velpicstitch20170718_140225

12 Perubahan Pada Diri Sendiri setelah 12 Bulan Berlari

Hari minggu nanti terdapat event Milo Jakarta International 10K 2017. Jadi ingat kalau pada tahun lalu, saat saya mengikuti race untuk pertama kali: Milo Jakarta International 10K 2016.

Saat itu gugupnya luar biasa karena bagi saya 10km adalah jarak yang jauh. Dari rumah saya di Bekasi, jarak segitu saya sudah bisa sampai ke Cibubur. Dan ini harus lari jarak segitu?

Milo Jakarta International 10K 2016 sebagai race pertama Fitri Tasfiah

Race pertama saya ternyata gak membuat ibu-ibu yang keras kepala ini kapok. Sebulan kemudian saya berngkat ke Bali hanya untuk lari semata di Maybank Bali Marathon (MBM) 2016,  jarak 21K (Half Marathon) pertama saya. Biarpun bisa finish, saya harus mengalami cerdera lutut di masa persiapannya. Katanya sih biasa untuk pelari baru.

Yang jelas ini bukan wajah kebelet pup, tapi kebelet pengen finish

Dari berbagai ketakutan menghasilkan berbagai kepuasan saat menginjak garis finish. Setelah mengikuti MBM 2016, seminggu kemudian saya sudah mengikuti race lagi untuk jarak 10K. Dan ini berlanjut ke minggu-minggu setelahnya.

12 PERUBAHAN NYATA SETELAH 12 BULAN BERLARI

Seorang bayi yang berusia 12 bulan biasanya sudah belajar untuk berjalan. Untuk sampai ke tahap berjalan, dia belajar untuk tengkurep, duduk, dan merangkak. Saya pun sama. Saat mengalami 12 bulan berlari, saya merasa seperti sedang berproses. Banyak banget hal-hal yang berubah setelah saya mulai berlari!

#1 Lebih rajin bangun pagi sekali saat weekend

Bangun pagi sudah biasa, tapi bangun pagi banget saat weekend ini yang membuat luar biasa. Entah harus bangga atau miris. Paginya bukan jam 5, tapi bisa jam 3 pagi. Bahkan saya sempat memasang alarm pukul 2 pagi untuk persiapan race.

Sungguh di atas rata-rata.

Pelari ini mirip satpam yang kebagian piket. Langit masih gelap malah ke luar rumah.

Pukul 4.30 pagi sudah wefie sebelum start 10K Herbalife Run di BSD

Event lari memang seringkali dimulai pukul  5 pagi. Saya memerlukan waktu minimal sejam sebelumnya di venue untuk mencari parkiran, buang air (kecil ataupun besar), ngobrol, foto, dan pemanasan. Biarpun beberapa kali saya gak sempat pemanasan karena harus ngantri untuk ke toilet selama setengah jam.

Dan karena rumah saya di Bekasi yang {ehm) kemana-mana jauh, jadi harus sadar diri berangkat lebih pagi. Kalau sampai terlambat kan sayang banget.

Anehnya, kok aktivitas di pagi buta ini bikin saya ketagihan. I feel so anti-mainstream!

#2 Gak terlalu takut sama hujan

Untuk orang yang selalu berlari outdoor, sudah gak terhitung lagi berapa kali saya lari sambil hujan-hujanan. Baik saat sedang latihan ataupun race.

Sudah bangun pagi buta -yang tentu saja jadi harus mandi pagi banget juga- dan kadang hujan-hujanan. Pengalaman paling seru sih saat mengikuti race Anyo Run di Alam Sutera. Saat peserta bersiap-siap untuk start, tiba-tiba turun hujan dan deras pula. Anehnya, saya malah bersorak.

Asik juga lari hujan-hujanan. Mengenang masa kecil yang terlalu bahagia, hehe..

#3 Jadi rajin belanja

Buat kaum hawa, mungkin saya termasuk orang yang gak suka-suka banget belanja. Bukan karena gak merasakan kenikmatan saat belanja, tapi ya karena faktor “ngirit adalah segalanya”. Mau beli legging yoga yang agak mahalan aja mikirnya bisa 1000 kali.

Kalau bisa beli yang murah, kenapa harus yang mahal?

Salah satu prinsip dompet saya. Di suatu pagi yang tanpa kesibukan saya mengisinya dengan mencuci semua sepatu. Saat  itu saya merasa satu sepatu lari saya bisa membeli legging yoga yang kaya seleb-seleb Instargram. Apalagi sepatu yang saya cuci saat itu ternyata banyak.

Belum lagi ketika harus merapikan lemari. Saya harus membeli satu lemari lagi untuk menampung baju dan celana lari. Dan ya.. celana compression itu sebenarnya harganya udah ngelebihin harga celana yoga yang premium. Tapi kok gak kerasa ya?

Tau-tau udah ada paket ke rumah yang isinya barang hasil belanja online.

#4 Badan akhirnya kurusan biarpun makan karbohidrat jalan terus

Selama bertahun-tahun berat badan saya cenderung stabil. Saking stabilnya sampai kayanya susah banget buat turun lagi. Saat sudah rajin lari pun berat badan sih tetep aja.

Di awal tahun 2017 saya mempunyai resolusi bisa finish full marathon. Saat itu saya akhirnya latihan dengan pelatih pro dan mengikuti program latihan. Saat menjalani program latihan, sering dibilang kurusan sama temen-temen.

Sekarang berat badan stabil sudah di angka 48. Kalau baru bangun pagi sih bisa di angka 47. Tentunya angka itu akan berubah saat ada makanan masuk ke dalam tubuh. Hahaha..

#5 Dari lari-untuk-kurus menjadi kurus-untuk-lari

Walaupun niat saya berlari bukan untuk menguruskan badan, tapi ada harapan bisa lebih kurus dengan melakukan olahraga ini. Semenjak rajin berlari dan mengikuti beberapa race, saya jadi ingin lebih kurus supaya bisa lebih ringan saat berlari.

Jadi kebalik ya? Hmm..

Semakin berkurang berat badan, maka semakin berkurang juga beban tubuh saat berlari. Sejujurnya dengan berkurangnya 3 kilo ini, kaki saya menjadi lebih enak saat berlari. Makanya semoga bisa lebih kurus lagi.

#6 Jadi punya banyak teman di Facebook

Saya pernah menghapus banyak teman di Facebook supaya privacy lebih terjaga. Ada rasa kebanggaan saat jumlah teman di Facebook berkurang hingga total menjadi 800 teman. Tentunya masih banyak yang harus difilter lagi.

Semenjak rajin berlari, teman di Facebook jadi lebih banyak. Rata-rata ya teman lari. Bahkan ada beberapa yang belum pernah ketemu. Aneh, ya? 😀

#7 Isi sosmed kebanyakan foto lari

Social media adalah wadah yang menaungi curhat dan pencitraan, jadi isinya mewakili aktivitas yang dijalani. Hampir setiap hari minggu saya berlari, baik hanya sekadar latihan ataupun ikut race. Belum lagi setiap hari selasa dan kamis ada jadwal latihan.

Dan saya lumayan rajin update status. Jadi gimana gak foto lari semua?

#8 Gak gampang sakit

Saya memiliki imun yang gak bagus-bagus banget. Dulu setiap bulannya ada aja masa teparnya. Biasanya karena kecapean dan badan “nagih” untuk istirahat.

Semenjak lari saya merasa jadi lebih kebal sama virus dan bakteri. Bukan berarti gak pernah sakit juga, ya!

Walaupun terkadang saya kehujanan saat sedang berlari, tapi alhamdulillah daya tahan tubuh lumayan terjaga. Malahan kalau udah agak gak enak badan, sedikit berlari ringat membuat tubuh jadi fit lagi.

#9 Cintai karbohidrat apa adanya

Di suatu pagi pukul 4, ketika rumah masih senyap, saya turun ke bawah untuk menyantap nasi tanpa lauk. Saya mengunyah sambil berjalan ke dalam mobil. Ya, saya ingin berlari di sebuah event lari dan merasa harus menyimpan karbo untuk dibakar.

Apakah enak hanya makan nasi? Tentu tidak!

Saya sudah gak mikirin rasa. Targetnya yang penting ada bahan bakar. Sebenarnya saya tidak setiap hari memakan nasi. Tapi jika ada jadwal berlari selalu menyempatkan mengisi perut dengan nasi atau karbo apapun. Kebetulan karbo memang makanan sahabat pelari, kecuali yang melakukan diet keto.

Kalau ada pasta saya lebih bahagia lagi. Lari membuat saya bisa mengonsumsi aglio olio tanpa merasa bersalah.

#10 Pergi jauh-jauh cuma buat lari

Kadang mesti jalan ke alfamart aja malesnya luar biasa, tapi saya bisa bolak balik Bekasi-BSD cuma untuk ikut race. Berlari di Bali, Lombok, dan Kuala Lumpur adalah pengalaman yang akan terekam sepanjang hidup.

Kumpul pukul 3 pagi dengan kawan lari dari Run For Indonesia untuk Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon

Harapan saya sih bisa banyak menjelajah Indonesia dengan berlari. Harapan yang agak ngarepnya lagi bisa berlari di berbagai negara. Namanya juga recreational runner.

#11 Lebih mengenal tubuh dari cedera

Lari itu memberi banyak pengalaman, salah satunya cedera. Dari mulai cedera lutut, cedera pergelangan kaki, cedera di betis, hingga yang sedang saya alami: piriformis syndrome.

Tapi dari berbagai cedera yang dialami, saya mencoba belajar dan mengenali tubuh lari. Mencoba melakukan terapi pada diri sendiri yang mudah-mudahan nantinya berguna untuk oranglain.

Berlari, walaupun kesannya sederhana tetapi banyak kejutan saat menjalaninya. Latihan penguatan otot dan menambah elastisitas merupakan salah satu cara untuk menghindari cedera. Jadi walaupun berlari, jenis latihannya lumayan variatif.

#12 Lebih banyak bersyukur

Kuku menghitam hingga lepas, kulit terbakar, tumbuh jerawat, dan blister adalah resiko yang tubuh saya harus terima. Tapi hal ini gak membuat saya mengeluh ataupun kapok. Semuanya disenyumin aja.

Dari perubahan fisik yang dialami, saya justru merasa bersyukur masih diberi kesehatan untuk bisa tetap lari. Karena ada banyak orang yang tidak bisa berlari karena kondisi fisiknya yang gak memungkinkan.

Ada teman yang mengatakan “Kuku lepas tandanya kita masih punya kaki.”. Paling jadi malu kalau mau manicure pedicure karena kukunya aja udah ringsek. Perawatan kuku terpaksa harus self-service.

Biarpun saya tahu lari itu membuat kulit lebih kering dan gelap, tapi menjaga kulit tetap perlu. Karena tahu akan terbakar, penggunakan sunscreen sebelum berlari adalah hal yang penting. Supaya gak kering, tidak lupa untuk memakai pelembab sebelumnya.

Biar kulitnya gak berontak juga diajak lari terus. Menjaga tubuh juga salah satu cara untuk bersyukur. Ya, gak?

12 bulan berlari membawa 12 pengalaman yang berharga untuk diri sendiri. Dari setahun, apakah saya bisa mencetak PB baru untuk kategori 10K? Doakan saya ya!

DSC03748-01

Gerakan Yoga untuk Mengusir Lemak Perut Sisa Lebaran

Siapa yang sanggup menolak makan ketupat dan opor ayam di hari pertama lebaran? Belum lagi kaastengel dan nastar dalam toples tampak menggoda. Lalu bagaimana dengan lemak di perut?

Buat yang tidak tahan untuk tidak menyicipi hidangan khas setahun sekali ini mari kita berdoa berolahraga bersama-sama agar lemak dalam hidangan tersebut tidak berlama-lama mendekam di dalam perut. Apalagi yang sudah usaha mati-matian sepanjang tahun ini dengan berolahraga demi menjalani pola hidup sehat dan membuang lemak-lemak yang membandel.

Terkadang saat merayakan hari raya terasa tidak nyaman dalam perut. Bisa jadi karena pola makan di hari raya yang seringkali membuat khilaf. Namanya juga sedang merasakan euforia lebaran. Ada beberapa upaya supaya kandungan tersebut tidak meninggalkan efek yang buruk adalah:

1. Memenuhi kebutuhan serat makanan dengan buah-buahan

Awali hari kamu dengan mengonsumsi buah. Pilih buah-buahan yang tinggi serat seperti pepaya, jeruk, apel, dan pir. Buh-buahan seperti pisang dan alpukat juga kaya akan serat dan dapat meningkatkan energi dalam tubuh kita. Buah-buahan juga kaya akan vitamin yang membantu menjaga daya tahan tubuh selama hari raya.

2. Memperbanyak minum air putih

Jika hari-hari biasa kita biasa mengonsumsi air putih sebanyak 6 gelas sehari, untuk hari raya ini bisa menambahkan porsinya. Terutama yang sedang merasa sembelit. Air putih dapat membersihkan usus dan membuang zat-zat yang tidak baik untuk tubuh. Minum air putih dapat meningkatkan sistem metabolism sebanyak 14%.

3. Berolahraga

Olahraga dapat membantu meningkatkan aliran darah dalam tubuh, termasuk sistem pencernaan. Dengan menggerakkan tubuh, saluran pencernaan kita pun menjadi tidak malas dan tetap berkerja. Dengan berolahraga, kita bisa mengindari masalah-masalah yang terjadi pada perut, seperti kram perut, kembung, mulas, ataupun sembelit. Selain itu juga dapat meluruhkan lemak-lemak dalam tubuh. Memang di saat hari raya ini kita mesti pintar-pintar mengambil waktu untuk berolahraga. Jika memang ada waktu yang cukup banyak, yoga di dalam kamar bisa menjadi pilihan terbaik.

GERAKAN YOGA UNTUK MENGUSIR SISA LEMAK OPOR AYAM DI PERUT

Apapun makanannya, jika pencernaan kita baik maka efek untuk tubuh tidak terlalu besar. Jadi usahakan untuk membuat pencernaan kita selalu sehat. Berikut gerakan yoga yang saya rekomendasikan untuk melancarkan sistem pencernaan dan menghindari penumpukan lemak pada perut:

Vajrasana (Diamond Pose)

Vajrasana atau juga dikenal dengan diamond pose adalah gerakan yoga yang baik dilakukan setelah makan. Posisi duduk ini dapat membantu melancarkan sistem pencernaan dan membantu mengatasi masalah konstipasi.

Bantu posisi tulang punggung dalam keadaan tegak lurus. Kedua tangan berada di atas masing-masing lutut. Tutup kedua mata dan tarik napas yang dalam dengan perlahan dari kedua hidung. Kemudian buang kembali napas dari hidung dengan perlahan dan lembut. Lakukan selama 5-10 kali sebagai bagian pemanasan untuk lanjut ke gerakan yoga berikutnya.

Jika ingin melakukan ini untuk melancarkan sistem pencernaan setelah makan, lakukan vajrasana selama 10-15 menit. Lakukan dengan rutin setiap harinya untuk hasil yang maksimal.

Paschimottanasana (Forward Bend Pose)

 

Pachimottanasana berasal dari kata “Paschima” yang berarti belakang dan “Uttana” yang memiliki arti peregangan. Gerakan yoga ini untuk meregangkan seluruh tubuh bagian belakang, dari mulai kepala, tulang punggung, hingga kaki.

Selain untuk peregangan bagian belakang dari tubuh kita, posisi ini juga baik untuk sistem pencernaan. Bagi yang memiliki masalah konstipasi dan masalah pencernaan lainnya bisa melakukan gerakan ini setiap harinya. Dan yang terpenting adalah: mengurangi simpanan lemak yang tidak diinginkan di dalam perut.

Saat melakukan paschimottanasa, usahakan posisi kaki tetap lurus (tidak menekuk). Tarik napas dan kembungkan berut kita dengan udara, kemudian buang napas dan kempiskan perut dengan maksimal hingga tidak ada lagi udara yang tersimpan pada rongga perut, seakan-akan lambung kita menempel pada tulang punggung.

Saat exhale, turunkan tulang punggung kita hingga bagian wajah mendekat pada kaki. Tahan posisi ini selama 10 kali pernapasan. Lakukan sebanyak 3 kali.

Bharmasanasana (Table Pose)  – Bitilasana (Cow pose) – Marjaryasana (Cat Pose)

 

Runtutan gerakan table pose – cow pose – cat pose adalah gerakan yoga yang umum dilakukan sebagai bagian dari peregangan untuk memulai gerakan-gerakan yoga yang menumpu pada lantai, seperti down dog dan plank. Gerakan ini meregangkan tulang punggung, pinggul, dan perut.

Gerakan ini seperti membentuk meja yang memiliki 4 kali. Tubuh kita bertumpu pada 4 kaki, yaitu kedua lutut dan kedua telapak tangan. Usahakan kedua lutut sejajar dengan tulang pinggul dan kedua telapak tangan sejajar dengan kedua bahu.

 

Saat inhale, panjangkan leher kita dengan mengangkat dagu ke atas. Dekatkan kedua tulang belikat dan tulang punggung terdorong ke bawah tetapi bagian pinggul tetap di atas (seakan-akan tulang punggung sedang diduduki dari atas). Gerakan ini disebut Cow Pose.

 

Saat exhale, tarik kembali dagu ke arah dada dan kedua tulang belikat dalam posisi berjauhan. Perut tertarik ke atas dan posisi tulang punggung membentuk satu lengkungan ke atas. Gerakan ini dikenal dengan Cat Pose.

Lakukan rangkaian gerakan yoga ini sebanyak 5 -10 kali. Gerakan ini diawali dengan table pose. Saat rangkaian gerakan dan pernapasan ini berakhir, kembali ke posisi awal (table pose).

Adho Mukha Svanasana (Downward Facing Dog Pose)

 

Adho Mukha Svanasana atau sering hanya disebut dengan Down-Dog Pose adalah gerakan yoga yang mudah dipelajari. Gerakan ini meregangkan bagian belakang tubuh, dari bagian tulang belikat, tulang punggung, hamstring, dan juga betis. Selain dari itu, gerakan ini juga bagus untuk membantu meningkatkan kerja dari sistem pencernaan.

Lakukan gerakan ini baik dilakukan sebelum memasuki gerakan plank. Biarkan tubuh bertahan dalam posisi ini selama 10 kali pernapasan.

Phalakasana (Plank Pose)

 

Sudah banyak yang tahu bahwa Phalakasana atau umum dikenal dengan plank merupakan gerakan yoga yang sangat baik untuk menguatkan otot core. Setelah beberapa peregangan di atas, buang lemak dalam perut dan bentuk otot dengan gerakan plank.

Lakukan gerakan plank dengan durasi bertahap dari 30 menit untuk pemula. Jika sudah terbiasa, lakukan selama 60 hingga 120 menit. Lakukan sebanyak 3 kali.

Plank Leg Variation: Knee to Elbow

 

Gerakan ini masih dalam tahap menguatkan dan membentuk otot perut. Setelah melakukan basic plank di atas, lakukan variasi dengan mengangkat lutut ke kanan dan kiri dari siku tangan. Lakukan dengan bergantian antara kanan dan kiri kaki.

 

 

Saat lutut menempel pada siku tangan, tahan selama 10 detik.

Saral Hasta Bhujangasana (Straight Arm Cobra Pose)

 

Saral Hasta Bhujangasana disebut juga Fying Cobra, yaitu posisi Cobra Pose dengan tangan lurus dan paha tidak menapak pada matras. Gerakan ini memberi ponekanan organ yang berkaitan dengan sistem pencernaan, yang juga dapat membantu kamu untuk mengatasi masalah konstipasi.

Selain untuk masalah pencernaan, gerakan ini juga baik untuk menjaga tulang punggung tetap sehat. Jadi jika terasa nyeri pada leher dan punggung, bisa juga melakukan posisi yoga ini untuk relaksasi.

Saat melakukan Flying Cobra, usahakan kedua kaki tetap rapat. Posisi bahu di dorong ke belakang dan dada terdorong ke depan (berlawanan arah). Tarik napas dan kembangkan dada dengan mengangkat dagu ke atas, kemudian buang napas dan kepala menengok ke sisi kanan dengan melihat tumit kaki.

Kembali tarik napas dan angkat dagu ke atas, dan buang pandangan mata ke tumit kiri saat menghembuskan napas. Lakukan gerakan ini sebanyak 10 kali pada masing-masing sisi.

Jika terasa nyeri pada lower back, istirahatkan tulang belakang dan letakan pinggul di matras.

Balasana (Child’s Pose)

 

Istirahatkan tubuh sejenak dengan balasana atau dikenal dengan Child’s Pose. Lakukan gerakan ini dengan kedua lutut yang berdekatan, sehingga perut dapat beristirahat di atas kedua paha. Dengan melakukan menarik napas dan menghembuskan napas di posisi ini maka organ dalam dalam perut kita terasa seperti dipijat.

Oleh karena itu gerakan ini dianggap dapat membantu melancarkan pergerakan sistem pencernaan. Lakukan gerakan ini dengan menarik napas dan menghembuskan napas dengan panjang dan perlahan. Lakukan selama 30 detik hingga 60 detik.

Ardha Pawanmuktanasana

 

“Ardha” memiliki arti setengah. “Pawanmuktanasana” berasal dari kata “Pawn” yang berarti angin, “Mukhta” berarti bebas atau melepaskan. Ardha Pawanmuktanasana yaitu gerakan yoga yang dapat membantu melepaskan gangguan pencernaan.

 

Dengan melakukan gerakan ini maka otot perut kita tertekan dan bagian organ dalam perut kita seperti dikompres, sehingga sirkulasi darah lebih lancar dan meningkatkan kinerja organ dalam, dalam hal ini adalah sistem pencernaan.

Selain membantu mengatasi masalah dalam perut seperti gas dan konstipasi, gerakan ini juga dapat membantu mengurangi lemak di area perut, paha, dan bokong. Pasti tertarik, kan?

Angkat kaki kanan dan tekut lutut hingga menempel pada dada. Bantu tekan lutut ke dada dengan tangan kiri. Saat exhale, tarik lutut ke sisi kiri tubuh dan kaki kanan tetap lurus di atas matras (Tidak menekuk). Arahkan kepala ke sisi berlawanan dan bahu kanan tetap rileks. Lakukan pernapasan dengan perlahan dan panjang sebanyak 10 kali.

Seteah itu kembali ke posisi awal dan ulangi tahapan yang sama pada sisi tubuh yang lainnya. Lakukan masing-masing sisi kanan dan kiri sebanyak 3 kali.

Shavasana (Corpse Pose)

 

Shavasana adalah gerakan yoga yang paling diminati dan ditunggu-tunggu. Termasuk kamu, kan?

Gerakan ini dilakukan untuk merelaksasikan seluruh tubuh setelah melakukan asana. Pusatkan pikiran dan konsentrasi pada pernapasan dan lepaskan rasa letih pasa seluruh otot tubuh.

Hari raya memang saat yang dinanti-nanti, tapi masalah perut tidak mungkin diinginkan, kan? Pencernaan yang sehat dapat membuat aktivitas menjadi lebih nyaman. Dengan memperbanyak makanan berserat, minum air putih yang cukup, hingga melakukan yoga dapat membantu pencernaan menjadi lebih sehat. Nilai tambahnya adalah: perut tetap rata!

DSC03420-01

Tips Menjalankan Latihan Lari Saat Puasa

“Jangankan untuk olahraga, buat jalan kaki ke toilet saja rasanya lemas.”

Keluhan saya dan mungkin beberapa teman-teman juga yang sedang menjalani hari-hari pertama puasa. Pada bulan Ramadan, umat Islam menjalankan ibadah puasa selama satu bulan. Ada beberapa perubahan yang dialami saat menjalankan puasa ini, dari mulai perubahan pola makan hingga pola tidur. Perubahan pola hidup ini membuat tubuh memerlukan adaptasi.

Saat masa adaptasi seringkali tubuh merasa malas untuk bergerak. Saat jarum jam menunjukkan pukul 12 siang, perut terasa kembali lapar. Mengapa? Karena ini adalah waktu di mana penyerapan makanan dalam usus berakhir. Pola ini jika kita terakhir mengonsumsi makanan pukul 4 pagi. Jadi setelah 8 jam berakhir, tubuh mulai “nagih” makanan baru.

Rasa lapar biasanya akan melebar menjadi rasa lemas. Rasa lemas saat puasa karena tubuh kita kekurangan glikogen. Dalam tubuh tersayang kita ini, glikogen sebagai cadangan makanan yang akan dibakar saat beraktivitas. Untuk memecah cadangan makanan menjadi glikogen tidak bisa berlangsung instan. Sedangkan cadangan makanan berupa glikogen hanya bisa bertahan sekitar 10 jam. Jadi, haruskah kita berhenti latihan saat puasa?

Di bawah ini saya tulis beberapa tips yang saya ambil dari tulisan saya di bugaraga.com:

BIJAK DALAM MENGATUR JADWAL LATIHAN

DSC03414-01
Lari sore di GOR Soemantri Brojonegoro Kuningan

Untuk yang berdomisili di Jakarta, coba mampir ke GOR Soemantri Brojonegoro di sore hari pada bulan puasa ini. Walaupun bulan puasa tapi tidak membuat jalur larinya bersih tidak terjamah. Padahal sebagian dari mereka sedang menjalankan ibadah puasa.  Dari teman saya yang juga seorang penggiat triathlon, Chaidir Akbar, ada tips latihan saat menjalankan ibadah puasa ini:

Mengatur intensitas latihan

Wajar kalau haus saat puasa, apalagi jika harus latihan fisik. Buatlah lebih fleksibel dengan memahami tubuh sendiri dan mengurangi intensitasnya. Yang penting tetap bergerak, kan?

Mengatur waktu latihan

CFD Sudirman saat puasa lebih kosong
CFD Sudirman saat puasa lebih kosong

Kalau lari di saat mataharis edang nyala-nyalanya sih nyari penyakit ya. Keringat yang keluar pun akan lebih banyak. Takutnya kamu malah mengalami dehidrasi. Pilih waktu yang kira-kira lebih teduh: pagi atau sore. Atau mungkin ruangan terturup dan ber-ac seperti tempat gym bisa menjadi pilihan.

Kalau mendapat pilihan waktu latihan antara pagi atau sore, saya memilih sore. Jika haus kan tinggal menunggu waktu bukan, gak jarak antara latihan dengan waktu berbuka tidak terlalu lama. Kalau pagi resikonya bisa mager (baca: males gerak) seharian.

Tapi kalau saya memilih setelah berbuka. Pada awal puasa saya mencoba lari sebelum berbuka dan malah kurang efektif. Tenaga untuk berlari bisa dibilang nihil. Perut kosong saat berlari ini juga membuat lambung terasa diperas. Tapi, setiap orang memilih pilihan yang berbeda.

Memecah latihan menjadi dua sesi

Ini khusus yang memang rajin banget latiannya. Saya tidak termasuk di dalamnya. Untuk pelari yang ingin mengambil jarak yang panjang mungkin merasa kepayahan jika dilakukan saat puasa. Agar lebih ringan bisa dipedah menjadi 2 sesi. Misalnya satu sesi di pagi hari sebelum matahari terbit dan satu sesi di sore menjelang berbuka. Jadwal latihan bisa dibuat fleksibel, yang paling memungkinkan kita bisa jalani.

Mengambil jarak yang lebih pendek saat masa adaptasi

Pada masa awal-awal puasa tubuh kita masih melakukan adaptasi terhadap perubahan gaya hidup. Jadi dalam masa adaptasi ini kita bisa melakukan dengan cara berlari dalam jarak atau periode yang lebih pendek dari kebiasaan. Berlatih dalam intensitas rendah untuk melatih tubuh menggunakan energi dari lemak tubuh.

BIJAK DENGAN MENGATUR MENU SAHUR DAN BUKA PUASA

Sedikit membahas mengenai fisiologi berpuasa. Di laman HelloSehat dijelaskan bahwa saat kondisi normal, glukosa menjadi sumber energi utama. Glukosa ini tersimpan di liver dan otot. Saat melakukan kegiatan, tubuh kita memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi. Pembakaran glukosa sebagai sumber energi dalam beraktivitas tidak dapat menghabiskan seluruhnya di dalam liver, masih disisakan sebagai cadangan energi untuk melakukan fungsi lainnya di dalam liver.

Bagaimana jika batasan penggunaan glukosa sudah mentok? Disini lemak dalam tubuh kita berkontribusi sebagai sumber energi selanjutnya. Penggunaan lemak ini sangat bermanfaat dalam penurunan berat badan sekaligus penurunan kolesterol darah.

Oleh karena itu agar puasa tetap sehat dan dapat menjalankan program latihan perlu pintar juga dalam memilih menu sahur dan berbuka. Asupan makanan dan minuman yang seimbang memegang peranan yang penting selama puasa. Pilih makanan yang cukup karbohidrat dan lemak.

Jika kurang asupan ini maka tubuh mulai menggunakan protein sebagai sumber energi. Protein yang dipecah berasal dari otot sehingga otot dapat mengecil dan melemah. Tentunya bukan hal yang diinginkan bagi para pelari atau penggiat olahraga lainnya. Termasuk kamu, kan?

Cukup berarti tidak berlebih. Nasi goreng dua piring sebagai menu sahur juga bukan pilihan yang bijak. Saat puasa tahun lalu saya datang ke acara buka puasa yang mendatangkan Dr. Pauline Endang – spesialis ahli gizi – sebagai pembicara. Dr. Pauline menyarankan untuk memilih makanan yang mengandung karbohidrat kompleks dan makanan yang kaya serat agar energi dalam tubuh tidak lekas habis. Jadi jangan lupa untuk memasukan sayur dan buah dalam menu sahur.

Saat berbuka kita sebaiknya makan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi. Agar dapat memaksimalkan cadangan glikogen otot.

Bagaimana dengan lemak? Makanan dengan lemak tinggi justru dapat membantu memperlambat pencernaan sehingga tubuh tidak cepat lapar dan lemas. Jadi untuk sahur kita bisa memasukan makanan yang mengandung lemak. Jadi tubuh masih memiliki cadangan energi untuk berolahraga.

Oleh karena itu makanan dengan gizi seimbang ini sangat penting agar puasa tetap sehat. Selain makanan, kita juga perlu memperhatikan asupan cairan. Minum air putih setidaknya minimal 8 gelas setiap hari atau sekitar 2500ml. Jika kurang cairan, ginjal kita bekerja lebih keras lagi. Untuk yang ingin tetap menjalankan program latihan saat puasa, bijaklah dalam mengatur menu sahur dan berbuka. Jangan lupa dengan pemilihan waktu latihan. Selamat berpuasa!

Artikel di atas diambil dari artikel bugagara.com dengan judul “Tips untuk Menjalankan Program Latihan Saat Puasa”.

velpicstitch20170718_140225

6 Trik Pelari Pemula Menaklukan Lari Maraton Pertama

Lari santai gak harus mikir? Salah banget. Apalagi kalau lari untuk full marathon. Saya percaya setiap pelari punya metode masing-masing untuk mempersiapkan race. Kebetulan saya ini masuknya ke recreational runner. Pokoknya yang waktunya jauh banget lah sama pelari podiumer.

Berlari santai juga perlu Persiapan. Kalau gak siap gimana bisa santai? Kalau latihan sih ya sudah jelas wajib hukumnya. Semakin jauh berlari, semakin banyak tenaga yang terbuang. Bagaimana berlari dengan efisien?

BUAT TARGET WAKTU!

Bagaimana bisa mendapatkan target waktu? Berdasarkan hasil latihan dan pencapaian waktu di race 10K dan 21K sebelumnya. Saya berani membuat target waktu 5.30 untuk maraton pertama di Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon (SCKLM), setelah waktu half marathon race sebelumnya (pada akhirnya) bisa di bawah 2.30. Sebelumnya agak susah menembus ini. Masalah waktu sih. Semakin terbiasa kita berlari maka semakin terbiasa juga dengan jarak.

04.00 – Start

06.30 – 21km

08.00 – 30km

09.30 – Finish

Target ini gak mutlak kok. Belajar dari pengalaman, saya sadar kalau kita gak akan tau “faktor X” yang mungkin terjadi saat race. Tapi bikin patokan gak ada salahnya. Jadi tau kapan harus santai dan seberapa santai. Kalau ada sisa waktu banyak kan waktu santainya agak lamaan. Santai saya ini maksudnya berjalan kaki. Pokonya apapun yang terjadi jangan sampai berhenti. Takut nanti jadi ngunci dan susah lari.

Iya, saya pernah 2 kali kena kram saat race HM dan rasanya gak enak banget.

Berlari di track yang memiliki elevasi lumayan panjang memang perlu strategi. Selain saya mempercayai Saucony Freedom yang baru dibeli menjelang race (uhuk! Pamer…), saya (mesti) mempercayai badan saya sendiri. Ini strategi pelari ala-ala ini dalam menghadapi rute SCKLM yang buat kata orang-orang menantang:

1. Fokus dan sensi

Entah saya harus bersyukur atau sedih saat kehilangan Sony Walkman yang menjadi senjata saya supaya gak bosen kalau lagi lari. Bete juga sih karena biasa race dengan earphone. Tapi ternyata ini yang menjadi penolong saya di SCKLM. Pas tau badan cape banget yaudah jangan ngoyo. Dipaksain lari juga pace-nya gak bakal nambah banyak. Nah ada momen badan saya dingin banget. Kayanya sekitar KM 17. Langit masih redup. Saya liat kulit tangan sudah mengeluakan garam. Bibir juga asin. Lidah pait.

Lidah mulai nagih yang manis-manis. Saya mulai mengurangi pace dan banyak jalan. Selain itu memang kecapean juga banyak dihajar naik turun. Lumayan pegel-pegel di paha dan betis. Saya berlari dengan menikmati cadangan terakhir energy gel (yang pertama sudah dimakan di KM 10). Sampai bertemu WS langsung meneguk air putih. Sampai badan enakan saya coba lari lagi seperti biasa. Yang tahu kondisi badan kita ya diri kita sediri. Jadi saat berlari – meskipun di kecepatan yang menurut kita santai – mesti tetap fokus.

2. Dukung kenyamanan berlari

Apa yang bikin kita gak nyaman saat berlari, hindari! Karena tidak memiliki mental dan fisik sekuat atlet, saya memilih gear yang menambah kenyamanan. Sadar diri gak kuat kena terik matahari, saya memakai sport eyewear, visor, dan buff. Buff ini fungsinya sekalin untuk mengelap keringat bisa juga dipakai dikepala untuk menutupi ubun-ubun dari sinar matahari. Sadar kakinya gampang pegal, saya memakai celana compression. Untuk sepatu cari yang paling nyaman. Ukuran jangan sampai kesempitan. Saya pun memilih tidak membawa hydration untuk mengurangi beban yang dibawa tubuh. Untuk event sekelas SCKLM persiapan air minum pasti sudah disiapkan dengan baik oleh panitia. Masalah-masalah pribadi yaudah gak udah dipikirin dulu.

3. Makan banyak supaya kuat

Gak sia-sia selama 2 hari di KL pesta karbo. Ternyata lari di atas 21K itu memang butuh tenaga banyak ya. Kesalahan saya adalah saya Cuma membawa 2 gu-gel. Ternyata kalau udah lari jauh gitu maunya ngemil terus. Bocorannya sih akan mendapat pisang di KM 17, ternyata… zonk!

Pisang saya dapat beberapa kali tapi sudah di atas 25km. Berharap banget dapat pisang karena perut sudah kembung dengan air. Walaupun di WS sebelumnya sudah mendapat gel sih. Lumayan buat nambah tenaga. FM itu memang ajaib. Ada masanya tenaga habis sehabisnya. Tapi ada masanya tenaga pulih dan ada kekuatan buat lari lagi. Makan dan minum ini memang penting!

4. Menikmati perjalanan apapun tanjakannya

Pertama kali ikut full marathon dan langsung kena track yang banyak tanjakannya. Pertama kali dapat tanjakan masih dilariin. Saat turunan dihajar speed. Tanjakan kedua, masih semangat seperti tanjakan pertama. Tanjakan ketiga, mulai goyah. Setelah sadar kalau tanjakannya ini akan berlanjut terus akhirnya mulai santai sama diri sendiri. Kalau tanjakan yaudah jalan aja. Pas turunan ya ambil kesempatan buat lari. Saat turunan pace kita akan naik meski dengan power yang sama. Lumayan bisa menggantikan utang waktu saat jalan.

Berlari dengan pace sendiri. Jadi saat dilewati banyak pelari lain yasudah santai aja. Nanti juga kebalap lagi. Eh..

5. Cari teman ngobrol

Sepanjang lari saya bertemu dengan beberapa teman dari Run For Indonesia tapi ya gak sempat ngobrol. Namanya juga masih fokus lari. Saat 5 kilo terakhir, di saat kaki udah males lari, bertemu dengan yang memakai jersey yang sama. Saat-saat ini saya butuh banget teman senasib. Kebetulan saya bertemu yang senasib: menikmati jalan santai.

6. Berdoa

Manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Saya ingat jika kita berdoa dengan tulus dan khusyuk insya Allah akan dijabah. Apalagi lagi sengsara-sengsaranya. Saat berlari kita hanya bisa berkomunikasi dengan diri sendiri dan Tuhan. Daripada mengeluh saya lebih memilih berdoa. Doa supaya sehat sampai finish. Jujur, saya takut sekali kalau sampai pingsan atau cedera. Apalagi saya seorang ibu, ada anak-anak yang menunggu di rumah. Saya berdoa supaya saya sehat, anak-anak di rumah juga sehat. Gak lucu kan kalau gara-gara lari saya jadi kenapa-napa. Apalagi larinya jauh. Jauh dari rumah.

Saya memang bukan pelari cepat apalagi pelari pro. Cuma ibu dari dua orang anak yang belum ada setahun berlari tapi nekat mengambil jarak full marathon. Bukan, bukan mau cuma gaya-gayaan. Tapi memang mau menguji kemampuan diri. Dari pada penasaran terus. Biar nekat tapi saya latihan kok. Walaupun sejujurnya tidak ada latihan long run, tapi konsisten latihan dengan menu yang variatif.

Untuk membuat target waktu tidak bisa menebak asal. Melihat hasil latihan yang dijalani dan juga dari catatan waktu dari race terakhir. Karena pelari ala-ala ini agak malas kalau lari jauh-jauh jadi saya sengaja mengambil race half marathon di bulan april (SCKLM di tanggal 21 Mei). Dari hasilnya jadi tahu bisa menargetkan waktu berapa untuk SCKLM ini. Sekali lagi saya tekankan kalau inilah cara saya – si pelari ala-ala- untuk saya sendiri. Jangan protes ya…

velpicstitch20170718_140225

Pecah Marathon Pertama di SCKLM

Entah sudah masuk ke toilet berapa kali untuk buang air kecil. Ekspetasi saya jam 9 malam sudah tidur bagai mayat. Kenyatannya malah tidak bisa tidur nyenyak, walau mata rapat tertutup.  Apakah semua orang begini waktu menghadapi full marathon pertama?

Guling kanan, guling kiri, hingga menyelupkan seluruh badan ke dalam selimut termasuk kepala. Saat melirik jam ternyata sudah berada di tengah malam.

2.30. Alarm di smartwatch memanggil walaupun sebenarnya saya tidak bisa tidur. Tandanya harus siap-siap. Wanita kan persiapannya lumayan banyak. Yang  pertama saya lakukan adalah: Makan. Setidaknya saya harus punya cukup tenaga saat lari nanti. Biarpun nasinya dingin. Biarpun gak ada enak-enaknya. Pokoknya makan!

Pukul 3.15 saya turun ke lobi hotel bertemu #KawanLari yang juga akan berlari bersama-sama di Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon (SCKLM). Bermodal dua energy gel -makanan konsentrat berupa gel- yang menjadi satu-satunya bekal berlari 42km nanti. Jarak ke venue cukup untuk dijadikan jogging pemanasan sebelum lari. Mengikuti pesan coach saya via whatsapp di malam sebelumnya, saya mencoba berdoa khusyuk sebelum mulai berlari. Mau makan aja kita doa apalagi mau lari jauh!

FB_IMG_1495676784026
Wajah-wajah bangun tidur dan yang tidak bisa tidur di pukul 3.15 pagi hari

Menjelang  pukul 4.00 – waktu start untuk kategori FM – di Dataran Merdeka.

Bersama 3600 pelari dari semua kategori. Untuk kategori Full Marathon terdapat 7000 pelari yang bersiap mengasah kakinya. Air mata mulai rembes. Sudah tidak ada lagi rasa takut. Yang tersisa adalah rasa haru. Gilaa… gue mau lari aja mesti jauh-jauh ke sini! Seloooo!

4.00 – flag-off

Berlari dengan santai. Gimana gak santai, saya dari Pen 4. Meski pada akhirnya menyelinap di Pen 3 bagian belakang. Kalau mau berlari lebih depan harus tangguh salip menyalip. Karena berlari sendiri jadi lebih mudah untuk salip menyalip. Santai tapi lama-lama berkeringat juga. Berlari pada pukul 4 ini lumayan menyenangkan sih. Kalau waktu Jakarta berarti masih pukul 3. Udara masih sejuk.

Wah, asik juga nih SCKLM! Gak salah deh FM di sini!

Batin saya bersautan sambil menikmati lari di medan yang menurun. Badan tidak terlalu lelah dan saya cukup menikmati pola lari ini. 5km pertama yang menyenangkan. Belari di average pace 6.40. Kalau melihat target waktu saya finish di sub 5 jam 30 menit, harusnya pas. Setelah dibuai dengan jalur yang menyenangkan tiba-tiba sampai ke posisi… MENANJAK!

Kira-kira berada di KM 7 dan bertemu Mbak Rijan, kawan lari dari Run For Indonesia (RFI). Sambil berlari Mbak Rijan mengajari saya cara berlari saat tanjakan dan cara berlari saat turunan. Saat menanjak kaki menjejak agak lebar ke kanan dan ke kiri. Tidak perlu terlalu cepat.

Setelah tanjakan pasti turunan. Saat jalan menurun jangan menahan kaki. Lari seperti sedang melakukan interval. Asik sih!

Baru senang menghadapi turunan tiba-tiba harus bertemu tanjakan lagi. Mulai gak asik nih. Hmm..

Tapi ya namanya lagi race, usaha mah tetep perlu. Jadi saya tetap mencoba berlari dengan pola yang sama. Sekarang lumayan ngos-ngosan.

Masih dalam keadaan ngos-ngosan, saya bertemu tanjakan lagi. Masya Allah!

20170521_062445-01

Akhirnya cadangan makanan pertama saya saya buka. Saya lupa sih tepatnya, yang jelas setelah KM 10. Sepertinya di KM 12. Tidak mampu menyamakan energi Mba Rijan yang sepertinya masih baterainya masih full, saya menyerah. Saya mempersilakan Mbak Rijan lanjut berlari dan saya cukup berjalan. Skill emang gak bisa bohong ya hehe..

Tapi untung juga saya gak terlalu ngoyo, ternyata tanjakan dan turunan ini terus berlangsung. Saya juga gak tau apakah ada akhirnya. Buat pemula yang masih ala-ala butuh lari dengan strategi. Kebetulan strategi saya adalah: Lari-jalan-lari-jalan-lari-jalan.

Badan Mulai Dingin

Matahari masih belum menyumbul, langit masih betah dengan keredupan. Saya juga berharap jangan segera terik. Tapi ternyata tubuh saya mulai terasa dingin. Mungkin juga karena keringat yang mengalir di tubuh. Saya memilih melambatkan lari (yang sebenarnya sudah lambat ini) dan cenderung jalan. Kira-kira di KM 17. Sampai di KM 19 saya mulai membuka cadangan energy gel yang juga tinggal satu-satunya. Nyesel juga sih belagu cuma bawa cadangan 2 gel. Lidah mulai nagih yang manis-manis. “Harusnya gue bawa permen!” membatin.

DSC03447-01
Bekal makanan satu-satunya saat race: energy gel

Namanya mau lari dengan selamat jadi saya gak mau terlalu nyoyo juga. Saat sampai di water station langsung mengambil 2 gelas air dan menghabiskannya, Kembung sih. Mulai pengen makan makanan yang padat tapi apa daya belum ada. Berharap dikasih panitia tapi belum sampai kilometernya.

Dalam kepayahan itu saya teringat kekuatan doa. Kalau udah gini aja langsung relijius. Melafalkan ayat alqur’an yang saya hapal. Kebetulan yang saya hapal juga tidak banyak. Tidak lupa untuk minta ke Sang Pencipta untuk diberi sehat sampai garis finish. Jangan sampai kenapa-napa. Lari kan niatnya mau bahagia, bukan sengsara.

Bertemu Pacer = Mimpi Buruk

Saat dilewati pacer 5.00 saya masih santai. Memang bukan target saya finish di bawah 5 jam. Tapi saat gerombolan balon pacer 5.30 lewat saya menjerit. Menjerit dalam hati. Gak terima!

Sedih karena saya merasa tidak mungkin bisa menyusul para pacer. Apalagi kondisi kaki lagi malas diajak lari. Kilometer terberat buat saya ada di antara 25km-30km. Dari data sih memang di sana average pace menurun ke 8.30. Paling jebol. Sudah pualing banyak jalannya.

Ya sedih jangan lama-lama. Biar tersalip yang penting harus bisa lari lagi. Kalau jalan terus kapan finishnya?

Kebetulan medannya lagi lumayan bersahabat. Menjelang KM 30 semangat kembali bangkit. Kata orang-orang di sini adalah titik hitam berlari FM. Untungnya saya masih gak di ambang hitam-hitam banget. Masih bisa lari tanpa kerasa kram. Ini sih harapan saya banget.

Matahari mulai naik dan mulai memasang buff untuk menutupi kepala dari sinar matahari. Dalam pejalanan bertemu Ko Willy  dari RFI dan Pacer 5.30. Sempoat-sempatnya mengambil jeda untuk sekadar foto bersama di gate 30km. Tapi sayangnya gak dari hape saya jadi gak tau itu di mana fotonya!

Dalam kesempatan ini juga saya diam-diam berlari duluan mendahului pacer 5.30. Akhirnya…

Bertemu #kawanlari

Setelah berhasil balas dendam ke pacer 5.30 yang sebelumnya melewati, ternyata masih banyak yang bikin up and down. Pas ketemu kurma saya senangnya luar biasa. Tidak ragu-ragu, saya ambil dua kurma! Pokoknya apa yang bisa dimakan akan saya makan. Setiap makanan berkontribusi menyumbang tenaga untuk sampai garis finish. Ini penting!

Saat mendapat minuman ya saya minum sepuasnya. Saat mendapat sponge basah saya ambil buat mendinginkan badan. Karena sponge-nya sudah tidak dingin jadi sebenarnya fungsinya cuma buat basuh badan aja. Positifnya badan jadi lebih segar. Minusnya adalah.. sepatu saya jadi basah.

Jadi saya berlari dengan kondisi telapak kaki basah. Nyaman? Tentu saja tidak. Rasanya mau buka sepatu. Tapi saat berlari sudah di atas 30km batas nyaman dan tidak nyaman sudah setipis kulit Syahrini. Lari sih lanjut terus sampai gak kuat lari lagi. Karena garis finish masih lama.

Saya sudah dilewati beberapa teman, saya juga sudah melewati banyak orang yang sebelumnya menyusul. Dari badan yang sudah habis tenaga sampai tiba-tiba ada tenaga lagi. Dari redup, hingga akhirnya terang, sampai tiba-tiba hujan. Dari disusul pacer, sampai akhirnya balas menyusul, dia pun kembali melewati, saya pun akhirnya menyusul lagi.

Berlari FM ini memang benar-benar seperti dalam perjalanan panjang. Jadi teringat kata supir taksi yang mengantarkan saya ke tempat belanja di sana yang bilang untuk jarak 42km nyetir pakai mobil aja udah bikin pegel apalagi harus lari. Iya juga sih.

Tapi di KM 36 ini saya berusaha bertahan dengan sisa-sisa tenaga. Sudah mulai meregangkan kaki dengan kembali banyak berjalan. Kemudian bertemu kembali dengan kawan lari dari RFI dan akhirnya saling berbagi kesengsaraan. Tenyata yang dibutuhkan saat ini adalah TEMAN. Lari juga udah gak kuat. Saat turunan saling menyemangati untuk berlari, saat tanjakan dua-duanya gak ada yang memberi semangat. Jalan adalah cara terbaik.

Mengumpat. 3 kilo terakhir saat yang nyaman untuk mengumpat.

“Om, kita udah di km 40!”

“Bodo amat! Di jam gue udah 41!”

“Di jam aku juga sih. Bangke ya!”

Segala macam sumpah serapah yang gak mungkin saya tulis di sini keluar saat itu. Enak juga sesekali mengumpat. Kalau di awal-awal masih penuh kesabaran, di 3 kilometer terakhir tingkat emosi sedang memuncak. Bagus sih buat ngilangin stres.

Last Push!

“Fit, di depan garis finish. Segini mah gue berani deh dilariin” Kata Om Gunawan yang menjadi teman seperjalanan di 5 kilometer terakhir ini. Tapi kok jalannya menanjak. Jujur, saya sih gak bernai lari di tanjakan. Gak mampu.

Pas mendekat ternyata balon yang dianggap garis finish itu hanylah petunjuk bahwa garus finish tinggal 500m lagi. Antara mau ngomel sama mau ketawa. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sampai akhirnya kamu melihat finish line:

“Om, yuk kita last push!”

Saya berlari dengan sisa-sia tenaga. Kebetulan dikasih turunan, jadi seperti dikasih bonus di akhir perjalanan. Saat gate semakin dekat, saya melihat waktu di gate berapa detik lagi tepat pukul 9.30. Ini berarti waktu saya untuk mencapai target sub 5.30 akan segera berakhir. Saking paniknya saya sampai teriak. Akhirnya terlewat dua detik. Hiks.

Tapi waktu berdasarkan chip time masih kurang 2,5 menit. Akhirnya berhasil menyelesaikan FM pertama dengan waktu official 5.27.24. Hamdallah..

Ya itulah kisah yang lumayan bikin deg-deg-ser di race FM pertama. Lumayan menyenangkan sih. Bikin penasaran mau nyoba lagi. Tapi…

gak sekarang!

velpicstitch20170718_140225

3 Alasan Cewek Suka Olahraga Perlu Waxing

20170405_164607-01

Beauty is pain. Begitu suara hati saya yang menguatkan diri sendiri supaya mau untuk waxing. Perlahan saya mencoba menutup mata dan bersiap-siap untuk teriak (jika diperlukan) tapi ternyata…

“Eh, udah selesai?”

Begitu yang saya rasakan ketika merapikan alis saat #Waxtimeparty di WaxTime, Rumah Cisanggiri, Jakarta Selatan. Termpat waxing yang nyaman dengan coffee shop yang instagramable di lantai bawahnya. Ternyata wax itu ada macam-macam, ada jenis soft wax dan hard wax. Yang saya coba ternyata termasuk jenis hard wax, tidak memerlukan jeritan fals dari pita suara. Painless formula. Kalau yang dikenal dengan rasa sakitnya itu ternyata beda lagi, yang terbuat dari cairan gula atau disebut soft wax. Setelah merasakan wax alis itu ternyata gak selama nunggu wasap centang biru, maka saya…

lanjut ke brazilian waxing! (Loh kok malah jadi doyan)

Proses pelapisan sebelum unwanted-hair pada alis diangkat
Proses pelapisan sebelum unwanted-hair pada alis diangkat

Saya memang bukan mahluk yang banyak bulunya. Ya ini salah satu yang saya syukuri karena memang risih dengan adanya bulu di badan. Saya kira ini cukup untuk menjadi alasan gak perlu waxing. Sampai akhirnya sadar kalau bagian yang tidak terlihat juga perlu mendapat perhatian. Kemudian lebih rajin mencukur unwanted-hair di bagian sensitif.  Siapa sih yang gak mau bagian terpentingnya bersih tanpa bulu? Mumpung alis sudah rapih, maka saya pun mau yang bagian itu bersih juga. Ternyata sensasi dibersihkan di area ini berbeda dengan alis. Lumayan lah agak narik napas dikit. Bukan karena sakit banget sih, tapi lebih ke arah KAGET. Ya namanya juga bagian sensitif, teman-teman..

20170405_151858-01
Alisnya udah mumpuni belum, Ibu-ibu?

Untuk wanita yang aktif dan suka olahraga memang disarankan untuk waxing. Apalagi jika mau berlari jarak jauh, para lelaki pun biasanya mulai mencukur bulu-bulu di kaki. Berlari itu perlu kenyamanan dan terkadang rambut pada tubuh ini salah satu yang mengganggu. Untuk wanita lebih banyak lagi alasannya untuk menghapus bulu pada tubuh. Apalagi jika memang hobi berenang dan memakai swimsuit yang cantik, membersihkan kulit dari bulu-bulu yang tidak diinginkan sudah menjadi hal yang wajib. Tapi bukan cuma soal “demi cantik”, berikut alasan lainnya kenapa wanita aktif dan penggiat olahraga sebaiknya memilih waxing:

MENGHEMAT WAKTU

Jarak saat diangkatnya rambut pada tubuh hingga kembali tumbuh lebih lama dibanding jika kita mencukur. Karena kalau mencukur biasa rambut yang terangkat tidak sampai akarnya, berbeda dengan wax. Tidak perlu lama-lama di kamar mandi untuk ritual mencukur. Lebih baik waktunya buat luluran, kan? Ini menekankan untuk yang suka olahraga outdoor. Biasanya menebus rasa bersalah karena panas-panasan dengan merawat kulit. Apalagi jadwal latihan kan biasanya sudah menyita waktu harian, jadi pilihan waxing cocok buat yang aktif berolahraga. Gak banyak buang waktu. Oiya, saya brazilian waxing di WaxTime gak sampai 30 menit sudah selesai. Ditambah wax alis ya pas lah setengah jam. Dan jangka waktu untuk rambut-rambut ini kembali tumbuh lumayan lama. Tiap orang mungkin beda-beda. Saya sih 2 minggu. Ini untuk tumbuh barunya ya, bukan sampai lebat.

WaxTime termasuk jenis hard wax yang memiliki formula painless. Bahan dipanaskan di alat khusus agar tidak mengeras.
WaxTime termasuk jenis hard wax yang memiliki formula painless. Bahan dipanaskan di alat khusus agar tidak mengeras.

LEBIH BERSIH

Bukan hanya tentang kulit mulus, tapi juga kebersihan. Cantik tapi kalau gak bersih agak gimana gitu ya. Apalagi saat keringetan dan bulu-bulu kita ikut basah, pasti terasa gatal kan ya. Ini juga yang membuat banyak pelari yang mencukur bulu di tubuhnya menjelang race. Makanya saya memilih untuk tidak memelihara unwanted-hair. Terkait kebersihan, waxing tetap menjadi pilihan. Saat bulu kita diangkat, kulit mati pun ikut terangkat. Waxing juga memiliki efek exfoliating. Oleh karena itu pasca wax biasanya kulit terasa lebih halus, kan?

ENJOY WORKOUT WITHOUT WORRY

Saat perform butuh fokus dan konsentrasi. Kita tidak mungkin fokus jika terjadi ketidaknyamanan. Malas juga kalau lagi lari terasa gatal di area tertentu karena campuran keringat dan bakteri di bagian bulu yang basah. Ganggu banget, kan! Untuk olahraga seperti bersepeda biasanya memakai pakaian berbahan spandex yang ketat. Rambut di tubuh dengan pakaian yang ketat bukan paduan yang pas. Makanya banyak cyclist banyak yang mencukur bulunya sebelum race. Demikian juga pelari dan perenang. Lagi berenang tapi gak pede karena hadirnya unwanted-hair yang gak cihuy kalau dilihat orang lain. Jadi dengan melakukan waxing minimal mengurangi bibit-bibit ketidaknyamanan. Nyaman kan membuat kita lebih percaya diri. Ini berlaku juga untuk hal lainnya di luar kegiatan berolahraga, seperti persentasi atau saat mengajar. Setuju?

velpicstitch20170718_140225

Apakah Harus Mempercayai Timbangan?

Foto diambil dari healtyeatingforfamily.com

“Berat turun ya, Fit?”

Kayanya itu pertanyaan yang menjadi trending topic di kehidupan saya dalam beberapa bulan ini. Mungkin pemicunya dari bentuk badan dan wajah yang katanya lebih tipis dari sebelumnya. Tentunya diiringi dengan kulit wajah yang semakin gelap karena terlalu banyak terekspos matahari.

BERAT BADAN SAYA TIDAK BERUBAH. SAYANGNYA.

Justru bertambah satu kilo dari sebelumnya. Memang lingkar perut jauh berkurang tapi ya berat badan sama saja. Kalau diingat-ingat lagi, berat badan saya tanpa olahraga memang lebih ringan dibanding ketika lebih aktif berolahraga. Saya pernah satu bulan tanpa exercise karena sakit. Yoga pun tidak. Waktu itu berat badan turun lumayan drastis. Ya namanya juga sakit ya. Ada perasaan senang karena setelah habis melahirkan akhirnya bisa kembali ke berat normal sebelum hamil. Tapi badan lembek semua. Otot yang sudah terbentuk pun hilang.

Setelah pulih saya mulai kembali rutin berlatih yoga. Berat badan pun naik sekilo dari sebelumnya. Sedih? Tidak sama sekali. Karena badan lebih kencang dan tentunya wajah jauh terlihat lebih fresh. Muka saya waktu sakit benar-benar seperti mayat hidup. Pucat dan lingkar mata menghitam.

Semenjak beberapa bulan ini rutin berlari saya mendapat lingkar pinggang semakin mengecil. Bukan, bukan mau pamer bagian ini. Beberapa teman menanyakan berapa berat badan saya sekarang dan saya pun kege-er-an sepertinya saya kurusan. Bukan, bukan mau pamer yang ini juga. Karena sebenarnya berat badan saya justru naik satu kilo dibanding sebelum berlari. Wajah memang lebih tirus, lengan atas pun mengecil, dan perut semakin kempis. Dalam perubahan yang menyenangkan itu ternyata angka di timbangan masih gak mau ikut berubah.

Apakah saya harus tetap mempercayai timbangan?

OTOT DI DALAM TUBUH TIDAK MEMAKAN TEMPAT SEBANYAK LEMAK

Angka di timbangan mungkin tidak salah, tapi kayanya gak adil jika itu satu-satunya patokan dalam menghakimi tubuh sendiri. Perbandingkan ukuran satu kilo lemak dengan satu kilo otot kan memang tidak sama ukurannya. Ya, massa otot lebih berat dibanding massa lemak. Saya akan jauh lebih bahagia jika berat saya meningkat tetapi otot lebih kencang dan terbentuk (walaupun ya kadang betis jadi lebih besar) dibanding berat yang lebih ringan tetapi badan kendor karena lemak. Jadi saya memang lebih percaya angka di meteran baju dibanding angka di timbangan badan. Penampilan fisik kita terkadang berbeda dengan angka ditimbangan. Terlihat lebih kurus bukan berarti lebih ringan. Jangan lupa: Lemak itu lebih ringan dibanding dengan otot.

Tapi mengecek berat badan dengan rutin juga gak ada salahnya. Angka timbangan yang paling jujur adalah saat bangun tidur. Ketika tubuh belum diiisi oleh makanan dan minuman. Coba aja cek di siang hari saat sudah diisi berbagai asupan makanan, pasti bertambah. Ketika esok paginya kembali turun. Tentunya jika proses pencernaan harian kita lancar.

Ada tiga cara untuk mengecek rasio otot dengan lemak berdasarkan artikel di Prevention, yaitu:

Pengukuran Berat Hidrostatik

Cara ini dengan menimbang berat badan di atas air. Kamu yakin mau menenggelamkan badan di dalam airdemi mengukur berat badan yang vakura? Saya sih tidak. Hehe..

Timbangan Impedansi Bioleketrik

Bahasa lebih mudahnya adalah timbangan tubuh dan lemak. Alat ini sudah mudah dicari di toko olahraga. Saat kita berdiri di atas timbangan, arus listrik yang aman akan dialirkan ke dalam tubuh. Kita bisa dengan mudah menghitung persentase lemak tubuh berdasarkan kekuatan pantulan balik signal listrik yang dialirkan dan berjalan di dalam tubuh.

Timbangan Pengukur Lemak Tubuh

Metode ini sepertinya lebih mudah dilakukan dibanding dua di atas. Kalau anak gym pasti sudah sering melihat alat ini. Metode ini dinilai cukup akurat dan gak seribet dua alat di atas. Dengan perhitungan yang tepat maka kita bisa mengetahui jumlah lemak di dalam tubuh. Mau mencari timbangan ini? Toko online beken di Indonesia juga sudah menyediakan kok. Sejujurnya.. saya sih belum punya. Masih timbangan berat badan digital biasa. Hehe..

BANYAK HAL YANG MEMBUAT BERAT KITA BERTAMBAH SAAT MEMULAI OLAHRAGA

Bukan timbangan kamu yang rusak. Berat badan bisa bertambah walaupun sudah rajin berolahraga.  Awal-awal lari saya juga sedikit terkejut karena berat badan saya kok gak langsung turun. Padahal saat itu sedang berpuasa jadi harusnya berkurang jauh. Kenyataannya justru bertambah!

Banyak faktor yang membuat tubuh menjadi lebih berat saat memulai olahraga. Cairan juga berpengaruh dalam meningkatnya berat tubuh ketika kita sedang rutin berlatih. Konversi dari glikogen atau gula ke glukosa adalah sumber energi untuk otot tubuh. Para pelari yang ingin bertanding biasanya melakukan carbo-loading untuk menabung energi yang nantinya menjadi bensin saat lomba. Glikogen terikat dengan cairan di dalam tubuh sebagai bagian dari proses pembakaran di dalam otot. Air juga memiliki beban dan sudah sepatutnya kandungan air di dalam otot juga memberi kontrbusi pada penambahan beban di dalam tubuh, kan?

Apakah jika terus latihan berat kita juga terus merangkak naik? Gak, gak gitu. Dr. Gary Calabrese, PT, DPT Senior Director dari Rehabilitation and Sports Therapy di  Cleveland Clinic  mengatakan otot tubuh kita sudah terbiasa dengan latihan yang kita jalani maka lama-lama kebutuhan glikogen menjadi lebih sedikit walaupun energi yang dikeluarkan berada dalam level yang sama. Seiring dengan itu, penyimpanan air pun menjadi lebih sedikit dan berat tubuh bisa di titik stabil atau bahkan berkurang. Jika ingin hasil yang diinginkan, konsistenlah dalam berolahraga meskipun berat tubuh telah berkurang. Ya, ini menjadi catatan untuk diri saya sendiri.

Mempercayai timbangan gak salah tapi jangan terpaku hanya pada itu saja untuk mengukur apakah berat badan kita sudah ideal atau belum. Kalau pola makan kita baik dan menjaga keseimbangan aktivitas fisik dan istirahat harusnya jangan terlalu kuatir dengan angka di timbangan. Kalau saya prinsipnya asal bahagia. Bahagia punya tubuh yang sehat dan gak mudah sakit, bahagia karena bisa tetap memakai baju size S, bahagia dibilang wajah lebih fresh, bahagia menjadi lebih kuat, bahagia bisa melihat kemampuan diri sendiri yang gak pernah diduga sebelumnya, dan bahagia bisa makan enak. Jujur, terlalu sering melihat angka di timbangan saya jadi susah bahagia. Semangat, Kakak!

velpicstitch20170718_140225

Bermain Juga Butuh Tempat

20170409_084652-01

“Mau ke mana ya?”

Pertanyaan musiman kalau lagi liburan long weekend. Seperti sekarang yang lagi libur paskah tetapi bingung mau ke mana. Mau ke luar kota kayanya nanggung cuma libur 3 hari, tapi di jalannya bisa hampir seharian karena macet. Kalau di rumah kasian juga Farrel dan Shayna. Akhirnya ga jauh-jauh antara berenang atau main game di mall. Udah di rumah main game, pas keluar rumah tetep aja main game.

20170414_172436-01
Zona bermain di dalam mall

Kayanya waktu zaman saya kecil gak terlalu banyak mikir. Hari libur bisa menghabiskan waktu bermain seharian di lingkungan rumah. Pagi hari saya main sepeda dan pagi agak siangan main karet. Siang hari biasanya sudah kembali ke rumah untuk makan siang dan bersantai-santai menonton tv. Kalau waktunya memang kosong ya saya main video game. Menjelang sore mulai main lagi bersama teman-teman. Pilihan permainannya berganti-ganti sesuai musimnya, seperti lompat tali atau bermain layangan.

Anak-anak, termasuk anak saya sendiri, banyak yang memilih bermain permainan konsol dibanding aktivitas fisik. Padahal permainan anak-anak zaman saya kecil membuat saya lebih rajin bergerak. Gerak di sini bukan cuma jari yang pencet-pencet tombol ya, tetapi benar-benar bergerak sampai keringetan. Padahal waktu itu sudah mengenal permainan konsol, tapi eksistensi permainan tersebut tidak mutlak menggeser permainan tradisional seperti petak umpet, batu tujuh, galasin, benteng, layangan, dan lompat tali/karet.

Maaf untuk yang roaming dengan nama-nama permainan yang saya sebut di atas. Ini hanya masalah beda umur dan beda generasi.

APAKAH PERMAINAN DULU TERGESER MUTLAK KARENA TEKNOLOGI?

Saya termasuk kurang setuju jika pergeseran permainan anak zaman dahulu dan zaman sekarang berubah semata-mata karena kemajuan teknologi. Kalau anak sekarang disuruh main layangan maka…

“MAINNYA DI MANA?”

Taman adalah tempat ideal untuk anak-anak bermain di luar rumah. Tidak perlu kawatir terserempet kendaraan yang melintas. Lapangan terbuka yang menjadi sarana saya dulu bermain dan berolahraga sudah berubah bentuk menjadi perumahan. Saya juga merasa kurang waras kalau membiarkan anak-anak main di jalan, di mana jumlah kendaraan sudah semakin banyak. Belum lagi masalah rawan penculikan.

20170221_183315-01

Menurut data terdapat 100 Ruang Terbuka Hijau (RTH) di DKI Jakarta. Jumah ini masih sangat kurang megingat hanya 9.98% dari jumlah idealnya yaitu sebanyak 30%. Saya rasa anak-anak akan lebih berkurang keterikatan dengan gawai dan permainan konsolnya apabila difasilitasi dengan baik.

Bermain juga butuh tempat. Jadi jangan mengharapkan anak-anak bermain seperti kita kecil dulu jika tempatnya tidak ada. Taman bermain untuk anak yang menurut saya ideal adalah:

20170318_061434-01

Ruang Hijau

Taman dalam kepala saya adalah bukan taman yang gersang tanpa ada tanaman-tanaman. Taman yang nyaman adalah taman yang dipenuhi pepohonan yang mampi melindungi dari terik matahari dan juga sejuk. Lebih bagus lagi jika terdapat bunga-bunga yang membuat taman terlihat lebih cantik.

Sarana Bermain

20170318_061755-01

Anak-anak akan menyukai taman yang dipenuhi sarana permainan. Cukup yang sederhana saja seperti ayunan dan perosotan. Sisanya cukup diberi lahan yang cukup untuk mereka bisa bermain lompat tali/karet dan juga layangan.

Terdapat Sarana Olahraga

Aktivitas fisik mendukung tumbuh kembang anak. Jadi saya ingin anak-anak bukan hanya bisa bermain tetapi juga berolahraga. Sarana olahraga bisa berupa jalur lari atau sepeda, jalur skate, atau wall climbing. Selain anak-anak menjadi lebih kreatif, para orangtuanya juga bisa berolahraga juga. Ya, ini sih agak subjektif ya. Sejujurnya saya memang suka sekali mencari tempat yang asik buat lari santai.

Ruang Rekreasi

Taman yang menarik adalah taman yang bisa dijadikan untuk piknik. Bayangkan tingkat stres warga ibukota yang sehari-harinya sudah disibukkan pekerjaan dan macet. Ini jika dari kacamata orangtua. Dari sisi anak, mereka juga butuh udara segar dan sarana untuk melepas usai sekolah. Membaca buku itu baik, tetapi manusia tetap butuh refresh untuk bisa semangat lagi beraktivitas. Selain ruang hijau, taman yang ideal ada kolam airnya. Karena air itu memiliki efek menyejukkan dan menarik.

Aman dan Kids Friendly

Keamanan yang utama. Taman yang ideal menurut saya ya yang kids friendly. Anak-anak bisa bermain dengan aman dan nyaman. Kita sebagai orangtua pun lebih tenang.

velpicstitch20170718_140225

Menyelamatkan Diri dari Anemia

20161205_101435-02

Olahraga lebih teratur, mengatur makanan, dan berhenti merokok sudah dijalani sekitar 5 tahun ini. Meski awalnya ingin kurus tapi lama-kelamaan tujuannya lumayan udah geser. Jujur nih, saya ingin merasakan hidup yang lebih baik. Sudah lelah juga dengan badan yang ringkih harus bolak balik ke rumah sakit karena menjalani pola hidup yang masih asal-asalan. Orang yang melihat saya sekarang mungkin gak nyangka kalau dulunya saya mengalami typus sampai 3 kali dalam setahun karena daya tahan tubuh yang buruk. Gimana mau sehat kalau pola hidupnya aja aca-acakan. Makan asal-asalan, jam tidur berantakan, dan pikiran kayanya lebih sering tegang.

Sehat.. sehat.. sehat.. pokonya saya mau sehat!

Sehat itu buat saya adalah investasi, jadi saya gak mau menunggu tua untuk mengubah pola hidup agak beneran. Bisa produktif sampai usia senja adalah cita-cita ibu-ibu anak dua yang sehari-harinya masih pecicilan ini. Banyak hal yang bisa didapat jika tubuh kita sehat. Dengan sehat saya bisa menjalani pekerjaan lebih baik, mengasuh anak, hingga jalan-jalan. Apalagi menjadi ibu gak gampang. Kita mesti sehat supaya bisa lebih fokus mengurus anak-anak, rumah, dan kerjaan. Bahkan nemenin anak belajar aja butuh pikiran dan tubuh yang sehat. Kalau lagi gak fit boro-boro fokus ngajarin anak.

APAKAH SAYA CUKUP PRODUKTIF?

IMG-20170329-WA0012

Usia saya termasuk usia yang masif produktif. Apalagi anak-anak masih kecil dan kerjaan lagi lumayan (alhamdulillah) banyak. Ada rasa bangga jika bisa menjalani sesuatu sesuai dengan target. Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah saya produktif?

Kita bisa menganggap diri kita produktif apabila sudah mampu menghasilkan sesuatu (barang atau jasa) sesuai yang diharapkan, yaitu waktu yang singkat dan tepat. Tapi ada masa-masanya kita sulit mengerjakan sesuatu sesuai target, misalnya saat tubuh lelah. Apalagi jika di periode menstruasi mood dan badan kayanya drop banget. Jangan-jangan saya ini anemia..

PENGARUH ANEMIA TERHADAP PRODUKTIVITAS

Rabu kemarin di The Darmawangsa Hotel saya menghadiri acara diskusi Indonesia Bebas Anemia: Sebagai Solusi Total untuk Indonesia yang Lebih produktif dan Bebas Anemia. Cara ini merupakan kampanye lanjutan yang diselenggarakan Merck, Perusahaan sains dan teknologi terkemuka, dan bekerjasama dengan PDGMI, organisasi profesi di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Nara Sumber dalam Indonesia Bebas Anemia
Nara Sumber dalam Indonesia Bebas Anemia

Kesadaran saya terhadap anemia dan dampaknya menjadi lebih terbuka. Sehat memang modal awal untuk produktif tetapi perhatian saya belum sampai ke hal yang lebih detail hingga ke anemia. Ternyata produktivitas kerja seringkali menurun bagi para wanita yang menderita anemia. Berdasarkan riset yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait survei Angkatan Kerja Nasional di bulan Agustus tahun 2015 yang diolah Pusdatinaker, jumlah pekerja wanita Indonesia sebesar 37,16% dari jumlah populasi masyarakat Indonesia, yang berjumlah 114.819.199.

“Anemia dapat memberikan dampak terhadap penurunan produktivitas kerja wanita Indonesia sebanyak 20% atau sekitar 6,5 jam per minggu.” – Prof. dr. Endang L. Achadi, Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia.

Produktivitas wanita Indonesia yang seringkali menurun disebabkan oleh defisiensi zat besi sehingga merasa mudah lelah, konsentrasi menurun karena kekurangan oksigen pada jaringan tubuh termasuk otak, sehingga mengurangi kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

APAKAH SAYA ANEMIA?

Menurut dokter Endang, kita memang dapat mengenali anemia dari gejala-gejala yang dirasakan atau dilihat seperti mudah lelah, mudah mengantuk, wajah yang lebih pucat, dan kurang dapat berkonsentrasi. Akan tetapi untuk mengetahui Anemia yang lebih jelas memang hanya dapat melalui cek darah. Anemia bisa disebabkan oleh:

1. Rendahnya asupan gizi yang penting untuk pembuatan Hemoglobin (HB) yaitu zat besi, asam folat, vitamin B12, dan protein.

2. Meningkatnya pengeluaran, yang disebabkan karena pendarahan, seperti infeksi kecacingan, pecahnya sel darah merah karena malaria atau thalassemia, atau pendarahan oleh sebab lainnya seperti luka.

Gejlala-gejala anemia yang perlu diperhatikan
Gejala-gejala anemia yang perlu diperhatikan

Sebagian besar anemia itu terjadi karena defisiensi zat besi. Jadi penting bagi kita untuk mengonsumsi makanan  yang kaya akan sumber zat besi. Permasalahannya adalah bahan makanan sebagian besar penduduk Indonesia berasal dari pangan nabati, sedangkan zat besi dari nabati lebih sulit diserap oleh tubuh. Ya mungkin ini juga terjadi oleh saya yang memang tidak terlalu suka makan daging. Bahkan saya sudah berhenti mengonsumsi daging merah. Mungkin saya satu di antara penduduk Indonesia yang mengalami anemia karena kurangnya asupan zat besi.

Wajah-wajah yang sepertimya tidak mengalami anemia defisiensi fe
Wajah-wajah yang sepertimya tidak mengalami anemia defisiensi fe

SOLUSI SEHAT UNTUK BEBAS ANEMIA

Kembali lagi ke tujuan saya berolahraga adalah ingin sehat. Walaupun terkadang suka terbawa ambisi ingin mencapai target-target tertentu. Di usia produktif ini tentunya saya ingin melakukan banyak hal dan tidak mau ada hal yang menghalangi produktivitas, termasuk anemia. Menjalani pola hidup yang lebih sehat kayanya sudah jalan yang paling benar untuk penangan Anemia Defisiensi Fe.

Memperbaiki Pola Makan

Kalau sebelumnya asal-asalan dalam mengonsumsi makanan, sekarang lebih memperhatikan kandungan gizi pada makanan. Makanan yang mengandung zat besi seperti makanan yang mengandung sumber protein tinggi, seperti daging merah, kuning telur, dan ikan. Tidak lupa dengan sayuran hijau dan kacang-kacangan.

Dalam sebuah risoles pun terdapat kandungan zat besi
Dalam sebuah risoles pun terdapat kandungan zat besi

 

Perlu diingat jika mau mengonsumsi kopi dan teh tidak dilakukan bersamaan dengan mengonsumsi makanan-makanan tersebut karena akan sia-sia. Tunggu minimal selama dua jam lebih untuk memberikan kesempatan tubuh untuk menyerap sari-sari makanan tersebut.

Mengonsumsi Suplemen Zat Besi

Kalau kita merasakan gejala-gejala anemia (kalau lupa bisa skrol lagi ke atas ya!) mungkin selama ini jumlah kandungan zat besi yang dikonsumsi masih kurang. Apalagi jika selama ini melakukan olahraga high-impact, seperti berlari. Kalau kata dr. Michael Trianto, SpKO, Spesialis Kedokteran Olahraga “Resiko Anemia Fe bisa terjadi pada kita yang melakukan olahrga berat. Saat banyaknya keringat yang keluar maka tubuh kita kehilangan banyak cairan elektrolit dan sel darah merah. Belum lagi akibat benturan yang terjadi memungkinkan meningkatkan proses hemolisis darah.”. Mungkin kita tidak akan menyadari mengalami anemia karena untuk yang rajin berolahraga gejala-gejala anemia seringkali tidak terlihat dibanding orang-orang yang tidak berolahraga.

Untuk wanita seringkali terasa lebih lesu dan susah konsentrasi saat sedang mengalami menstruasi. Hal ini membuat kita menjadi lebih malas dalam melakukan aktivitas. Suplemen penambah darah seperti Sangobion bisa kita konsumsi untuk melengkapi kebutuhan zat besi sehari-hari.

Kalau ternyata tubuh kita sudah cukup dengan kandungan zat besi gimana?

Gak bakal berpengaruh apa-apa kok! Itu kata dokter Endah loh, bukan kata Fitri Tasfiah. Kita tidak akan mengelami kelebihan zat besi hanya dengan makanan atau suplemen yang dikonsumsi. Jadi kalau tubuh kita sudah cukup dengan zat besi maka tubuh kita tidak akan menyerapnya. Sebaliknya, jika memang zat besi dalam tubuh kita masih butuh tambahan maka kandungan zat besi yang kita konsumsi akan mencukupi kebutuhan tubuh.

Program Olahraga untuk Bebas Anemia

Olahraga dalam intensitas sedang sangat direkomendasikan. Tidak berlebih dan juga tidak kurang. Ada dua jenis latihan, yaitu aerobik dan anaerobik. Aerobik ditujukan untuk kesehatan tuhuh, menurunkan berat badan, menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol darah, dan menurunkan kadar gula darah. Latihan anaerobic lebih ditujukan untuk meningkatkan kebugaran tubuh, tidak mudah lelah, dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Saat melakukan latihan kita harus memperhatikan beberapa prioritas. Pilih latihan yang mudah dilakukan dan hindari kelelahan yang berlebihan. Mendahulukan latihan otot besar, baru melakukan latihan pada otot kecil. Latihan dilakukan secara bertahap, jangan lupa unuk melakukan pemanasan dan pendinginan.

Pada saat ini Merck meluncurkan Senam Anemiaction sebagai salah satu langkah tindakan pencegahan gejala anemia. Senam Anemiaction adalah bentuk olahraga yang terdiri dari beberapa gerakan sederhana yang berfokus pada beberapa bagian tubuh, yaitu: aktivitas peregangan bawah, tengah, dan atas. Kata dr. Michael “Gabungan gerakan pada senam Anemiaction berfokus untuk meningkatkan mitokondria yang merupakan generator daris el pada tubuh manusia, sehingga siapapun yang melakukan senam tersebut mengurangi gejala-gejala anemia dan dapat menjadi lebih segar serta produktif saat beraktifitas.

Senam Anemiaction yang diperagakan bersama-sama dalam diskusi Indonesia Bebas Anemia
Senam Anemiaction yang diperagakan bersama-sama dalam diskusi Indonesia Bebas Anemia

Senam ini merupakan gerakan latihan otot pada tubuh bagian bawah, tengah, dan atas untuk meningkatkan kebugaran. Latihan ini kombinasi latihan aerobic dan anaerobic yang dilakukan dengan intensitas yang tepat. Pada senam ini juga terdapat gerakan pendinginan yang ditujukan untuk menghindari rasa pegal dan kaku sehingga kita bisa tetap beraktivitas seperti biasa.

Akan lebih menyenangkan jika kita mengisi hari dengan banyak hal yang kita suka. Kalau saya sih maunya bisa produktif sampai tua nanti (kalau dikasih umur panjang). Pola hidup sehat itu investasi, Gaes!

velpicstitch20170718_140225

Cara Jenius Mengatur Keuangan Hanya dari Smartphone

DSC01926-01

Waktu masih kecil saya memiliki 3 buah celengan yang saya buat dari toples bekas permen. Masing-masing saya labeli sesuai dengan tujuan digunakannya. Dari kecil memang sudah diajari untuk menabung. Jika ingin sesuatu berarti saya harus rela menyisihkan uang jajan untuk ditabung. Sampai pada akhirnya saya mengenal bank. Lama-lama saya meninggalkan semua itu dan beralih menyimpan semuanya ke rekening bank. Pertama kali punya buku tabungan rasanya keren. Menabung jadi semakin semangat karena tiap angkanya bertambah langsung senang bukan main.

Tahun semakin berganti dan standar keren bukan hanya dari buku tabungan, tetapi kartu ATM. Merasa keren karena mengambil uang bisa lebih mudah. Apalagi saat punya kartu kredit. Melakukan transaksi tinggal gesek. Kemudahan ini yang membuat saya…

Gak kaya-kaya.

Bagaimana tidak, baru gajian langsung harus bayar banyak tagihan. Belum lagi belanja bulanan yang udah wajib dan gak bisa pakai nego. Untuk bekal anak ke sekolah aja ada budgetnya sendiri. Tapi ada satu racun yang membuat pengeluaran saya jadi berantakan: belanjain hobi.

Semenjak suka lari tiap bulan suka ada aja yang dibeli. Dimulai dari sepatu, baju, dan daftar-daftar race lari yang kecil-kecil menjadi bukit. Kalau event-nya di luar kota harus nambah lagi nih budgetnya. Biaya akomodasi dan uang jajan. Pantes ya gak kaya-kaya.

Kamis kemarin (23/3) di acara Jenius Talk, mas Aakar, financial planner dari Janus mengatakan yang kita butuhkan sebenarnya mengaturnya dari awal biar gak terkena jebakan batman. Dari sudah membuat ‘amplop’ untuk berbagai kebutuhan itu jadi masing-masing pengeluaran ada batasannya.

20170316_132821

Tip Mengatur Keuangan dari Janus Financial Planner di Acara Jenius Talk

Mumpung ada di event Jenius, jadi saya sekalian membuat akun baru untuk lebih tahu tentang produknya. Tentu saja harus mengunduh Jenius Apps terlebih dahulu ke smartphone. Saya kira apps ini sama dengan mobile banking apps, ternyata jauh di atas itu. Kalau mobile banking hanya ada fasilitas mengecek saldo dan mutasi serta transaksi. Jika Jenius kita bisa mengatur keuangan.

Jenius sendiri adalah aplikasi yang dirancang dan dikembangkan untuk membantu masyarakat dalam mengatur keuangan. Dengan Jenius, kamu dapat membuat rekening bank dengan download aplikasi, menabung untuk suatu tujuan, mengirim uang tanpa ribet, serta melakukan transaksi online dengan aman. Pokoknya Jenius ini sangat memudahkan pengaturan keuangan!

MENGANDALKAN TEKNOLOGI UNTUK MENGATUR KEUANGAN

Sebagai generasi (mengaku) milenial apa-apa maunya dimanjakan teknologi. Bahkan sudah malas harus bolak balik ke bank sekadar pembukaan rekening. Jadi kemunculan revolusi digitalisasi di perbankan sangat membantu ibu-ibu yang sok sibuk seperti saya. Pas tahu ada proses pembukaan rekening, mengatur limit kartu, blokir dan membuka blokir kartu, serta manajemen keuangan hanya dari smartphone saya anggap sebagai inovasi yang memang dibutuhkan.

20170324_074058
Mengatur keuangan dan melakukan transaksi dari Jenius Apps di smartphone

Apakah sama dengan mobile banking?

Sama sih. Karena kita bisa melakukan transaksi dan cek saldo hanya dari smartphone. Tapi kalau mobile banking kan tidak mengatur limit pengeluaran. Di dalam Jenius Apps terdapat fitur Dream Saver yang dapat membantu kita mencapai impian yang direncanakan. Misalnya saya ingin pergi ke Korea akhir tahun, saya dapat membuat menabung di alokasi yang sudah saya buat via apps.

Kalau saya kehilangan kartu saat travelling, saya bisa memblokir sendiri kartu secara temporary hanya tinggal klak klik. Kalau memang ternyata hanya lupa naro di koper dan akhirnya ketemu, saya bisa mengaktifkan lagi kartunya. Tapi.. kalau memang ternyata hilang beneran saya bisa memblokirnya secara permanen. Semua hanya dari smartphone. Simpel banget sih.

MEMISAHKAN PENGELUARAN SESUAI KEBUTUHAN DENGAN X-CARD

Permasalahan berikutnya adalah jika hanya memegang satu kartu, saya tetap harus memutar otak untuk membagi-bagi lagi. Tetap saja membutuhkan amplop untuk membagi-bagi setiap post pengeluaran. Amplop untuk belanja bulanan, amplop untuk uang jajan dan bekal anak, amplop untuk belanja pribadi saya (yang kalau udah urusan belanja sepatu lari dan daftar event lari udah jadi satu budget sendiri). Jangan sampai satu amplop menjadi benalu untuk amplop yang lainnya. Tekor-tekor juga.

Kembali ke cerita masa kecil saya yang membuat celengan-celengan sebagai ‘budget’ wishlist yang mau dibeli. Kartu ini seperti celengan-celengan saya itu. Supaya tiap celengan sudah ada tujuannya masing-masing. X-card ini terpisah dari kartu utama. Masing-masing bisa dilabeli sesuai tujuannya. Masing-masing kartu bisa diatur limitnya via smartphone dari Jenius Apps. Menariknya, kartu ini bisa dipindahtangankan ke orang lain.

Saat kita memiliki akun di Jenius maka kita dapat memiliki ada 3 kartu, yaitu m-card, e-card, dan x-card. M-card adalah kartu utama yang kita pegang, sedangkan x-card adalah kartu tambahan yang bisa diberikan ke orang lain dan tetap dalam kendali kita. Berbeda dengan e-card, kartu ini tidak ada kartu fisiknya. Merupakan kartu visual yang dapat digunakan untuk transaksi yang ada fasilitas pembayaran visa dan mastercard.

Nah, balik lagi deh ke masalah membagi pengeluaran dalam ‘amplop-amplop’. Jadi saya membagi pengeluaran dengan menggunakan x-card seperti ini:

Kartu khusus hobi

Saya paling gak bisa dilarang-larang buat gak beli sepatu. Sepatu saya sebenernya gak mahal-mahal banget, tapi lumayan sering. Sepatunya gak jauh-jauh dari sneakers dan sepatu lari. Sampai suami geleng-geleng kalau saya udah skrol-skrol Instagram buat liat-liat sepatu padahal sepatu yang baru belum keluar dari dus. Belum lagi buat daftar-daftar race lari. Pembayaran race kan rata-rata pakai kartu kredit jadi tiap ada info event lari langsung main daftar-daftar aja. Semenjak ada x-Card saya langsung bikin satu kartu khusus hobi dengan memberi limit. Kalau buat hobi limitnya per bulan aja, karena gak mungkin tiap hari juga kan dipakenya.

Kartu untuk belanja harian

Biarpun saya gak suka masak tapi kan di rumah harus ada makanan. Kalau gak beli ya si bibi yang masak. Saya buat satu kartu untuk urusan makanan di rumah. Karena saya kerja jadi kartu ini saya kasih si bibi. Jumlahnya saya atur mingguan, kalau bulanan takutnya nanti dia kebablasan. Sekaligus mengajarkan si bibi untuk mengatur uang belanja juga. Walaupun kartu dipegang dia tapi semua saya yang kontrol. Dari smartphone saya bisa mengatur besar uang belanja mingguannya. Oiya, ini bisa auto transfer, jadi kita gak perlu bolak balik transfer ke kartu tambahan ini.

IMG_20170324_063400
Mengatur pengeluaran berdasakan periode waktu

Kartu untuk entertainment

Ibu-ibu juga butuh hiburan. Apalagi sehari-hari harus mengurus sekolah anak, rumah, ngajar yoga, bikin artikel, dan olahraga. Melipir ke kedai kopi atau nge-wine bareng temen sih boleh lah ya. Hair spa dan luluran buat manja-manjaan di salon saya masukan ke entertainment. Soalnya ini perihal ‘me-time’. Tantangannya kan jangan sampai uang hura-hura melebihi budget. Maka itu saya buat satu kartu untuk menjaga kesehatan jiwa ini. Biar gak terlalu kebablasan, saya buat limitnya secara mingguan. Jadi di tanggal tua bisa tetap senang-senang. Asik kan!

20170316_125435-01

Dengan Jenius, pengaturan keuangan saya jadi lebih tertata dan saya bisa memenuhi kebutuhan pribadi maupun keluarga. Belum lagi bunga menabung di Flevi Saver dan Dream Saver Jenius adalah 5%. Yuk pakai Jenius. Download aplikasinya di sini.