IMG-20180604-WA0030

Mendukung Atlet Indonesia untuk Asian Games melalui Media Sosial

Matahari semakin tak nampak. Saya nyaris menginjak seekor kodok yang berpose di atas jalur berahan karet berwarna merah bata. Ternyata bukan seekor kodok, tapi grup kodok.

Salah satu kenangan saya ketika berlari di Lapangan Madya, sebelum ditutup untuk umum karena tahap renovasi. Pada senin lalu (4/6/2018) kaki ini kembali menginjak jalur lari tersebut. Masih empuk, namun sudah bukan lagi lapangan tua yang banyak kodok. Bangunan yang dahulu entah itu untuk apa, kini menjelma menjadi tribun penonton yang luas dan tentu saja modern.

Saat dihubungi Mbak Aina dari Tim Komunikasi Menpora, saya langsung semangat. Bagaimana tidak, bisa mengunjungi Pelatnas dengan Bapak Menpora Imam Nachrawi adalah kesempatan langka bagi jelata seperti saya ini. Dan saya memang sangat menyukai olahraga, terutama lari. Dan ingin menebus rasa penasaran melihat kondisi lapangan Atletik sekarang.

Wefie dengan Pak Menteri, kapan lagi? (Kredit foto: Tim Komunikasi Menpora)

Nostalgia.

Bisa bertemu dengan masa lalu adalah nostalgia. begitupun melihat tempat biasa kita berlatih, biarpun cuma hore-hore.

Nostalgia juga saat saya bertemu dengan Perenang Putra Indonesia: Richard Sambera. Bagaimana tidak? Pada SEA Games 1997, Indonesia menjadi tuan rumah dan saya menyaksikan langsung beliau bertanding di Arena. Ketika itu saya masih SD kelas 6. Dan kemarin saya dapat melihat langsung bahkan ngobrol-ngobrol dan berfoto.

Bisa foto gini sama Richard Sambera aja udah seneng

Nostalgia juga saat bertemu dengan Alan Budikusuma. Masih ingat rasanya meletup-letup ketika Medali Emas direbut saat Olimpiade di Barcelona tahun 1992. Iya, saya sudah setua itu. Tapi waktu itu masih SD kok..

Milenial kenal Alan Budikusuma ga sih? Aku kenal dong!

Sejarah memang harus selalu dikenang, namun jangan lupa untuk terus membuat sejarah-sejarah yang baru..

Adik-adik yang sedang berlatih untuk Asian Games 2018 adalah bibit pencetak sejarah. Bahkan ada juga yang sudah menuliskan sejarahnya sendiri untuk Indonesia. Itulah yang saya rasakan saat melihat lebih dekat saat mereka berlatih.

BUKAN NYINYIR, TAPI MENYEMANGATI

Salah satu yang pengingat buat saya sendiri. Karena kadang mulut dan jempol netizen tuh jahat. Apa mumgkin kelebihan energi.

AKU TUH GAK KUWAT!

 

Saat mengintip atlet cabang olahraga Loncat Indah yang sedang berlatih, kaki saya malah ikutan ngilu. Gak terhitung lagi berapa kali harus terjung terus naik lagi dan diulang gak abis-abis. Kalau saya mungkin udah masuk angin.

Sesuai namanya, Loncat Indah dilakukan dengan meluncur dari ketinggian tertentu dengan cara yang sangat indah. Yang dilihat bukan hanya ketangkasan, tetapi juga keindahan. Tapi sedih juga kalau lihat atlet-atlet cabang ini tampil di tv nasional langsung di-blur sebadan-badan. Jadi gimana kita bisa lihat artistiknya pak.. buk..

Kredit Foto: Tim Komunikasi Menpora.

Belum lagi kalau sampai yang bawa-bawa agama. Ya kan namanya juga mau olahraga, bukan pergi pengajian atau ambil raport anak sekolah. Semoga di Asian Games nanti dama-damai aja ya.

Para atlet yang lagi menjalani latihan itu juga banyak yang puasa loh. Padahal latihan yang dijalani cukup berat. Mereka sahur dan buka gak sama keluarga. Kita sendiri tau lah nahan kangen sama keluarga itu berat.

MENGINTIP PERSIAPAN PARA ATLET UNTUK ASIAN GAMES 2018

Jadi gini.. saya kan gak hapal semuanya tapi dari tiga arena yang dikunjungi (Panahan, Akuatik, dan Atletik) jadi sempet ngintip dikit-dikit. Untuk Panahan, terdapat 16 atlet putra dan putri dari Indonesia yang kan bertanding nanti. Persiapannya sudah cukup matang karena diharapkan membawa minimal 2 medali emas.

Tanggal 21 April 2018 kemarin tim Panahan membawa pulang medali perunggu dalam Kejuaraan Dunia Tahap Pertama di Shanghai, Tiongkok. Sementara itu, tanggal 20-26 Mei 2018 Riau Ega Agata Salsabila dan Diananda Choirunnisa yang juga mengikuti kejuaraan dunia di Antalya, Turki. Pertandingan juga menjadi bentuk persiapan fisik dan mental. Nah, semoga di Asian Games nanti akan tampil gereget.

Untuk cabang olahraga Akuatik, Indonesia mengirimkan 8 atlet renang Indah, 9 atlet loncat indah, dan 2 skuat polo air. Targetnya sih Indonesia bisa membawa 1 medali emas, tapi ini memang ga mudah. Harus diakui persaingannya cukup ketat. Tapi usaha mah jalan terus kok. Bulan Mei 2018 kemarin, tim Renang Indah mengikuti latihan dan juga try-out ke Jepang.

Untuk tim Loncat Indah, Agustus nanti akan menjalani try-out ke Tiongkok. Sementara itu, tim Polo Air sendiri sudah mengimport pelatih dari Serbia, yaitu Milos Sakovic.

Dan bagaimana untuk Atletik?

Kita semua terpukau oleh penampilan dari atlet jalan cepat Hendro Yap, yang berhasil memecahkan rekor di cabang Jalan Cepat pada SEA games tahun lalu. Cabang Atletik berhasil meraih 15 medali dari cabang atletik di ajang ini. Keberhasilan ini membangkitkan rasa percaya diri Indonesia dapat kembali bersinar di Asian Games 2018 nanti.

Indonesia sendiri mengirimkan 16 atlet di cabang olahraga Atletik. Persiapan yang dilakukan sudah cukup matang. Bahkan atlet kita telah mendapat pelatihan khusus di Amerika Serikat selama satu bulan lamanya dengan Harry Marra sebagai konsultan.

Saat kami berkunjung, para atlet sedang melakukan pemanasan. Ada satu atlet wanita yang memiliki wajah yang cantik dan postur tubuh yang tinggi dan atletis. Dia adalah Emilia Nova, atlet lari gawang 100 meter. Sayangnya saya dan teman-teman tidak ngobrol kebih lama karena Emilia harus fokus menjalani latihan.

Tamoak jelas badan yang terlatih dan yang tidak terlatih.

Tim Atletik Indonesia menargetkan untuk menggondol 2 medali emas. Agar lebih matang lagi menghadapi ajang Asian Games, tim Atletik kita akan menjalani pusat pelatihan di Korea Selatan pada tanggal 14-18 Juni 2018 nanti. Mereka yang berangkat dari disiplin nomor 100 meter dan 4x 100 meter putra, lari 110 meter gawang putra, lompat jauh putra, lari 100 meter gawang putri, dan tolak peluru putri.

TURUT BERKONTRIBUSI SESUAI KAPASITAS

Pak Imam Nachrawi mengajak para media dan penggiat media sosial ikut meramaikan #AsianGamesKita. Jika para atlet mengharumkan nama negeri dengan berlatih dan bertanding, kita sebagai bagian dari warga negara Indonesia juga ikut berkontribusi sesuai kapasitas yang dimiliki.

Para atlet Atletik bersama para blogger/vlogger/jurnalis yang sedang tur Pelatnas Asian Games 2018. (Kredit foto: Tim Komunikasi Menpora)

Saya ini bukan siapa-siapa, bukan atlet, dan minim prestasi. Bukan pejabat, artis, apalagi guru ngaji. Saya hanya rakyat jelata yang suka olahraga dan menulis.  Daripada cape nyinyir, lebih baik energinya dipakai untuk turut mempromosikan #AsianGamesKita.

Kesuksesan Asian Games 2018 nanti bukan hanya kerja keras pemerintah dan atlet, namun kita juga turut berperan. Tentunya sesuai kemampuan yang kita miliki. Gak bisa kaya berlari seperti Emilia Nova tapi kalau posting-posting mah bisa lah…

Boleh diintip akun media sosial saya @fitritash (Twitter dan Instagram) dengan hashtag #AyoIndonesia dan #AsianGamesKita. Oiya, silakan mampir juga ke bugaraga.com ya!

Mengintip Kreasi Masakan Indonesia di Kompetisi Food Plating

Makanan yang sama tapi harganya bisa tidak sama. Selain soal rasa, yang membedakan nilai suatu makanan adalah cara menyajikannya. Selain seni memasak, para chef juga biasanya memiliki keahlian dalam seni menata makanan.

Dri mata turun ke hati, lalu ke perut. Begitulah sejatinya suatu makanan. Memang makanan itu untuk dimakan, bukan hanya dilihat sampai kenyang. Tapi untuk menggugah selera perlu tampilan dan aroma yang menggoda, kan?

Pada sabtu lalu (9/12/2017) saya tak mau kelewatan acara final ZEN Food Plating Competition. Food Platting adalah teknik penataan dan penyajian makanan di atas piring dengan memperhatikan posisi dan komposisi makanan agar menunjukan nilai seni dan kualitas yang tinggi. Jadi lomba ini bukan lomba memasak, tetapi lomba menyajikan makanan.

Lombanya cukup unik karena para peserta mengikuti kontes ini dengan mengunggah masakannya di media sosial. Tentunya dengan penyajian yang apik dan cantik. Para peserta adalah 10 finalis kategori profesional dan 10 finalis kategori non-profesional. Kompetisi ini diselenggarakan oleh ACMI (Aku Cinta Masakan Indonesia), William Wongso Kuliner, dan ZEN Tableware.

Makanan-makanan hasil karya peserta Zen Food Plating Competition

MEMAJUKAN KULINER INDONESIA MELALUI KOMPETISI FOOD PLATING

Continue reading “Mengintip Kreasi Masakan Indonesia di Kompetisi Food Plating”

IMG-20180604-WA0030

Menyelamatkan Diri dari Anemia

20161205_101435-02

Olahraga lebih teratur, mengatur makanan, dan berhenti merokok sudah dijalani sekitar 5 tahun ini. Meski awalnya ingin kurus tapi lama-kelamaan tujuannya lumayan udah geser. Jujur nih, saya ingin merasakan hidup yang lebih baik. Sudah lelah juga dengan badan yang ringkih harus bolak balik ke rumah sakit karena menjalani pola hidup yang masih asal-asalan. Orang yang melihat saya sekarang mungkin gak nyangka kalau dulunya saya mengalami typus sampai 3 kali dalam setahun karena daya tahan tubuh yang buruk. Gimana mau sehat kalau pola hidupnya aja aca-acakan. Makan asal-asalan, jam tidur berantakan, dan pikiran kayanya lebih sering tegang.

Sehat.. sehat.. sehat.. pokonya saya mau sehat!

Sehat itu buat saya adalah investasi, jadi saya gak mau menunggu tua untuk mengubah pola hidup agak beneran. Bisa produktif sampai usia senja adalah cita-cita ibu-ibu anak dua yang sehari-harinya masih pecicilan ini. Banyak hal yang bisa didapat jika tubuh kita sehat. Dengan sehat saya bisa menjalani pekerjaan lebih baik, mengasuh anak, hingga jalan-jalan. Apalagi menjadi ibu gak gampang. Kita mesti sehat supaya bisa lebih fokus mengurus anak-anak, rumah, dan kerjaan. Bahkan nemenin anak belajar aja butuh pikiran dan tubuh yang sehat. Kalau lagi gak fit boro-boro fokus ngajarin anak.

APAKAH SAYA CUKUP PRODUKTIF?

IMG-20170329-WA0012

Usia saya termasuk usia yang masif produktif. Apalagi anak-anak masih kecil dan kerjaan lagi lumayan (alhamdulillah) banyak. Ada rasa bangga jika bisa menjalani sesuatu sesuai dengan target. Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah saya produktif?

Kita bisa menganggap diri kita produktif apabila sudah mampu menghasilkan sesuatu (barang atau jasa) sesuai yang diharapkan, yaitu waktu yang singkat dan tepat. Tapi ada masa-masanya kita sulit mengerjakan sesuatu sesuai target, misalnya saat tubuh lelah. Apalagi jika di periode menstruasi mood dan badan kayanya drop banget. Jangan-jangan saya ini anemia..

PENGARUH ANEMIA TERHADAP PRODUKTIVITAS

Rabu kemarin di The Darmawangsa Hotel saya menghadiri acara diskusi Indonesia Bebas Anemia: Sebagai Solusi Total untuk Indonesia yang Lebih produktif dan Bebas Anemia. Cara ini merupakan kampanye lanjutan yang diselenggarakan Merck, Perusahaan sains dan teknologi terkemuka, dan bekerjasama dengan PDGMI, organisasi profesi di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Nara Sumber dalam Indonesia Bebas Anemia
Nara Sumber dalam Indonesia Bebas Anemia

Kesadaran saya terhadap anemia dan dampaknya menjadi lebih terbuka. Sehat memang modal awal untuk produktif tetapi perhatian saya belum sampai ke hal yang lebih detail hingga ke anemia. Ternyata produktivitas kerja seringkali menurun bagi para wanita yang menderita anemia. Berdasarkan riset yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait survei Angkatan Kerja Nasional di bulan Agustus tahun 2015 yang diolah Pusdatinaker, jumlah pekerja wanita Indonesia sebesar 37,16% dari jumlah populasi masyarakat Indonesia, yang berjumlah 114.819.199.

“Anemia dapat memberikan dampak terhadap penurunan produktivitas kerja wanita Indonesia sebanyak 20% atau sekitar 6,5 jam per minggu.” – Prof. dr. Endang L. Achadi, Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia.

Produktivitas wanita Indonesia yang seringkali menurun disebabkan oleh defisiensi zat besi sehingga merasa mudah lelah, konsentrasi menurun karena kekurangan oksigen pada jaringan tubuh termasuk otak, sehingga mengurangi kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

APAKAH SAYA ANEMIA?

Menurut dokter Endang, kita memang dapat mengenali anemia dari gejala-gejala yang dirasakan atau dilihat seperti mudah lelah, mudah mengantuk, wajah yang lebih pucat, dan kurang dapat berkonsentrasi. Akan tetapi untuk mengetahui Anemia yang lebih jelas memang hanya dapat melalui cek darah. Anemia bisa disebabkan oleh:

1. Rendahnya asupan gizi yang penting untuk pembuatan Hemoglobin (HB) yaitu zat besi, asam folat, vitamin B12, dan protein.

2. Meningkatnya pengeluaran, yang disebabkan karena pendarahan, seperti infeksi kecacingan, pecahnya sel darah merah karena malaria atau thalassemia, atau pendarahan oleh sebab lainnya seperti luka.

Gejlala-gejala anemia yang perlu diperhatikan
Gejala-gejala anemia yang perlu diperhatikan

Sebagian besar anemia itu terjadi karena defisiensi zat besi. Jadi penting bagi kita untuk mengonsumsi makanan  yang kaya akan sumber zat besi. Permasalahannya adalah bahan makanan sebagian besar penduduk Indonesia berasal dari pangan nabati, sedangkan zat besi dari nabati lebih sulit diserap oleh tubuh. Ya mungkin ini juga terjadi oleh saya yang memang tidak terlalu suka makan daging. Bahkan saya sudah berhenti mengonsumsi daging merah. Mungkin saya satu di antara penduduk Indonesia yang mengalami anemia karena kurangnya asupan zat besi.

Wajah-wajah yang sepertimya tidak mengalami anemia defisiensi fe
Wajah-wajah yang sepertimya tidak mengalami anemia defisiensi fe

SOLUSI SEHAT UNTUK BEBAS ANEMIA

Kembali lagi ke tujuan saya berolahraga adalah ingin sehat. Walaupun terkadang suka terbawa ambisi ingin mencapai target-target tertentu. Di usia produktif ini tentunya saya ingin melakukan banyak hal dan tidak mau ada hal yang menghalangi produktivitas, termasuk anemia. Menjalani pola hidup yang lebih sehat kayanya sudah jalan yang paling benar untuk penangan Anemia Defisiensi Fe.

Memperbaiki Pola Makan

Kalau sebelumnya asal-asalan dalam mengonsumsi makanan, sekarang lebih memperhatikan kandungan gizi pada makanan. Makanan yang mengandung zat besi seperti makanan yang mengandung sumber protein tinggi, seperti daging merah, kuning telur, dan ikan. Tidak lupa dengan sayuran hijau dan kacang-kacangan.

Dalam sebuah risoles pun terdapat kandungan zat besi
Dalam sebuah risoles pun terdapat kandungan zat besi

 

Perlu diingat jika mau mengonsumsi kopi dan teh tidak dilakukan bersamaan dengan mengonsumsi makanan-makanan tersebut karena akan sia-sia. Tunggu minimal selama dua jam lebih untuk memberikan kesempatan tubuh untuk menyerap sari-sari makanan tersebut.

Mengonsumsi Suplemen Zat Besi

Kalau kita merasakan gejala-gejala anemia (kalau lupa bisa skrol lagi ke atas ya!) mungkin selama ini jumlah kandungan zat besi yang dikonsumsi masih kurang. Apalagi jika selama ini melakukan olahraga high-impact, seperti berlari. Kalau kata dr. Michael Trianto, SpKO, Spesialis Kedokteran Olahraga “Resiko Anemia Fe bisa terjadi pada kita yang melakukan olahrga berat. Saat banyaknya keringat yang keluar maka tubuh kita kehilangan banyak cairan elektrolit dan sel darah merah. Belum lagi akibat benturan yang terjadi memungkinkan meningkatkan proses hemolisis darah.”. Mungkin kita tidak akan menyadari mengalami anemia karena untuk yang rajin berolahraga gejala-gejala anemia seringkali tidak terlihat dibanding orang-orang yang tidak berolahraga.

Untuk wanita seringkali terasa lebih lesu dan susah konsentrasi saat sedang mengalami menstruasi. Hal ini membuat kita menjadi lebih malas dalam melakukan aktivitas. Suplemen penambah darah seperti Sangobion bisa kita konsumsi untuk melengkapi kebutuhan zat besi sehari-hari.

Kalau ternyata tubuh kita sudah cukup dengan kandungan zat besi gimana?

Gak bakal berpengaruh apa-apa kok! Itu kata dokter Endah loh, bukan kata Fitri Tasfiah. Kita tidak akan mengelami kelebihan zat besi hanya dengan makanan atau suplemen yang dikonsumsi. Jadi kalau tubuh kita sudah cukup dengan zat besi maka tubuh kita tidak akan menyerapnya. Sebaliknya, jika memang zat besi dalam tubuh kita masih butuh tambahan maka kandungan zat besi yang kita konsumsi akan mencukupi kebutuhan tubuh.

Program Olahraga untuk Bebas Anemia

Olahraga dalam intensitas sedang sangat direkomendasikan. Tidak berlebih dan juga tidak kurang. Ada dua jenis latihan, yaitu aerobik dan anaerobik. Aerobik ditujukan untuk kesehatan tuhuh, menurunkan berat badan, menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol darah, dan menurunkan kadar gula darah. Latihan anaerobic lebih ditujukan untuk meningkatkan kebugaran tubuh, tidak mudah lelah, dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Saat melakukan latihan kita harus memperhatikan beberapa prioritas. Pilih latihan yang mudah dilakukan dan hindari kelelahan yang berlebihan. Mendahulukan latihan otot besar, baru melakukan latihan pada otot kecil. Latihan dilakukan secara bertahap, jangan lupa unuk melakukan pemanasan dan pendinginan.

Pada saat ini Merck meluncurkan Senam Anemiaction sebagai salah satu langkah tindakan pencegahan gejala anemia. Senam Anemiaction adalah bentuk olahraga yang terdiri dari beberapa gerakan sederhana yang berfokus pada beberapa bagian tubuh, yaitu: aktivitas peregangan bawah, tengah, dan atas. Kata dr. Michael “Gabungan gerakan pada senam Anemiaction berfokus untuk meningkatkan mitokondria yang merupakan generator daris el pada tubuh manusia, sehingga siapapun yang melakukan senam tersebut mengurangi gejala-gejala anemia dan dapat menjadi lebih segar serta produktif saat beraktifitas.

Senam Anemiaction yang diperagakan bersama-sama dalam diskusi Indonesia Bebas Anemia
Senam Anemiaction yang diperagakan bersama-sama dalam diskusi Indonesia Bebas Anemia

Senam ini merupakan gerakan latihan otot pada tubuh bagian bawah, tengah, dan atas untuk meningkatkan kebugaran. Latihan ini kombinasi latihan aerobic dan anaerobic yang dilakukan dengan intensitas yang tepat. Pada senam ini juga terdapat gerakan pendinginan yang ditujukan untuk menghindari rasa pegal dan kaku sehingga kita bisa tetap beraktivitas seperti biasa.

Akan lebih menyenangkan jika kita mengisi hari dengan banyak hal yang kita suka. Kalau saya sih maunya bisa produktif sampai tua nanti (kalau dikasih umur panjang). Pola hidup sehat itu investasi, Gaes!

IMG-20180604-WA0030

Lari di Sentul Berakhir Basah di Curug Bidadari

Photo Credit: Luciane

Pukul 5.45 pagi hari saya membuka jendela mobil dan mengabadikan langit yang masih bersemu dengan kamera smartphone. Kemudian saya kembali menyesap hot coffee latte ukuran grande yang saya beli di Rest Area untuk sedikit menghangatkan tubuh. Udara dan pemandangan pagi di Sentul memang masih segar, jauh sekali dengan lingkungan rumah saya di Bekasi (Ya iyalah!). Pagi itu saya berencana berlari dengan teman-teman dari Run For Indonesia (RFI).

Lari Santai Asal Senang

Good Morning, Sentul!

Sebut saja saya pelari rekreasi. Lari untuk sehat dan bersenang-senang. Sentul merupakan tempat yang asik untuk berlari meskipun track-nya naik turun. Walaupun sampai pukul 5.45 di Gerbang Tol Sentul Selatan tapi harus muter-muter karena belum hapal venue-nya. Ternyata tempatnya yang sudah bolak-balik dilewati. Karena buta jalan jadi ya main lewat-lewat aja.

Pukul 6 pagi saya sudah sampai di Danau Sentul Nirwana yang merupakan start point-nya. Harusnya jam 6 sudah mulai tetapi karena yang sampai beda-beda waktunya jadi masih harus tunggu-tungguan sampai semua lengkap. Pesertanya dari berbagai tempat. Jakarta saja dari Barat, Utara, Selatan, dan Timur juga ada. Saya sendiri dari Bekasi. Kalau teman-teman Bogor pastinya lebih cepat sampai.

Danau Sentul yang dicari-cari.

Seperti biasa kita memulai lari dengan pemanasan. Pemanasan saat berlari sangat penting untuk menghindari cedera dan memberi kenyamanan saat berlari. Kemudian kita berlari dengan pace santai sambil ngobrol. Baru mulai saja saya sudah kewalahan karena track-nya nanjak. Padahal masih di sekitar jogging track dan di bawah pepohonan sih. Tapi kan tetap aja nanjak. Huft!

Pemanasan di tepi Danau Sentul Nirwana. (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Berlari di Sentul City ini saya rekomendasikan kalau ingin berlari dengan suasana baru. Udaranya masih segar dan belum terlalu banyak polusi. Pemandangannya juga memanjakan mata karena kita bisa melihat Gunung Salak dari jauh. Dari pukul 7.30 kami mulai berlari-lari kecil di joging track menuju ke jalan besar.  Dengan pemandangan danau dan dipayungi pepohonan yang rindang, berlari menjadi lebih menyenangkan. Apalagi kalau larinya gak sendirian. (Maaf ya, Mblo!)

Jogging track di tepi Danau Sentul.
Lari santai tapi nanjak.

Biarpun tepib danau ini teduh tapi cukup menantang karena jalannya nanjak. Namanya juga di bukit-bukit jadi memang harus beradaptasi dengan jalan yang tidak rata. Jadi kalau dianggap tidak mungkin jadi keringetan, kamu salah!

Setelah masuk ke jalan besar kami berlari di tepi jalan dengan tetap membentuk barisan. Langit sudah menunjukkan jati dirinya: terang dan menyengat. Jjadi biarpun jaraknya tidak terlalu jauh tapi bikin ngos-ngosan juga.

Tapi…

tantangan utamanya bukan jalan yang naik turun, tetapi ‘panggilan’ untuk foto-foto. Rugi banget kalau sudah ke sini tapi terlalu serius lari.  Nanti pulang malah sedih karena gak ada yang kenangan sama sekali di kamera henpon.

Lari di tepi kawasan Sentul Nirwana. Naik dan turun adalah tantangannya.

Latihan kami memang selalu ada banyak foto. Moment tidak bisa diulang tapi bisa dikenang. Untuk mengabadikan moment tentunya dengan mendokumentasikannya. Jangan lupa langsung posting di sosmed supaya gampang nyarinya. Sukur-sukur kalau dapat likes. Ya, gak?

Mandatory photo biar kaya pelari-pelari kebanyakan. Fokus pada view backgroundnya juga boleh.
You jump, i jump! (Photo credit: Willy Sanjaya)
Semua Peserta “Jemput kawan Lari ke Sentul”. (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Berkaitan dengan jalan yang naik turun jadi terkenang waktu Half Marathon di Bali Marathon 2016. Kaki sampai sengklek-sengklek karena harus menempuh medan tanjakan yang gak habis-habis. Paha belakang kram. Karena di sentul lari untuk fun jadi ya kalau cape yaudahlah jalan aja hehe..

Dari Danau ke Bukit berjarak 5 km. Lari bulak-balik total 10 km. Wah,  harusnya sudah dapat medali finisher nih!

Basah-Basahan di Curug Bidadari

Setelah keringetan kan paling seru itu basah-basahan. Langsung gak sabar ke air terjun. Biarpun jarak larinya hanya 10 km tapi lumayan bikin cape loh. Karena meskipun di sini lebih sejuk, jika sudah pukul 7 pagi ya sudah lumayan terik. Ditambah start-nya kan agak ngaret setengah jam dari rencana jadi finish-nya pun tentu lebih ngaret. Sedangkan mataharinya gak mau ikut-ikutan ngaret. Jadi lumayan lah bikin kulit semakin eksotis.

Setelah stretching untuk pendinginan kami pun istirahat sejenak dan langsung jalan lagi. Destinasi selanjutnya dalah Air Terjun Bidadari. Kalau menggunakan istilah setempat sih dinamakan Curug Bidadari. Kenapa dinamakan ini? Apakah karena yang datang banyak bidadari seperti akuhhh? (eh?)

Pernah dengar dongeng Jaka Tarub dan 7 Bidadari? Nah menurut legenda yang dipercaya masyarakat setempat ini adalah air terjun tempat 7 bidadari ini mandi. Tapi bukannya bidadari, kok saya malah ketemunya perjaka mandi!

7 (kurang 1) Bidadari? (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Kami sampai sini tidak terlalu lama dari Danau Sentul Nirwana. Jaraknya sekitar 5-7 km. Cuma 15-20 menit kok. Lari?

YA TENTU SAJA TIDAK!

Kalau kamu bukan anak trail mah ke sininya naik mobil aja. Yakin mau nanjak panjang banget? Meski jalannya gak semulus pipinya Syahrini dan tidak seluas badan saya waktu habis melahirkan, tapi ini termasuk yang gampang dijangkau meskipun mobilnya matic. Hidup itu sudah rumit masa mau jalan-jalan dibikin sulit? Marilah kita cari cara yang termudah!

Run For Indonesia has touch down at Curug Bidadari. Hello, Angel! (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Curug Bidadari ini gak terlalu besar dan tinggi. Jadi sebelum sampai tolong di-set dulu ekspetasinya ya. Tetapi untuk keperluan wisata memang sudah direnovasi jadi kita juga disuguhkan kolam buatan yang divariasikan dengan wahana ‘bebek-bebekan’ serta balon air. Tetapi air yang digunakannya tetap alami tanpa dicampur bahan kimia. Jadi kalau bermain air tidak akan tercium wangi kaporit yang biasa ada di lokasi waterpark.

Di bawah air terjun Bidadari. (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Mungkin untuk menjaga kealamiannya, ternyata untuk bilas benar-benar outdoor. Hanya disediakan bilik untuk mengganti baju. Wow, kapan lagi mandi terbuka di tempat umum!

Bidadari mandi dulu ya!

Untuk tahun 2016, harga tiket masuk 30 ribu rupiah ini tidak terlalu mahal. Kita bisa main air di bawah air terjun dan gila-gilaan bersama teman. Saya sih memang niat untuk numpang mandi jadi sayang banget kalau gak nyemplung ke bawah air terjun. Airnya dingin tapi bagus untuk recovery setelah berlari. Apalagi sambil teriak-teriak dan tertawa, makin pol kan recovery-nya!

 

Buat kamu yang tergolong pelari rekreasi, yuk langsung masukin Sentul City ke dalam list destinasi yang wajib dikunjungi!

Sampai jumpa!
IMG-20180604-WA0030

Kunjungan Manis ke Pabrik Frisian Flag Susu Kental Manis

1476306180366

“Waaah!”

Saat menemukan mesin susu yang terletak di lobby utama saat kunjungan ke pabrik Frisian Flag Susu Kental Manis di Ciracas hari rabu kemarin. Ada tiga varian yang bisa kita pilih sendiri, yaitu full cream, chocolate, dan honey. Dispenser susu ini sebenarnya serupa dengan mesin kopi yang banyak diperedaran, tetapi muncul gelasnya itu yang bikin pengen langsung tepuk tangan.

Saya sangat senang mendapat kesempatan main ke pabrik Frisian Flag di Ciracas karena susu ini melekat dengan kenangan masa kecil. Susu Kental Manis Frisian Flag atau sangat dikenal dengan ‘Susu Bendera’ memenuhi kenangan saya masih kecil. Dulu kemasannya berupa kaleng dan cara membukanya dengan alat khusus untuk membuka kemasan kaleng. Tapi biar ‘simple’ saya langsung membuka dengan pisau dan ulekan. Mata pisau ke arah pinggiran tutup kaleng dan bagian ujung pegangannya diketik-ketuk dengan ulekan. Hayo siapa yang gini juga?

Saat tutup kaleng bolong maka saya menantikan isinya luber ke luar dan mengisi gelas mulut saya. Mata melirik kanan dan kiri jangan sampai ketauan mama. Ini cara ternikmat menikmati susu kental manis di masa kecil versi saya. Di balik sebuah kaleng susu saya juga penasaran bagaimana proses pembuatannya. Untuk bisa masuk ke dalam pabrik tidak bisa sembarangan. Ada aturan baku supaya ruangan.

1476306839464

Untuk bisa mengintip proses pembuatan dan pengemasan sebuah susu kental manis ada peraturan yang harus dijaga agar ruangan tetap steril. Kita diberi perlengkapan seperti outer putih (duh, namanya apa, ya?), ear plug, hair cap, masker, dan sepatu boots kulit. Perhiasan, jam tangan, kamera, dan smartphone harus ditinggalkan di ruangan tempat kami berkumpul.

IMG-20161012-WA0034

Setelah memakai perlengkapan akhirnya kami berbaris memasuki ruangan yang bising dari mesin. Jauh dari bayangan saya tentang pabrik. Selama ini saya membayangkan di dalam pabrik ada banyak buruh yang sibuk mengangkut barang. Ternyata semua sudah dikerjakan dengan mesin. Tenaga manusia lebih banyak untuk mengoperasikan mesin.

Mata menjelajah kaleng-kaleng yang berjalan di dalam rel. Para kaleng seperti sedang bermain roller coaster. Dengan roda mesin, kaleng-kaleng berjalan untuk dipotong, kemudian dibentuk lebih detail lagi, kemudian disterilisasi dengan dilakukan pembakaran. Kaleng-kaleng yang sudah disterilisasi diisi oleh susu kemudian ditutup rapat. Setelah diisi susu, kemasan kembali disterilisasi kembali. Kemudian diberi label. Terakhir susu-susu tersebut di-packing ke dalam kardus. Setelah itu maka susu tersebut ditimbang dan apabila beratnya tidaks sesuai standar maka dus tersebut dikeluakan dari antrian secara otomatis. Kaleng-kaleng pun sudah berganti dengan dus-dus yang berisi muatan. Kemudian semua dus disusun dan dikemas lagi dengan plastic wrap.

Ya, semua sudah dikerjakan oleh mesin dan berlangsung cepat.

Berjalan mengelilingi pabrik ternyata lumayan lelah. Ini namanya kunjungan sehat. Banyak jalan dan lebih banyak keringat yang keluar. Memang paling gampang tinggal beli di supermarket dan langsung tuang. Tetapi semua rasa lelah terbayar dengan minuman segar yang dibuat dari Frisian Flag Susu kental Manis. Segarnyaaaaa…

1476306877662

Kenangan masa kecil saya rasanya tidak bisa dinikmati oleh anak zaman sekarang. Frisian Flag sudah berinovasi dalam kemasannya. Tutup kaleng bisa langsung ditarik dan terbuka. Sudah ada juga kemasan pouch yang lebih mudah lagi. Tetapi masih bisa sih dicolek-colek langsung. Cuma harus dinggat ya, cara makan langsung dengan menempelkan ke mulut bikin susu tidak steril lagi.

Jangan ditiru ya! 😀

Bersama #buibuksocmed yang ceria habis mengintip pabrik Frisian Flag Susu Kental Manis. Photo Credit: Chacha Thaib

Kita tidak bisa menghapus kenangan tetapi bisa menambah kenangan. Kenangan manis makin bertambah dengan kunjungan ke Frisian Flag Susu kental Manis. Apalagi pas acara kemarin kita banyak ketawa karena mbak MC yang lucu banget. Pas pulang dapat bingkisan yang pastinya nambahin stok yang manis-manis di kepala.