Kunjungan Manis ke Pabrik Frisian Flag Susu Kental Manis

1476306180366

“Waaah!”

Saat menemukan mesin susu yang terletak di lobby utama saat kunjungan ke pabrik Frisian Flag Susu Kental Manis di Ciracas hari rabu kemarin. Ada tiga varian yang bisa kita pilih sendiri, yaitu full cream, chocolate, dan honey. Dispenser susu ini sebenarnya serupa dengan mesin kopi yang banyak diperedaran, tetapi muncul gelasnya itu yang bikin pengen langsung tepuk tangan.

Saya sangat senang mendapat kesempatan main ke pabrik Frisian Flag di Ciracas karena susu ini melekat dengan kenangan masa kecil. Susu Kental Manis Frisian Flag atau sangat dikenal dengan ‘Susu Bendera’ memenuhi kenangan saya masih kecil. Dulu kemasannya berupa kaleng dan cara membukanya dengan alat khusus untuk membuka kemasan kaleng. Tapi biar ‘simple’ saya langsung membuka dengan pisau dan ulekan. Mata pisau ke arah pinggiran tutup kaleng dan bagian ujung pegangannya diketik-ketuk dengan ulekan. Hayo siapa yang gini juga?

Saat tutup kaleng bolong maka saya menantikan isinya luber ke luar dan mengisi gelas mulut saya. Mata melirik kanan dan kiri jangan sampai ketauan mama. Ini cara ternikmat menikmati susu kental manis di masa kecil versi saya. Di balik sebuah kaleng susu saya juga penasaran bagaimana proses pembuatannya. Untuk bisa masuk ke dalam pabrik tidak bisa sembarangan. Ada aturan baku supaya ruangan.

1476306839464

Untuk bisa mengintip proses pembuatan dan pengemasan sebuah susu kental manis ada peraturan yang harus dijaga agar ruangan tetap steril. Kita diberi perlengkapan seperti outer putih (duh, namanya apa, ya?), ear plug, hair cap, masker, dan sepatu boots kulit. Perhiasan, jam tangan, kamera, dan smartphone harus ditinggalkan di ruangan tempat kami berkumpul.

IMG-20161012-WA0034

Setelah memakai perlengkapan akhirnya kami berbaris memasuki ruangan yang bising dari mesin. Jauh dari bayangan saya tentang pabrik. Selama ini saya membayangkan di dalam pabrik ada banyak buruh yang sibuk mengangkut barang. Ternyata semua sudah dikerjakan dengan mesin. Tenaga manusia lebih banyak untuk mengoperasikan mesin.

Mata menjelajah kaleng-kaleng yang berjalan di dalam rel. Para kaleng seperti sedang bermain roller coaster. Dengan roda mesin, kaleng-kaleng berjalan untuk dipotong, kemudian dibentuk lebih detail lagi, kemudian disterilisasi dengan dilakukan pembakaran. Kaleng-kaleng yang sudah disterilisasi diisi oleh susu kemudian ditutup rapat. Setelah diisi susu, kemasan kembali disterilisasi kembali. Kemudian diberi label. Terakhir susu-susu tersebut di-packing ke dalam kardus. Setelah itu maka susu tersebut ditimbang dan apabila beratnya tidaks sesuai standar maka dus tersebut dikeluakan dari antrian secara otomatis. Kaleng-kaleng pun sudah berganti dengan dus-dus yang berisi muatan. Kemudian semua dus disusun dan dikemas lagi dengan plastic wrap.

Ya, semua sudah dikerjakan oleh mesin dan berlangsung cepat.

Berjalan mengelilingi pabrik ternyata lumayan lelah. Ini namanya kunjungan sehat. Banyak jalan dan lebih banyak keringat yang keluar. Memang paling gampang tinggal beli di supermarket dan langsung tuang. Tetapi semua rasa lelah terbayar dengan minuman segar yang dibuat dari Frisian Flag Susu kental Manis. Segarnyaaaaa…

1476306877662

Kenangan masa kecil saya rasanya tidak bisa dinikmati oleh anak zaman sekarang. Frisian Flag sudah berinovasi dalam kemasannya. Tutup kaleng bisa langsung ditarik dan terbuka. Sudah ada juga kemasan pouch yang lebih mudah lagi. Tetapi masih bisa sih dicolek-colek langsung. Cuma harus dinggat ya, cara makan langsung dengan menempelkan ke mulut bikin susu tidak steril lagi.

Jangan ditiru ya! 😀

Bersama #buibuksocmed yang ceria habis mengintip pabrik Frisian Flag Susu Kental Manis. Photo Credit: Chacha Thaib

Kita tidak bisa menghapus kenangan tetapi bisa menambah kenangan. Kenangan manis makin bertambah dengan kunjungan ke Frisian Flag Susu kental Manis. Apalagi pas acara kemarin kita banyak ketawa karena mbak MC yang lucu banget. Pas pulang dapat bingkisan yang pastinya nambahin stok yang manis-manis di kepala.

 

Lari Cantik dengan Batik di Tjanting Funday!

1475476614875

Berlari dengan memakai baju dan celana lari sudah biasa, tetapi bagaimana jika memakai kain batik?

Hari minggu kemarin saya dan teman-teman seru-seruan berlari dengan menggunakan kain batik di Tjanting Funday! dengan jarak 5K. Acara ini menurut saya menarik karena para peserta banyak yang berlari dengan memakai batik. Ada yang hanya memakai baju lari dengan motif batik, ada juga yang memang totalitas memakai baju unik dengan batik. Saya sih yang sedang-sedang saja. Tetap memakai baju lari seperti biasa tetapi dengan balutan kain batik sebagai bawahan.

My outfit for Tjanting Funday. Sporty tetapi tetap anggun memakai batik.

Tjanting (Canting) adalah simbol dari batik karena beda ini adalah alat yang digunakan untuk membatik. Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia. Berdasarkan keputusan UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009, batik Indonesia secara resmi diakui sebagai bagian dari budaya dunia. Oleh karena itu pada tanggal 2 Oktober diresmikan sebagai Hari Batik Nasional. Tjanting Funday ini merupakan event lari, bazzar, pameran, dan hiburan menyambut Hari Batik Nasional.

Lari di Tjanting Funday merupakan salah satu yang masuk ke dalam wish list sejak beberapa bulan lalu karena menurut saya unik. Ada tantangan sendiri karena saya ingin berlari dengan memakai kain batik. Rasanya seru bisa tetap sporty tetapi tetap cantik memakai batik.

Siap-siap untuk ikut Tjanting Funday. Pria dan wanita memakai batik. (Fotografer: Agus Hermawan dari Run For Indonesia)

Sejak pukul 6.00 WIB, Plaza Selatan Senayan sudah dipadati oleh para peserta yang diperkirakan sekitar 1200-1500 orang. Rupanya acara ini banyak juga peminatnya. Sampai-sampai ada calon Gubernur DKI Jakarta yang turun langsung berlari dengan para peserta yang lain dan diunggah di akun instagramnya hehe..

Para peserta Tanting Funday yang sudah bersiap di garis start. (Fotografer Agus Hermawan dari Run For Indonesia)

6.30 WIB. Tidak mau kalah sama bapak cagub, saya juga ambil posisi start paling depan. Bukan karena pengen kena foto, tapi memang agak ribet kalau harus ke belakang. Ya kalau pada akhirnya kena foto sih alhamdulillah banget!

Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang ngos-ngosan dari baru mulai, lari kali ini sangat fun. Mungkin karena berbaur dengan peserta Car Free Day (CFD) lainnya jadi rasanya seperti latihan biasa. Di pagi itu padahal sedang flu dan baru tidur tidak sampai 3 jam. Saat di KM2 saya disalip oleh perempuan dengan pakaian daerah dan unik. Yang membuat saya takjub adalah dengan pakaian seperti itu larinya sangat cepat.

Bersama mbak Eva Regina yang menjadi juara pertama kategori best costume. Tetap bisa berlari cepat dengan kostum seribet ini. Salut!

Para peserta terlihat bersemangat di acara ini. Berlari bersama dan foto-foto. Tentunya dengan memakai batik. Pokonya yang penting ada batiknya! Namanya juga mensosialisasikan batik dengan berlari. Semua peserta berlari dari Plaza Selatan Senayan lalu masuk ke Jl. Sudirman kemudian mengambil jalur ke Semanggi untuk berputar arah. Setelah itu kembali masuk ke Jl. Sudirman arah sebaliknya hingga melalui kemenpan dan berputar di Patung Pemuda. Setelah itu mengambil jalur ke kiri dan berbalik arah kembali ke Jl. Sudirman. Tempat finish sama seperti waktu start, yaitru Plaza Selatan GBK.

Para pelari dengan rok tutu batik. Lucu ya! (Fotografer: Agus Hermawan dari Run For Indonesia)

7.00 WIB akhirnya bisa mencapai garis finish. Catatan waktu di gate menunjukkan 28 menit. Tetapi kalau dilihat dari sport watch yang saya pakai sih 29 menit. Tetap alhamdulillah. Ternyata batik membawa keberuntungan buat saya karena bisa kembali mencapai personal best record untuk kategori 5K.

Yes, akhirnya dapat medali baru!

Wajah bahagia dari Run For Indonesia yang mendapat medali Tjanting Run. (Sumber Foto: Michael Wong dari Run For Indonesia)

Semua peserta yang bisa finish di bawah Cut of Time (COT) 1,5 jam akan mendapat medali Tjanting Funday. Bisa dikatakan peluang mendapat medali sangat besar, kecuali jika melakukan kecurangan dengan memotong jalan. Jadi harusnya semua senang lah ya..

Podium 1, 2, 3 Kategori Putra.
Podium 1, 2, 3 Kategori Putri.
Pemenang 1, 2. 3 Kategori Best costume.

Biar tetap kekinian saya posting foto dan video lari di akun Instagram fitritash dengan hashtag #TjantingFunday #RunWithPride #CatatWaktumuSendiri.

Screenshot_2016-10-03-16-24-37-1

Ya saya juga ingin ikut berkontribusi dalam memberikan viral acara ini di sosial media supaya atensi para netizen terhadap lari dan batik meningkat. Selamat Hari Batik Nasional!

Jebakan Impulsif Belanja dan Munculnya Penawaran Cash Back Card untuk Milenia

Sebagai ibu-ibu yang mengaku generasi milenia sepertinya kebiasaan belanja online menjadi suatu rutinitas. Apalagi kalau sudah terjebak oleh hobi. Untuk menjalani gaya hidup sehat saja tetap perlu biaya. Saya sendiri kalau mau nyari sesuatu pasti yang diintip adalah tokp-toko online karena lebih praktis. Yang dibuka gak jauh dari peralatan lari, matras yoga, baju dan celana yoga, sampai ke produk supporter untuk cedera. Untuk perbandingan harga pun biasanya lebih hemat. Kalau harus belanja ke mall, saya harus spending uang lebih untuk bensin dan uang parkir. Belum lagi mampir-mampir tempat makan atau ngopi.

Kita-kita yang berada dalam range usia 25-35 tahun ini memang disebut generasi milenia. Kaum milenia ini secara gaya hidup memang banyak maunya. Pengen menjalani banyak hal, misalnya ikut event-event lari, travelling, sampai nongkrong di coffeshop terkenal yang banyak diposting di Instagram. Ya kan?

1474524025756
Peluncuran HSBC Platinum Cash Back Card di Hard Rock Cafe Jakarta

Kata ibu Dewi Tuegeh, Senior Vice President Retail Banking & Wealth Managemen HSBC Indonesia saat launching HSBC Platinum Cash Back Card di Hard Rock Café Jakarta, memang untuk segmen saya yang mengaku generasi milenia memiliki beragam tuntutan prioritas yang harus dicukupi untuk mengaktualisasikan diri, jadinya tergiring ke perilaku impulsif dalam berbelanja. Padahal usia-usia segini secara ekonomi rata-rata (44%) masih belum di titik mapan dan stabil.

Sejujurnya transaksi secara online ini 50:50 antara untung dan rugi. Karena serba praktis dan dirasa “lebih murah” maka belanja jadi lebih terdorong karena impulsif. Tau-tau baru pertengahan bulan setengah gaji sudah mendekati kritis.

HSBC dengan produk barunya ini secara terbuka mengatakan target pasar mereka adalah generasi milenia yang ingin #SelaluLebih. Misalnya dalam meningkatnya perilaku transaksi online, maka HSBC pun memberikan promo cash back 25% untuk jenis transaksi ini. Selain transaksi online juga berlaku untuk transaksi di kategori restoran dan supermarket. Ada juga tambahan cash back 3% untuk transaksi apapun di manapun.

Tapi sebesar apapun cash back-nya saya masih tetap mikir lagi kalau memang harganya tidak terjangkau. Kadang harga gear memang gak kira-kira. Kalau mau beli itu ya harus nabung dulu. Beda ceritanya kalau bisa dicicil per bulan. Ternyata produk baru ini juga memenuhi kebutuhan generasi milena seperti saya ini. Kalau memang kita berat untuk membayar dalam jumlah angka besar maka dapat diubah menjadi cicilan bulanan dengan nilai minimal 50rb rupiah per bulan. Hmm..

Sebenarnya penawaran cash back ini HSBC lumayan tertinggal. Di dalam situs Duit Pintar, terdapat 12 kartu kredit terbaik 2016 dengan penawaran cash back dan Standar Chartered Master Card Titanium menapat rating tertinggi. Penawaran cash back sebesar 20%. Jumlahnya lebih kecil dengan produk baru HSBC yang baru dengan penawaran cash back 25%. Jadi, apakah HSBC bisa meluncur ke atas menyaingi pendahulunya?

1474523921456

TIPS MEMBELANJAKAN HOBI: Belanja Dengan Sadar

Harusnya dengan banyak kemudahan membuat keuangan kita lebih terkontrol. Jangan mudah terdorong untuk menjadi impulsif hanya karena iming-iming diskon atau karena lucu secara penampilan. Belanja dengan sadar adalah belanja dengan melewati berbagai pertimbangan, seperti tingkat kebutuhan dan perbandingan harga. Sebelum yakin membelinya sebaiknya intip-intip dulu ke toko sebelah dan cari pilihan termurah.

Kalau disebut satu persatu semua barang sepertinya butuh, tetapi ada yang butuhnya masuk ke kategori urgent dan ada yang butuhnya masih bisa ditahan. Untuk lari-larian kayanya gak habis-habis yang mau dibeli. Dari mulai sepatu, kaos kaki, visor, jersey, compression, sport watch, kacamata, dan masih banyak antrian berikutnya. Kalau semua dibeli dalam waktu bersamaan bisa-bisa bangkrut sebelum merasakan kesuksesan. Cara untuk filter semua itu adalah bikin list sesuai kebutuhan. Kebutuhan ya, bukan keinginan.

Setelah itu baru memanfaatkan fasilitas yang ada. Cari tahu promo-promo dari bank yang kamu gunakan seperti diskon atau cash back. Jangan terbalik ya! Jika situasinya karena tahu ada promo diskon atau cash back lalu cari-cari alasan untuk belanja urusan hobi padahal belum tahu yang dibutuhkan itu apa, ini jebakan betmen!

 

Aneka Drama Pertama Kali Ikut Bali Marathon

 

1474349671186

Tidak terasa sudah 3 minggu Maybank Bali Marathon (MBM) berlalu. Dari rasa lelah hingga sakit efek cedera pun sudah hilang. Tapi saya masih ingat sekali drama-drama yang terjadi sepanjang ikut MBM. Pengalaman yang mungkin tidak akan terlupakan, apalagi ini adalah tempat saya lepas virgin half marathon.

Untuk kategori 21K, start mulai pukul 5.30. tetapi saya dan rombongan #kawanlari sampai di lokasi pukul 4.30. Karena lokasi race di Gianyar dan hotel saya di Kuta maka sudah dari pukul 3 Shuttle kami berangkat. Perkiraan finish adalah pukul 8.30, karena target saya di MBM ini adalah 3 jam. Drama-drama yang menjadi moment sepanjang Bali Marathon adalah:

KEBELET PIPIS

Ketika sampai venue hal pertama yang saya lakukan adalah mencari toilet. Dari masih di dalam shuttle menuju Gianyar pun sudah kebelet pipis. Entah kenapa saya kok jadi beseran banget menjelang MBM ini. Dalam langit yang masih gelap, kumpulan kepala sudah mengantri di depan toilet. Setelah ikut mengantri akhirnya saya menuntaskan segala urusan di dalam toilet. Napas lega ketika keluar dari bilik toilet. Saya pun langsung stretching dan pemanasan di dekat garis start. Tidka lupa untuk mengambil posisi yang terdepan di garis start. Ya gak depan-depan banget sih. Masih di baris kedua di belakang para pelari Kenya.

Ketika start dimulai, saya berlari lumayan bersemangat. Namanya juga masih baru-baru. Baru sekitar 100m mulai gelisah. Saya kebelet pipis lagi.

Oh. My. God.

PUP DI TENGAH RACE

Mules menahan pipis yang tak tersampaikan akhirnya berubah menjadi mules mau pup. Ketika itu sudah masih di KM3. Sisa kilometer masih panjang menuju 21. Awalnya masih mempunyai spirit untuk melanjutkan berlari, lama-lama kok semakin di ujung. Apalag tekanan saat berlari seperti terus mendorong hingga semakin tak tertahankan. Saya pun mulai bertanya ke setiap warung yang terbuka.

“Pak, ada toilet?”

“Bu, ada toilet?”

Setelah beberapa kali mendapat jawaban yang mengecewakan akhirnya mendapat titik terang. Ada penduduk yang memberi tumpangan rumahnya untuk saya melepas beban yang di tahan. Ya namanya rumah penduduk, saya tidak mungkin lari-lari dan melepas sopan santun. Saya sejenak melupakan target waktu dan melepas sepatu perlahan.

Yang jelas ini bukan wajah kebelet pup, tapi kebelet pengen finish
Yang jelas ini bukan wajah kebelet pup, tapi kebelet pengen finish

BERTEMU TANJAKAN CANTIK DAN PAHA TERTARIK

Saat di KM7 perjalanan pun semakin sulit. Tanjakan demi tanjakan mesti di lewati. Dengan kondisi lutut yang masih cedera ini lumayan sulit. Kelemahan saya memang pada tanjakan. Awal saya merasakan sakit pada lutut juga karena latihan di tanjakan. Jadi wajar kalau saya lumayan takut terhadap tanjakan.

Ternyata ketakutan ini terbukti. Ada yang terasa tertarik di paha belakang dan membuat saya kesulitan berlari. Oh, apakah ini yang namanya kram?

Saya harus berlari dengan kondisi kaki seperti ini sekitar 14KM lagi. HA HA HA!

LARI SAKIT, JALAN LEBIH SAKIT

Saya akui memang dari mulai rasa lelah hingga rasa sakit bercampur menjadi satu. Kadang saya sendiri tidak mau membayangkan karena takut malah menjadi lebih parah. Saya berlari dengan kaki sedikit pincang, kadang saya melonggarkan kaki kanan agar sedikit release dari ketegangan.

Lari-jalan-lari-jalan. Begitu lah cara saya bisa bertahan. Akan tetapi saat berjalan ternyata saya lebih terlihat aneh karena sudah tidak sanggup berjalan lurus. Lutut kanan seperti tidak bisa ditekuk saat berjalan. Belum lagi karena efek otot paha yang tertarik ini. Cara jalan saya sudah seperti anak monyet yang sedang mencari toilet atau anak kecil yang baru disunat: Ngangkang.

Saya pun akhirnya sempat melipir untuk mengantri mendapat cairan pereda rasa sakit dalam bentuk spray yang berada di tepi jalan. Entah ini memberi efek atau tidak yang jelas pasti akan memberi sedikit sugesti pada saya.

STRETCHING DULU DEH!

Selain lari dan jalan, yang saya lakukan sepanjang race adalah: stretching. Saat terasa sudah maksimal rasa sakitnya pasti saya melipir untuk stretching sejenak untuk release ketegangan otot. Biarkan otot yang mengendur, tapi semangat tetap kencang.

MULAI NGOMONG SENDIRI

Mungkin halu salah satu efek lari. Selama 21K berlari sendiri. Lelah, sakit, dan excitement dirasakan sendiri. Apalagi ini lari pertama saya di jarak 21K dengan track yang luar biasa menantang. Banyak tanjakan dan turunan yang harus dilalui. Yang banyak menghibur adalah kumpulan anak kecil yang berbaris dan memberi semangat.

“Run.. Fitri..Run..”.

Iya, ini Forrest Gump banget!

Makin lama makin ngoceh sendiri:

“Go Go Go!”

The finish line ahead!

“Lu mau sakit, mau ngeluh, mau jalan… nanti aja kalau udah finish!.”

Kadang juga begini:

“Fit, lu ngapain sih di sini!”

Drama-drama di atas justru menjadikan pengalaman MBM kemarin jadi penuh kenangan. Lebih seru lagi karena ramai-ramai dengan teman-teman.

Tapi belum selesai…

GAGAL PULANG DAN GAK BISA PULANG

Selain drama di race ternyata saya mengalami drama di Bandara. Senin pukul 11.00 WITA harusnya saya take off ke Jakarta. Karena telat check-in beberapa menit akhirnya tidak bisa ikut penerbangan sesuai jadwal.

Dan semua jadwal penerbangan sudah penuh hingga selasa sore. What a wonderful day!

DOMPET AKU KE MANA?

1474349789954
Touchdown Jakarta. Bye, Drama!

30 Agustus 2016 pulul 16.00 WIB. Turun dari pesawat dan menghirup udara Jakarta menjadi sangat menyenangkan. “Selamat tinggal drama di Bali” dengan tersenyum lega.

Sempat foto untuk terakhir kali dengan medali kemudian mencari toilet. Karena hari masih sore saya memutuskan untuk naik Damri saja ke Bekasi. Saat membayar tiket bus ternyata DOMPETNYA HILANG!

Mencoba tenang sambil menyusuri kembali yang di lewati termasuk toilet tapi hasilnya nihil. Kemudian melapor pada petugas. Makin pusing karena saya sendiri lupa kapan terakhir kali melihat dompet. Yang jelas terakhir kali ya di Bali.

Tapi rupanya Sang Penulis Skenario mulai tampak kasihan. Akhirnya saya mendapat kabar kalau dompet ditemukan di Lion Air, pesawat yang mengantarkan saya ke Jakarta. Setelah diingat-ingat, dompet itu keluar dari tas ketika saya mencoba foto medali di atas pesawat.

Oke.

Melawan Diri Sendiri di Titan Run

Pukul 5.30, para peserta Titan Run 2016 sudah memadati garis start. Peserta 17.8K beriringan melaju melewat garis start. Tinggal lah kami yang berada di kategori 10K dan 5K. Entah mengapa saya merasa sedikit gugup. Mungkin karena sudah membuat target kepada diri sendiri untuk mencetak waktu lebih baik dari MILO Jakarta International 10K Run.  Ada juga target lebih besar: Berlari tanpa henti sepanjang race.

Setelah menunggu 15 menit, tiba giliran kami yang berada di kategori 10K. Harusnya rasa tegang sedikit berkurang karena latihan dua hari sebelumnya saya menyelesaikan 2x5K waktu latihan Kelabang di GBK. Tetapi jika mengingat latihan kemarin, saya lumayan ngos-ngosan dan takut di race ini akan seperti itu juga. Akhirnya saya membuat komitmen di race ini untuk bisa tetap stabil. Tidak perlu cepat tapi stabil.

Kenali diri sendiri dan berlari sesuai level

5..4..3..2..1..

Mulai!

Perserta 10K mulai berhamburan melewati garis start. Mereka melaju cepat dan satu persatu mulai meninggalkan saya, termasuk teman yang waktu itu bersamaan di garis start. Di sini pertarungan di mulai. Bukan pertarungan mereka, tetapi pertarungan dengan diri sendiri. Bagaimana bisa menahan diri untuk tetap stabil tanpa ikut bernapsu menjadi yang tercepat. Kembali mengingat kemampuan sendiri. Saat latihan pace santai saya di 8, terkadang di 7. Maksimal di 6. Tapi titik maksimal ini tidak mungkin saya lakukan di race 10K. Bisa-bisa 3K pertama sudah kehabisan napas.

Mulai mengingat lagi kenapa saya ada di sini? Mencari tahu kemampuan diri sendiri. Karena tahu pace maksimal dan minimal maka saya konsisten pada pace sendiri. Jika saya mengikuti pace orang lain, tamat. Kadang ego muncul untuk berlari cepat seperti yang lain, tapi buru-buru ditekan. Saya akhirnya tahu tantangan terbesar saat berlari itu memang diri sendiri. Saya kan bukan atlet yang berlari untuk mengejar podium. Saya adalah pemula yang ikut race untuk berlatih dan menambah pengalaman. Apalagi 3 minggu lagi sudah Maybank Bali Marathon (MBM) 21K. Kalau 10K saja tidak bisa mengendalikan diri sendiri, bagaimana nanti di race yang lebih panjang?

Menutup mata, mendengar tubuh

Untuk bisa fokus saya mencoba untuk bermain dengan pikiran sendiri. Biarkan orang lain melaju pada pace-nya. Jika saya ikut terbawa mereka saya tidak akan menyelesaikan target di awal, yaitu full lari 10K. Jujur saja, setiap berlari masa terberat saya justru di 2KM pertama. Ada teriakan “Gue resign!” atau “Ini terakhir!” di dalam hati. Ini tantangan terbesar. Kemudian kembali melawan tantangan ini dengan “Apapun yang mau dilakukan saya, selesaikan ini dulu!”. Hanya run..run..run..

Membuat target bisa mencapai 5K. Jika sudah berada di 5K boleh lah menginstirahatkan untuk berjalan. Saya melirik angka pada run apps dan sial sekali karena appsnya seperti error. Sudah 2K tapi masih tercatat 1K. Yasudah abaikan saja. Di akhir race juga kita bisa melihat catatan waktunya.

 

Akhirnya kaki ini mencapai di 3K. Ternyata di titik ini tubuh mulai panas dan kaki seperti bergerak otomatis. Langkah saya yang lambat mulai menyusul yang sudah mendahului di awal. Bukan karena lari saya cepat, tetapi mereka yang melambat. Tidak perlu cepat tapi stabil ternyata mulai membawa hasil.

Kemudian 5K. Target di awal saya mulai bisa melonggaran kaki di 5K tapi apa yang terjadi? Justru kaki sedang asik-asiknya. Kalau saya berhenti maka akan susah lagi untuk memulai. Saya mengingat saat tersulit itu ada di 2K pertama jadi akhirnya target 5K ini cancel..cancel..cancel..

Selesaikan apa yang sudah dimulai

Setiap mulai merasa lelah saya mendongak ke atas dan menghirup napas panjang. Ternyata ini lumayan membantu. Saat berpikir menyerah kemudian mengingat lagi: Selesaikan dulu apa yang sudah di mulai.

Di kilometer ke-8 kaki mulai terasa lebih lemah dan lari sedikit melambat (padahal larinya juga sudah lambat). Apapun yang terjadi lari. Biar lambat tapi lari. Saya kembali mengingat kata Ko Willy Sanjaya bahwa untuk tahu apakah kita masih sanggup lari yaitu dengan memperhatikan tangan. Jika tangan kita masih sanggup mengayun, tandanya kita masih sanggup berlari. Saya mencoba mengayunkan tangan dan ternyata masih dengan kuat mengayun. Beberapa kali ngomong ke kaki “Jangan manja, deh!”.

1K terakhir ternyata kaki ini masih sanggup melangkah meski makin goyah. Saat melihat garis finish saya berimajinasi ada sosok Brad Pitt dengan teriakan “Sayang, sini peluk!”. Saya pun berlari sekencang-kencangnya. Biar keren juga pas diliat yang dipinggir race. Tapi gak ada yang liat juga sih. Berani lari kencang karena di 100m terakhir, hehe..

Jujur saja saya puas. Puas banget karena berhasil berlari Full 10K. Meski catatan waktu di bawah Milo kemarin. Ini bukan soal angka tapi soal belajar mengendalikan diri sendiri. Akhirnya bisa melampaui tantangan hari itu dengan tetap berlari stabil. Tantangan berikutnya di 21K bagaimana? Saya juga belum tahu.

Kita tidak pernah tahu jika tidak memulai. Dan ketika memulai, selesaikan..

Para pelepas virgin full 10K tanpa jalan
Run For Indonesia di Titan Run