Processed with VSCO with  preset

Mengintip Pesta Panen Buah Golden Melon Sunpride di Cilegon

“Manis banget!”

Pertama kali mencoba buah Golden Melon. Jujur, saya tidak tahu kalau Golden Melon ini ternyata semanis ini. Duh, kemana aja ya?

Walaupun dari penampilannya seperti buah import, ternyata Golden Melon ini termasuk buah lokal. Ini saya ketahui ketika diajak jalan-jalan untuk mampir ke panen buah Golden Melon di Cilegon Timur pada selasa kemarin, tanggal 26 September 2017.

Media, Blogger, dan Tim Sunpride yang berkunjung ke kebun Golden Melon SUNPRIDE

Pukul 10.30, matahari di Cilegon sedang nyala-nyalanya. Tapi saya dan teman-teman lain dari media justru baru menginjakkan kaki di sana. Cuaca lumayan terik dan sedikit berangin. Melihat buah melon yang kuning-kuning rasanya seperti penyegaran mata.

Golden Melon masih tertanam di kebun

Melon-melon yang kuning menyala membuat kedua tangan yang nakal ini gak sabar mau metik-metikin. Karena takut nanti diusir dan nyasar di Cilegon jadi saya urungkan hasrat terpendam ini. Dan kasian sama petani yang sudah susah payah menanam dan merawat, jadi saya tahan-tahan deh.

Upaya petani dalam menghasilkan melon yang berkualitas ini gak main-main. Jadi, kalau buah-buahan yang dari masih proses pertumbuhan sudah ada tanda-tanda kegagalan, maka melon-melon ini akan dibabat habis dan mereka menanam bibit baru. Padahal proses dari masa tanam hingga masa panen membutuhkan waktu sekitar 60 hari.

Petani-petani ini sepertinya posesif. Saya melihat setiap buah melon ini semuanya diikat oleh tali. Ternyata supaya buah-buahan ini tidak jatuh ke tanah. Posesif memang tanda sayang. berkat ke-posesif-an ini maka buah-buah yang ditanam tumbuh mulus dan bersih. Bahkan saat proses pemetikannya pun tidak bisa asal. Ini adalah komitmen dalam menjaga kualitas buahnya.

PROSES PASCA PANEN BUAH GOLDEN MELON

Pada musim panas justru kualitas buah Golden Melon sedang bagus-bagusnya. Dibanding dengan musim hujan yang lembab dan lebih banyak resiko untuk terkena penyakit tanamanan. Misalya daunnya yang keriting. Ini akan membuat buah yang dihasilkannya tidak akan terlalu bagus. Sedangkan kalau mau dijual dengan harga yang baik kan kualitasnya harus dijaga. Ngomong-ngomong soal kualitas, ini berarti bukan hanya mengenai rasa, tapi juga penampilan.

SUNPRIDE memiliki standar kualitas untuk buah-buahannya. Yang saya lihat saat mengikuti proses handling buah Golden Melon dari SUNPRIDE saat panen ini jadi lebih mengerti banget tentang bagaimana memilih buah, dan tentu saja buah yang berkualitas.

Berikut tahapan pasca panen Golden Melon di Kebun Sunpride:

Sortasi

Setelah dipetik, seluruh buah Golden Melon akan dipilah sesuai mutu dan ukuran yang ditetapkan. Sortasi adalah kegiatan hasil pertanian yang kurang baik dengan yang memiliki hasil yang baik. Kualitas kurang baik ini berkaitan dengan penampilan seperti cacat, luka, busuk, dan bentuk yang tidak normal.

Untuk menjadi buah-buahan dengn label SUNPRIDE berarti yang sudah lolos seleksi secara mutu dan kualitas. Jika ada buah-buahan yang memiliki hasil kurang baik maka akan disisihkan.

Buah-buahan yang tidak memenuhi standar mutu dan kualitas nilai jualnya akan lebih rendah. Ini juga yang menjadi pertimbangan mengapa petani Golden Melon ini membabat habis buah-buahan yang tumbuh tidak sesuai standar yang ditetapkan.

Grading

Setelah melalui tahap sortasi, semua buah yang sudah dipanen akan dilakukan penggolongan atau pengkelasan (grading). Grading adalah proses pemilihan berdasarkan standar permintaan konsumen atau standar nilai komersilnya.

SUNPRIDE sendiri memiliki standar mutu dan kualitas untuk buah-buahannya. Untuk bentuk dan penampilan luar, jika tidak sesuai standar yang ditetapkan maka tidak lolos untuk mendapatkan label SUNPRIDE. Begitupun untuk ukuran, sudah ada standar tertentu. Jadi kalau lebih kecil dari standar Golden Melon SUNPRIDE, maka buah ini tidak akan lolos seleksi.

Kulit yang kurang mulus atau bentuk yang tidak sesuai standar bukan berarti rasa di dalamnya berbeda. Jika kita membuka dalamnya mungkin akan merasakan kemanisan yang sama. Oleh karena itu, untuk buah-buahan yang tidak masuk ke seleksi buah SUNPRIDE akan masuk ke grade label di bawahnya: SUNFRESH.

SUNFRESH juga bukan berarti tidak ada standar tertentu. Jika standarnya lebih di bawah lagi, maka akan dijual yang tanpa label. Segmen pasar SUNPRIDE dan SUNFRESH adalah modern market. Non-label untuk yang generik.

Akan tetapi untuk tahun depan label SUNFRESH akan dihilangkan. Karena pertimbangan takut membingungkan konsumen. Jadi kedepannya hanya akan menjual buah-buahan yang memliki kualitas rasa dan bentuk yang terbaik dengan label SUNPRIDE.

Pembersihan

Setelah melalui tahap sortasi dan grading. Maka dilakukan pembersihan. Maka itu buah-buahan melon di sini tampak kuning megkilat. Saat kita belanja di supermarket, biasanya kita tergoda dengan buah-buahan yang bersih dan cantik.

Labelling

Buah-buahan yang sudah dibersihkan maka siap diberi label. Pelabelan sesuai dengan penentuan grade buahnya di tahap sebelumnya. SUNPRIDE sebagai buah dengan grade tertiggi, dan SUNFRESH di bawahnya. Untuk yang di bawah SUNFRESH maka tidak ada pemasangan label.

Packing

Ketika buah-buahan ini sudah melalui tahap sortasi, grading, pembersihan, pelabelan, maka siap dilakukan pengemasan (packing). Pengemasan ini dilakukan di atas timbangan agar jumlah buah yang dimasukan ke dalam dus sesuai dengan berat yang ditentukan.

Pengangkutan

Setelah dikemas ke dalam dus, maka buah-buahan ini siap diangkut ke pasaran.

Sebagai informasi tambahan, jika ingin menyicipi buah melon dengan kualitas terbaik sebaiknya tidak lebih dari 1 minggu setelah masa panen. Jika disimpan dalam ruangan dengan temperatur yang dingin maka bisa bertahan lebih lama lagi hingga 2  minggu.

MENGENAL GOLDEN MELON

Tidak semua pecinta buah sudah menyicipi Golden Melon. Varian melon ini memang tidak sebanyak Rock Melon yang awur-awuran di pasaran. Berdasarkan kekepoan saya, maka saya buka-buka supride.co.id untuk lebih mengenal buah ini.

Golden Melon ternyata sudah banyak diminati oleh banyak orang di dunia. Tidak hanya rasanya saja yang istimewa, Golden Melon juga memiliki banyak manfaat kesehatan, diantaranya kandungan vitamin C yang tinggi, ampuh dalam mengobati sariawan, menghaluskan kulit, meningkatkan imunitas tubuh, antioksidan dan penangkal dari serangan radikal bebas yang dapat menyebabkan kanker dan penyakit jantung.

Bikin ngiler, kan!

Golden Melon merupakan salah satu produk buah lokal hasil dari petani lokal di Jawa Barat. Buah lokal juga ternyata bisa bersaing dengan buah import jika ditangani dengan baik. Dengan mengonsumsi buah lokal, selain menambah nutrisi yang baik untuk tubuh juga dapat memajukan industri pertanian di Indonesia. Masalah kualitas, saya sudah melihat sendiri bagaimana SUNPRIDE handling buah-buahannya.

Dan masalah rasa…

Sejujurnya sampai sekarang saya juga masih terngiang kemanisan buah ini. Untung kemarin dapet oleh-oleh buahnya yang langsung dipetik dari kebun. Gak sabar buat nyicip lagi. Slurrpp!

Jadi teman-temanku yang suka menjaga kesehatan, jangan lupa dengan makin rajin makan buahnya. Saya ngupas buah dulu, ya!

3 Race Ulang Tahun di 2017: Milo Run, Titan Run, dan Maybank Bali Marathon

Ternyata begini ya rasanya kalau sudah menginjak satu tahun berlari. Bisa mengalami pengulangan di satu race yang sama dengan pengalaman dan cerita yang berbeda. Merasakan progress diri sendiri yang tanpa disadari semakin lama semakin meningkat.

Ini masalah waktu.

Ternyata jam terbang memang gak bisa bohong. Dengan kemampuan lari saya yang ala kadarnya, ternyata bisa melakukan perbaikan waktu juga.

Waktu setahun ini bukan tanpa cerita. Ada tawa, tangis, cedera, dan drama-drama lainnya.

Semakin lama semakin biasa. Mungkin ini juga yang terjadi pada kaki saya. Setahun yang lalu, setiap ikut race dan berlari di satu kilo pertama rasanya sudah mau menyerah saja. Sekarang, ya Alhamdulillah..

Tetep cape juga.

Gak mungkin gak cape. Namanya lari ya pasti cape. Tapi badan sudah bisa lebih berkompromi. Sudah bisa ngatur-ngatur pace di setiap jarak. (Gaya banget ya!)

MILO JAKARTA INTERNATIONAL 10K

Buat lomba lari 10K, event MILO Jakarta International 10K ini dianggap bergengsi. Masih diminati oleh para penggiat lari, baik yang pro maupun yang sekadar hura-hura. Event laridi Jakarta  ini sudah ada sejak tahun 2004. Yang menarik dari event ini adalah medalinya terbatas hanya untuk 2000 penamat pertama.

Fitri Tasfiah, muncul di tahun 2016. Dengan bermodalkan latihan lari yang baru sebulan dan belum pernah menginjak jarak 10K, mengikuti race ini sudah luar biasa nervous-nya.

Lari 3K aja rasanya udah cape, ini lagi mau lari 10 kilo. Jarak yang sama dari rumah saya di Bekasi ke Cibubur. Pada subuh itu saya datang dengan Farrel, anak sulung yang juga saya racunin ikut lari di Milo Run ini. Tentunya dengan jarak untuk anak-anak. Sejujurnya sekalian kerja sih. Ada campaign yang harus melibatkan anak, hehe..

Di Milo Run 10K ini saya berlari dengan perut yang masih kosong, jadi kesan-kesan di race pertama ini adalah: lapar. Kecepatan diatur sedemikian rupa supaya bisa tangguh menamatkan race 10K pertama dalam hidup. Sebenarnya memang pacenya segitu-gitu aja sih. Lumayan lah, bisa finish dengan waktu 1 jam 20 menit. Lumayan..

Waktu Finish unofficial di race 10K pertama

Meskipun pulang cuma bawa baju kotor tanpa ada medali apapun di tangan. Untung hepi.

Setahun kemudian, tepatnya 2 bulan yang lalu, saya kembali mengikuti MILO Run ini. dengan jarak yang sama ternyata bisa memperbaiki waktu. Dari 1 jam 20 menit ke 1 jam 5 menit. Dari yang tahun lalu gak dapat medali, sekarang bisa dapat medali limited editon untuk 2000 penamat pertama.

Akhirnya berhasil mendapat medali untuk 2000 penamat pertama di Milo Run 2017

Ahh.. terharuuu!

TITAN RUN

Titan Run adalah event lari pertama yang saya jalani selain di Jakarta. Kebetulan lokasinya di Tangsel, tepatnya di Alam Sutera.

Titan Run 2016 adalah race serius kedua saya. Kenapa serius?

Karena ini pertama kalinya saya menguji kemampuan dengan berlari 10K tanpa berhenti (Kecuali saat minum di Water Station). Race ini menjadi salah satu persiapan menghadapi Half Marathon pertama di Maybank Bali Marathon, yang diselenggarakan pada bulan yang sama.

Behasil sih.

Tapi waktu finish saya di 10K saya gak ada perubahan dari Milo 10K yang berlangsung 2 minggu sebelumnya. Kalau dipikir-pikir sih lumayan lama, hahaha..

Tapi waktu itu mah bangga-bangga aja. Seneng bisa lari 10K beneran pada akhirnya ya…

Langkahnya bener-bener diirit-irit biar gak ngos-ngosan. Ya tapi tetep ngos-ngosan juga!

Titan Run 2016: Lambat asal selamat

Di Titan Run tahun ini ceritanya mau upgrade jarak. Kalau tahun sebelumnya mentalnya cuma buat 10K, tahun ini mencoba di jarak 17,8K. Jarak ini memang unik karena memang untuk menyambut hari kemerdekaan RI di tanggal 17 bulan 8.

Tadinya mau turun ke 10K karena hanya beda seminggu dengan Pocari Run yang di Bandung. Di Pocari Run saya mengambil jarak 21K. Lumayan cape juga karena kurang isturahat. Dari Bali langsung ke Bandung demi bisa lari di event lari yang katanya mesti dicoba ini.

Karena sudah nanggung daftar dan gak ngejar PB juga, akhirnya tetap memilih jarak 17,8K. Benar-benar lari untuk recovery. Menikmati jarak demi jarak tanpa membuat target waktu yang bikin sakit kepala dan sakit hati.

Avg pace 6:19 pada Km 16 untuk jarak 17,8K di Titan Run 2017

Lari di Titan Run tahun ini ternyata masih seru seperti tahun sebelumnya. Habis lari bisa kulineran sekenyangnya dan gratis.

Sayangnya sempet ada drama mules pas mau start. Penyakit saya banget nih kalau mau race.

Malemnya habis makan mie instant pakai cabe rawit. Alhasil pas sampai venue langsung lari-lari nyari toilet. Mana start tinggal 10 menit lagi. Udah telat, pup pula!

Untungnya saya bisa finish tanpa kendor-kendor banget waktunya. Dibanding tahun lalu sih ini udah Alhamdulillah banget!

MAYBANK BALI MARATHON (MBM)

Kata teman-teman senior di dunia lelarian, MBM ini adalah lebarannya para pelari. Mau serius ataupun cuma wisata yang penting ikutan lari. Tapi bener sih. Saya melihat banyak wajah-wajah famous di dunia lelarian turun di event ini. Ya sebagian memang sudah ada sponsor yang daftarin sih. Enak ya..

Buat saya MBM 2016 menjadi sejarah dalam hidup. Pertama kali saya menginjak jarak 21K dan proses dari gak pernah lari ke event ini hanya berselang 2 bulan. Latihan fokusnya ya 3 minggu sebelum hari H. Bayangkanlah!

Gak heran kalau akhirnya lutut saya sampai sengklek karena persiapan yang kejar tayang ini. Tapi masih lumayan bangga karena virgin HM saya di track yang luar biasa menantang ini masih di bawah 3 jam.

Banyak drama yang dialami saat mengikuti virgin HM di MBM ini, salah satunya ya kebelet pup. Namanya juga masih newbie-super-newbie. Karena nervous, jadi sebelum lari saya minum air putih lumayan banyak. Hasilnya ya jadi kebelet pipis pas mau start.

Karena tidak tersalurkan akhirnya jadi kebelet pup. Repot juga kan pas lari nanya-nanya toilet ke penduduk setempat buat bisa dinumpangin setoran. Untung gak kebelet yang lain kan!

Dalam keadaan kaki yang sengklek dan track di Bali yang hilly, HM pertama saya lumayan terasa berat. Belum lagi Bali kan panasnya cantik banget. Target di bawah 3 jam jugaTapi untungnya mental mamak-mamak Bekasi ini ternyata lumayan tangguh. Niat bisa sampai finish begitu kuat, jadi pada akhirnya waktu finish sesuai yang ditargetkan.

HM pertama di MBM 2016 finish pada waktu 2 jam 49 detik

MBM tahun ini lain cerita. Lebih gak niat.

Mentang-mentang bukan HM pertama, jadi persiapan gak mateng-mateng banget. Gak punya persiapan khusus. Latihan juga seadanya. Malahan sempet break seminggu lebih.

Dibanding carbo-loading, saya malah berburu gelato.

Mental juga udah gak segugup yang pertama. Malahan terlalu santai.

Karena memang gak membuat target apa-apa di MBM tahun ini. Saya sadar jalur di Bali ini banyak naik turunnya, jadi merasa sia-sia kalau mengejar PB (Personal Best). Ya minimal bisa sub 2 jam 30 menit. Supaya gak terlalu merosot banget bedanya dengan HM di Pocari Run.

Ternyata memang benar. Tanjakan MBM tahun ini masih bikin betis menjerit.

Berusaha santai tapi ya cape juga. Untungnya dari KM 14 jalurnya sudah bersahabat. Sampai finish lancar banget tanpa kendala apa-apa.

Kebetulan waktunya masih sama dengan HM di Pocari Run, yaitu 2 jam 20 detik. Padahal lari HM di Bali lebih menantang dibanding saat di Bandung sebulan sebelumnya.

Half Marathon di MBM 2017 dengan perbaikan waktu dari tahun sebelumnya

Memang benar kata orang-orang: Jam terbang gak bisa bohong.

Semakin sering berlari maka tubuh kita juga semakin biasa. Ini yang mahal dan tidak bisa dibeli. Yang ingin saya pertahankan sekarang adalah tetap bisa menikmati lari.

Berlari bukan maslaah tujuan, tetapi bagaimana menjalani prosesnya. Dibanding terlalu obsesi trus nantinya cape sendiri dan jadi jenuh. Ya.. kan bukan atlet juga. Umur juga udah gak muda-muda banget.

Semoga masih bisa menikmati perjalanan berlari sampai tahun-tahun ke depannya. Tambah pengalaman, tambah cerita. Sangat-sangat menyenangkan!