20180330_164005(0)-01

Jebakan Impulsif Belanja dan Munculnya Penawaran Cash Back Card untuk Milenia

Sebagai ibu-ibu yang mengaku generasi milenia sepertinya kebiasaan belanja online menjadi suatu rutinitas. Apalagi kalau sudah terjebak oleh hobi. Untuk menjalani gaya hidup sehat saja tetap perlu biaya. Saya sendiri kalau mau nyari sesuatu pasti yang diintip adalah tokp-toko online karena lebih praktis. Yang dibuka gak jauh dari peralatan lari, matras yoga, baju dan celana yoga, sampai ke produk supporter untuk cedera. Untuk perbandingan harga pun biasanya lebih hemat. Kalau harus belanja ke mall, saya harus spending uang lebih untuk bensin dan uang parkir. Belum lagi mampir-mampir tempat makan atau ngopi.

Kita-kita yang berada dalam range usia 25-35 tahun ini memang disebut generasi milenia. Kaum milenia ini secara gaya hidup memang banyak maunya. Pengen menjalani banyak hal, misalnya ikut event-event lari, travelling, sampai nongkrong di coffeshop terkenal yang banyak diposting di Instagram. Ya kan?

1474524025756
Peluncuran HSBC Platinum Cash Back Card di Hard Rock Cafe Jakarta

Kata ibu Dewi Tuegeh, Senior Vice President Retail Banking & Wealth Managemen HSBC Indonesia saat launching HSBC Platinum Cash Back Card di Hard Rock Café Jakarta, memang untuk segmen saya yang mengaku generasi milenia memiliki beragam tuntutan prioritas yang harus dicukupi untuk mengaktualisasikan diri, jadinya tergiring ke perilaku impulsif dalam berbelanja. Padahal usia-usia segini secara ekonomi rata-rata (44%) masih belum di titik mapan dan stabil.

Sejujurnya transaksi secara online ini 50:50 antara untung dan rugi. Karena serba praktis dan dirasa “lebih murah” maka belanja jadi lebih terdorong karena impulsif. Tau-tau baru pertengahan bulan setengah gaji sudah mendekati kritis.

HSBC dengan produk barunya ini secara terbuka mengatakan target pasar mereka adalah generasi milenia yang ingin #SelaluLebih. Misalnya dalam meningkatnya perilaku transaksi online, maka HSBC pun memberikan promo cash back 25% untuk jenis transaksi ini. Selain transaksi online juga berlaku untuk transaksi di kategori restoran dan supermarket. Ada juga tambahan cash back 3% untuk transaksi apapun di manapun.

Tapi sebesar apapun cash back-nya saya masih tetap mikir lagi kalau memang harganya tidak terjangkau. Kadang harga gear memang gak kira-kira. Kalau mau beli itu ya harus nabung dulu. Beda ceritanya kalau bisa dicicil per bulan. Ternyata produk baru ini juga memenuhi kebutuhan generasi milena seperti saya ini. Kalau memang kita berat untuk membayar dalam jumlah angka besar maka dapat diubah menjadi cicilan bulanan dengan nilai minimal 50rb rupiah per bulan. Hmm..

Sebenarnya penawaran cash back ini HSBC lumayan tertinggal. Di dalam situs Duit Pintar, terdapat 12 kartu kredit terbaik 2016 dengan penawaran cash back dan Standar Chartered Master Card Titanium menapat rating tertinggi. Penawaran cash back sebesar 20%. Jumlahnya lebih kecil dengan produk baru HSBC yang baru dengan penawaran cash back 25%. Jadi, apakah HSBC bisa meluncur ke atas menyaingi pendahulunya?

1474523921456

TIPS MEMBELANJAKAN HOBI: Belanja Dengan Sadar

Harusnya dengan banyak kemudahan membuat keuangan kita lebih terkontrol. Jangan mudah terdorong untuk menjadi impulsif hanya karena iming-iming diskon atau karena lucu secara penampilan. Belanja dengan sadar adalah belanja dengan melewati berbagai pertimbangan, seperti tingkat kebutuhan dan perbandingan harga. Sebelum yakin membelinya sebaiknya intip-intip dulu ke toko sebelah dan cari pilihan termurah.

Kalau disebut satu persatu semua barang sepertinya butuh, tetapi ada yang butuhnya masuk ke kategori urgent dan ada yang butuhnya masih bisa ditahan. Untuk lari-larian kayanya gak habis-habis yang mau dibeli. Dari mulai sepatu, kaos kaki, visor, jersey, compression, sport watch, kacamata, dan masih banyak antrian berikutnya. Kalau semua dibeli dalam waktu bersamaan bisa-bisa bangkrut sebelum merasakan kesuksesan. Cara untuk filter semua itu adalah bikin list sesuai kebutuhan. Kebutuhan ya, bukan keinginan.

Setelah itu baru memanfaatkan fasilitas yang ada. Cari tahu promo-promo dari bank yang kamu gunakan seperti diskon atau cash back. Jangan terbalik ya! Jika situasinya karena tahu ada promo diskon atau cash back lalu cari-cari alasan untuk belanja urusan hobi padahal belum tahu yang dibutuhkan itu apa, ini jebakan betmen!

 

20180330_164005(0)-01

Aneka Drama Pertama Kali Ikut Bali Marathon

 

1474349671186

Tidak terasa sudah 3 minggu Maybank Bali Marathon (MBM) berlalu. Dari rasa lelah hingga sakit efek cedera pun sudah hilang. Tapi saya masih ingat sekali drama-drama yang terjadi sepanjang ikut MBM. Pengalaman yang mungkin tidak akan terlupakan, apalagi ini adalah tempat saya lepas virgin half marathon.

Untuk kategori 21K, start mulai pukul 5.30. tetapi saya dan rombongan #kawanlari sampai di lokasi pukul 4.30. Karena lokasi race di Gianyar dan hotel saya di Kuta maka sudah dari pukul 3 Shuttle kami berangkat. Perkiraan finish adalah pukul 8.30, karena target saya di MBM ini adalah 3 jam. Drama-drama yang menjadi moment sepanjang Bali Marathon adalah:

KEBELET PIPIS

Ketika sampai venue hal pertama yang saya lakukan adalah mencari toilet. Dari masih di dalam shuttle menuju Gianyar pun sudah kebelet pipis. Entah kenapa saya kok jadi beseran banget menjelang MBM ini. Dalam langit yang masih gelap, kumpulan kepala sudah mengantri di depan toilet. Setelah ikut mengantri akhirnya saya menuntaskan segala urusan di dalam toilet. Napas lega ketika keluar dari bilik toilet. Saya pun langsung stretching dan pemanasan di dekat garis start. Tidka lupa untuk mengambil posisi yang terdepan di garis start. Ya gak depan-depan banget sih. Masih di baris kedua di belakang para pelari Kenya.

Ketika start dimulai, saya berlari lumayan bersemangat. Namanya juga masih baru-baru. Baru sekitar 100m mulai gelisah. Saya kebelet pipis lagi.

Oh. My. God.

PUP DI TENGAH RACE

Mules menahan pipis yang tak tersampaikan akhirnya berubah menjadi mules mau pup. Ketika itu sudah masih di KM3. Sisa kilometer masih panjang menuju 21. Awalnya masih mempunyai spirit untuk melanjutkan berlari, lama-lama kok semakin di ujung. Apalag tekanan saat berlari seperti terus mendorong hingga semakin tak tertahankan. Saya pun mulai bertanya ke setiap warung yang terbuka.

“Pak, ada toilet?”

“Bu, ada toilet?”

Setelah beberapa kali mendapat jawaban yang mengecewakan akhirnya mendapat titik terang. Ada penduduk yang memberi tumpangan rumahnya untuk saya melepas beban yang di tahan. Ya namanya rumah penduduk, saya tidak mungkin lari-lari dan melepas sopan santun. Saya sejenak melupakan target waktu dan melepas sepatu perlahan.

Yang jelas ini bukan wajah kebelet pup, tapi kebelet pengen finish
Yang jelas ini bukan wajah kebelet pup, tapi kebelet pengen finish

BERTEMU TANJAKAN CANTIK DAN PAHA TERTARIK

Saat di KM7 perjalanan pun semakin sulit. Tanjakan demi tanjakan mesti di lewati. Dengan kondisi lutut yang masih cedera ini lumayan sulit. Kelemahan saya memang pada tanjakan. Awal saya merasakan sakit pada lutut juga karena latihan di tanjakan. Jadi wajar kalau saya lumayan takut terhadap tanjakan.

Ternyata ketakutan ini terbukti. Ada yang terasa tertarik di paha belakang dan membuat saya kesulitan berlari. Oh, apakah ini yang namanya kram?

Saya harus berlari dengan kondisi kaki seperti ini sekitar 14KM lagi. HA HA HA!

LARI SAKIT, JALAN LEBIH SAKIT

Saya akui memang dari mulai rasa lelah hingga rasa sakit bercampur menjadi satu. Kadang saya sendiri tidak mau membayangkan karena takut malah menjadi lebih parah. Saya berlari dengan kaki sedikit pincang, kadang saya melonggarkan kaki kanan agar sedikit release dari ketegangan.

Lari-jalan-lari-jalan. Begitu lah cara saya bisa bertahan. Akan tetapi saat berjalan ternyata saya lebih terlihat aneh karena sudah tidak sanggup berjalan lurus. Lutut kanan seperti tidak bisa ditekuk saat berjalan. Belum lagi karena efek otot paha yang tertarik ini. Cara jalan saya sudah seperti anak monyet yang sedang mencari toilet atau anak kecil yang baru disunat: Ngangkang.

Saya pun akhirnya sempat melipir untuk mengantri mendapat cairan pereda rasa sakit dalam bentuk spray yang berada di tepi jalan. Entah ini memberi efek atau tidak yang jelas pasti akan memberi sedikit sugesti pada saya.

STRETCHING DULU DEH!

Selain lari dan jalan, yang saya lakukan sepanjang race adalah: stretching. Saat terasa sudah maksimal rasa sakitnya pasti saya melipir untuk stretching sejenak untuk release ketegangan otot. Biarkan otot yang mengendur, tapi semangat tetap kencang.

MULAI NGOMONG SENDIRI

Mungkin halu salah satu efek lari. Selama 21K berlari sendiri. Lelah, sakit, dan excitement dirasakan sendiri. Apalagi ini lari pertama saya di jarak 21K dengan track yang luar biasa menantang. Banyak tanjakan dan turunan yang harus dilalui. Yang banyak menghibur adalah kumpulan anak kecil yang berbaris dan memberi semangat.

“Run.. Fitri..Run..”.

Iya, ini Forrest Gump banget!

Makin lama makin ngoceh sendiri:

“Go Go Go!”

The finish line ahead!

“Lu mau sakit, mau ngeluh, mau jalan… nanti aja kalau udah finish!.”

Kadang juga begini:

“Fit, lu ngapain sih di sini!”

Drama-drama di atas justru menjadikan pengalaman MBM kemarin jadi penuh kenangan. Lebih seru lagi karena ramai-ramai dengan teman-teman.

Tapi belum selesai…

GAGAL PULANG DAN GAK BISA PULANG

Selain drama di race ternyata saya mengalami drama di Bandara. Senin pukul 11.00 WITA harusnya saya take off ke Jakarta. Karena telat check-in beberapa menit akhirnya tidak bisa ikut penerbangan sesuai jadwal.

Dan semua jadwal penerbangan sudah penuh hingga selasa sore. What a wonderful day!

DOMPET AKU KE MANA?

1474349789954
Touchdown Jakarta. Bye, Drama!

30 Agustus 2016 pulul 16.00 WIB. Turun dari pesawat dan menghirup udara Jakarta menjadi sangat menyenangkan. “Selamat tinggal drama di Bali” dengan tersenyum lega.

Sempat foto untuk terakhir kali dengan medali kemudian mencari toilet. Karena hari masih sore saya memutuskan untuk naik Damri saja ke Bekasi. Saat membayar tiket bus ternyata DOMPETNYA HILANG!

Mencoba tenang sambil menyusuri kembali yang di lewati termasuk toilet tapi hasilnya nihil. Kemudian melapor pada petugas. Makin pusing karena saya sendiri lupa kapan terakhir kali melihat dompet. Yang jelas terakhir kali ya di Bali.

Tapi rupanya Sang Penulis Skenario mulai tampak kasihan. Akhirnya saya mendapat kabar kalau dompet ditemukan di Lion Air, pesawat yang mengantarkan saya ke Jakarta. Setelah diingat-ingat, dompet itu keluar dari tas ketika saya mencoba foto medali di atas pesawat.

Oke.

20180330_164005(0)-01

Melawan Diri Sendiri di Titan Run

Pukul 5.30, para peserta Titan Run 2016 sudah memadati garis start. Peserta 17.8K beriringan melaju melewat garis start. Tinggal lah kami yang berada di kategori 10K dan 5K. Entah mengapa saya merasa sedikit gugup. Mungkin karena sudah membuat target kepada diri sendiri untuk mencetak waktu lebih baik dari MILO Jakarta International 10K Run.  Ada juga target lebih besar: Berlari tanpa henti sepanjang race.

Setelah menunggu 15 menit, tiba giliran kami yang berada di kategori 10K. Harusnya rasa tegang sedikit berkurang karena latihan dua hari sebelumnya saya menyelesaikan 2x5K waktu latihan Kelabang di GBK. Tetapi jika mengingat latihan kemarin, saya lumayan ngos-ngosan dan takut di race ini akan seperti itu juga. Akhirnya saya membuat komitmen di race ini untuk bisa tetap stabil. Tidak perlu cepat tapi stabil.

Kenali diri sendiri dan berlari sesuai level

5..4..3..2..1..

Mulai!

Perserta 10K mulai berhamburan melewati garis start. Mereka melaju cepat dan satu persatu mulai meninggalkan saya, termasuk teman yang waktu itu bersamaan di garis start. Di sini pertarungan di mulai. Bukan pertarungan mereka, tetapi pertarungan dengan diri sendiri. Bagaimana bisa menahan diri untuk tetap stabil tanpa ikut bernapsu menjadi yang tercepat. Kembali mengingat kemampuan sendiri. Saat latihan pace santai saya di 8, terkadang di 7. Maksimal di 6. Tapi titik maksimal ini tidak mungkin saya lakukan di race 10K. Bisa-bisa 3K pertama sudah kehabisan napas.

Mulai mengingat lagi kenapa saya ada di sini? Mencari tahu kemampuan diri sendiri. Karena tahu pace maksimal dan minimal maka saya konsisten pada pace sendiri. Jika saya mengikuti pace orang lain, tamat. Kadang ego muncul untuk berlari cepat seperti yang lain, tapi buru-buru ditekan. Saya akhirnya tahu tantangan terbesar saat berlari itu memang diri sendiri. Saya kan bukan atlet yang berlari untuk mengejar podium. Saya adalah pemula yang ikut race untuk berlatih dan menambah pengalaman. Apalagi 3 minggu lagi sudah Maybank Bali Marathon (MBM) 21K. Kalau 10K saja tidak bisa mengendalikan diri sendiri, bagaimana nanti di race yang lebih panjang?

Menutup mata, mendengar tubuh

Untuk bisa fokus saya mencoba untuk bermain dengan pikiran sendiri. Biarkan orang lain melaju pada pace-nya. Jika saya ikut terbawa mereka saya tidak akan menyelesaikan target di awal, yaitu full lari 10K. Jujur saja, setiap berlari masa terberat saya justru di 2KM pertama. Ada teriakan “Gue resign!” atau “Ini terakhir!” di dalam hati. Ini tantangan terbesar. Kemudian kembali melawan tantangan ini dengan “Apapun yang mau dilakukan saya, selesaikan ini dulu!”. Hanya run..run..run..

Membuat target bisa mencapai 5K. Jika sudah berada di 5K boleh lah menginstirahatkan untuk berjalan. Saya melirik angka pada run apps dan sial sekali karena appsnya seperti error. Sudah 2K tapi masih tercatat 1K. Yasudah abaikan saja. Di akhir race juga kita bisa melihat catatan waktunya.

 

Akhirnya kaki ini mencapai di 3K. Ternyata di titik ini tubuh mulai panas dan kaki seperti bergerak otomatis. Langkah saya yang lambat mulai menyusul yang sudah mendahului di awal. Bukan karena lari saya cepat, tetapi mereka yang melambat. Tidak perlu cepat tapi stabil ternyata mulai membawa hasil.

Kemudian 5K. Target di awal saya mulai bisa melonggaran kaki di 5K tapi apa yang terjadi? Justru kaki sedang asik-asiknya. Kalau saya berhenti maka akan susah lagi untuk memulai. Saya mengingat saat tersulit itu ada di 2K pertama jadi akhirnya target 5K ini cancel..cancel..cancel..

Selesaikan apa yang sudah dimulai

Setiap mulai merasa lelah saya mendongak ke atas dan menghirup napas panjang. Ternyata ini lumayan membantu. Saat berpikir menyerah kemudian mengingat lagi: Selesaikan dulu apa yang sudah di mulai.

Di kilometer ke-8 kaki mulai terasa lebih lemah dan lari sedikit melambat (padahal larinya juga sudah lambat). Apapun yang terjadi lari. Biar lambat tapi lari. Saya kembali mengingat kata Ko Willy Sanjaya bahwa untuk tahu apakah kita masih sanggup lari yaitu dengan memperhatikan tangan. Jika tangan kita masih sanggup mengayun, tandanya kita masih sanggup berlari. Saya mencoba mengayunkan tangan dan ternyata masih dengan kuat mengayun. Beberapa kali ngomong ke kaki “Jangan manja, deh!”.

1K terakhir ternyata kaki ini masih sanggup melangkah meski makin goyah. Saat melihat garis finish saya berimajinasi ada sosok Brad Pitt dengan teriakan “Sayang, sini peluk!”. Saya pun berlari sekencang-kencangnya. Biar keren juga pas diliat yang dipinggir race. Tapi gak ada yang liat juga sih. Berani lari kencang karena di 100m terakhir, hehe..

Jujur saja saya puas. Puas banget karena berhasil berlari Full 10K. Meski catatan waktu di bawah Milo kemarin. Ini bukan soal angka tapi soal belajar mengendalikan diri sendiri. Akhirnya bisa melampaui tantangan hari itu dengan tetap berlari stabil. Tantangan berikutnya di 21K bagaimana? Saya juga belum tahu.

Kita tidak pernah tahu jika tidak memulai. Dan ketika memulai, selesaikan..

Para pelepas virgin full 10K tanpa jalan
Run For Indonesia di Titan Run
20180330_164005(0)-01

3 Srikandi Bikin Makin Sayang Ke Atlet Indonesia

Rabu pagi ketika matahari masih belum sempurna naiknya saya sudah bergegas untuk pergi ke PIK. Tempat yang berada di ujung utara Jakarta ini berada 46KM dari rumah di Bekasi. Iya, jauh.

Saya mengambil rute selatan karena lewat jalur dalam kota macet karena bersamaan dengan jam orang Bekasi berangkat kerja menuju Jakarta. Tapi saya semangat karena pagi itu mengajar di tempat pelatihan atlet taekwondo Indonesia. Saya suka berbagi ilmu dan bisa berkontribusi untuk mereka. Bisa ikut belajar menendang juga di sana. Pagi itu selain latihan juga banyak cerita tentang pengalaman mereka yang banyak membuat saya ternganga. Menjadi atlet itu memang harus kuat mental dan fisik.

Undangan Gala Premiere 3 Srikandi
Undangan Gala Premiere 3 Srikandi

Sorenya saya langsung bergegas ke Grand Indonesia untuk Gala Premiere film  3 Srikandi di CGV Blitz. Film yang disutradai Iman Brotoseno dengan penulisnya teman saya yang cantik, yaitu Swastika Nohara. Tentang sejarah 3 atlet Indonesia cabang panahan puteri yang meraih medali Olimpiade untuk pertama kali tahun 1988 di Korea Selatan. Tak hanya kisah tentang para atlet yang bertanding, tetapi juga pelatih dibaliknya yang berkontribusi dalam kemenangan.

Bersama Pak Sutradara dan teman-teman yang hadir
Bersama Pak Sutradara dan teman-teman yang hadir

Lumayan lama menunggu untuk bisa menonton film ini. Makanya senang sekali saat Mbak Wiwiek menawarkan datang ke Gala Premiere 3 Srikandi. Film yang membuat saya penasaran bagaimana kisah para atlet kita berjuang dulu, tentang bagaimana para pemeran memainkan karakternya, dan apakah ini menjadi film yang menarik atau membosankan.

Bicara soal pertandingan, sebagai masyarakat umum kebanyakan saat menonton pertandingan olahraga di televisi hanya berpikir “Harus menang!”. Dan ketika kalah langsung kecewa, tak jarang juga sedikit mengumpat “Ah, payah!”. Dari film 3 Srikandi baru saya tahu bahwa saat kalah pertandingan, atlet yang bertanding jauuuuh lebih sedih dan jauuuuuuh lebih kecewa. Apalagi moment tidak bisa diulang. Bagaimana kehidupan mereka bergantung pada pertandingan. Selesai pertandingan, tentu kalah dan menang ini sangat berpengaruh pada masa depan merka. Beda jika hanya sebagai penonton, saat pertandingan kalah ya sudah. Sedih dan kecewa. Tapi saat besoknya kehidupan kembali seperti semula. Tidak ada dampak apa-apa. Kecuali jika memang ikut taruhan. Bokek.

Sedikit cerita dari yang saya dengar waktu makan siang kemarin dengan Pak Alfian, atlet senior taekwondo putera Indonesia. Saat masih muda dan bertanding dulu dalam kejuaraan, dia sampai makan obat penahan rasa nyeri. Supaya hanya fokus menendang tanpa berpikir rasa sakit. Walaupun kaki sampai bengkak. Itu hanya sedikit cerita. Dalam film 3 Srikandi menceritakan lebih kompleks lagi. Nurfitriyana Saiman (Bunga Citra Lestari) harus berlatih di saat sedang menghadapi skripsi dan ayahnya yang menentangnya. Kusuma Wardhani (Tara Basro) menolak menjadi PNS demi pertandingan, padahal kondisi ekonomi keluarga juga tidak baik. Kalau yang dialami Lilis Handayani (Chelsea Islan) justru terkesan lebih ringan karena didukung ibunya yang juga mantan atlet nasional. Malah terkesan anak mami banget. Sampai akhirnya ibunya harus meninggal sebelum pertandingan Olimpiade. Duh.

Tara Basro, BCL, dan Chelsea Islan di 3 Srikando. Foto diambul dari blog lifetimejourney.com

BCL meranin anak Jakarta udah pas banget. Tapi aku ngerasa dia kurang jadul. Logat dan gesturenya masih jakarta-jakarta kekinian. Kalau Tara Basro bikin saya yakin dia dari Makasar. Beneran dari sana gak sih?

Kalau Chelsea Islan…

Lumayan menarik nih. Scene awal-awal ngerasa chelsea kurang jago meraninnya. Kaya bukan atlet panahan profesional. Lebih kaya anak mama. Saat cerita makin bergulir ternyata memang begini karakter perannya. Dan dia menghidupkan filmnya sekali!

Tapi yang bikin gemas-gemas lucu tetap karakter Donald Pandiangan (Reza Rahardian). Saya tidak tahu apakah ada sisi subjektif dari Kak Tika sebagai penulis atau memang aslinya begitu. Donald ini menjadi pria yang lovable. Dimana-mana cowok yang galak itu kan nyebelin ya, kok disini malah gemesin. Oh, iya.. Reza Rahardian!

Reza Rahardian dalam film 3 Srikandi

Kayanya Reza selalu baik dalam memerankan karakternya. Bahkan kalau kisah hidup saya diangkat ke Film, maunya Reza yang jadi meranin. Reza Rahardia pakai baju belel yang belepotan oli juga tetap ganteng. Pakai baju yang dekil dan terlihat jadul juga malah keren. Dia tuh kayanya gak bisa jelek. Saya belum pernah lihat cowok bengkel dengan baju yang belepotan oli terlihat sekeren ini. Dia beneran pake baju kusut dan lumayan lusuh, tapi ya kok jatohnya malah seksi! Hadeeehh..

Dalam film beberapa kali tertawa bersama teman nonton saya kemarin, yaitu Milly Ratudian dan Mas Shafiq Pontoh. Tiap ada romancenya langsung “Aw..aw..aw..”. Malahan saya sempat tutup muka dan pipi bersemu merah saking terbawa cerita. Akan tetapi saat sesi mereka harus lipsync nyanyi ratu sejagat, VO-nya kurang oke. Suaranya sempat gak sama dengan pergerakan mulut. Malahan menurut saya scene ini gak perlu ada, meski ujungnya ketawa juga saat Rezanya muncul. Duh, lagi-lagi Reza.

Efek habis nonton ini kayanya pikiran saya lebih terbuka tentang atlet Indonesia. Entah kenapa jadi kesengsem banget sama atlet. Malahan semalam mimpi daftarin anak untuk jadi atlet. Duh, andai waktu bisa diulang, saya mau banget jadi atlet. Pelatihnya Reza Rahardian. :p

 

 

20180330_164005(0)-01

Target Finish Cepat di MILO 10K 2016 Karena Anak

FB_IMG_1469429781416-02

Sebenarnya hari ini niatnya mau nulis waktu minggu kemarin ikut workshop dan yoga festival di Bali. Tetapi gak sabar mau cerita pengalaman di dua race MILO kemarin: MILO Jakarta International 10K dan MILO Champ Squad 1,6K. Ibaratnya kue bolu yang baru keluar dari oven, mumpung masih panas-panasnya. Pagi ini akhirnya berhasil gagal mendapatkan medali. Tapi itu bukan yang utama, karena untuk pemula rasanya terlalu jauh. Catatan waktu saya belum kejar. Karena dari 15000 peserta, medali yang disediakan hanya 2000 saja. Sedangkan saya ini ya apalah. Anak baru sebulan lahir yang masih norak-noraknya bisa gerakin kaki.

Saya sendiri awalnya tidak tahu kalau di dalam satu hari ini ada dua event MILO yang berbeda. Ketika ditawari untuk ikut, saya sih sangat mau. Ternyata ajakan ini untuk MILO Champ Squad, yaitu family run. Bedanya dua jam. Kalau yang 10K itu jam 6 pagi, sementara yang kedua adalah jam 8 pagi.

Ini jadi tantangan sendiri, supaya larinya gak lambat-lambat banget biar bisa ikut di race yang kedua. Minimal saya harus di bawah 1.30 menit untuk 10K. Bisa gak ya?

Pukul 4 pagi saya langsung bangun dan segera bersiap untuk ke venue. Pas sesi bangunin Farrel adalah saat yang tersulit karena ya masih pagi banget juga. Jam 5 kami sudah sampai di pasar festival. Anaknya langsung menunjuk McD. Dipikir-pikir kayanya memang enak dia sarapan dulu. Pas pesan makan saya memutuskan untuk “drop” Farrel di sana dulu. Setidaknya ini tempat yang nyaman dan aman untuk dia menunggu lama.

DSC_0006
Mengamankan Farrel di McD biar tenang lari

Dia kan ikut larinya yang pukul 8. Anaknya pun setuju. Tentunya saya bekali dia dengan uang saku kalau dia mau pesan makan lagi, tablet untuk main game, dan smartphone supaya saya bisa menghubungi dia dan sebaliknya.

Setelah merasa anak aman, saya langsung mencari booth Sunpride karena racepack ada di sana. Kebetulan bisa ikut MILO 10K karena dibantu tim dari Sunpride (Makasih ya!). Setelah dapat BIB saya bertemu dengan teman-teman  yang biasa latihan bareng di GBK: Run For Indonesia (RFI).

IMG-20160724-WA0018
Bersama kawan lari RFI yang sudah semangat walaupun masih gelap

Kami berkumpul bersama di garis start dan menyempatkan foto-foto. Biarpun nantinya akan berpencar tetapi setidaknya bisa saling menyemangati.

Bersama ribuan kepala lainnya di garis start
Bersama ribuan kepala lainnya di garis start

Karena ini kan bukan acara latihan bareng, ada target yang mesti dicapat. Dan target saya adalah…

Jangan sampai anak nunggu lama.

Ternyata agak susah ya. Kemauan dan kemampuan berlawanan. Di kilometer pertama sih masih semangat banget. Hingga pertengahan pun kaki masih sanggup berlari. Kemudian mulai lemah di pertengahan. Setiap dalam jarak tertentu saya selalu melihat angka pada jam tangan. Saya kan harus buru-buru finish. Maunya gitu.

Awal-awal lumayan memuaskan karena pada 30 menit pertama sudah dalam pertengahan. Selanjutnya semakin lambat dan mulai banyak jalan. Tapi tiap lihat jam jadi mulai pengen lari lagi.

Di lari ini saya baru tahu kekuatan teman itu luar biasa. Ada kekuatan sendiri saat ada teman dari komunitas atau yang memakai jersey sama dari Ayo Lari. “Mbak Fitri.. ayo semangat!”. Duh itu seperti oasis dalam padang pasir. Atau teman-teman RFI yang mengenali dijalan kemudian menyapa. Tapi kembali lagi ke kemampuan. Paha semakin berat untuk diangkat. Terutama di DUA KILOMETER TERAKHIR.

Saya teringat ada jadwal brief pukul 7.30. Dan yang penting lagi…

Anak saya menunggu.

Setelah perjuangan 10K berlari akhirnya finish!

Finally!
Finally!

Langsung semangat meraih pisang dari Sunpride karena belum makan dari kemarin. Kemudian cek hape ternyata…

_20160724_094821
Pesan yang bikin sedih dan baru dibaca setelah lari

Duh, aku mulai panik dan merasa bersalah. Harusnya aku lari lebih cepat lagi apapun yang terjadi. Ya, namanya juga kemauan, tidak terbatas. Beda dengan kemampuan. Mencoba telepon tetapi susah sekali karena berebut signal dengan yang lain. Belum lagi karena jalan ditutup untuk sterilisasi area lari, dari Bakri Tower ke Pasar festival harus muter dulu melewati Gor. Jauh! 🙁

Dengan paha yang masih terasa kemeng-kemeng, akhirnya sampai McD dan bisa ketemu anak lagi. Rasanya pengen aku peluk. Ini ya rasanya jadi seorang ibu. Aku kebayang muka dia yang bosan dan mungkin bingung mau apa. Kita saja pasti gak suka menunggu, kan?

Tapi sesi romantis harus ditunda karena belum ambil racepack MILO Champ Squad yang diambil di VIP Tent. Dan peserta yang lainnya sudah bersiap untuk start. Wah, tertinggal nih!

Setelah buru-buru ganti baju dan pasang BIB, akhirnya kami pun ready untuk MILO Champ Squad. Walaupun sebenarnya ketinggalan karena yang peserta yang lain sudah mulai berlari. Farrel dengan semangat berlari dari garis start meski hanya 100m pertama. Selanjutnya mulai tergopoh-gopoh. Kemudian mengaku capek. Malahan minta saya gendong dia. Hadeuh..

Saya mendadak jadi pacer untuk anak sendiri. Biar dia lebih semangat berlari hingga garis finish. saya berlari sambil menghitung untuk memandu Farrel. Ilmu ini saya dapatkan waktu latihan berlari bersama Selabang Kelabang bersama Run For Indonesia (RFI). Lumaya berhasil sih. Setidaknya saya yang tadi merasa tidak berdaya di 10K, kini merasa gagah di 1.6K.

Run Farrel Run!
Run Farrel Run!

Dan anak ini memang juara gayanya. Saat lari menyiramkan air mineral kemasan ke kepalanya. Memang pelari gitu, ya?

Tapi lari kedua saya lebih santai karena tujuannya memang mau main bareng dengan anak. Sekaligus mau liat hasil aktivitas dan kalori yang terbatas hari ini via band MILO Champsquad. Jadi band ini bisa tracking aktivitas dan jumlah kalori yang dibakar, serta perbandingannya dengan jumlah kalori yang dimakan. Lumayan oke sih.

MILO Champsquad band and apps
MILO Champsquad band and apps

Balik lagi ke lari-larian ini. Akhirnya saya bisa menyelesaikan race kedua bersama Farrrel. Ini ya yang rasanya ikut event lari. Melihat wajah-wajah teman saya yang biasa latihan bareng memegang medali. Jadi makin semangat ikutan lagi. Tapi target saya untuk finish cepat memang bukan medali, tapi memang karena anak. Lari kedua sama Farrel pun terasa menyenangkan biarpun sangat santai. Karena sudah bersama anak.

We are finisher!
We are finisher!

Dalam tulisan ini saya juga mau mengucapkan selamat pada teman-teman yang berhasil mendapat medali MILO 10K. Kalian sumber motivasiku…

IMG-20160724-WA0006
Kawan Lari RFI ini memang selalu kompak. Yang dapat medali: Selamat ya!