20180330_164005(0)-01

3 Srikandi Bikin Makin Sayang Ke Atlet Indonesia

Rabu pagi ketika matahari masih belum sempurna naiknya saya sudah bergegas untuk pergi ke PIK. Tempat yang berada di ujung utara Jakarta ini berada 46KM dari rumah di Bekasi. Iya, jauh.

Saya mengambil rute selatan karena lewat jalur dalam kota macet karena bersamaan dengan jam orang Bekasi berangkat kerja menuju Jakarta. Tapi saya semangat karena pagi itu mengajar di tempat pelatihan atlet taekwondo Indonesia. Saya suka berbagi ilmu dan bisa berkontribusi untuk mereka. Bisa ikut belajar menendang juga di sana. Pagi itu selain latihan juga banyak cerita tentang pengalaman mereka yang banyak membuat saya ternganga. Menjadi atlet itu memang harus kuat mental dan fisik.

Undangan Gala Premiere 3 Srikandi
Undangan Gala Premiere 3 Srikandi

Sorenya saya langsung bergegas ke Grand Indonesia untuk Gala Premiere film  3 Srikandi di CGV Blitz. Film yang disutradai Iman Brotoseno dengan penulisnya teman saya yang cantik, yaitu Swastika Nohara. Tentang sejarah 3 atlet Indonesia cabang panahan puteri yang meraih medali Olimpiade untuk pertama kali tahun 1988 di Korea Selatan. Tak hanya kisah tentang para atlet yang bertanding, tetapi juga pelatih dibaliknya yang berkontribusi dalam kemenangan.

Bersama Pak Sutradara dan teman-teman yang hadir
Bersama Pak Sutradara dan teman-teman yang hadir

Lumayan lama menunggu untuk bisa menonton film ini. Makanya senang sekali saat Mbak Wiwiek menawarkan datang ke Gala Premiere 3 Srikandi. Film yang membuat saya penasaran bagaimana kisah para atlet kita berjuang dulu, tentang bagaimana para pemeran memainkan karakternya, dan apakah ini menjadi film yang menarik atau membosankan.

Bicara soal pertandingan, sebagai masyarakat umum kebanyakan saat menonton pertandingan olahraga di televisi hanya berpikir “Harus menang!”. Dan ketika kalah langsung kecewa, tak jarang juga sedikit mengumpat “Ah, payah!”. Dari film 3 Srikandi baru saya tahu bahwa saat kalah pertandingan, atlet yang bertanding jauuuuh lebih sedih dan jauuuuuuh lebih kecewa. Apalagi moment tidak bisa diulang. Bagaimana kehidupan mereka bergantung pada pertandingan. Selesai pertandingan, tentu kalah dan menang ini sangat berpengaruh pada masa depan merka. Beda jika hanya sebagai penonton, saat pertandingan kalah ya sudah. Sedih dan kecewa. Tapi saat besoknya kehidupan kembali seperti semula. Tidak ada dampak apa-apa. Kecuali jika memang ikut taruhan. Bokek.

Sedikit cerita dari yang saya dengar waktu makan siang kemarin dengan Pak Alfian, atlet senior taekwondo putera Indonesia. Saat masih muda dan bertanding dulu dalam kejuaraan, dia sampai makan obat penahan rasa nyeri. Supaya hanya fokus menendang tanpa berpikir rasa sakit. Walaupun kaki sampai bengkak. Itu hanya sedikit cerita. Dalam film 3 Srikandi menceritakan lebih kompleks lagi. Nurfitriyana Saiman (Bunga Citra Lestari) harus berlatih di saat sedang menghadapi skripsi dan ayahnya yang menentangnya. Kusuma Wardhani (Tara Basro) menolak menjadi PNS demi pertandingan, padahal kondisi ekonomi keluarga juga tidak baik. Kalau yang dialami Lilis Handayani (Chelsea Islan) justru terkesan lebih ringan karena didukung ibunya yang juga mantan atlet nasional. Malah terkesan anak mami banget. Sampai akhirnya ibunya harus meninggal sebelum pertandingan Olimpiade. Duh.

Tara Basro, BCL, dan Chelsea Islan di 3 Srikando. Foto diambul dari blog lifetimejourney.com

BCL meranin anak Jakarta udah pas banget. Tapi aku ngerasa dia kurang jadul. Logat dan gesturenya masih jakarta-jakarta kekinian. Kalau Tara Basro bikin saya yakin dia dari Makasar. Beneran dari sana gak sih?

Kalau Chelsea Islan…

Lumayan menarik nih. Scene awal-awal ngerasa chelsea kurang jago meraninnya. Kaya bukan atlet panahan profesional. Lebih kaya anak mama. Saat cerita makin bergulir ternyata memang begini karakter perannya. Dan dia menghidupkan filmnya sekali!

Tapi yang bikin gemas-gemas lucu tetap karakter Donald Pandiangan (Reza Rahardian). Saya tidak tahu apakah ada sisi subjektif dari Kak Tika sebagai penulis atau memang aslinya begitu. Donald ini menjadi pria yang lovable. Dimana-mana cowok yang galak itu kan nyebelin ya, kok disini malah gemesin. Oh, iya.. Reza Rahardian!

Reza Rahardian dalam film 3 Srikandi

Kayanya Reza selalu baik dalam memerankan karakternya. Bahkan kalau kisah hidup saya diangkat ke Film, maunya Reza yang jadi meranin. Reza Rahardia pakai baju belel yang belepotan oli juga tetap ganteng. Pakai baju yang dekil dan terlihat jadul juga malah keren. Dia tuh kayanya gak bisa jelek. Saya belum pernah lihat cowok bengkel dengan baju yang belepotan oli terlihat sekeren ini. Dia beneran pake baju kusut dan lumayan lusuh, tapi ya kok jatohnya malah seksi! Hadeeehh..

Dalam film beberapa kali tertawa bersama teman nonton saya kemarin, yaitu Milly Ratudian dan Mas Shafiq Pontoh. Tiap ada romancenya langsung “Aw..aw..aw..”. Malahan saya sempat tutup muka dan pipi bersemu merah saking terbawa cerita. Akan tetapi saat sesi mereka harus lipsync nyanyi ratu sejagat, VO-nya kurang oke. Suaranya sempat gak sama dengan pergerakan mulut. Malahan menurut saya scene ini gak perlu ada, meski ujungnya ketawa juga saat Rezanya muncul. Duh, lagi-lagi Reza.

Efek habis nonton ini kayanya pikiran saya lebih terbuka tentang atlet Indonesia. Entah kenapa jadi kesengsem banget sama atlet. Malahan semalam mimpi daftarin anak untuk jadi atlet. Duh, andai waktu bisa diulang, saya mau banget jadi atlet. Pelatihnya Reza Rahardian. :p

 

 

20180330_164005(0)-01

Target Finish Cepat di MILO 10K 2016 Karena Anak

FB_IMG_1469429781416-02

Sebenarnya hari ini niatnya mau nulis waktu minggu kemarin ikut workshop dan yoga festival di Bali. Tetapi gak sabar mau cerita pengalaman di dua race MILO kemarin: MILO Jakarta International 10K dan MILO Champ Squad 1,6K. Ibaratnya kue bolu yang baru keluar dari oven, mumpung masih panas-panasnya. Pagi ini akhirnya berhasil gagal mendapatkan medali. Tapi itu bukan yang utama, karena untuk pemula rasanya terlalu jauh. Catatan waktu saya belum kejar. Karena dari 15000 peserta, medali yang disediakan hanya 2000 saja. Sedangkan saya ini ya apalah. Anak baru sebulan lahir yang masih norak-noraknya bisa gerakin kaki.

Saya sendiri awalnya tidak tahu kalau di dalam satu hari ini ada dua event MILO yang berbeda. Ketika ditawari untuk ikut, saya sih sangat mau. Ternyata ajakan ini untuk MILO Champ Squad, yaitu family run. Bedanya dua jam. Kalau yang 10K itu jam 6 pagi, sementara yang kedua adalah jam 8 pagi.

Ini jadi tantangan sendiri, supaya larinya gak lambat-lambat banget biar bisa ikut di race yang kedua. Minimal saya harus di bawah 1.30 menit untuk 10K. Bisa gak ya?

Pukul 4 pagi saya langsung bangun dan segera bersiap untuk ke venue. Pas sesi bangunin Farrel adalah saat yang tersulit karena ya masih pagi banget juga. Jam 5 kami sudah sampai di pasar festival. Anaknya langsung menunjuk McD. Dipikir-pikir kayanya memang enak dia sarapan dulu. Pas pesan makan saya memutuskan untuk “drop” Farrel di sana dulu. Setidaknya ini tempat yang nyaman dan aman untuk dia menunggu lama.

DSC_0006
Mengamankan Farrel di McD biar tenang lari

Dia kan ikut larinya yang pukul 8. Anaknya pun setuju. Tentunya saya bekali dia dengan uang saku kalau dia mau pesan makan lagi, tablet untuk main game, dan smartphone supaya saya bisa menghubungi dia dan sebaliknya.

Setelah merasa anak aman, saya langsung mencari booth Sunpride karena racepack ada di sana. Kebetulan bisa ikut MILO 10K karena dibantu tim dari Sunpride (Makasih ya!). Setelah dapat BIB saya bertemu dengan teman-teman  yang biasa latihan bareng di GBK: Run For Indonesia (RFI).

IMG-20160724-WA0018
Bersama kawan lari RFI yang sudah semangat walaupun masih gelap

Kami berkumpul bersama di garis start dan menyempatkan foto-foto. Biarpun nantinya akan berpencar tetapi setidaknya bisa saling menyemangati.

Bersama ribuan kepala lainnya di garis start
Bersama ribuan kepala lainnya di garis start

Karena ini kan bukan acara latihan bareng, ada target yang mesti dicapat. Dan target saya adalah…

Jangan sampai anak nunggu lama.

Ternyata agak susah ya. Kemauan dan kemampuan berlawanan. Di kilometer pertama sih masih semangat banget. Hingga pertengahan pun kaki masih sanggup berlari. Kemudian mulai lemah di pertengahan. Setiap dalam jarak tertentu saya selalu melihat angka pada jam tangan. Saya kan harus buru-buru finish. Maunya gitu.

Awal-awal lumayan memuaskan karena pada 30 menit pertama sudah dalam pertengahan. Selanjutnya semakin lambat dan mulai banyak jalan. Tapi tiap lihat jam jadi mulai pengen lari lagi.

Di lari ini saya baru tahu kekuatan teman itu luar biasa. Ada kekuatan sendiri saat ada teman dari komunitas atau yang memakai jersey sama dari Ayo Lari. “Mbak Fitri.. ayo semangat!”. Duh itu seperti oasis dalam padang pasir. Atau teman-teman RFI yang mengenali dijalan kemudian menyapa. Tapi kembali lagi ke kemampuan. Paha semakin berat untuk diangkat. Terutama di DUA KILOMETER TERAKHIR.

Saya teringat ada jadwal brief pukul 7.30. Dan yang penting lagi…

Anak saya menunggu.

Setelah perjuangan 10K berlari akhirnya finish!

Finally!
Finally!

Langsung semangat meraih pisang dari Sunpride karena belum makan dari kemarin. Kemudian cek hape ternyata…

_20160724_094821
Pesan yang bikin sedih dan baru dibaca setelah lari

Duh, aku mulai panik dan merasa bersalah. Harusnya aku lari lebih cepat lagi apapun yang terjadi. Ya, namanya juga kemauan, tidak terbatas. Beda dengan kemampuan. Mencoba telepon tetapi susah sekali karena berebut signal dengan yang lain. Belum lagi karena jalan ditutup untuk sterilisasi area lari, dari Bakri Tower ke Pasar festival harus muter dulu melewati Gor. Jauh! 🙁

Dengan paha yang masih terasa kemeng-kemeng, akhirnya sampai McD dan bisa ketemu anak lagi. Rasanya pengen aku peluk. Ini ya rasanya jadi seorang ibu. Aku kebayang muka dia yang bosan dan mungkin bingung mau apa. Kita saja pasti gak suka menunggu, kan?

Tapi sesi romantis harus ditunda karena belum ambil racepack MILO Champ Squad yang diambil di VIP Tent. Dan peserta yang lainnya sudah bersiap untuk start. Wah, tertinggal nih!

Setelah buru-buru ganti baju dan pasang BIB, akhirnya kami pun ready untuk MILO Champ Squad. Walaupun sebenarnya ketinggalan karena yang peserta yang lain sudah mulai berlari. Farrel dengan semangat berlari dari garis start meski hanya 100m pertama. Selanjutnya mulai tergopoh-gopoh. Kemudian mengaku capek. Malahan minta saya gendong dia. Hadeuh..

Saya mendadak jadi pacer untuk anak sendiri. Biar dia lebih semangat berlari hingga garis finish. saya berlari sambil menghitung untuk memandu Farrel. Ilmu ini saya dapatkan waktu latihan berlari bersama Selabang Kelabang bersama Run For Indonesia (RFI). Lumaya berhasil sih. Setidaknya saya yang tadi merasa tidak berdaya di 10K, kini merasa gagah di 1.6K.

Run Farrel Run!
Run Farrel Run!

Dan anak ini memang juara gayanya. Saat lari menyiramkan air mineral kemasan ke kepalanya. Memang pelari gitu, ya?

Tapi lari kedua saya lebih santai karena tujuannya memang mau main bareng dengan anak. Sekaligus mau liat hasil aktivitas dan kalori yang terbatas hari ini via band MILO Champsquad. Jadi band ini bisa tracking aktivitas dan jumlah kalori yang dibakar, serta perbandingannya dengan jumlah kalori yang dimakan. Lumayan oke sih.

MILO Champsquad band and apps
MILO Champsquad band and apps

Balik lagi ke lari-larian ini. Akhirnya saya bisa menyelesaikan race kedua bersama Farrrel. Ini ya yang rasanya ikut event lari. Melihat wajah-wajah teman saya yang biasa latihan bareng memegang medali. Jadi makin semangat ikutan lagi. Tapi target saya untuk finish cepat memang bukan medali, tapi memang karena anak. Lari kedua sama Farrel pun terasa menyenangkan biarpun sangat santai. Karena sudah bersama anak.

We are finisher!
We are finisher!

Dalam tulisan ini saya juga mau mengucapkan selamat pada teman-teman yang berhasil mendapat medali MILO 10K. Kalian sumber motivasiku…

IMG-20160724-WA0006
Kawan Lari RFI ini memang selalu kompak. Yang dapat medali: Selamat ya!
20180330_164005(0)-01

Lari Pagi di Kuta Banyak Untungnya

DSC_0235_1

Lari biar sehat?

Saya lari biar ngirit. Begitulah yang terjadi saat akhir pekan kemarin di Bali. Sengaja membawa running gear agar dapat menikmati pagi di sekitar Seminyak dan pantai Kuta tanpa harus membayar ongkos taksi. Tentu saja sehat itu bonus. Eh, atau kebalik?

Sehari sebelumnya saya harus mendekam di balik selimut kamar hotel karena fisik yang kurang bagus. Kepala agak berat dan suara parau karena sedang terkena flu. Malam sebelumnya masih ikut Birthday Run Yuli di sekitar FX dengan badan yang tidak terlalu fit.

Birthday Run Ibu Yuli di FX beberapa jam sebelum berangkat ke Bali
Ikut Birthday Run Ibu Yuli di FX  sebelum berangkat ke Bali

Saya mendarat di Bali sekitar pukul 14.30 WITA dan langsung segera ke Hotel Fave Sunset di Seminyak. Karena memang hanya sendiri jadi memang mencari hotel yang murah tetapi lumayan ramai. Iya, saya penakut. Hotel yang memberikan sensasi seperti di kamar kosan. Karena setiap suara yang keluar masuk dari kamar sebelah pun terdengar. Tapi fasilitas lumayan oke. Tempatnya bersih, ada water heater, dan service room untuk makanan. Di lobby ada Circle K yang kalau mau beli makanan atau minuman tinggal turun ke bawah. Bisa juga menikmati mocktail atau kopi di pinggir kolam renang.

DSC_0242-01

Maaf jadi melebar ke hotel. Balik lagi ke lari. Pada sabtu paginya saya menilik ke arah jendela, tampak hanis hujan. Sepertinya saat yang bagus untuk berlari. Sedikit stretching agar badan enak untuk diajak lari. Apalagi kondisi badan sedang kurang oke.

Morning stretching before running
Morning stretching before running

Saya nyalakan dua aplikasi, yaitu Nike + dan Google Maps. Untuk orang yang tidak hapal jalan ini sangat penting. Saya arahkan ke Pantai Kuta. Minimal mandatory foto dengan background pantai tercapai. Jalan agak basah karena sisa hujan tidak menyurutkan semangat saya untuk sampai pantai. Saya berlari di trotar, terkadang harus melambatkan  dan agak keluar trotoar karena ada….

Anjing.

Saya lumayan takut anjing. Trauma karena waktu kecil beberapa kali dikejar anjing. Dan sepanjang jalan saya harus beberapa kali bertemu hewan ini. Saya tau anjing hewan yang ramah, apalagi di Bali. Tapi ya namanya juga sudah penakut mau diapain lagi. Tapi saya sangat suka saat berpapasan dengan orang di jalan. Masyarakat setempat sangat ramah. Setiap berpapasan mereka menyapa “Selamat Pagi!”. Jarang sekali ditemui di tempat saya tinggal. Hehe..

_20160720_121116(1)
Dari app Nike+ diketahui pembakaran kalori sebanyak 498cal

Dengan berlari kita bisa berkeringat dan irit ongkos. Lumayan ongkos taksinya bisa dipakai untuk uang makan siang. Duh, maaf saya memang perhitungan. Tapi ada lagi manfaat yang didapat kalau kita jalan-jalan pagi di Kuta dengan berlari: Banyak bule cakep dengan badan oke yang pada lari. Tapi gak sempat saya foto. maaf.

DSC_0237-02
Istirahat sejenak sambil stretching di pantai Kuta

Selain pemandangan pantai yang indah kita juga bisa menikmati pemandangan bule yang berkeringat. Tapi ya memang gak sempet difoto sih. Saya yakin kamu yang baca tulisan ini juga sudah sering liat kalau lagi ke Bali. Ya, kan?

Tapi pagi itu memang tidak terlalu cerah. Saat berlari dari pantai Kuta menuju hotel ditemani oleh gerimis. Untung baru gerimis ya. Kalau sudah begini berlari harus lebih hati-hati karena rawan tergelincir. Atau pilih-pilih jalan yang gak becek. Ingat, sepatunya mahal. (Gak gini juga sih, kak!)

Banyak yang bertanya kenapa saya bisa foto diri sendiri padahal larinya sendiri? Kan bisa minta tolong. Pas di Kuta saya meminta bapak yang mmebersihkan pantai untuk mengambil gambar. Jadi, manfaat lainnya kalau kita lari sendiri di Bali adalah: Lebih akrab dengan orang baru.

Foto dengan background pantai adalah mandatory kalau ke Bali
Foto dengan background pantai adalah mandatory kalau ke Bali

Ini baru di Kuta, apalagi di tempat-tempat lainnya yang pantai nya lebih indah. Pasti lebih asik lagi. Kalau bisa sama teman sih sebenernya lebih menyenangkan. Tapi lari sendiri pun bisa jadi sangat menyenangkan asal kita menikmatinya.

20180330_164005(0)-01

Tidak Ada Salahnya Merasa Cantik

BANNER BLOG WRITING-01

“Mbak, bantu saya bagaimana untuk mengecilkan perut!”

“Yoga bisa membantu awet muda, kan?”

“Saya mau punya badan yang bagus.”

Itu lah kira-kira permintaan dan pertanyaan yang sering saya hadapi sepanjang mengajar yoga. Benang merah dari semua pertanyaan itu adalah: wanita ingin terlihat menarik. Lalu apakah yang membuat wanita ingin dengan susah payah terlihat cantik? Apakah pujian atau kebanggan memakai baju ukuran S?

1468064611860
Karena dengan cantik, kita lebih bahagia

Cantik bukan hanya terkait penampilan luar, tetapi juga dari dalam. Ibarat sebuah lampion, kita melihat lampion itu indah karena warna dan bentuknya. Tetapi keindahan itu tidak bisa kita nikmati saat lampunya redup. Jika direfleksikan pada diri kita maka bentuk, warna, dan gambar lampion adalah penampilan luar kita. Sedangkan lampu dalam lampion adalah hati kita. Cantik dari hati adalah cahaya dalam diri kita. Yang membuat wajah, baju, sepatu, bentuk badan bersinar. Cantik itu bukan hanya membahagiakan diri sendiri, tetapi juga orang lain yang melihat. Cantik dari hati adalah perihal attitude.

“The beauty of a woman is not in a facial mole, but true beauty in a Woman is reflected in her soul. It is the caring that she lovingly gives, the passion that she knows.”
― Audrey Hepburn

Audrey Hepburn adalah wanita yang menginspirasi. Selain wajahnya yang sangat cantik, hatinya juga emas. Wanita ini ditunjuk sebagai Duta UNICEF. Sisa hidupnya dihabiskan membantu anak-anak di negara-negara miskin.  Seorang wanita yang memiliki cantik dari luar dan dalam dan diakui dunia. Menyadarkan kita bahwa kita dikenang dari apa yang kita perbuat. Cantik adalah hal baik dan tidak ada salahnya merasa cantik. Cantik dari hati bisa dimulai dari…

Menerima diri sendiri

Menjadi diri sendiri itu membahagiakan. Tuntutan untuk menjadi cantik tidak ada batasnya. Akan tetapi jika kita menyadari keadaan diri sendiri dan melakukan penerimaan terhadap itu semua maka mudah untuk merasa bersyukur.

1467956687532

Saat kita bersyukur kita akan menyadari bahwa tubuh kita ini karunia yang harus dirawat. Kita akan berdandan untuk mempercantik diri sesuai diri sendiri. Dengan ini rasa nyaman akan muncul dan orang lain yang melihat kita pun juga nyaman. Menerima dan merasa diri sendiri cantik adalah suatu penghargaan terhadap diri sendiri dan Sang pencipta.

Mengeliminasi hal negatif di hati dan pikiran

Sebagai wanita sangat umum untuk iri terhadap orang lain yang lebih cantik. Tetapi rasa iri ini terkadang mengubur mata hati kita. Kita melihat kecantikannya suatu ancaman sehingga enggan untuk memuji. Rasa iri ini bisa membuat kita menjadi tidak nyaman. Saya punya metode untuk melawan hal ini: memuji dengan tulus.

Rasa tidak suka itu wajar dimiliki kita sebagai manusia dan pasti ada penyebabnya. Misalnya ketika kita diperlakukan tidak nyaman oleh orang lain. Jujur saja saya juga terkadang masih menyimpan perasaan tersebut. Suatu saat orang yang sedang saya tidak suka mengunggah fotonya yang sangat cantik. Saya langsung memuji, tetapi dalam hati.

Kemudian saya berpikir kenapa saya berat sekali untuk mengatakannya langsung. Apa saya merasa sakit hati kalau dia memang cantik? Ternyata yang menyakiti hati saya adalah saya sendiri karena rasa gengsi dan rasa tidak suka. Kata pujian itu sudah mau diucapkan tapi seperti tertahan di ujung lidah atau jari jemari kita jika di media sosial.

Saya mencoba untuk melawan perasaan tersebut dan mendorong lebih dalam lagi untuk benar-benar mengatakan hal yang tulus dan jujur. Setelah mengatakan tersebut ternyata….

terasa sangat lega!

Dari situ saya menyimpulkan bahwa untuk mengurangi rasa iri terhadap orang lain yaitu dengan memujinya dengan tulus. Perasaan ini yang membuat bahagia dan kita tidak akan merasa jelek hanya dengan memuji orang lain.

Punya rasa empati dan peduli

Beruntunglah kita yang masih bisa menangis saat melihat orang lain dalam keadaan kurang beruntung. Masih memiliki rasa tidak tega dan mencoba merasakan apa yang dialami orang tersebut. Hati kita masih belum tertutup. Ini juga saya anggap cantik dari hati.

Mau share sedikit tentang charity teman-teman saya dari group Buibuksocmed kemarin. Pada Ramadan kami mengadakan pogram Charity dengan Garage Sale. Mereka menjual barang-barangnya yang terdiri dari perlengkapan anak, baju, tas, sepatu, hingga kosmetik. Teman- teman yang terdiri dari kalangan ibu-ibu muda bahu membahu agar dananya terkumpul banyak.

1468332877330(1)

Alhamdulillah hasilnya sangat baik. Saya sangat salut dengan teman-teman saya ini. Motivasinya adalah: Setidaknya ada hal yang berguna yang bisa diberikan untuk orang lain. Setidaknya barang-barang yang kita miliki (baju, sepatu, kosmetik) bisa juga untuk membantu orang lain. Ternyata rasanya menyenangkan bisa membantu orang lain. Menyenangkan juga masih punya rasa empati.

Menjaga hubungan baik dengan orang lain

Di hari lebaran ini sudahkan meminta maaf pada yang tidak kita suka?

“Maaf”. Kata sederhana yang terkadang sulit untuk diucapkan. Terkadang kita merasa kalah jika mengatakan maaf duluan. Mungkin itu yang menyebabkan kita berat mengucapkan maaf, apalagi jika tidak suka pada orangnya. Begitu pun dengan mengucapkan “Terima Kasih”. Berterima kasih berarti kita selalu menghargai keberadaan orang lain. Apalagi jika kita sudah dibantu, tidak ada salahnya untuk mengucapkan terima kasih.

IMG_cmp0ty

Saya percaya “Maaf” dan “Terima kasih” ini mengandung magis. Jika kita murah untuk mengatakan dua kata tersebut maka aura positif kita lebih terpancar. Ini yang membuat orang lain melihat kita cantik. Gak percaya? Coba deh tanya teman-teman di dekat kamu.

Percaya diri karena itu baik

Saya tahu sikap sombong itu menyebalkan. Tetapi untuk minim rasa percaya diri itu juga tidak menyenangkan. Jujur ya, kalau lihat orang yang terus-menerus mengeluh juga rasanya lelah, kan? Merasa minder, merasa kurang, akhirnya terbentuk rasa sebal pada diri sendiri. Masih terkait poin nomer satu: menerima diri sendiri.

Kadang cantik itu bukan dari penampilan, bukan dari perkataan orang lain, tetapi menjadi diri sendiri. Maka, percaya dirilah! Jangan melupakan bahwa usaha kita sebagai wanita untuk cantik adalah untuk bahagia. Membahagiakan diri sendiri dan orang lain.

Jika merasa cantik itu membuat bahagia, jangan takut untuk merasa cantik. Bagaimana bisa menyenangkan orang lain kalau kita sendiri tidak bahagia? Dengan merasa cantik berarti kita juga tahu pentingnya menjaga. Menjaga penampilan dan menjaga attitude. Bukan hanya perkataan, tapi hati juga.

Jika kita selalu menstimulai pikiran dengan hal-hal yang baik maka otomatis perkataan juga baik. Begitu juga sebaliknya. Tidak ada salahnya percaya diri untuk hal yang baik. Cantik dimulai dari hati. Kullu Kalam Addu’a: Setiap ucapan adalah doa. Yuk pejamkan mata dan ucapkan mantra:

“Saya cantik. Saya bahagia”

Namaste.

 

20180330_164005(0)-01

Memanfaatkan Ruang Sempit untuk Mengencangkan Perut

Apakah kamu sudah merasa terlalu banyak lemak di perut sisa kaastengel lebaran?

Banyak yang masih berlibur bersama keluarga di kampung halaman. Mau olahraga tetapi setiap sudut ruangan penuh dengan barang-barang dan saudara. Teras rumah bisa menjadi pilihan, Berikut cara mengencangkan perut dengan memanfaatkan ruangan yang sempit: