Processed with VSCO with  preset

Pecah Marathon Pertama di SCKLM

Entah sudah masuk ke toilet berapa kali untuk buang air kecil. Ekspetasi saya jam 9 malam sudah tidur bagai mayat. Kenyatannya malah tidak bisa tidur nyenyak, walau mata rapat tertutup.  Apakah semua orang begini waktu menghadapi full marathon pertama?

Guling kanan, guling kiri, hingga menyelupkan seluruh badan ke dalam selimut termasuk kepala. Saat melirik jam ternyata sudah berada di tengah malam.

2.30. Alarm di smartwatch memanggil walaupun sebenarnya saya tidak bisa tidur. Tandanya harus siap-siap. Wanita kan persiapannya lumayan banyak. Yang  pertama saya lakukan adalah: Makan. Setidaknya saya harus punya cukup tenaga saat lari nanti. Biarpun nasinya dingin. Biarpun gak ada enak-enaknya. Pokoknya makan!

Pukul 3.15 saya turun ke lobi hotel bertemu #KawanLari yang juga akan berlari bersama-sama di Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon (SCKLM). Bermodal dua energy gel -makanan konsentrat berupa gel- yang menjadi satu-satunya bekal berlari 42km nanti. Jarak ke venue cukup untuk dijadikan jogging pemanasan sebelum lari. Mengikuti pesan coach saya via whatsapp di malam sebelumnya, saya mencoba berdoa khusyuk sebelum mulai berlari. Mau makan aja kita doa apalagi mau lari jauh!

FB_IMG_1495676784026
Wajah-wajah bangun tidur dan yang tidak bisa tidur di pukul 3.15 pagi hari

Menjelang  pukul 4.00 – waktu start untuk kategori FM – di Dataran Merdeka.

Bersama 3600 pelari dari semua kategori. Untuk kategori Full Marathon terdapat 7000 pelari yang bersiap mengasah kakinya. Air mata mulai rembes. Sudah tidak ada lagi rasa takut. Yang tersisa adalah rasa haru. Gilaa… gue mau lari aja mesti jauh-jauh ke sini! Seloooo!

4.00 – flag-off

Berlari dengan santai. Gimana gak santai, saya dari Pen 4. Meski pada akhirnya menyelinap di Pen 3 bagian belakang. Kalau mau berlari lebih depan harus tangguh salip menyalip. Karena berlari sendiri jadi lebih mudah untuk salip menyalip. Santai tapi lama-lama berkeringat juga. Berlari pada pukul 4 ini lumayan menyenangkan sih. Kalau waktu Jakarta berarti masih pukul 3. Udara masih sejuk.

Wah, asik juga nih SCKLM! Gak salah deh FM di sini!

Batin saya bersautan sambil menikmati lari di medan yang menurun. Badan tidak terlalu lelah dan saya cukup menikmati pola lari ini. 5km pertama yang menyenangkan. Belari di average pace 6.40. Kalau melihat target waktu saya finish di sub 5 jam 30 menit, harusnya pas. Setelah dibuai dengan jalur yang menyenangkan tiba-tiba sampai ke posisi… MENANJAK!

Kira-kira berada di KM 7 dan bertemu Mbak Rijan, kawan lari dari Run For Indonesia (RFI). Sambil berlari Mbak Rijan mengajari saya cara berlari saat tanjakan dan cara berlari saat turunan. Saat menanjak kaki menjejak agak lebar ke kanan dan ke kiri. Tidak perlu terlalu cepat.

Setelah tanjakan pasti turunan. Saat jalan menurun jangan menahan kaki. Lari seperti sedang melakukan interval. Asik sih!

Baru senang menghadapi turunan tiba-tiba harus bertemu tanjakan lagi. Mulai gak asik nih. Hmm..

Tapi ya namanya lagi race, usaha mah tetep perlu. Jadi saya tetap mencoba berlari dengan pola yang sama. Sekarang lumayan ngos-ngosan.

Masih dalam keadaan ngos-ngosan, saya bertemu tanjakan lagi. Masya Allah!

20170521_062445-01

Akhirnya cadangan makanan pertama saya saya buka. Saya lupa sih tepatnya, yang jelas setelah KM 10. Sepertinya di KM 12. Tidak mampu menyamakan energi Mba Rijan yang sepertinya masih baterainya masih full, saya menyerah. Saya mempersilakan Mbak Rijan lanjut berlari dan saya cukup berjalan. Skill emang gak bisa bohong ya hehe..

Tapi untung juga saya gak terlalu ngoyo, ternyata tanjakan dan turunan ini terus berlangsung. Saya juga gak tau apakah ada akhirnya. Buat pemula yang masih ala-ala butuh lari dengan strategi. Kebetulan strategi saya adalah: Lari-jalan-lari-jalan-lari-jalan.

Badan Mulai Dingin

Matahari masih belum menyumbul, langit masih betah dengan keredupan. Saya juga berharap jangan segera terik. Tapi ternyata tubuh saya mulai terasa dingin. Mungkin juga karena keringat yang mengalir di tubuh. Saya memilih melambatkan lari (yang sebenarnya sudah lambat ini) dan cenderung jalan. Kira-kira di KM 17. Sampai di KM 19 saya mulai membuka cadangan energy gel yang juga tinggal satu-satunya. Nyesel juga sih belagu cuma bawa cadangan 2 gel. Lidah mulai nagih yang manis-manis. “Harusnya gue bawa permen!” membatin.

DSC03447-01
Bekal makanan satu-satunya saat race: energy gel

Namanya mau lari dengan selamat jadi saya gak mau terlalu nyoyo juga. Saat sampai di water station langsung mengambil 2 gelas air dan menghabiskannya, Kembung sih. Mulai pengen makan makanan yang padat tapi apa daya belum ada. Berharap dikasih panitia tapi belum sampai kilometernya.

Dalam kepayahan itu saya teringat kekuatan doa. Kalau udah gini aja langsung relijius. Melafalkan ayat alqur’an yang saya hapal. Kebetulan yang saya hapal juga tidak banyak. Tidak lupa untuk minta ke Sang Pencipta untuk diberi sehat sampai garis finish. Jangan sampai kenapa-napa. Lari kan niatnya mau bahagia, bukan sengsara.

Bertemu Pacer = Mimpi Buruk

Saat dilewati pacer 5.00 saya masih santai. Memang bukan target saya finish di bawah 5 jam. Tapi saat gerombolan balon pacer 5.30 lewat saya menjerit. Menjerit dalam hati. Gak terima!

Sedih karena saya merasa tidak mungkin bisa menyusul para pacer. Apalagi kondisi kaki lagi malas diajak lari. Kilometer terberat buat saya ada di antara 25km-30km. Dari data sih memang di sana average pace menurun ke 8.30. Paling jebol. Sudah pualing banyak jalannya.

Ya sedih jangan lama-lama. Biar tersalip yang penting harus bisa lari lagi. Kalau jalan terus kapan finishnya?

Kebetulan medannya lagi lumayan bersahabat. Menjelang KM 30 semangat kembali bangkit. Kata orang-orang di sini adalah titik hitam berlari FM. Untungnya saya masih gak di ambang hitam-hitam banget. Masih bisa lari tanpa kerasa kram. Ini sih harapan saya banget.

Matahari mulai naik dan mulai memasang buff untuk menutupi kepala dari sinar matahari. Dalam pejalanan bertemu Ko Willy  dari RFI dan Pacer 5.30. Sempoat-sempatnya mengambil jeda untuk sekadar foto bersama di gate 30km. Tapi sayangnya gak dari hape saya jadi gak tau itu di mana fotonya!

Dalam kesempatan ini juga saya diam-diam berlari duluan mendahului pacer 5.30. Akhirnya…

Bertemu #kawanlari

Setelah berhasil balas dendam ke pacer 5.30 yang sebelumnya melewati, ternyata masih banyak yang bikin up and down. Pas ketemu kurma saya senangnya luar biasa. Tidak ragu-ragu, saya ambil dua kurma! Pokoknya apa yang bisa dimakan akan saya makan. Setiap makanan berkontribusi menyumbang tenaga untuk sampai garis finish. Ini penting!

Saat mendapat minuman ya saya minum sepuasnya. Saat mendapat sponge basah saya ambil buat mendinginkan badan. Karena sponge-nya sudah tidak dingin jadi sebenarnya fungsinya cuma buat basuh badan aja. Positifnya badan jadi lebih segar. Minusnya adalah.. sepatu saya jadi basah.

Jadi saya berlari dengan kondisi telapak kaki basah. Nyaman? Tentu saja tidak. Rasanya mau buka sepatu. Tapi saat berlari sudah di atas 30km batas nyaman dan tidak nyaman sudah setipis kulit Syahrini. Lari sih lanjut terus sampai gak kuat lari lagi. Karena garis finish masih lama.

Saya sudah dilewati beberapa teman, saya juga sudah melewati banyak orang yang sebelumnya menyusul. Dari badan yang sudah habis tenaga sampai tiba-tiba ada tenaga lagi. Dari redup, hingga akhirnya terang, sampai tiba-tiba hujan. Dari disusul pacer, sampai akhirnya balas menyusul, dia pun kembali melewati, saya pun akhirnya menyusul lagi.

Berlari FM ini memang benar-benar seperti dalam perjalanan panjang. Jadi teringat kata supir taksi yang mengantarkan saya ke tempat belanja di sana yang bilang untuk jarak 42km nyetir pakai mobil aja udah bikin pegel apalagi harus lari. Iya juga sih.

Tapi di KM 36 ini saya berusaha bertahan dengan sisa-sisa tenaga. Sudah mulai meregangkan kaki dengan kembali banyak berjalan. Kemudian bertemu kembali dengan kawan lari dari RFI dan akhirnya saling berbagi kesengsaraan. Tenyata yang dibutuhkan saat ini adalah TEMAN. Lari juga udah gak kuat. Saat turunan saling menyemangati untuk berlari, saat tanjakan dua-duanya gak ada yang memberi semangat. Jalan adalah cara terbaik.

Mengumpat. 3 kilo terakhir saat yang nyaman untuk mengumpat.

“Om, kita udah di km 40!”

“Bodo amat! Di jam gue udah 41!”

“Di jam aku juga sih. Bangke ya!”

Segala macam sumpah serapah yang gak mungkin saya tulis di sini keluar saat itu. Enak juga sesekali mengumpat. Kalau di awal-awal masih penuh kesabaran, di 3 kilometer terakhir tingkat emosi sedang memuncak. Bagus sih buat ngilangin stres.

Last Push!

“Fit, di depan garis finish. Segini mah gue berani deh dilariin” Kata Om Gunawan yang menjadi teman seperjalanan di 5 kilometer terakhir ini. Tapi kok jalannya menanjak. Jujur, saya sih gak bernai lari di tanjakan. Gak mampu.

Pas mendekat ternyata balon yang dianggap garis finish itu hanylah petunjuk bahwa garus finish tinggal 500m lagi. Antara mau ngomel sama mau ketawa. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sampai akhirnya kamu melihat finish line:

“Om, yuk kita last push!”

Saya berlari dengan sisa-sia tenaga. Kebetulan dikasih turunan, jadi seperti dikasih bonus di akhir perjalanan. Saat gate semakin dekat, saya melihat waktu di gate berapa detik lagi tepat pukul 9.30. Ini berarti waktu saya untuk mencapai target sub 5.30 akan segera berakhir. Saking paniknya saya sampai teriak. Akhirnya terlewat dua detik. Hiks.

Tapi waktu berdasarkan chip time masih kurang 2,5 menit. Akhirnya berhasil menyelesaikan FM pertama dengan waktu official 5.27.24. Hamdallah..

Ya itulah kisah yang lumayan bikin deg-deg-ser di race FM pertama. Lumayan menyenangkan sih. Bikin penasaran mau nyoba lagi. Tapi…

gak sekarang!

Processed with VSCO with  preset

Semangat Ikut Lomba Masak dari Alfamart demi ke Belanda

20170317_081020-01

“Jalan kaki ke Alfamart kayanya lebih gampang daripada jalan ke dapur.“

Yang merasa begini juga ayo kita rapatkan barisan! Masak itu buat saya menghabiskan banyak waktu, modal, dan tenaga. Belum tentu enak juga. Ya ini mah alasan klasik ibu-ibu milenial yang emang belum nemu ‘mood’ masak aja.

Tapi.. jujur deh saya justru lagi getol-getolnya ngumpulin stamp Alfamart buat dapet cookware. Kalau berhasil dapat 30 stamp bisa dapet 1 fry pan RoyalVKB Cookware yang 24cm. Tapi ya gara-gara fry pan premium ini saya jadi agak rajinan ke dapur. Ternyata peralatan masak itu penting banget ya buat naikin mood masak. Makin keren alat masaknya  makin semangat. Apalagi kalau buat diunggah di media sosial. Pantesan dulu banyak ibu-ibu semangat banget sama panci sampai ada yang namanya kredit panci. Eh, masih ada gak sih?

2

Syarat dapat stamp ini dengan pembelian produk sponsor senilai 30 ribu berlaku sampai 30 Mei 2017. Kebetulan diapernya Shayna masih jadi produk sponsor jadi makin semangat ngumpulinnya. Malahan ada yang sampai tiga kali nukerin stamp. Jadi merasa kompetitip kan!

DARI MASAK SAMPAI KE BELANDA

Di suatu senin yang cerah dan cenderung panas ibu-ibu yang optimis ini jalan ke Alfamart untuk menukar stamp, sekalian beli susu Shayna yang habis. Tiba-tiba mbak kasir dengan rambut panjang dikuncir kuda memberi info dari syurga. Dengan belanja produk sponsor dari RoyalVKB Cookware senilai 30 ribu kita bisa ikut lomba masak yang grandprize-nya ke Belanda.

BELANDA!

Buat saya yang belum pernah jalan-jalan yang agak jauhan, apalagi ke Eropa kayanya langsung mendadak pengen bikin banyak resep biar menang. Yang tadinya malas masak malah jadi mendadak produktif. Pokonya aku mah ikhlas kalau disuruh ke Belanda…

Mulai cari-cari ide dari yang simple-simpel karena saya gak sanggup juga kalau mendadak bikin resep kaya Ibu Sisca Soewitomo. Resep pertama saya adalah pancake. Gak terlalu ribet tapi juga enak. Yang jelas pasti kemakan sama anak-anak. Buat apa bikin masakan yang susah tapi ternyata gak kemakan anak-anak. Resepnya disimpen dulu di buku biar gak dicontek orang. (Dih, siapa juga yang mau niru dari yang baru belajar masak!)

Semoga bisa menang ya. Kalau menang kan lumayan bisa diundang tante Farah Quin buat masak di depan dia. Kesempatan ini untuk 10 konsumen yang terpilih. Nanti kita diundang juri buat masak di depan mereka. Ih, kan seru! (padahal dengkul gemeteran)

1

Ada tiga pemenang yang dipilih untuk mendapat hadiah. Hadiah untuk pemenang pertama tentu saja ke Belanda, pemenang kedua mendapat sepeda motor matic, pemenang ketiga mendapat uang tunai. Semua pemenang mendapat 1 set cooking ware.

Mekanismenya begini:

  1. Belanja produk sponsor dari RoyalVKB Cookware senilai 30.000 dan catat nomor struk belanjanya.
  2. Buat resep makanan yang menarik dan tentu saja enak. Jangan lupa difoto ya!
  3. Setelah difoto kamu unggah ke media sosial (Twitter, Instagram, Facebook) dan tulis resepnya pada caption dengan tagar #ResepBundaAlfamart. Jangan lupa sertakan nomor struk belanjanya.
  4. Kalau masuk 10 besar yang terpilih nanti langsung dites masak resep yang kamu buat langsung di depan mereka. Nanti dipilih pemenangnya dari urutan 1 sampai 10. Iya, semua dapet hadiah!
  5. Posting resep sebanyak-banyaknya karena buat yang mengirim terbanyak dapat a-voucher belanja di Alfamart senilai 500.000

Buat ikutan lomba ini jangan coba-coba nyontek punya orang  karena kalau nanti disuruh masak depan jurinya dan ternyata beda bakalan malu. Udah malu, gak bisa menang pula. Jadi usahakan memang original milik sendiri. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Buat yang gak dapat 3 besar tetap dapat hadiah berupa voucher belaja Alfamart dengan nilai terbesar hingga 5.000.000.  Tapi hati-hati penipuan ya! Buat lebih jelasnya buka aja www.alfamartku.com.

Processed with VSCO with  preset

Menyambut 2017 dengan Lari-Larian sampai Nangis

“Tahun baru ke mana?” sepertinya menjadi trending topic menjelang dan sesudah tahun baru. Dan jawaban “Gak kemana-mana” adalah jawaban template saya buat pertanyaan tadi.

Kok, kasian ya?

Tapi justru saya happy banget bisa tahun baruan di rumah (meskipun ujung-ujungnya di hotel juga buat numpang tidur) karena gak harus macet-macetan dan bangun tidur dengan mata yang masih segar-segarnya. Karena saya mau menyambut tahun baru dengan…

Lari.

Oke maaf kalau agak basi. Tanggl 10 kok bahas tahun baru. Maunya sih pas tanggal satu teng langsung nulis di blog tapi apa daya jadwal yang masih dalam rangka ngejar setoran. Oke saya mulai ya ceritanya…

Lari di pagi pertama 2017

Langit masih sedikit bersemu tapi saya dan dua sepatu New Balance 1260v5 berwarna biru sudah berdiri di Stadion Madya Senayan. Maaf harus menyebut nama sepatu karena masih norak-noraknya pakai sepatu baru. Ya ujung-ujungnya cuma dipake buat latian sih ya.. (maaf ternyata sepatu ini gak terlalu cocok banget sama kaki saya)

Event lari terakhir itu 4 Desember 2016 pas Lombok Marathon dan habis itu udah sibuk ngurusin anak yang lagi dalam masa ujian akhir semester ditambah jadwal ngajar yoga yang lagi kejar tayang. Huft banget deh..

Jadi ya memang lama banget gak lari. Ditambah kaki juga masih agak sakit. Dua minggu menjelang race pertama di 2017 langsung ngebut latian. Ternyata betis kanan masih sakit banget ditambah lama banget jadi pas mulai lari lagi kaya yang baru pertama kali lari. Payah banget pokonya. Mana tensi lagi drop banget jadi lagi sering keliyengan. Malahan beberapa kali ngeblank pas lagi ngajar yoga. Gelap dalam beberapa detik.

Di saat badan yang lagi payah banget malah bikin resolusi yang aneh-aneh. Padahal biasanya gak pake resolusi-resolusian. Bener-bener deh!

Pengen punya studio yoga sendiri, pengen ambil spesialisasi baru untuk yoga, pengen nyobain full marathon. Yang terakhir ini agak ngilu sih bayanginnya. Seeenggaknya buat saya yang masih newbie diperlarian.

6.30 di pagi pertama 2017 dengan banyak target di kepala. Tahun ini mau nyobain full marathon. Muluk-muluk gak sih?

Yaudah gak usah jauh-jauh deh. Seminggu lagi mau ikut race 2017, tapi fisik kayanya masih belum siap. Liat jam di tangan baru lari 3 kilometer dan kaki masih lari dengan pincang. Sampai akhirnya berasa ada burung yang muter-muter di kepala trus pusing sendiri.

“Kok gak bisa lari kaya kemarin!”

“Kok masih sakit!”

“Kok jadi pincang!”

“Kok sekarang lambat!”

“Kok payah banget!”

Dan banyak kok kok yang lain. Jadi kesel. Kecewa. Rasa ingin itu memang sangat pandai membuat kita menjadi orang yang mudah kecewa. Padahal ya masih beruntung masih punya kaki, masih bisa berlari, masih dikasih sehat. Manusia.

Setelah lari 3 kilo tiba-tiba saya menghentikan langkah untuk berlari dan tak terasa air mata mengalir ke pipi. Race udah mau seminggu, beberapa lagi mau FM, tapi sekarang lari aja belum bener. Kesel sama kaki. Kesel sama badan. Kesel sama diri sendiri.

Wah makin gak bener nih!

Oke.. ini ada yang salah. Target juga harus liat kondisi fisik sendiri. Tarik napas yang dalam..

Inhale..

Exhale..

Saat itu lapangan masih sepi. Suara detak jantuk dan tarikan napas terdengar begitu jelas. Suara-suara di pikiran pun terasa nyaring. Pasti sepi lah! Siapa yang mau berlari sepagi itu di saat malamnya baru merayakan tahun baru?

Ya ada sih. Saya.

Mungkin memang saya terlalu banyak ingin, sampai lupa untuk bahagia. Lari dengan bahagia tanpa ada beban. Biarlah kaki saya yang memiliki beban, tapi tidak di pikiran. Saya mulai santai untuk meneguk air yang tersimpan di botol dan menikmati roti yang sengaja dibawa untuk sarapan.

Setelah merasa lebih enakan, saya mulai berlari lagi. Tanpa mikir target waktu dan lainnya. Hanya lari. Gak sangka bisa lari lebih cepat dari sebelumnya. Nikmati larinya dan jangan menambah beban apapun dengan harus ini itu. Lari karena saya suka lari. Titik.

Semakin siang ternyata banyak teman juga yang merayakan pagi pertamanya dengan berlari. Makin hepi deh!

Thanks!

Race pertama 2017

Nah kaann.. akhirnya masuk ke tanggal yang ditakutin dari kemarin. Nyaris mikir batal ikut aja tapi ya kan sayang udah bayar. Paling penting sih nambah medali hehe..

Halim Runaway away 10K dan Sky Run 5K adalah race pertama di 2017. Bedanya hanya sehari. Tanggal 7 Januari dan tanggal 8 Januari. Halim race 10K kayanya terberat yang saya alami. Saat berlari badan terasa dingin dan mulai agak oleng. Untung banget pas lagi lari ditemenin Ko Willy karena lihat saya berhenti. Saya ngerasa keliyengan dan pandangan mulai burem.

“Jangan merem fit ! Liatnya jangan ke bawah tapi lurus ke depan!”

Kata Ko Willy saat saya merasa mulai ilang-ilangan. Pas ketemu water station langsung minum pocari yang banyak. Alhamdulillah sih akhirnya bisa lanjut sampai finish. Sebenarnya tracknya juga agak naik turun jadi makin menguras tenaga. Ini alaesan juga sih. Kalau latihannya lebih rajij mungkin gak kaya gini juga.

Ya kalau lagi kuat lari ya lari, kalau gak kuat ya jalan. Saya juga teringat saat latihan, terlalu memaksa juga tidak baik.

Medali Halim Runaway 10K yang “imut” banget
Medali Sky Run 5K yang lebih menyenangkan dibanding race sebelumnya

Saya memilih untuk lebih merasakan kondisi tubuh dan tidak terlalu mengejar target waktu. Alhasil 10K saya di halim turun banget waktunya: satu jam 11 menit. (hahaha…)

Ya sudahlah ya. Yang penting bisa finish dan masih bisa lari buat besoknya lagi. Dan nambah stok foto buat instagram pastinya ya…

Besok paginya saya ikut Sky Run (yang nyaris juga saya batalkan). Belajar dari Halim Runaway, saya gak mau ngoyo. Larinya lebih santai. Waktunya juga ya pastinya santai juga. :p

Wajah mengjadapi garis finish di Halim Runaway 2017
Bersama Run For Indonesia yang ikut Halim Runaway
Cewek-Cewek Run For Indonesia di Sky Run 2017

 

Dua race dalam dua hari selesai!

2017 memang banyak target tapi target terbesar kan bisa menjalani hidup dengan bahagia. Ya, toh?

Welcome 2017!

Processed with VSCO with  preset

Lari di Sentul Berakhir Basah di Curug Bidadari

Photo Credit: Luciane

Pukul 5.45 pagi hari saya membuka jendela mobil dan mengabadikan langit yang masih bersemu dengan kamera smartphone. Kemudian saya kembali menyesap hot coffee latte ukuran grande yang saya beli di Rest Area untuk sedikit menghangatkan tubuh. Udara dan pemandangan pagi di Sentul memang masih segar, jauh sekali dengan lingkungan rumah saya di Bekasi (Ya iyalah!). Pagi itu saya berencana berlari dengan teman-teman dari Run For Indonesia (RFI).

Lari Santai Asal Senang

Good Morning, Sentul!

Sebut saja saya pelari rekreasi. Lari untuk sehat dan bersenang-senang. Sentul merupakan tempat yang asik untuk berlari meskipun track-nya naik turun. Walaupun sampai pukul 5.45 di Gerbang Tol Sentul Selatan tapi harus muter-muter karena belum hapal venue-nya. Ternyata tempatnya yang sudah bolak-balik dilewati. Karena buta jalan jadi ya main lewat-lewat aja.

Pukul 6 pagi saya sudah sampai di Danau Sentul Nirwana yang merupakan start point-nya. Harusnya jam 6 sudah mulai tetapi karena yang sampai beda-beda waktunya jadi masih harus tunggu-tungguan sampai semua lengkap. Pesertanya dari berbagai tempat. Jakarta saja dari Barat, Utara, Selatan, dan Timur juga ada. Saya sendiri dari Bekasi. Kalau teman-teman Bogor pastinya lebih cepat sampai.

Danau Sentul yang dicari-cari.

Seperti biasa kita memulai lari dengan pemanasan. Pemanasan saat berlari sangat penting untuk menghindari cedera dan memberi kenyamanan saat berlari. Kemudian kita berlari dengan pace santai sambil ngobrol. Baru mulai saja saya sudah kewalahan karena track-nya nanjak. Padahal masih di sekitar jogging track dan di bawah pepohonan sih. Tapi kan tetap aja nanjak. Huft!

Pemanasan di tepi Danau Sentul Nirwana. (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Berlari di Sentul City ini saya rekomendasikan kalau ingin berlari dengan suasana baru. Udaranya masih segar dan belum terlalu banyak polusi. Pemandangannya juga memanjakan mata karena kita bisa melihat Gunung Salak dari jauh. Dari pukul 7.30 kami mulai berlari-lari kecil di joging track menuju ke jalan besar.  Dengan pemandangan danau dan dipayungi pepohonan yang rindang, berlari menjadi lebih menyenangkan. Apalagi kalau larinya gak sendirian. (Maaf ya, Mblo!)

Jogging track di tepi Danau Sentul.
Lari santai tapi nanjak.

Biarpun tepib danau ini teduh tapi cukup menantang karena jalannya nanjak. Namanya juga di bukit-bukit jadi memang harus beradaptasi dengan jalan yang tidak rata. Jadi kalau dianggap tidak mungkin jadi keringetan, kamu salah!

Setelah masuk ke jalan besar kami berlari di tepi jalan dengan tetap membentuk barisan. Langit sudah menunjukkan jati dirinya: terang dan menyengat. Jjadi biarpun jaraknya tidak terlalu jauh tapi bikin ngos-ngosan juga.

Tapi…

tantangan utamanya bukan jalan yang naik turun, tetapi ‘panggilan’ untuk foto-foto. Rugi banget kalau sudah ke sini tapi terlalu serius lari.  Nanti pulang malah sedih karena gak ada yang kenangan sama sekali di kamera henpon.

Lari di tepi kawasan Sentul Nirwana. Naik dan turun adalah tantangannya.

Latihan kami memang selalu ada banyak foto. Moment tidak bisa diulang tapi bisa dikenang. Untuk mengabadikan moment tentunya dengan mendokumentasikannya. Jangan lupa langsung posting di sosmed supaya gampang nyarinya. Sukur-sukur kalau dapat likes. Ya, gak?

Mandatory photo biar kaya pelari-pelari kebanyakan. Fokus pada view backgroundnya juga boleh.
You jump, i jump! (Photo credit: Willy Sanjaya)
Semua Peserta “Jemput kawan Lari ke Sentul”. (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Berkaitan dengan jalan yang naik turun jadi terkenang waktu Half Marathon di Bali Marathon 2016. Kaki sampai sengklek-sengklek karena harus menempuh medan tanjakan yang gak habis-habis. Paha belakang kram. Karena di sentul lari untuk fun jadi ya kalau cape yaudahlah jalan aja hehe..

Dari Danau ke Bukit berjarak 5 km. Lari bulak-balik total 10 km. Wah,  harusnya sudah dapat medali finisher nih!

Basah-Basahan di Curug Bidadari

Setelah keringetan kan paling seru itu basah-basahan. Langsung gak sabar ke air terjun. Biarpun jarak larinya hanya 10 km tapi lumayan bikin cape loh. Karena meskipun di sini lebih sejuk, jika sudah pukul 7 pagi ya sudah lumayan terik. Ditambah start-nya kan agak ngaret setengah jam dari rencana jadi finish-nya pun tentu lebih ngaret. Sedangkan mataharinya gak mau ikut-ikutan ngaret. Jadi lumayan lah bikin kulit semakin eksotis.

Setelah stretching untuk pendinginan kami pun istirahat sejenak dan langsung jalan lagi. Destinasi selanjutnya dalah Air Terjun Bidadari. Kalau menggunakan istilah setempat sih dinamakan Curug Bidadari. Kenapa dinamakan ini? Apakah karena yang datang banyak bidadari seperti akuhhh? (eh?)

Pernah dengar dongeng Jaka Tarub dan 7 Bidadari? Nah menurut legenda yang dipercaya masyarakat setempat ini adalah air terjun tempat 7 bidadari ini mandi. Tapi bukannya bidadari, kok saya malah ketemunya perjaka mandi!

7 (kurang 1) Bidadari? (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Kami sampai sini tidak terlalu lama dari Danau Sentul Nirwana. Jaraknya sekitar 5-7 km. Cuma 15-20 menit kok. Lari?

YA TENTU SAJA TIDAK!

Kalau kamu bukan anak trail mah ke sininya naik mobil aja. Yakin mau nanjak panjang banget? Meski jalannya gak semulus pipinya Syahrini dan tidak seluas badan saya waktu habis melahirkan, tapi ini termasuk yang gampang dijangkau meskipun mobilnya matic. Hidup itu sudah rumit masa mau jalan-jalan dibikin sulit? Marilah kita cari cara yang termudah!

Run For Indonesia has touch down at Curug Bidadari. Hello, Angel! (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Curug Bidadari ini gak terlalu besar dan tinggi. Jadi sebelum sampai tolong di-set dulu ekspetasinya ya. Tetapi untuk keperluan wisata memang sudah direnovasi jadi kita juga disuguhkan kolam buatan yang divariasikan dengan wahana ‘bebek-bebekan’ serta balon air. Tetapi air yang digunakannya tetap alami tanpa dicampur bahan kimia. Jadi kalau bermain air tidak akan tercium wangi kaporit yang biasa ada di lokasi waterpark.

Di bawah air terjun Bidadari. (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Mungkin untuk menjaga kealamiannya, ternyata untuk bilas benar-benar outdoor. Hanya disediakan bilik untuk mengganti baju. Wow, kapan lagi mandi terbuka di tempat umum!

Bidadari mandi dulu ya!

Untuk tahun 2016, harga tiket masuk 30 ribu rupiah ini tidak terlalu mahal. Kita bisa main air di bawah air terjun dan gila-gilaan bersama teman. Saya sih memang niat untuk numpang mandi jadi sayang banget kalau gak nyemplung ke bawah air terjun. Airnya dingin tapi bagus untuk recovery setelah berlari. Apalagi sambil teriak-teriak dan tertawa, makin pol kan recovery-nya!

 

Buat kamu yang tergolong pelari rekreasi, yuk langsung masukin Sentul City ke dalam list destinasi yang wajib dikunjungi!

Sampai jumpa!
Processed with VSCO with  preset

#DariPadaNunggu Lebih Baik Baca Tips Menunggu Produktif ini!

IMG-20160304-WA0023

Menunggu adalah aktivitas yang kurang menyenangkan untuk kebanyakan orang. Meski Raisa aja pernah bilang “Apalah arti menunggu?” tapi akhirnya dia juga bilang “Pergilah”. Untuk yang kerja di sekitar jalur kebijakan ganjil-genap banyak yang memilih menunggu sampai jam 8 malam untuk pulang.  Tetapi memang kemacetan tetap menghantui para pekerja di sekitar Jakarta setiap harinya saat jam pulang kerja. Rata-rata orang mengggunakan internet untuk aktivitas menunggu, baik menunggu jam ganjil-genap usai atau di dalam kendaraan.

Internet sepertinya merupakan sesuatu yang penting untuk para komuter. Berdasarkan survey dari Opera yang mencakup 9 kota besar di Indonesia, 78% responden merasa menunggu akan lebih baik jika terdapat koneksi internet. Hasil survey ini tidak berlaku hanya di DKI Jakarta karena dilakukan juga di kota besar Indonesia lainnya.

Fakta Pahit Tentang Menunggu di Indonesia

Dengan menunggu maka kita telah membuang waktu berharga, oleh karena itu sebaiknya dapat menggunakan waktu ini dengan efektif dan kalau bisa produktif. Opera sekarang meluncurkan #DariPadaNunggu untuk mendorong masyarakat dapar memaksimalkan waktu saat menunggu. “Waktu adalah aspek kehidupan krusial dan sudah seharusnya dimanfaatkan seefisien mungkin. Ingatlah kita tidak dapat memutarbalikkan waktu barang sedetikpun.” Kata Mas Salman Aristo, sutradara konten video Opera saat di acara Blogger Gathering di Kaffein SCBD pada tanggal 5 Oktober kemarin.

Di situs www.daripadanunggu.com para pengguna bisa bergabung gerakan #DariPadaNunggu dan bergabung dengan video interaktifnya. Terdapat juga video tutorial dari Opera yang akan rilis setiap minggu. Kita juga bisa ikut share tips mengubah aktivitas menunggu menjadi hal yang produktif di media twitter. Gerakkan ini bertujuan untuk menghemat satu juta jam yang biasanya sia-sia karena menunggu.

Mendukung gerakan ini saya juga mau ikutan berbagi tips menunggu agar lebih produktif dengan memanfaatkan internet ah!

1. Buka-buka wikipedia dan e-book biar makin keliatan pintar

Pintar itu bukan hanya tahu hal-hal yang bersifat akamademis, tetapi memahami segala hal. Kita juga jadi punya banyak bahan untuk bisa ngobrol sama gebetan atau (uhuk!) calon client. Bahkan saya juga paling senang ngobrol sama orang yang tahu banyak hal. Bisa dimodusin nanya berbagai hal meskipun bisa kita cari tahu langsung dengan akses internet, kan? Makanya membuka wikipedia atau e-book itu oke kok buat jadi bahan nunggu yang produktif.

Buka wikipedia biar makin pintar. Pintar berhalusinasi.
Buka wikipedia biar makin pintar hmm..

2. Baca berita online biar biar update terus

Ini masih dalam hal aktivitas browsing. saya gak suka-suka banget sama politik terapi sedikit-dikit baca gapapa lah. Biar gak keliatan culun aja pas orang-orang lagi bahas sesuatu terus kita cuma bisa bengong-bengong. Tapi harus pintar dalam memilih portal berita ya. Jangan sampai makan berita hoax.

_20161014_220209
Pilih berita online yang tepat biar gak kena berita hoax.

3. Nge-blog lah!

Menulis itu cara paling asik dalam merefleksikan diri. Memori otak manusia kan terbatas dan setiap hari memuat hal-hal baru. Dengan menulis kita bisa menuangkan hal-hal yang kita anggap penting dengan cara sendiri. Aku kadang kalau mau ingat pengalaman travelling tahun kemarin ya tinggal buka blog aja. Blog juga media yang aku pakai untuk sharing. Kadang suka dapat pertanyaan “Yoga untuk ambeien itu gimana ya, Fit?”. Ya biasanya aku langsung nulis dan ini berguna juga kalau dapat pertanyaan yang sama. Jadi kan gak perlu ngulang-ngulang lagi. Traffic blog meningkat kan itu bonus! :p

4. Update social media dong!

Kebanyakan orang menggunakan sosial media sebagai tempat ‘nyampah’. Tapi kan sampah juga ada klasifikasinya, sampai yang berguna atau sampah yang emang cocoknya ya dibakar aja. Sejujurnya dalam hampir 2 tahun ini saya menggunakan social media sebagai media personal branding. Saya menggunakan social media twitter, facebook, Instagram, dan steller. Ada juga vidio dan youtube serta G+, tetapi yang aktif digunakan adalah 4 yang disebut di awal.

 

5. Buka youtube buat belajar

Youtube atau platform media sejenis menjadi andalan utama generasi milenia untuk mencari hiburan. Kita bisa melihat dan mendengar single terbaru musisi kesayangan, menonton serial drama, sampai melihat video tutorial. Biar makin produktif kita juga bisa menggunakan media ini jadi bahan belajar. Saya juga suka banget liat video-video yoga dari youtube. Tinggal disesuaikan sama hobi masing-masing, seperti memasak, dandan, bahkan ya tutorial membuat video. Kali aja kan dari hobi malah bisa menjadi duit.

_20161014_215955
Mencari inpirasi via youtube.

6. Nge-vlog?

Vlog atau video-blogging merupakan aktivitas blogging dengan menggunakan medium video. Nah, ini lagi menjamur banget. Saya agak malu-malu nulisnya karena saya sendiri masih dalam wacana untuk membuat vlog pribadi. Take a picture, editing, and posting!

Ngomongnya sih gampang tapi dalam realisasinya sih lumayan ribet. #DariPadaNunggu mending intip video dari vlogger-vlogger kesayangan sebagai bahan referensi.

Belajar bikin konten produktif dengan foto dan video
Belajar bikin konten produktif dengan foto dan video.

7. Bikin playlist musik sendiri untuk mood booster

Melalui media musik streaming seperti apple music, joox, dan spotify kita juga bisa mendengarkan musik dan bikin playlist sendiri. Mood bagus biasanya bikin produktif juga, kan?

DSC_1752
Mendengarkan musik itu asik.

8. Liat-liat tips #DariPadaNunggu di twitter atau situs www.daripadanunggu.com

Seperti yang sudah disebutkan di awal-awal, ada berbagai macam tips yang bisa jadi bahan referensi di sini.