Begitulah sejatinya suatu makanan. Memang makanan itu untuk dimakan, bukan hanya dilihat sampai kenyang. Tapi untuk menggugah selera perlu tampilan dan aroma yang menggoda, kan?

Pada sabtu lalu (9/12/2017) saya tak mau kelewatan acara final ZEN Food Plating Competition. Food Platting adalah teknik penataan dan penyajian makanan di atas piring dengan memperhatikan posisi dan komposisi makanan agar menunjukan nilai seni dan kualitas yang tinggi. Jadi lomba ini bukan lomba memasak, tetapi lomba menyajikan makanan.

Lombanya cukup unik karena para peserta mengikuti kontes ini dengan mengunggah masakannya di media sosial. Tentunya dengan penyajian yang apik dan cantik. Para peserta adalah 10 finalis kategori profesional dan 10 finalis kategori non-profesional. Kompetisi ini diselenggarakan oleh ACMI (Aku Cinta Masakan Indonesia), William Wongso Kuliner, dan ZEN Tableware.

Makanan-makanan hasil karya peserta Zen Food Plating Competition

MEMAJUKAN KULINER INDONESIA MELALUI KOMPETISI FOOD PLATING

Continue reading “Mengintip Kreasi Masakan Indonesia di Kompetisi Food Plating”

Processed with VSCO with g3 preset

5 Cara Tepat Melindungi Anak dari Serangan Nyamuk Bandel

“Mainnya kurang jauh.”

Biasanya diucapkan ke orang yang telat bandel. Tapi nyamuk dari dulu sampe sekarang tetep bandel padahal mainnya udah kemana-mana.

Kesel gak sih pas lagi tidur enak-enak terus kebangun terus gara-gara nyamuk? Lebih kesel lagi harus bergadang karena anak minta garukin badannya yang gatel bekas digigit nyamuk.

Beraninya sama anak kecil. DASAR NYAMUK BANDEL!

Tapi perlu diakui nyamuk sekarang makin ajaib. Tiba-tiba datang tapi pas dicari dia bisa sekejap hilang, kemudian datang lagi pas kita lengah. Yang paling mengesalkan adalah sepertinya si nyamuk bandel ini gak ada kenyangnya. Lebih agresif soal gigit menggigit.

Mengapa nyamuk jaman sekarang makin bandel?

Pada kamis minggu lalu (30/11/2017) saya dan komunitas @buibuksocmed kumpul-kumpul di “Gathering Community HIT Expert”. Ada ibu Lula Kamal yang juga hadir sebagai pembicara. Jadi banyak banget pengetahuan seputar nyamuk termasuk kenapa nyamuk sekarang kok makin agresif.

    Foto Bareng Ibu Lula Kamal di Gathering Community HIT Expert.

Indonesia ini merupakan negara tropis yang memiliki iklim hangat dan lembab. Nyamuk seneng banget dengan iklim seperti ini.

Perubahan pada iklim yang menjadi semakin panas atau yang biasa disebut pemanasan global ternyata tidak hanya berdampak pada bumi tapi juga berdampak pada siklus kehidupan nyamuk, dan juga wabah yang ditimbulkannya.

Mengikuti perubahan iklim, nyamuk pun secara cerdas berevolusi.  Nyamuk menjadi semakin sering kawin, dan ukurannya menjadi semakin kecil yang akhirnya mengakibatkan nyamuk harus menyedot lebih banyak darah untuk mengejar ke ukuran yang sesungguhnya agar memenuhi syarat untuk berkembang biak. Jangan heran kalau nyamuk jaman sekarang makin bandel dan agresif untuk menggigit manusia.

Bahaya nyamuk ini bukan hanya sekadar mengganggu kenyamanan tidur, tetapi juga bisa mengantar kita ke rumah sakit. Apalagi di musim hujan  ini, serangan nyamuk berbahaya dari genus aedes bisa saja terjadi ke rumah kita. Untuk itu perlu sekali dilakukan pencegahan.

TIPS MENCEGAH SERANGAN NYAMUK BANDEL

Sesama ibu-ibu yang mungkin memiliki masalah yang sama, saya mau berbagi tips pencegahan nyamuk bandel:

1. Menutup tempat penampungan air

Memang klise banget. Dari kecil kita sudah diajarkan untuk menjalankan 3M. Hayo, masih inget gak apa itu 3M?

Menguras, menutup, dan mengubur. Jadi jangan lupa untuk selalu menguras bak air, menutup tempat penampungan air, dan juga mengubur sampah yang menjadi tempat nyamuk berkembang biak.

Musim hujan emmang populasi nyamuk meningkat karena lebih banyak genangan yang dituimbulkan. Genangan ini yang memungkinkan menjadi sarang nyambuk untuk berkembang biak. Oleh karena itu menutup tempat penampungan air adalah salah satu pencegahannya.

Menutup tempat penampungan air ini tidak cukup. Kita harus rutin mengurasnya juga dan jangan lupa menyikat dinding-dindingnya agar bibit-bibit nyamuk yang menempel ikut terkuras. Membubuhkan bubuk abate di tempat penampungan juga menjadi salah satu cara mencegah nyamuk bandel berkembang biak.

Continue reading “5 Cara Tepat Melindungi Anak dari Serangan Nyamuk Bandel”