Mengintip Kreasi Masakan Indonesia di Kompetisi Food Plating

Makanan yang sama tapi harganya bisa tidak sama. Selain soal rasa, yang membedakan nilai suatu makanan adalah cara menyajikannya. Selain seni memasak, para chef juga biasanya memiliki keahlian dalam seni menata makanan.

Dri mata turun ke hati, lalu ke perut. Begitulah sejatinya suatu makanan. Memang makanan itu untuk dimakan, bukan hanya dilihat sampai kenyang. Tapi untuk menggugah selera perlu tampilan dan aroma yang menggoda, kan?

Pada sabtu lalu (9/12/2017) saya tak mau kelewatan acara final ZEN Food Plating Competition. Food Platting adalah teknik penataan dan penyajian makanan di atas piring dengan memperhatikan posisi dan komposisi makanan agar menunjukan nilai seni dan kualitas yang tinggi. Jadi lomba ini bukan lomba memasak, tetapi lomba menyajikan makanan.

Lombanya cukup unik karena para peserta mengikuti kontes ini dengan mengunggah masakannya di media sosial. Tentunya dengan penyajian yang apik dan cantik. Para peserta adalah 10 finalis kategori profesional dan 10 finalis kategori non-profesional. Kompetisi ini diselenggarakan oleh ACMI (Aku Cinta Masakan Indonesia), William Wongso Kuliner, dan ZEN Tableware.

Makanan-makanan hasil karya peserta Zen Food Plating Competition

MEMAJUKAN KULINER INDONESIA MELALUI KOMPETISI FOOD PLATING

Continue reading “Mengintip Kreasi Masakan Indonesia di Kompetisi Food Plating”

20180330_164005(0)-01

Menyelamatkan Diri dari Anemia

20161205_101435-02

Olahraga lebih teratur, mengatur makanan, dan berhenti merokok sudah dijalani sekitar 5 tahun ini. Meski awalnya ingin kurus tapi lama-kelamaan tujuannya lumayan udah geser. Jujur nih, saya ingin merasakan hidup yang lebih baik. Sudah lelah juga dengan badan yang ringkih harus bolak balik ke rumah sakit karena menjalani pola hidup yang masih asal-asalan. Orang yang melihat saya sekarang mungkin gak nyangka kalau dulunya saya mengalami typus sampai 3 kali dalam setahun karena daya tahan tubuh yang buruk. Gimana mau sehat kalau pola hidupnya aja aca-acakan. Makan asal-asalan, jam tidur berantakan, dan pikiran kayanya lebih sering tegang.

Sehat.. sehat.. sehat.. pokonya saya mau sehat!

Sehat itu buat saya adalah investasi, jadi saya gak mau menunggu tua untuk mengubah pola hidup agak beneran. Bisa produktif sampai usia senja adalah cita-cita ibu-ibu anak dua yang sehari-harinya masih pecicilan ini. Banyak hal yang bisa didapat jika tubuh kita sehat. Dengan sehat saya bisa menjalani pekerjaan lebih baik, mengasuh anak, hingga jalan-jalan. Apalagi menjadi ibu gak gampang. Kita mesti sehat supaya bisa lebih fokus mengurus anak-anak, rumah, dan kerjaan. Bahkan nemenin anak belajar aja butuh pikiran dan tubuh yang sehat. Kalau lagi gak fit boro-boro fokus ngajarin anak.

APAKAH SAYA CUKUP PRODUKTIF?

IMG-20170329-WA0012

Usia saya termasuk usia yang masif produktif. Apalagi anak-anak masih kecil dan kerjaan lagi lumayan (alhamdulillah) banyak. Ada rasa bangga jika bisa menjalani sesuatu sesuai dengan target. Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah saya produktif?

Kita bisa menganggap diri kita produktif apabila sudah mampu menghasilkan sesuatu (barang atau jasa) sesuai yang diharapkan, yaitu waktu yang singkat dan tepat. Tapi ada masa-masanya kita sulit mengerjakan sesuatu sesuai target, misalnya saat tubuh lelah. Apalagi jika di periode menstruasi mood dan badan kayanya drop banget. Jangan-jangan saya ini anemia..

PENGARUH ANEMIA TERHADAP PRODUKTIVITAS

Rabu kemarin di The Darmawangsa Hotel saya menghadiri acara diskusi Indonesia Bebas Anemia: Sebagai Solusi Total untuk Indonesia yang Lebih produktif dan Bebas Anemia. Cara ini merupakan kampanye lanjutan yang diselenggarakan Merck, Perusahaan sains dan teknologi terkemuka, dan bekerjasama dengan PDGMI, organisasi profesi di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Nara Sumber dalam Indonesia Bebas Anemia
Nara Sumber dalam Indonesia Bebas Anemia

Kesadaran saya terhadap anemia dan dampaknya menjadi lebih terbuka. Sehat memang modal awal untuk produktif tetapi perhatian saya belum sampai ke hal yang lebih detail hingga ke anemia. Ternyata produktivitas kerja seringkali menurun bagi para wanita yang menderita anemia. Berdasarkan riset yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait survei Angkatan Kerja Nasional di bulan Agustus tahun 2015 yang diolah Pusdatinaker, jumlah pekerja wanita Indonesia sebesar 37,16% dari jumlah populasi masyarakat Indonesia, yang berjumlah 114.819.199.

“Anemia dapat memberikan dampak terhadap penurunan produktivitas kerja wanita Indonesia sebanyak 20% atau sekitar 6,5 jam per minggu.” – Prof. dr. Endang L. Achadi, Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia.

Produktivitas wanita Indonesia yang seringkali menurun disebabkan oleh defisiensi zat besi sehingga merasa mudah lelah, konsentrasi menurun karena kekurangan oksigen pada jaringan tubuh termasuk otak, sehingga mengurangi kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

APAKAH SAYA ANEMIA?

Menurut dokter Endang, kita memang dapat mengenali anemia dari gejala-gejala yang dirasakan atau dilihat seperti mudah lelah, mudah mengantuk, wajah yang lebih pucat, dan kurang dapat berkonsentrasi. Akan tetapi untuk mengetahui Anemia yang lebih jelas memang hanya dapat melalui cek darah. Anemia bisa disebabkan oleh:

1. Rendahnya asupan gizi yang penting untuk pembuatan Hemoglobin (HB) yaitu zat besi, asam folat, vitamin B12, dan protein.

2. Meningkatnya pengeluaran, yang disebabkan karena pendarahan, seperti infeksi kecacingan, pecahnya sel darah merah karena malaria atau thalassemia, atau pendarahan oleh sebab lainnya seperti luka.

Gejlala-gejala anemia yang perlu diperhatikan
Gejala-gejala anemia yang perlu diperhatikan

Sebagian besar anemia itu terjadi karena defisiensi zat besi. Jadi penting bagi kita untuk mengonsumsi makanan  yang kaya akan sumber zat besi. Permasalahannya adalah bahan makanan sebagian besar penduduk Indonesia berasal dari pangan nabati, sedangkan zat besi dari nabati lebih sulit diserap oleh tubuh. Ya mungkin ini juga terjadi oleh saya yang memang tidak terlalu suka makan daging. Bahkan saya sudah berhenti mengonsumsi daging merah. Mungkin saya satu di antara penduduk Indonesia yang mengalami anemia karena kurangnya asupan zat besi.

Wajah-wajah yang sepertimya tidak mengalami anemia defisiensi fe
Wajah-wajah yang sepertimya tidak mengalami anemia defisiensi fe

SOLUSI SEHAT UNTUK BEBAS ANEMIA

Kembali lagi ke tujuan saya berolahraga adalah ingin sehat. Walaupun terkadang suka terbawa ambisi ingin mencapai target-target tertentu. Di usia produktif ini tentunya saya ingin melakukan banyak hal dan tidak mau ada hal yang menghalangi produktivitas, termasuk anemia. Menjalani pola hidup yang lebih sehat kayanya sudah jalan yang paling benar untuk penangan Anemia Defisiensi Fe.

Memperbaiki Pola Makan

Kalau sebelumnya asal-asalan dalam mengonsumsi makanan, sekarang lebih memperhatikan kandungan gizi pada makanan. Makanan yang mengandung zat besi seperti makanan yang mengandung sumber protein tinggi, seperti daging merah, kuning telur, dan ikan. Tidak lupa dengan sayuran hijau dan kacang-kacangan.

Dalam sebuah risoles pun terdapat kandungan zat besi
Dalam sebuah risoles pun terdapat kandungan zat besi

 

Perlu diingat jika mau mengonsumsi kopi dan teh tidak dilakukan bersamaan dengan mengonsumsi makanan-makanan tersebut karena akan sia-sia. Tunggu minimal selama dua jam lebih untuk memberikan kesempatan tubuh untuk menyerap sari-sari makanan tersebut.

Mengonsumsi Suplemen Zat Besi

Kalau kita merasakan gejala-gejala anemia (kalau lupa bisa skrol lagi ke atas ya!) mungkin selama ini jumlah kandungan zat besi yang dikonsumsi masih kurang. Apalagi jika selama ini melakukan olahraga high-impact, seperti berlari. Kalau kata dr. Michael Trianto, SpKO, Spesialis Kedokteran Olahraga “Resiko Anemia Fe bisa terjadi pada kita yang melakukan olahrga berat. Saat banyaknya keringat yang keluar maka tubuh kita kehilangan banyak cairan elektrolit dan sel darah merah. Belum lagi akibat benturan yang terjadi memungkinkan meningkatkan proses hemolisis darah.”. Mungkin kita tidak akan menyadari mengalami anemia karena untuk yang rajin berolahraga gejala-gejala anemia seringkali tidak terlihat dibanding orang-orang yang tidak berolahraga.

Untuk wanita seringkali terasa lebih lesu dan susah konsentrasi saat sedang mengalami menstruasi. Hal ini membuat kita menjadi lebih malas dalam melakukan aktivitas. Suplemen penambah darah seperti Sangobion bisa kita konsumsi untuk melengkapi kebutuhan zat besi sehari-hari.

Kalau ternyata tubuh kita sudah cukup dengan kandungan zat besi gimana?

Gak bakal berpengaruh apa-apa kok! Itu kata dokter Endah loh, bukan kata Fitri Tasfiah. Kita tidak akan mengelami kelebihan zat besi hanya dengan makanan atau suplemen yang dikonsumsi. Jadi kalau tubuh kita sudah cukup dengan zat besi maka tubuh kita tidak akan menyerapnya. Sebaliknya, jika memang zat besi dalam tubuh kita masih butuh tambahan maka kandungan zat besi yang kita konsumsi akan mencukupi kebutuhan tubuh.

Program Olahraga untuk Bebas Anemia

Olahraga dalam intensitas sedang sangat direkomendasikan. Tidak berlebih dan juga tidak kurang. Ada dua jenis latihan, yaitu aerobik dan anaerobik. Aerobik ditujukan untuk kesehatan tuhuh, menurunkan berat badan, menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol darah, dan menurunkan kadar gula darah. Latihan anaerobic lebih ditujukan untuk meningkatkan kebugaran tubuh, tidak mudah lelah, dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Saat melakukan latihan kita harus memperhatikan beberapa prioritas. Pilih latihan yang mudah dilakukan dan hindari kelelahan yang berlebihan. Mendahulukan latihan otot besar, baru melakukan latihan pada otot kecil. Latihan dilakukan secara bertahap, jangan lupa unuk melakukan pemanasan dan pendinginan.

Pada saat ini Merck meluncurkan Senam Anemiaction sebagai salah satu langkah tindakan pencegahan gejala anemia. Senam Anemiaction adalah bentuk olahraga yang terdiri dari beberapa gerakan sederhana yang berfokus pada beberapa bagian tubuh, yaitu: aktivitas peregangan bawah, tengah, dan atas. Kata dr. Michael “Gabungan gerakan pada senam Anemiaction berfokus untuk meningkatkan mitokondria yang merupakan generator daris el pada tubuh manusia, sehingga siapapun yang melakukan senam tersebut mengurangi gejala-gejala anemia dan dapat menjadi lebih segar serta produktif saat beraktifitas.

Senam Anemiaction yang diperagakan bersama-sama dalam diskusi Indonesia Bebas Anemia
Senam Anemiaction yang diperagakan bersama-sama dalam diskusi Indonesia Bebas Anemia

Senam ini merupakan gerakan latihan otot pada tubuh bagian bawah, tengah, dan atas untuk meningkatkan kebugaran. Latihan ini kombinasi latihan aerobic dan anaerobic yang dilakukan dengan intensitas yang tepat. Pada senam ini juga terdapat gerakan pendinginan yang ditujukan untuk menghindari rasa pegal dan kaku sehingga kita bisa tetap beraktivitas seperti biasa.

Akan lebih menyenangkan jika kita mengisi hari dengan banyak hal yang kita suka. Kalau saya sih maunya bisa produktif sampai tua nanti (kalau dikasih umur panjang). Pola hidup sehat itu investasi, Gaes!

20180330_164005(0)-01

Lari di Sentul Berakhir Basah di Curug Bidadari

Photo Credit: Luciane

Pukul 5.45 pagi hari saya membuka jendela mobil dan mengabadikan langit yang masih bersemu dengan kamera smartphone. Kemudian saya kembali menyesap hot coffee latte ukuran grande yang saya beli di Rest Area untuk sedikit menghangatkan tubuh. Udara dan pemandangan pagi di Sentul memang masih segar, jauh sekali dengan lingkungan rumah saya di Bekasi (Ya iyalah!). Pagi itu saya berencana berlari dengan teman-teman dari Run For Indonesia (RFI).

Lari Santai Asal Senang

Good Morning, Sentul!

Sebut saja saya pelari rekreasi. Lari untuk sehat dan bersenang-senang. Sentul merupakan tempat yang asik untuk berlari meskipun track-nya naik turun. Walaupun sampai pukul 5.45 di Gerbang Tol Sentul Selatan tapi harus muter-muter karena belum hapal venue-nya. Ternyata tempatnya yang sudah bolak-balik dilewati. Karena buta jalan jadi ya main lewat-lewat aja.

Pukul 6 pagi saya sudah sampai di Danau Sentul Nirwana yang merupakan start point-nya. Harusnya jam 6 sudah mulai tetapi karena yang sampai beda-beda waktunya jadi masih harus tunggu-tungguan sampai semua lengkap. Pesertanya dari berbagai tempat. Jakarta saja dari Barat, Utara, Selatan, dan Timur juga ada. Saya sendiri dari Bekasi. Kalau teman-teman Bogor pastinya lebih cepat sampai.

Danau Sentul yang dicari-cari.

Seperti biasa kita memulai lari dengan pemanasan. Pemanasan saat berlari sangat penting untuk menghindari cedera dan memberi kenyamanan saat berlari. Kemudian kita berlari dengan pace santai sambil ngobrol. Baru mulai saja saya sudah kewalahan karena track-nya nanjak. Padahal masih di sekitar jogging track dan di bawah pepohonan sih. Tapi kan tetap aja nanjak. Huft!

Pemanasan di tepi Danau Sentul Nirwana. (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Berlari di Sentul City ini saya rekomendasikan kalau ingin berlari dengan suasana baru. Udaranya masih segar dan belum terlalu banyak polusi. Pemandangannya juga memanjakan mata karena kita bisa melihat Gunung Salak dari jauh. Dari pukul 7.30 kami mulai berlari-lari kecil di joging track menuju ke jalan besar.  Dengan pemandangan danau dan dipayungi pepohonan yang rindang, berlari menjadi lebih menyenangkan. Apalagi kalau larinya gak sendirian. (Maaf ya, Mblo!)

Jogging track di tepi Danau Sentul.
Lari santai tapi nanjak.

Biarpun tepib danau ini teduh tapi cukup menantang karena jalannya nanjak. Namanya juga di bukit-bukit jadi memang harus beradaptasi dengan jalan yang tidak rata. Jadi kalau dianggap tidak mungkin jadi keringetan, kamu salah!

Setelah masuk ke jalan besar kami berlari di tepi jalan dengan tetap membentuk barisan. Langit sudah menunjukkan jati dirinya: terang dan menyengat. Jjadi biarpun jaraknya tidak terlalu jauh tapi bikin ngos-ngosan juga.

Tapi…

tantangan utamanya bukan jalan yang naik turun, tetapi ‘panggilan’ untuk foto-foto. Rugi banget kalau sudah ke sini tapi terlalu serius lari.  Nanti pulang malah sedih karena gak ada yang kenangan sama sekali di kamera henpon.

Lari di tepi kawasan Sentul Nirwana. Naik dan turun adalah tantangannya.

Latihan kami memang selalu ada banyak foto. Moment tidak bisa diulang tapi bisa dikenang. Untuk mengabadikan moment tentunya dengan mendokumentasikannya. Jangan lupa langsung posting di sosmed supaya gampang nyarinya. Sukur-sukur kalau dapat likes. Ya, gak?

Mandatory photo biar kaya pelari-pelari kebanyakan. Fokus pada view backgroundnya juga boleh.
You jump, i jump! (Photo credit: Willy Sanjaya)
Semua Peserta “Jemput kawan Lari ke Sentul”. (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Berkaitan dengan jalan yang naik turun jadi terkenang waktu Half Marathon di Bali Marathon 2016. Kaki sampai sengklek-sengklek karena harus menempuh medan tanjakan yang gak habis-habis. Paha belakang kram. Karena di sentul lari untuk fun jadi ya kalau cape yaudahlah jalan aja hehe..

Dari Danau ke Bukit berjarak 5 km. Lari bulak-balik total 10 km. Wah,  harusnya sudah dapat medali finisher nih!

Basah-Basahan di Curug Bidadari

Setelah keringetan kan paling seru itu basah-basahan. Langsung gak sabar ke air terjun. Biarpun jarak larinya hanya 10 km tapi lumayan bikin cape loh. Karena meskipun di sini lebih sejuk, jika sudah pukul 7 pagi ya sudah lumayan terik. Ditambah start-nya kan agak ngaret setengah jam dari rencana jadi finish-nya pun tentu lebih ngaret. Sedangkan mataharinya gak mau ikut-ikutan ngaret. Jadi lumayan lah bikin kulit semakin eksotis.

Setelah stretching untuk pendinginan kami pun istirahat sejenak dan langsung jalan lagi. Destinasi selanjutnya dalah Air Terjun Bidadari. Kalau menggunakan istilah setempat sih dinamakan Curug Bidadari. Kenapa dinamakan ini? Apakah karena yang datang banyak bidadari seperti akuhhh? (eh?)

Pernah dengar dongeng Jaka Tarub dan 7 Bidadari? Nah menurut legenda yang dipercaya masyarakat setempat ini adalah air terjun tempat 7 bidadari ini mandi. Tapi bukannya bidadari, kok saya malah ketemunya perjaka mandi!

7 (kurang 1) Bidadari? (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Kami sampai sini tidak terlalu lama dari Danau Sentul Nirwana. Jaraknya sekitar 5-7 km. Cuma 15-20 menit kok. Lari?

YA TENTU SAJA TIDAK!

Kalau kamu bukan anak trail mah ke sininya naik mobil aja. Yakin mau nanjak panjang banget? Meski jalannya gak semulus pipinya Syahrini dan tidak seluas badan saya waktu habis melahirkan, tapi ini termasuk yang gampang dijangkau meskipun mobilnya matic. Hidup itu sudah rumit masa mau jalan-jalan dibikin sulit? Marilah kita cari cara yang termudah!

Run For Indonesia has touch down at Curug Bidadari. Hello, Angel! (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Curug Bidadari ini gak terlalu besar dan tinggi. Jadi sebelum sampai tolong di-set dulu ekspetasinya ya. Tetapi untuk keperluan wisata memang sudah direnovasi jadi kita juga disuguhkan kolam buatan yang divariasikan dengan wahana ‘bebek-bebekan’ serta balon air. Tetapi air yang digunakannya tetap alami tanpa dicampur bahan kimia. Jadi kalau bermain air tidak akan tercium wangi kaporit yang biasa ada di lokasi waterpark.

Di bawah air terjun Bidadari. (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Mungkin untuk menjaga kealamiannya, ternyata untuk bilas benar-benar outdoor. Hanya disediakan bilik untuk mengganti baju. Wow, kapan lagi mandi terbuka di tempat umum!

Bidadari mandi dulu ya!

Untuk tahun 2016, harga tiket masuk 30 ribu rupiah ini tidak terlalu mahal. Kita bisa main air di bawah air terjun dan gila-gilaan bersama teman. Saya sih memang niat untuk numpang mandi jadi sayang banget kalau gak nyemplung ke bawah air terjun. Airnya dingin tapi bagus untuk recovery setelah berlari. Apalagi sambil teriak-teriak dan tertawa, makin pol kan recovery-nya!

 

Buat kamu yang tergolong pelari rekreasi, yuk langsung masukin Sentul City ke dalam list destinasi yang wajib dikunjungi!

Sampai jumpa!
20180330_164005(0)-01

Kunjungan Manis ke Pabrik Frisian Flag Susu Kental Manis

1476306180366

“Waaah!”

Saat menemukan mesin susu yang terletak di lobby utama saat kunjungan ke pabrik Frisian Flag Susu Kental Manis di Ciracas hari rabu kemarin. Ada tiga varian yang bisa kita pilih sendiri, yaitu full cream, chocolate, dan honey. Dispenser susu ini sebenarnya serupa dengan mesin kopi yang banyak diperedaran, tetapi muncul gelasnya itu yang bikin pengen langsung tepuk tangan.

Saya sangat senang mendapat kesempatan main ke pabrik Frisian Flag di Ciracas karena susu ini melekat dengan kenangan masa kecil. Susu Kental Manis Frisian Flag atau sangat dikenal dengan ‘Susu Bendera’ memenuhi kenangan saya masih kecil. Dulu kemasannya berupa kaleng dan cara membukanya dengan alat khusus untuk membuka kemasan kaleng. Tapi biar ‘simple’ saya langsung membuka dengan pisau dan ulekan. Mata pisau ke arah pinggiran tutup kaleng dan bagian ujung pegangannya diketik-ketuk dengan ulekan. Hayo siapa yang gini juga?

Saat tutup kaleng bolong maka saya menantikan isinya luber ke luar dan mengisi gelas mulut saya. Mata melirik kanan dan kiri jangan sampai ketauan mama. Ini cara ternikmat menikmati susu kental manis di masa kecil versi saya. Di balik sebuah kaleng susu saya juga penasaran bagaimana proses pembuatannya. Untuk bisa masuk ke dalam pabrik tidak bisa sembarangan. Ada aturan baku supaya ruangan.

1476306839464

Untuk bisa mengintip proses pembuatan dan pengemasan sebuah susu kental manis ada peraturan yang harus dijaga agar ruangan tetap steril. Kita diberi perlengkapan seperti outer putih (duh, namanya apa, ya?), ear plug, hair cap, masker, dan sepatu boots kulit. Perhiasan, jam tangan, kamera, dan smartphone harus ditinggalkan di ruangan tempat kami berkumpul.

IMG-20161012-WA0034

Setelah memakai perlengkapan akhirnya kami berbaris memasuki ruangan yang bising dari mesin. Jauh dari bayangan saya tentang pabrik. Selama ini saya membayangkan di dalam pabrik ada banyak buruh yang sibuk mengangkut barang. Ternyata semua sudah dikerjakan dengan mesin. Tenaga manusia lebih banyak untuk mengoperasikan mesin.

Mata menjelajah kaleng-kaleng yang berjalan di dalam rel. Para kaleng seperti sedang bermain roller coaster. Dengan roda mesin, kaleng-kaleng berjalan untuk dipotong, kemudian dibentuk lebih detail lagi, kemudian disterilisasi dengan dilakukan pembakaran. Kaleng-kaleng yang sudah disterilisasi diisi oleh susu kemudian ditutup rapat. Setelah diisi susu, kemasan kembali disterilisasi kembali. Kemudian diberi label. Terakhir susu-susu tersebut di-packing ke dalam kardus. Setelah itu maka susu tersebut ditimbang dan apabila beratnya tidaks sesuai standar maka dus tersebut dikeluakan dari antrian secara otomatis. Kaleng-kaleng pun sudah berganti dengan dus-dus yang berisi muatan. Kemudian semua dus disusun dan dikemas lagi dengan plastic wrap.

Ya, semua sudah dikerjakan oleh mesin dan berlangsung cepat.

Berjalan mengelilingi pabrik ternyata lumayan lelah. Ini namanya kunjungan sehat. Banyak jalan dan lebih banyak keringat yang keluar. Memang paling gampang tinggal beli di supermarket dan langsung tuang. Tetapi semua rasa lelah terbayar dengan minuman segar yang dibuat dari Frisian Flag Susu kental Manis. Segarnyaaaaa…

1476306877662

Kenangan masa kecil saya rasanya tidak bisa dinikmati oleh anak zaman sekarang. Frisian Flag sudah berinovasi dalam kemasannya. Tutup kaleng bisa langsung ditarik dan terbuka. Sudah ada juga kemasan pouch yang lebih mudah lagi. Tetapi masih bisa sih dicolek-colek langsung. Cuma harus dinggat ya, cara makan langsung dengan menempelkan ke mulut bikin susu tidak steril lagi.

Jangan ditiru ya! 😀

Bersama #buibuksocmed yang ceria habis mengintip pabrik Frisian Flag Susu Kental Manis. Photo Credit: Chacha Thaib

Kita tidak bisa menghapus kenangan tetapi bisa menambah kenangan. Kenangan manis makin bertambah dengan kunjungan ke Frisian Flag Susu kental Manis. Apalagi pas acara kemarin kita banyak ketawa karena mbak MC yang lucu banget. Pas pulang dapat bingkisan yang pastinya nambahin stok yang manis-manis di kepala.

 

20180330_164005(0)-01

Lari Cantik dengan Batik di Tjanting Funday!

1475476614875

Berlari dengan memakai baju dan celana lari sudah biasa, tetapi bagaimana jika memakai kain batik?

Hari minggu kemarin saya dan teman-teman seru-seruan berlari dengan menggunakan kain batik di Tjanting Funday! dengan jarak 5K. Acara ini menurut saya menarik karena para peserta banyak yang berlari dengan memakai batik. Ada yang hanya memakai baju lari dengan motif batik, ada juga yang memang totalitas memakai baju unik dengan batik. Saya sih yang sedang-sedang saja. Tetap memakai baju lari seperti biasa tetapi dengan balutan kain batik sebagai bawahan.

My outfit for Tjanting Funday. Sporty tetapi tetap anggun memakai batik.

Tjanting (Canting) adalah simbol dari batik karena beda ini adalah alat yang digunakan untuk membatik. Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia. Berdasarkan keputusan UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009, batik Indonesia secara resmi diakui sebagai bagian dari budaya dunia. Oleh karena itu pada tanggal 2 Oktober diresmikan sebagai Hari Batik Nasional. Tjanting Funday ini merupakan event lari, bazzar, pameran, dan hiburan menyambut Hari Batik Nasional.

Lari di Tjanting Funday merupakan salah satu yang masuk ke dalam wish list sejak beberapa bulan lalu karena menurut saya unik. Ada tantangan sendiri karena saya ingin berlari dengan memakai kain batik. Rasanya seru bisa tetap sporty tetapi tetap cantik memakai batik.

Siap-siap untuk ikut Tjanting Funday. Pria dan wanita memakai batik. (Fotografer: Agus Hermawan dari Run For Indonesia)

Sejak pukul 6.00 WIB, Plaza Selatan Senayan sudah dipadati oleh para peserta yang diperkirakan sekitar 1200-1500 orang. Rupanya acara ini banyak juga peminatnya. Sampai-sampai ada calon Gubernur DKI Jakarta yang turun langsung berlari dengan para peserta yang lain dan diunggah di akun instagramnya hehe..

Para peserta Tanting Funday yang sudah bersiap di garis start. (Fotografer Agus Hermawan dari Run For Indonesia)

6.30 WIB. Tidak mau kalah sama bapak cagub, saya juga ambil posisi start paling depan. Bukan karena pengen kena foto, tapi memang agak ribet kalau harus ke belakang. Ya kalau pada akhirnya kena foto sih alhamdulillah banget!

Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang ngos-ngosan dari baru mulai, lari kali ini sangat fun. Mungkin karena berbaur dengan peserta Car Free Day (CFD) lainnya jadi rasanya seperti latihan biasa. Di pagi itu padahal sedang flu dan baru tidur tidak sampai 3 jam. Saat di KM2 saya disalip oleh perempuan dengan pakaian daerah dan unik. Yang membuat saya takjub adalah dengan pakaian seperti itu larinya sangat cepat.

Bersama mbak Eva Regina yang menjadi juara pertama kategori best costume. Tetap bisa berlari cepat dengan kostum seribet ini. Salut!

Para peserta terlihat bersemangat di acara ini. Berlari bersama dan foto-foto. Tentunya dengan memakai batik. Pokonya yang penting ada batiknya! Namanya juga mensosialisasikan batik dengan berlari. Semua peserta berlari dari Plaza Selatan Senayan lalu masuk ke Jl. Sudirman kemudian mengambil jalur ke Semanggi untuk berputar arah. Setelah itu kembali masuk ke Jl. Sudirman arah sebaliknya hingga melalui kemenpan dan berputar di Patung Pemuda. Setelah itu mengambil jalur ke kiri dan berbalik arah kembali ke Jl. Sudirman. Tempat finish sama seperti waktu start, yaitru Plaza Selatan GBK.

Para pelari dengan rok tutu batik. Lucu ya! (Fotografer: Agus Hermawan dari Run For Indonesia)

7.00 WIB akhirnya bisa mencapai garis finish. Catatan waktu di gate menunjukkan 28 menit. Tetapi kalau dilihat dari sport watch yang saya pakai sih 29 menit. Tetap alhamdulillah. Ternyata batik membawa keberuntungan buat saya karena bisa kembali mencapai personal best record untuk kategori 5K.

Yes, akhirnya dapat medali baru!

Wajah bahagia dari Run For Indonesia yang mendapat medali Tjanting Run. (Sumber Foto: Michael Wong dari Run For Indonesia)

Semua peserta yang bisa finish di bawah Cut of Time (COT) 1,5 jam akan mendapat medali Tjanting Funday. Bisa dikatakan peluang mendapat medali sangat besar, kecuali jika melakukan kecurangan dengan memotong jalan. Jadi harusnya semua senang lah ya..

Podium 1, 2, 3 Kategori Putra.
Podium 1, 2, 3 Kategori Putri.
Pemenang 1, 2. 3 Kategori Best costume.

Biar tetap kekinian saya posting foto dan video lari di akun Instagram fitritash dengan hashtag #TjantingFunday #RunWithPride #CatatWaktumuSendiri.

Screenshot_2016-10-03-16-24-37-1

Ya saya juga ingin ikut berkontribusi dalam memberikan viral acara ini di sosial media supaya atensi para netizen terhadap lari dan batik meningkat. Selamat Hari Batik Nasional!