3 Race Ulang Tahun di 2017: Milo Run, Titan Run, dan Maybank Bali Marathon

Ternyata begini ya rasanya kalau sudah menginjak satu tahun berlari. Bisa mengalami pengulangan di satu race yang sama dengan pengalaman dan cerita yang berbeda. Merasakan progress diri sendiri yang tanpa disadari semakin lama semakin meningkat.

Ini masalah waktu.

Ternyata jam terbang memang gak bisa bohong. Dengan kemampuan lari saya yang ala kadarnya, ternyata bisa melakukan perbaikan waktu juga.

Waktu setahun ini bukan tanpa cerita. Ada tawa, tangis, cedera, dan drama-drama lainnya.

Semakin lama semakin biasa. Mungkin ini juga yang terjadi pada kaki saya. Setahun yang lalu, setiap ikut race dan berlari di satu kilo pertama rasanya sudah mau menyerah saja. Sekarang, ya Alhamdulillah..

Tetep cape juga.

Gak mungkin gak cape. Namanya lari ya pasti cape. Tapi badan sudah bisa lebih berkompromi. Sudah bisa ngatur-ngatur pace di setiap jarak. (Gaya banget ya!)

MILO JAKARTA INTERNATIONAL 10K

Buat lomba lari 10K, event MILO Jakarta International 10K ini dianggap bergengsi. Masih diminati oleh para penggiat lari, baik yang pro maupun yang sekadar hura-hura. Event laridi Jakarta  ini sudah ada sejak tahun 2004. Yang menarik dari event ini adalah medalinya terbatas hanya untuk 2000 penamat pertama.

Fitri Tasfiah, muncul di tahun 2016. Dengan bermodalkan latihan lari yang baru sebulan dan belum pernah menginjak jarak 10K, mengikuti race ini sudah luar biasa nervous-nya.

Lari 3K aja rasanya udah cape, ini lagi mau lari 10 kilo. Jarak yang sama dari rumah saya di Bekasi ke Cibubur. Pada subuh itu saya datang dengan Farrel, anak sulung yang juga saya racunin ikut lari di Milo Run ini. Tentunya dengan jarak untuk anak-anak. Sejujurnya sekalian kerja sih. Ada campaign yang harus melibatkan anak, hehe..

Di Milo Run 10K ini saya berlari dengan perut yang masih kosong, jadi kesan-kesan di race pertama ini adalah: lapar. Kecepatan diatur sedemikian rupa supaya bisa tangguh menamatkan race 10K pertama dalam hidup. Sebenarnya memang pacenya segitu-gitu aja sih. Lumayan lah, bisa finish dengan waktu 1 jam 20 menit. Lumayan..

Waktu Finish unofficial di race 10K pertama

Meskipun pulang cuma bawa baju kotor tanpa ada medali apapun di tangan. Untung hepi.

Setahun kemudian, tepatnya 2 bulan yang lalu, saya kembali mengikuti MILO Run ini. dengan jarak yang sama ternyata bisa memperbaiki waktu. Dari 1 jam 20 menit ke 1 jam 5 menit. Dari yang tahun lalu gak dapat medali, sekarang bisa dapat medali limited editon untuk 2000 penamat pertama.

Akhirnya berhasil mendapat medali untuk 2000 penamat pertama di Milo Run 2017

Ahh.. terharuuu!

TITAN RUN

Titan Run adalah event lari pertama yang saya jalani selain di Jakarta. Kebetulan lokasinya di Tangsel, tepatnya di Alam Sutera.

Titan Run 2016 adalah race serius kedua saya. Kenapa serius?

Karena ini pertama kalinya saya menguji kemampuan dengan berlari 10K tanpa berhenti (Kecuali saat minum di Water Station). Race ini menjadi salah satu persiapan menghadapi Half Marathon pertama di Maybank Bali Marathon, yang diselenggarakan pada bulan yang sama.

Behasil sih.

Tapi waktu finish saya di 10K saya gak ada perubahan dari Milo 10K yang berlangsung 2 minggu sebelumnya. Kalau dipikir-pikir sih lumayan lama, hahaha..

Tapi waktu itu mah bangga-bangga aja. Seneng bisa lari 10K beneran pada akhirnya ya…

Langkahnya bener-bener diirit-irit biar gak ngos-ngosan. Ya tapi tetep ngos-ngosan juga!

Titan Run 2016: Lambat asal selamat

Di Titan Run tahun ini ceritanya mau upgrade jarak. Kalau tahun sebelumnya mentalnya cuma buat 10K, tahun ini mencoba di jarak 17,8K. Jarak ini memang unik karena memang untuk menyambut hari kemerdekaan RI di tanggal 17 bulan 8.

Tadinya mau turun ke 10K karena hanya beda seminggu dengan Pocari Run yang di Bandung. Di Pocari Run saya mengambil jarak 21K. Lumayan cape juga karena kurang isturahat. Dari Bali langsung ke Bandung demi bisa lari di event lari yang katanya mesti dicoba ini.

Karena sudah nanggung daftar dan gak ngejar PB juga, akhirnya tetap memilih jarak 17,8K. Benar-benar lari untuk recovery. Menikmati jarak demi jarak tanpa membuat target waktu yang bikin sakit kepala dan sakit hati.

Avg pace 6:19 pada Km 16 untuk jarak 17,8K di Titan Run 2017

Lari di Titan Run tahun ini ternyata masih seru seperti tahun sebelumnya. Habis lari bisa kulineran sekenyangnya dan gratis.

Sayangnya sempet ada drama mules pas mau start. Penyakit saya banget nih kalau mau race.

Malemnya habis makan mie instant pakai cabe rawit. Alhasil pas sampai venue langsung lari-lari nyari toilet. Mana start tinggal 10 menit lagi. Udah telat, pup pula!

Untungnya saya bisa finish tanpa kendor-kendor banget waktunya. Dibanding tahun lalu sih ini udah Alhamdulillah banget!

MAYBANK BALI MARATHON (MBM)

Kata teman-teman senior di dunia lelarian, MBM ini adalah lebarannya para pelari. Mau serius ataupun cuma wisata yang penting ikutan lari. Tapi bener sih. Saya melihat banyak wajah-wajah famous di dunia lelarian turun di event ini. Ya sebagian memang sudah ada sponsor yang daftarin sih. Enak ya..

Buat saya MBM 2016 menjadi sejarah dalam hidup. Pertama kali saya menginjak jarak 21K dan proses dari gak pernah lari ke event ini hanya berselang 2 bulan. Latihan fokusnya ya 3 minggu sebelum hari H. Bayangkanlah!

Gak heran kalau akhirnya lutut saya sampai sengklek karena persiapan yang kejar tayang ini. Tapi masih lumayan bangga karena virgin HM saya di track yang luar biasa menantang ini masih di bawah 3 jam.

Banyak drama yang dialami saat mengikuti virgin HM di MBM ini, salah satunya ya kebelet pup. Namanya juga masih newbie-super-newbie. Karena nervous, jadi sebelum lari saya minum air putih lumayan banyak. Hasilnya ya jadi kebelet pipis pas mau start.

Karena tidak tersalurkan akhirnya jadi kebelet pup. Repot juga kan pas lari nanya-nanya toilet ke penduduk setempat buat bisa dinumpangin setoran. Untung gak kebelet yang lain kan!

Dalam keadaan kaki yang sengklek dan track di Bali yang hilly, HM pertama saya lumayan terasa berat. Belum lagi Bali kan panasnya cantik banget. Target di bawah 3 jam jugaTapi untungnya mental mamak-mamak Bekasi ini ternyata lumayan tangguh. Niat bisa sampai finish begitu kuat, jadi pada akhirnya waktu finish sesuai yang ditargetkan.

HM pertama di MBM 2016 finish pada waktu 2 jam 49 detik

MBM tahun ini lain cerita. Lebih gak niat.

Mentang-mentang bukan HM pertama, jadi persiapan gak mateng-mateng banget. Gak punya persiapan khusus. Latihan juga seadanya. Malahan sempet break seminggu lebih.

Dibanding carbo-loading, saya malah berburu gelato.

Mental juga udah gak segugup yang pertama. Malahan terlalu santai.

Karena memang gak membuat target apa-apa di MBM tahun ini. Saya sadar jalur di Bali ini banyak naik turunnya, jadi merasa sia-sia kalau mengejar PB (Personal Best). Ya minimal bisa sub 2 jam 30 menit. Supaya gak terlalu merosot banget bedanya dengan HM di Pocari Run.

Ternyata memang benar. Tanjakan MBM tahun ini masih bikin betis menjerit.

Berusaha santai tapi ya cape juga. Untungnya dari KM 14 jalurnya sudah bersahabat. Sampai finish lancar banget tanpa kendala apa-apa.

Kebetulan waktunya masih sama dengan HM di Pocari Run, yaitu 2 jam 20 detik. Padahal lari HM di Bali lebih menantang dibanding saat di Bandung sebulan sebelumnya.

Half Marathon di MBM 2017 dengan perbaikan waktu dari tahun sebelumnya

Memang benar kata orang-orang: Jam terbang gak bisa bohong.

Semakin sering berlari maka tubuh kita juga semakin biasa. Ini yang mahal dan tidak bisa dibeli. Yang ingin saya pertahankan sekarang adalah tetap bisa menikmati lari.

Berlari bukan maslaah tujuan, tetapi bagaimana menjalani prosesnya. Dibanding terlalu obsesi trus nantinya cape sendiri dan jadi jenuh. Ya.. kan bukan atlet juga. Umur juga udah gak muda-muda banget.

Semoga masih bisa menikmati perjalanan berlari sampai tahun-tahun ke depannya. Tambah pengalaman, tambah cerita. Sangat-sangat menyenangkan!

DSC03420-02 (1)

5 Cara Streching untuk Pendinginan Setelah Berlari

I hate pain!

Saya suka olahraga tapi gak suka sakitnya. Bukan hanya menghambat performa saat latihan dan juga saat race, tetapi menganggu ruang gerak seharian dan hari-hari selanjutnya. Nyeri otot setelah latihan (DOMS) memang kadang datang setelah latihan. Apalagi jika baru melakukan suatu gerakan yang baru.

Benar-benar mesti sabar menghadapi proses adaptasi otot yang gak nyaman.

Memang setelah setahun rajin lari-larian jadi makin melek lagi tentang pentingan pemanasan dan pendinginan. Seperti halnya pemanasan, pendinginan juga menjadi faktor penting untuk menghindari DOMS dan cedera. Lama cepatnya proses recovery tergantung dari kedisiplinan kita juga.

DOMS atau Delayed Onset Muscle Soreness biasanya tidak berlangsung lama. Kecuali jika efek latihannya sampai ke kondisi cedera. Butuh penanganan yang lebih lanjut.

Mengapa pendinginan itu penting?

Saat berlari, detak jantung kita bergerak lebih cepat. Proses pendinginan membantu detak jantung kita melambat dengan bertahap. Demikian yang dikatakan Dr. Grant Cooper, MD, seorang Physical Medicine & Rehabilitation saat sesi tanya jawab di Sharecare.com. Stretching membuat otot untuk rileks dan mencegah tekanan darah menurun secara tiba-tiba, dimana hal ini bisa terjadi apabila darah dibiarkan mengumpul di bagian-bagian ujung yang jauh dari jantung.

Kita bisa melakukan stretching (peregangan) saat pendinginan. Selain dapat mencegah terjadinya DOMS dan cedera, ini juga sebagai bentuk terima kasih kepada bagian-bagian tubuh yang sudah melakukan kerja keras saat latihan atau perlombaan.

Saya mengenal yoga lebih lama dibanding berlari. Yoga membantu saya untuk melakukan stretching dengan optimal. Akan tetapi saya tidak ingin membahas tentang yoga di sini, karena sudah pernah saya tulis dalam artikel Yoga Setelah Berlari. Kali ini saya ingin menuliskan cara pendinginan setelah berlari sesuai yang biasa dilakukan saat latihan regular dan race day.

SEBELUM STRETCHING

 Jantung berdetak dengan sangat cepat ketika berlari. Ketika latihan selesai, sebaiknya jangan berhenti dengan mendadak. Kurangi kecepatan berlari dengan perlahan kemudian berjalan kaki sebagai transisi dari saat lari ke stretching. Jika terasa haus dan lelah, bisa melakukan jalan kaki sambil meminum air putih atau minuman isotonik.

Berdasarkan artikel yang saya baca di Runnersworld.com, lamanya berjalan kaki disesuaikan dengan beratnya latihan pada saat itu. Jika latihan ketika itu tidak terlalu berat (easy effort jogs), kurangi kecepatan dengan berjalan kaki sekitar 3-5 menit. Sebagai opsional, bisa melanjutkan dengan melakukan form drills sekitar 5-10 menit.

Beda halnya jika habis menyelesaikan latihan yang cukup berat seperti latihan tempo dan speed. Kurangi kecepatan perlahan berlari lebih ringan (easy jogs) sekitar 5-10 menit. Kemudian lanjutkan sekitar 3-5 menit dengan berjalan kaki.

Akan tetapi jika hari itu melakukan latihan long run, isi masa transisi dari berlari ke stretching dengan berjalan kaki dahulu selama 10 menit.

Bagaimana dengan jika baru menyelesaikan race? Untuk race jarak 5K-10K, lakukan 10 menit berlari ringan (easy effort jogs) dan 5 menit berjalan kaki. Jika jarak race yang diambil half marathon (21K) atau full marathon (42K), sudahi dengan berjalan kaki selama 10 menit. Hingga napas kita terasa lebih nyaman.

STRETCHING

Peregangan atau stretching -tergantung kamu terbiasa menyebutnya apa- dapat membantu meningkatkan fleksibilitas, meningkatkan rentang gerak, dan mengurangi resiko cedera yang disebabkan oleh luka pada jaringan ikat.

Jika sebelum lari kita melakukan dynamic stretching, tapi jika setelah melakukan aktivitas fisik seperti berlari disarakan untuk melakukan static stretching. Berikut jenis peregangan yang bisa dilakukan setelah berlari:

#1. Quadriceps Stretching (Peregangan pada Otot Paha atas)

Quadriceps salah satu bagian esensial dalam lari. Dalam keadaan berdiri lurus, tarik salah satu kaki ke belakang hingga tumit menempel atau mendekati bokong. Tahan hingga 10-20 detik. Setelah itu lakukan hal yang sama pada bagian kaki lainnya.

#2. Hips Flexor Stretching (Peregangan pada Fleksor Pinggul)

Salah satu bagian yang bekerja pada saat berlari adalah hips flexors. Langkahkan kaki kanan ke belakang, posisi kedua kaki berada dalam keadaan sejajar lurus. Turunkan tulang pinggul ke bawah hingga paha (diusahakan) lurus dan kaki kanan tidak menekuk. Tahan selama 10 detik.

Kemudian turunkan lutut ke lantai dan turunkan lagi pinggul untuk stretching yang lebih dalam. Tahan selama 10 detik. Kembali ke posisi awal dan lakukan bergantian pada sisi kaki yang lainnya.

#3. Hamstring and Lower Back Stretching (Peregangan pada Otot Paha Belakang dan Punggung Bawah)

Para pelari sering melakukan latihan hamstring untuk mencegah terjadinya cedera. Dari posisi sebelumnya, kembalikan kedua kaki dalam posisi awal (sejajar berdampingan). Turunkan tulang punggung dan tarik bagian depan telapak kaki. Kaki kiri dalam keadaan lurus. Dekatkan wajah ke arah lutut (posisi mencium lutut). Tahan hingga 10 detik dan kembali ke posisi semula. Lakukan bergantian pada kaki bagian kiri dan tahan selama 10 detik.

Setelah itu luruskan kedua kaki (dengan lutut tidak menekuk) untuk peregangan di bagian hamstring dan lower back. Turunkan tulang punggung hingga mendekati kaki dan peluk kedua kaki. Dekatkan wajah ke bagian lutut dan tahan selama 10 detik.

#4. Iliotibial Band (ITB) Stretching (Peregangan pada Band Iliotibial)

Untuk meregangkan bagian iliotibial band (ITB), silangkan kaki kanan ke belakang kaki kiri. Kedua telapak kaki menempel pada lantai, miringkan tubuh ke sisi kiri dan pinggul bagian kanan lebih tertarik dengan terdorong ke sisi luar. Tahan selama 10 detik dan ulangi gerakan ini pada sisi lainnya. Sebagai catatan, usahakan tubuh tidak condong ke depan.

#5. Calves Stretching (Peregangan pada Otot Betis)

Saat menuliskan bagian ini saya berulang kali mengetik dan menghapusnya. Ada beberapa pose untuk peregangan otot betis jadi bingung ambil yang mana. Akhirnya saya memilih downward facing dong (adho mukha svanasana), gerakan yoga yang sangat saya suka.

Langkahkan kaki kanan jauh ke belakang, kemudian letakkan kedua telapak tangan di lantai. Posisi bahu dan telapak tangan lurus vertikal. Kemudian tarik kaki kiri ke belakang hingga kedua kaki sejajar berdampingan. Perlahan-lahan turunkan kedua tumit hingga seluruh permukaan telapak kaki menapak pada lantai. Tahan selama 10-20 detik.

Untuk memaksimalkan pada masing-masing sisi, lanjutkan dengan mengangkat paha kanan dengan lutut yang tidak menekuk. Rasakan betis kiri yang semakin mengencang dengan tetap menahan kaki dalam posisi lurus dan tumit kiri yang semakin terdorong ke lantai. Tahan selama 10 detik dan kaki kanan kembali diturunkan. Setelah itu kembali ke posisi paling awal. Selanjutkan lakukan gerakan yang sama dengan sisi kaki berbeda.

#6. Upper Body Stretching (Peregangan pada Tubuh Atas)

Dari posisi berdiri, regangkan tubuh dengan menarik kepala hingga mendekati bahu kanan. Tahan selama 20 detik. Kemudian ulangi pada sisi lainnya. Peregangan leher ini dilakukan ke semua sisi (kanan, kiri, depan, dan belakang).

Tubuh bagian atas meliputi bagian leher, bahu, torso (kanan dan kiri), bahu, tangan, dan pinggang. Walaupun berlari banyak tumpuan pada kaki, tetapi otot-otot tubuh bagian atas pun ikut menegang karena ikut memberi kontribusi pada gerakan berlari.

TAMBAHAN NIH!

 Ada kalanya kita memerlukan penanganan ekstra setelah berlari. Latihan berat seperti long run atau mungkin saat mengikuti race, otot tubuh kita bekerja lebih ekstra lagi dari biasanya. Berikut catatan tambahan berdasarkan pengalaman yang boleh banget dicatat:

Tidak melakukan pijat pada otot setelah berlari!

Dulu saya kira memijat setelah berolahraga itu wajar. Setelah aktif lari jadi tahu bahwa sebaiknya tidak melakukan pijat atau urut pada bagian yang sakit. Pemijatan ditakutkan malah akan memperparah kondisi luka otot yang terjadi setelah berlari. Pijat atau urut juga dapat membuat proses pemulihan lebih lama.

Mengompres dengan Es

Berendam di air dingin atau mengompres tubuh dengan es biasa dilakukan setelah race atau melakukan latihan yang berat. Apalagi jika terdapat signal mengalami cedera. Es atau air dingin membantu mempercepat proses pemulihan jaringan atau sel otot yang rusak.

Menggunakan Gel-Patch Anti Nyeri jika Diperlukan

Ya, saya pernah cedera. Saya tulis juga dalam tulisan sebelumnya: 12 Perubahan pada Diri Sendiri setelah 12 Bulan berlari. Salah satu penolong saya adalah Salonpas Gel-Patch.

Pelari seringkali mengalami nyeri otot dan sendi saat menjalankan program latihan atau pada saat race day. Salonpas Gel-Patch ini membantu untuk meredakan nyeri otot dan sendi  di bagian bahu, pinggang, leher, siku, dan lutut. Lumayan bantu banget saat mengenal produk ini. Karena bahannya elastis dan mudah dilepas. Jadi gak sakit ke kulitnya.

Cara pakainya simpel banget:

  1. Buka kemasan dengan merobek garis pada ujung kemasan
  2. Setelah ujung kemasa dirobek, buka bagian zipnya untuk mengeluarkan koyonya
  3. Regangkan dahulu koyo dengan menarik bagian kanan dan kirinya.
  4. Lepaskan bagian plastic yang melapisi sisi dalam koyo
  5. Tempelkan pada bagian yang sakit

Perhatian: Sebelum menggunakannya sebaiknya mengikuti petunjuk penggunaan pada bagian belakang kemasan.

Pengalaman saya memakai Salonpas Gel-Patch ini karena sensasi rasa dingin ketika dipakai. Jauh dari koyo yang biasanya memberi rasa pedas dan panas. Jadi rasanya seperti sedang dikompres es.

Karena yang saya tahu cedera itu jangan dikompres air panas. Begitupun setelah berlari. Disarankan tidak memakai yang panas-panas, termasuk berendam dengan air panas karena bisa memperparah peradangan.

Ingin merasakan pengalaman seperti yang saya juga? Yuk gabung dulu di Facebook Lets Move With Salonpas dan Instagram @salonpasletsmove. Nantikan info terkini untuk ikutan “Let’s Move” Contest! Karena bisa jadi kamu yang akan mendapatkan kesempatan olahraga bareng Guest Star Salonpas Gel Patch dan mendapatkan tiket Jakarta Marathon 2017!

Selain itu, jangan lupa untuk cek postingan tentang artikel ini di Facebook  https://www.facebook.com/fitritasfiah dan Instagram @fitritash ya! Karena akan ada goodiebag menarik dari Salonpas Gel Patch. Yuk follow sekarang, Gaes!

IMG-20170728-WA0024

Tips Memilih Sunscreen untuk Pecinta Olahraga Outdoor

“Memangnya gak pakai sunscreen?’’

Sunscreen atau tabir surya adalah sahabat bagi pecinta olahraga outdoor. Jadi ya pasti pakai, tapi tidak menghindari potensi kulit saya menggelap.

Selama ini orang mengira fungsi sunscreen adalah untuk mencegah dari kulit yang menggelap akibat efek sinar matahari. Kebutuhan kulit terhadap sunscreen bukan hanya sekadar untuk kecantikan semata.

Saya berolahraga supaya sehat, jangan sampai karena ini malah terkena masalah-masalah kulit efek sengatan sinar ultraviolet. Efek terburuk dari paparan sinar matahari adalah kanker kulit. Untuk itu penggunaan sunscreen adalah salah satu cara yang wajib dilakukan sebelum terkena paparan sinar matahari.

Idealnya menggunakan sunscreen sekitar 20-30 menit sebelum berolahraga. Penggunaannya bukan hanya dalam cuaca panas. Dalam kondisi mendung berawan pun sebaiknya tetap terpakai. Sekitar 80% radiasi sinar ultraviolet dapat menembus awan, meskipun saat langit terlihat mendung.

MEMILIH SUNSCREEN UNTUK OLAHRAGA OUTDOOR

Pada tanggal 27 Juli kemarin, saya dan teman-teman influencer diundang ke acara “Tropcial Cruise ke Nusa Lembongan” dalam rangka launching Bali Breeze, sebuah produk yang diproduksi oleh PT Dion Farma Abadi, anak perusahaan dari Natasha Group.

Acara yang berlangsung di atas cruise tersebut menambah pemahaman saya tentang sunscreen yang baik. Menurut Ryu Deka, Marketing Manager Bali Breeze, produk ini memang dirancang dan diformulasikan berdasarkan pemahaman yang mumpuni mengenai formulasi dan solusi perawatan kulit serta perlindungan kulit dari sinar matahari di negara tropis yang bersinar hampir sepanjang 12 jam setiap harinya, sepanjang tahun.

Bali Breeze, meskipun merupakan produk lokal tetapi memiliki kandungan yang sangat dibutuhkan untuk para pecinta olahraga outdoor di iklim tropis ini.

Nah, saya jadi ingin membagikan tips memilih sunscreen bagi yang suka melakukan olahraga outdoor:

Mengandung SPF 50+

Sun Protection Factor (SPF) adalah komponen penting dalam efektivitas sebuah sunscreen. SPF ini mengacu ke jumlah proteksi dari sebuah sunscreen.

Sinar ultraviolet B (UVB) ini yang membuat efek “sunburn” terhadap kulit saat berjemur di bawah sinar matahari. Jadi SPF membuat kulit kita tahan lebih lama dari efek terbakar karena UVB ini.

Jika kita biasanya berada beraktivitas di luar ruangan sekitar 20 menit sebelum akhirnya kulit berubah kemerahan karena terbakar sinar matahari. Saat kita mengaplikasikan sunscreen dengan SPF 15, kita bisa 15 kali lebih lama sebelum terbakar. Jika mengandung SPF 50  berarti kulit kita dapat bertahan 50 kali lebih lama sampai akhirnya terlihat kemerahan karena terbakar.

Jenis kulit setiap orang berbeda. Untuk kulit asia yang berwarna sawo matang biasanya akan lebih mudah terbakar. Semakin tinggi SPF tentunya semakin bagus. Apalagi jika kita menghabiskan waktu berjam-jam di bawah sinar matahari.

Saat saya melihat kandungan SPF di Bali Breeze adalah 50+. Bali Breeze saat uji invivo mengandung SPF 125, akan tetapi menurut regulasi kandungan di atas 50 hanya ditulis 50+.

Mengandung PA++++

Apalah artinya SPF tinggi jika kandungan PA-nya kecil. Kandungan SPF untuk melindungi kulit dari UVB. Akan tetapi bagaimana perlindungan terhadap UVA?

Sinar ultraviolet A (UVA) dapat menembus lebih dalam  ke lapisan kulit di bawah epidermis (dermis), lapisan terdalam dari kulit. Paparan dari sinar ini dapat membuat kulit mengalamin penuaan dini. Resiko lebih besarnya sampai ke sistem daya tahan tubuh yang melindungi kulit dari kanker kulit.

Baik UVA dan UVB, keduanya memberi kontribusi buruk terhadap kulit, seperti penuaan dini, freckles, age spot, dan kerutan. Terlalu banyak terekspos sinar ultraviolet tanpa perlindungan UVA dan UVB beresiko terkena kanker kulit.

PA adalah perlindungan terhadap sinar UVA. Jadi saat mempertimbangkan membeli sebuah sunscreen, lihat pada labelnya. Selain melihat jumlah SPF, lihat juga jumlah PA-nya. Semakin banyak jumlah “+” berarti semakin baik perlindungannya terhadap UVA. Mulai sekarang lihatnya lebih teliti lagi, ya!

Tahan Terhadap Air (Water Resistant)

Saat berolahraga, keringat membuat lotion yang dipakai luntur. Untuk itu efektivitas perlindungannya pun sia-sia karena sudah tidak menutupi lapisan kulit lagi dengan baik. Untuk itu sunscreen yang diperlukan adalah yang tahan terhadap air.

Selain keringat, hujan juga bisa membuat sunscreen yang dipakai akan luntur. Selain panas, resiko dari olahraga outdoor adalah hujan. Hujan bisa membuat sunscreen yang dipakai luntrur, sedangkan sinar ultraviolet saat hujan tetap dapat menembus kulit.

Untuk olahraga air seperti berenang, sudah jangan ditanya lagi. Sudah pasti memerlukan sunscreen yang water resistant. Tetapi rata-rata sunscreen sudah tahan terhadap air.

Ada dua jenis sunscreen, yaitu “water resistant” dan “very water resistant”. Di dalam pilihan produk Bali Breeze, jenis SPORT sudah dilabeli “very water resistant”. Jenis ini memiliki daya tahan terhadap airnya lebih lama lama. Jika yang biasa bisa tahan selama 8 jam di dalam air, untuk jenis SPORT memiliki daya tahan yang lebih lama lagi.

Walapun tahan terhadap air dan keringat, sebaiknya mengulang pemakaian sunscreen setiap 2 jam sekali.

Tidak Mengandung Paraben

Paraben adalah zat pengawet yang digunakan dalam berbagai produk perawatan tubuh  untiuk mencegah pertumbuhan jamur, bakteri, dan mikroba lainnya. Bahan kimia penganggu endokrin ini dapat diserap melalui kulit, darah, dan sistem pencernaan.

Perawatan kulit yang mengandung  paraben memiliki banyak potensi resiko buruk terhadap kesehatan, seperti mengganggu kesuburan dan bahaya kanker kulit. Untuk itu dalam memilih produk perawatan kulit termasuk sunscreen, pilih yang tidak mengandung paraben.

Mengandung Perlindungan Tambahan untuk Perawatan Kulit

Kulit orang yang sering terkena sinar matahari tentunya harus lebih dijaga dibanding yang hanya berada di dalam ruangan. Masalah-masalah yang sering dihadapi bagi kita yang suka berolahraga outdoor adalah masalah kulit kering dan kusam.

Nilai tambah sunscreen adalah yang memproteksi radikal bebas dengan zat antioksidan. Melindungi kulit dari zat radikal bebas seperti kulit kering, kusam, penuaan dini, dan kanker kulit.

Disarankan untuk memilih sunscreen yang memiliki perawatan ekstra terhadap kulit. Seperti Bali Breeze yang mengandung Ektrak Edelweis sebagai Radical Protection Factor (RPF). Kandungan Repair Complex-nya dapat membantu mencegah terjadinya kerusakan kulit yang disebabkan oleh sinar UV.