Menjajal Triathlon di Belitung

Bahu sudah semakin kepayahan, namun ternyata belum sampai tepi pantai juga. Sisa tenaga untuk mengayuh sudah tidak banyak lagi. Ku coba melirik jam garmin di lengan kiri, ternyata jaraknya sudah jauh melebihi jarak yang ada pada brosur.

Belitung diambil dari nama sejenis siput laut. Dan cara berenangku di Belitung sama seperti nama tempatnya.

Karena berenang dengan gaya bebas, bahu dan lenganku terus mengayuh. Semakin lama semakin lemah. Kehabisan tenaga.

Ingatanku terlempar ke tiga minggu sebelumnya.

Pada pertengahan Juni, pertama kali menyentuh kolam renang lagi khusus persiapan untuk race triathlon di Belitung. Hanya jeda 3 minggu lagi. Tri-Factor Belitung berlangsung pada tanggal 7 Juli 2019.

Targetku bukan yang mau podium, yang selalu terdepan dari awal hingga akhir. Hanya ingin lebih menyatu dan terbiasa dengan air. Katanya kan kalau lebih terbiasa jadi lebih tenang.

Lelah juga menghadapi drama nangis dan panik menghadapi lautan. Jadi ku usahakan bertemu dengan air setiap hari. Walau kadang dua hari sekali.

Mager banget juga pernah. Apalagi mesti lari tiap hari juga (biarpun hanya easy jogs aja).

Tantangan terberat memang dari diri sendiri. Kekuatan terbesar juga dari diri sendiri. Karena kan ikut race-nya juga gak ada yang maksa. Semua kemauan sendiri.

Sadar diri.

Swim leg oh swim leg…

Biarpun pada jarak sprint distance jarak renangnya hanya 750m, namun berenang di air laut memang tidak ada jarak yang pasti. Masalahnya, jarak yang sudah ku tempuh ini mencapai 1000m, yang semestinya sudah tamat.

“Pantas saja lelah. Latihannya aja cuma sampai 1000 meter, lha ini udah segini!”

Ngomel sendiri.

Baru selesai berenang dan masih syok

Jadi kan aku latihan renang untuk race ini memang 1000m, dan dilakukan hampir setiap hari. Buat membiasakan badan.

Dan kalau sudah cape banget berarti sudah melewati limit kemampuan. Dan ternyata memang jarak yang ditempuh saat itu mencapai lebih dari 1000m.

Padahal aku geng yang start santai di belakang. Kalau bisa sih sambil ngopi-ngopi.

Tapi ya kalau cape mah, tetep aja. Latihan gak pernah bohong.

Triathlon sendiri terdiri dari tiga sesi: Swim Leg, Bike Leg, dan Run leg. Dari ketiganya itu yang paling sulit buatku adalah yang pertama. Selain memang secara teknis, renangku ini kurang.

Ditambah lagi aku penakut banget. Takut berenang di laut. Makanya foto-foto pantaiku paling di tepi pantai sambal main-main pasir. Atau sekadar duduk menikmati air kelapa muda.

Karena triathlon ini, semua kebiasaan ini berubah.

Sekarang sudah punya foto-foto bagus bermain air di dalam air laut. Ehe.

Pesona Laut Belitung

Dari beberapa race triathlon yang pernah aku ikuti, air laut di Belitung menjadi favorit. Lautnya tenang dan jernih. Di sekitar jam 8-9 pagi, airnya lebih surut. Iya, aku suka air laut yang dangkal.

Untuk aku yang penakut ini, masih bisa berenang di pantai Tanjung Tinggi bolak balik hingga 200m dari lepas pantai itu menyenangkan. Dasar laut masih terlihat. Lumayan bisa mengurangi sedikit rasa takut.

Kalau mautnya cantik begini sih gimana mau nolaknya, ya kan?

Sudah banyak hotel di sekitar lokasi pantai yang buatku cukup menyenangkan.

Untuk Trifactor Belitung, dari hotel ke venue dilalui dengan bersepeda. Karena kan memang mesti bawa sepeda juga. Jaraknya sekitar  7 kilometer, namun memang terasa lumayan jauh. Mungkin disebabkan oleh pemandangan di kanan kiri jalan yang monoton. Selain itu jalurnya pun rolling (tidak datar).

Hotel yang menyenangkan itu seperti apa, sih?

Hotel yang bagus biasanya punya kolam renang yang bagus. Jadi kalau lagi cari-cari hotel yang aku liat adalah: kondisi kamar tidur, kamar mandi, dan kolam renang.

Ya ini pendapat pribadi sih. Karena memang aku agak picky untuk urusan penginapan.

Apalagi kalau race triathlon kan harus bawa-bawa sepeda. Jadi ukuran kamar penting banget. Minimal muat untuk bongkar pasang sepeda. Peralatan yang dibawa juga lumayan banyak.

Dan di hotel yang saya tempati, sudah bisa menikmati keindahan laut Belitung hanya dari jendela kamar. Tiap kamar memiliki balkon untuk bersantai dan pemandangannya langsung ke kolam renang dan laut. Kenikmatan surgawi.

TRIATLON: BERAT TAPI NAGIH

Akhirnya saya bisa menempuh sesi Swim Leg dengan selamat. Biarpun waktunya masih di belakang.

Pas selesai berenang, saya lihat ke belakang…

Loh, kok tinggal dikit!

Padahal sudah biasa. Dari race sebelumnya, aku sering jadi nyaris yang terbelakang untuk sesi berenangnya ini.

Tapi tetep batu.

Tetep gak kapok.

Tetep daftar lagi.

Sambil mengatur napas, ku mulai lari-lari kecil dan sesekali jalan mencapai area transisi. Untuk memangkas waktu, jadi melepas swim cap dan kacamata renang pun pas lagi lari-lari kecil ini.

Jujur nih, aku udah CAPE BANGET!

Bonus jarak saat berenang bikin tenagaku terkuras.

Bahu terasa mau lepas. Napas juga sudah berantakan.

Sisa energi sepertinya tinggal 30 persen.

Akhirnya sampai juga di area transisi…

Ku raih helm, kacamata, dan bib number untuk dilekatkan ke tubuh. Kalau bib namber kan sudah terpasang di race-belt, jadi tinggal dipasang saja di pinggang.

Ketiga ini menjadi prioritas utama. Artinya yang paling penting, selain sepedanya ya.

Oiya, tak lupa ku seka-seka dulu sisa air laut dan pasir dengan handuk kecil. Walaupun dengan panasnya Belitung di pagi harti, kayanya akan kering sendiri sih.

Begini loh penampakkan area transisi. Ini waktu siap-siap sebelum ke area start.

Setelah ketiganya terpakai, lalu kupakai sepatu cleat.

Semua dilakukan secepat kilat karena waktu terus berjalan. Minum dan makan nanti saja dilakukan saat di atas sepeda.

Perjalanan berlajut…

Setelah semua sudah terpasang, ku raih sepeda dari bike rack dan berlari menuju area lepas landas sepeda (Mount/Dismount).

Setelah sepeda sudah bisa dinaiki, ku mulai  mengayuh sepeda yang balap-balapan dengan napas sendiri.

Matahari makin nyala aja, gengs!

Kayuhanku pun tak secepat seperti biasanya. Apakah tenagaku sudah sebegitu habisnya kah?

Tak lama dari lepas landas, akhirnya bertemu dengan peserta lain. Senang rasanya bertemu dengan teman sependeritaan. Apalagi kan aku selesai berenangnya bisa dibilang bontot ya.

Ku pandangi kayuhan kakinya yang tampak begitu berat, sama sepertiku. Yes, aku tak sendiri!

Ternyata medannya memang sedang menanjak halus. Rolling track.

Oke, saatnya isi bensin!

Bukan untuk sepeda, tapi buat badan. Ku raih botol air minum atau bidon yang sudah terselip di frame sepeda. Setiap tetesnya sangat berarti. Tingkatan semburan pancaran matahari sepertinya naik satu level. Dari yang panas, jadi panas banget.

Pukul 8 hingga 10 pagi, cuaca di Belitung saat itu memang sedang lucu-lucunya.

Sadar diri kalau tubuh tak akan cukup hanya diisi air, akupun meraih energi gel yang sudah kuselipkan di saku belakang trisuit dari sebelum race dimulai. Jadi, energi gel ini sudah bersamaku dari sesi berenang di laut tadi.

Saat mencoba merobek kemasannya di bagian leher, ternyata robekannya melenceng. Bungkus gel tidak mau terbuka. Akhirnya kugigit sajalah.

Ternyata isinya langsung menyembur ke area pipi dan lengan kiri. Ku coba menyekanya, namun sia-sia. Seperti lem, gel begitu pekat dan menempel pada kulit saat mengering.

Ya sudah. Ku kembali bersepeda. Yang penting bensin sudah terisi.

Lagipula muka sudah gak karuan juga. Antara keringat, napas, ultra violet, dan asa-dan-putus asa sudah melebur di wajah.

Senjataku hanya tetap tersenyum saat melintas di depan fotografer yang mejeng. Aku mesti pura-pura strong! Kesedihan biarlah kita sendiri yang tau!

Dan badai pasti berlalu, tapi bisa datang lagi!

Siksaan sepeda akhirnya berlalu. Lega rasanya sudah melewati tahap ini. Biarpun napas tampak sudah putus asa. Tapi akhirnya bisa sampai tahap run leg!

Run leg adalah sesi yang biasanya menjadi senjata pamungkasku. Dari ketiganya, sepertinya latihanku lumayan cukup untuk berlari 5K.

Biasanya kan balas dendam tuh di sini. Biarin deh bisa ketinggalan jauh di renang, tapi jangan sampai ketinggalan jauh di belakang saat lari.

Namun…

memang kita menjadi manusia tidak boleh sombong.

Saat semestinya aku bisa berfoya-foya di sesi ini, namun nyatanya semua itu tidak pernah terjadi. Aku capeeeee!

Panas terik dan kondisi jalan yang mesti menanjak beberapa kali bukan yang aku idam-idamkan!

Setelah kehabisan banyak tenaga saat berenang, ku pun mesti irit tenaga saat sesi sepeda. Medan yang naik turun, membuat pahaku bekerja ekstra. Apalagi latihanku lebih banyak di area komplek yang medannya cenderung datar.

Minimnya melatih tubuh untuk kedua sesi ini membuat tubuhku begitu kewalahan.

Kalau begini, neduhnya di mana?

Triathlon itu terdiri dari tiga olahraga dan latihannya juga mesti untuk tiga olahraga ini. Jangan mengandalkan hanya satu saja. Karena apalah gunanya kita latihan mati-matian untuk sesi run leg, kalau ternyata saat sampai di sesi ini sudah kehabisan tenaga.

Rute run leg di Trifactor Belitung juga bisa dibilang menantang. Bayangkan saja mesti panas-panasan berlati di jalur trek golf!

Gak ada pepohonan atau bangunan buat sedikit ngumpet dari sinar matahari yang menelanjangi sekujur badan. SEKUJUR BADAN SAMPAI DOSA-DOSANYA!

Jalur sempit dan kondisi rolling. Saat badan sudah letih, mesti lari menanjak bukan kondisi yang menyenangkan. Biarpun sambil membayangkan es campur, tetep gak ngaruh.

Katanya sih cuaca saat itu sekitar 35-37 derajat.

Akhirnya di sesi ini banyak kulalui dengan berjalan. Sempet papasan dengan teman-teman lain yang sudah lebih dulu start lari. Aku rapopo.

Kira-kira 500m menjelang finish, ku mau sedikit menancapkan gas. Yang semestinya sudah dilakukan dari kilometer sebelumnya namun gentar.

Akhirnya sukses selesai 5K saat di sesi ini dengan waktu 35 menit. Sepertinya menjadi waktu terburuk. Haha..

Tapi yang namanya finish itu tetap menyenangkan. Semakin berat perjalanan, semakin puas saat mencapai garis finish.

Lumayan lah bisa masuk 5 besar kategori age group (30-39). Padahal sudah ku putus ada bisa ada di peringkat itu. Sadar diri sudah ketinggalan jauh pas berenang dan pas sepeda juga sulit buat mengejar ketinggalan.

Finish cantik dengan yang ganteng. Di sebelah aku ini Nikko, Captain of Philippine Triathlon Team. Dia menjadi penamat pertama kategori Standard Distance (Olympic Distance).

Kalau ditanya “Apakah tahun depan mau ikut lagi?”, jawabnya…

Hmm..

Kayanya mau ikut lagi.

Siapapun yang menjadi penyelenggaranya nanti, semoga bisa melaksanakannya lebih baik lagi dari tahun ini. Yang kurang-kurangnya diperbaiki, dan yang sudah baik dipertahankan.

Belitung benar-benar memiliki kondisi alam yang cantik. Biarpun race kemarin ditempuh dengan lumayan berat, tapi banyak dihibur juga dengan pemandangan yang memanjakan mata.

Dua spot yang paling aku suka adalah di pantainya (tentu saja karena air lautnya yang tennag dan bersih) dan danau di tengan padang golf.

Sampai bertemu lagi, Belitung!

Tips Sehat: Menjaga Cairan Tubuh dengan Ion Water Rendah Kalori

Pernah gak sih saat habis olahraga rasanya lidah terasa agak pahit dan bawaannya mau minum terus? Katanya ini gejala dehidrasi. Jadi sebaiknya perlu kembali menyeimbangkannya lagi dengan kembali mengisi cairan ke dalam tubuh.

Iya, minum. Bukan makan, ya.

Seringkali kita terkecoh. Yang diminta tubuh apa, tapi pesan yang sampai ke otaknya beda lagi. Apalagi kalau di depan mata ada tukang bubur ayam. Saat perut kenyang, minum pun sering malas. Padahal tubuh masih membutuhkan cairan untuk kembali stabil.

SEHAT ADALAH SEIMBANG

Bagi saya sehat itu adalah seimbang. Antara makanan yang masuk dan dibakar harus seimbang. Nutrisi yang dikonsumsi harus seimbang. Olahraga dan makanan yang dikonsumsi sebaiknya seimbang. Bahkan cairan tubuh pun harus tetap seimbang.

Balik lagi ke masalah hidrasi. Jika kamu sudah minum air putih yang cukup banyak namun tetap haus. Kemungkinan tubuh memberi gejala dehidrasi. Minum selain air putih saja belum tentu cukup.

Begini…

Tanpa disadari saat kita duduk di dalam ruangan ber-ac tubuh kita sebenarna sudah mengeluarkan keringat. Namun memang keringat kita cepat menguap jadi memang tidak sempat nampak. Dan karena dingin, jadi rasa haus tidak terlalu terasa.

Tapi tetap cairan tubuh kita sebenarnya sudah berkurang.

Oleh karena itu kita disarankan minum air putih minimal 8 gelas sehari. Namun, keringat itu bukan hanya saja cairan, namun juga zat elektrolit di dalamnya. Jumlah ion di dalam air putih belum tentu mencukupi yang diperlukan tubuh.

Memang tubuh manusia terdiri dari 70 persen air, tapi seiring bertambahnya usia jumlahnya semakin berkurang. Saat dewasa, kadar cairan untuk wanita jumlahnya cenderung lebih sedikit dari pria (Pria 60%, Wanita 55%), dan bisa semakin menipis seiring bertambahnya usia.

Cairan tubuh kita BUKAN HANYA SAJA AIR, namun juga mengandung komponen sel, gula, protein, dan ELEKTROLIT. Semua itu didapatkan dari apa yang kita konsumsi.

Untuk mendapatkan tubuh yang sehat dan bisa beraktivitas dengan lancar, maka kita harus memastikan setiap komponen cairan dalam tubuh untuk tetap seimbang.

Elektrolit adalah komponen yang memiliki muatan positif dan negatif ketika larut dengan cairan di tubuh. Setiap elektrolit memiliki fungsi masing-masing di dalam tubuh, yang pastinya diperlukan untuk kita beraktivitas. Bahkan untuk diam dan hanya otak saja yang bekerja pun memerlukan muatan-muatan ini.

Elektrolit memang seringkali berubah-ubah, namun sebaiknya kadarnya tetap seimbang. Cairan di dalam tubuh ada yang di dalam sel dan di luar sel; kadarnya pun sebaiknya tetap konsisten. Elektrolit ini yang berfungsi untuk menjaga jumlah cairan tubuh yang berada di dalam sel maupun di luar sel agar tetap seimbang.

Jadi, saat kita duduk saja sebenarnya cairan tubuh sudah berkurang, lalu bagaimana jika kita malakukan aktivitas yang lain?

SEMAKIN BANYAK BERGERAK SEMAKIN BANYAK CAIRAN ION YANG DIKONSUMSI!

Jadi sangat wajar kalau habis olahraga terasa sangat haus. Itu bagian dari signal.

Habis olahraga paling enak minum Ion Water. Karena kan isinya bukan air putih biasa tapi ada muatan elektrolitnya juga.

Rasanya pun terasa lebih segar. Ketika menyentuh lidah dan kerongkongan. terasa nyesssss. Dan biasanya tubuh pun kembali lebih segar.

Lalu sebaiknya berapa banyak mengonsumsi minuman elektrolit?

SEMAKIN BANYAK BERGERAK SEMAKIN BANYAK CAIRAN ION YANG DIBUTUHKAN

Jadi sangat wajar kalau habis olahraga terasa sangat haus. Itu bagian dari signal.

Biarpun begitu, bukan berarti minum semaunya. Jangan sampai tubuh jadi kelebihan kalori. Sebainya selalu menngecek kadar kalori apa kita makan dan minum. Kalau minuman kemasan sebenarnya lebih mudah diukurnya karena tertulis pada labelnya pembungkusnya.

SEHAT ADALAH JUMLAH KALORI YANG MASUK DAN YANG DIBAKAR JUMLAHNYA SEIMBANG

Dengan rutin berolahraga bukan berarti bebas makan minum apa saja. Nanti malah gak seimbang.

Jangan sampai tekor sendiri. Jumlah kalori yang dikonsumsi sebaiknya gak melebihi jumlah yang dibakar.

Kalori adalah takaran energi dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi. Energi diperlukan agar tubuh dapat bekerja dengan semestinya, sumber dari segala aktivitas yang dilakukan.

Namun, sebaiknya jumlah yang dikonsumsi tetap terukur agar dapat disesuaikan dengan yang dibutuhkan.

Tiap orang punya jumlah kebutuhan kalori yang berbeda. Untungnya pada hari Rabu lalu (25/10/2018) di acara Launching Water ION ada fasilitas mengecek jumlah kalori yang diperlukan. Data tersebut diambil setelah melakukan body analysis dengan mengukur berat badan sekaligus yang terkandungnya.

Hasilnya sih normal.

Walaupun saya membatin..

Loh kok habis race berat badan malah nambah?

Hasilnya memang sedikit ada kenaikan dibanding pengkuran pada tahun lalu. Tapi ya mudah-mudahan yang nambah ototnya ya, bukan lemak.

Menurut data, kebutuhan kalori saya setiap harinya adalah sebanyak 1400kkal. Ini adalah takaran minimal yang diperlukan, belum dihitung dengan jumlah aktivitas.

Saat pagi atau sore hari biasanya saya berlari minimal 30 menit dengan pace ringan atau moderat. Karena untuk dilakukan secara harian, saya memilh latihan ringan agar lebih cepat masa recovery-nya dan menghindari cedera. Latihan speed dilakukan hanya dilakukan maksimal 2 kali dalam seminggu.  Jumlah yang terbakar saat berlari selama 30 menit sekitar 200-250 kalori.

Jumlah kalori ini sama dengan mengonsumsi 200gr ikan segar.

100gr nasi putih memiliki 175kkal. Jadi kalau saya habis lari terus dilanjut makan 100gr nasi putih bersama ikan 200gr ikan segar, maka kalori yang terbakar akan langsung impas. Malahan lebih sedikit. Tidak ada ruang untuk ngemil-ngemil lagi.

Selain lari, saya juga suka bersepeda.

Jumlah kalori yang terbakar saat bersepeda selama 1 jam 3 menit dengan jarak 31,82km adalah 499 kalori.

Jadi saya bisa sarapan 50gr roti tawar (128kkal), 75gr telur dadar (188kkal), 100gr alpukat (85kkal), 150gr jus melon (35kkal), dan 200gr jeruk Sunkist (40kkal). Saya masih untung 23kkal.

Tapi ingat, makanan di atas diukur dalam porsi minimalis ya. Salah paham memang kerap terjadi sih gaes..

ION WATER DENGAN RENDAH KALORI ADALAH SOLUSI

Saat ini yang saya perlukan adalah minuman yang mengandung elektrolit, namun tetap dalam jumlah kalori yang sangat rendah. Jadi saya bisa mengonsumsi kapan saja tanpa takut kelebihan kalori, terutama gula.

PT Amerta Indah Otsuka pada pekan lalu (25/10/2018) meluncurkan ION Water ke pasaran. Ion Water adalah minuman ion dengan kadar kalori yang rendah. Minuman ini cocok untuk kita-kita yang sedang menjalani pola hidup sehat. Kita tetap bisa menjaga keseimbangan cairan tubuh, namun dengan komposisi rendah kalori.

Peluncuran produk ini sekaligus mendukung program Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, dalam upaya memasyarakatkan hidup sehat untuk Indonesia yang lebih baik.

Jadi saya merasa kehadiran Ion Water dapat mendukung dengan pola hidup yang sedang saya jalani:

BERUSAHA UNTUK LEBIH SEHAT.

Saya sendiri banyak dipengaruhi oleh teman-teman yang sudah menjalani perubahan untuk lebih sehat. Sekarang kan olahraga memang sedang tren. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Mintel. 3 dari 4 atau sebesar 75% masyarakat urban di Indonesia ingin memiliki pola makan yang lebih sehat dan 58% masyarakat urban Indonesia memiliki keinginan olahraga yang lebih banyak.

Semoga tren ini gak pernah padam ya.

Selalu ada alas an untuk melakukan perubahan. Namun saat sudah menjadi bagian dari perubahan tersebut, kita sudah tidak perlu alasan lagi.

Pecah Marathon Pertama di SCKLM

Entah sudah masuk ke toilet berapa kali untuk buang air kecil. Ekspetasi saya jam 9 malam sudah tidur bagai mayat. Kenyatannya malah tidak bisa tidur nyenyak, walau mata rapat tertutup.  Apakah semua orang begini waktu menghadapi full marathon pertama?

Guling kanan, guling kiri, hingga menyelupkan seluruh badan ke dalam selimut termasuk kepala. Saat melirik jam ternyata sudah berada di tengah malam.

2.30. Alarm di smartwatch memanggil walaupun sebenarnya saya tidak bisa tidur. Tandanya harus siap-siap. Wanita kan persiapannya lumayan banyak. Yang  pertama saya lakukan adalah: Makan. Setidaknya saya harus punya cukup tenaga saat lari nanti. Biarpun nasinya dingin. Biarpun gak ada enak-enaknya. Pokoknya makan!

Pukul 3.15 saya turun ke lobi hotel bertemu #KawanLari yang juga akan berlari bersama-sama di Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon (SCKLM). Bermodal dua energy gel -makanan konsentrat berupa gel- yang menjadi satu-satunya bekal berlari 42km nanti. Jarak ke venue cukup untuk dijadikan jogging pemanasan sebelum lari. Mengikuti pesan coach saya via whatsapp di malam sebelumnya, saya mencoba berdoa khusyuk sebelum mulai berlari. Mau makan aja kita doa apalagi mau lari jauh!

FB_IMG_1495676784026
Wajah-wajah bangun tidur dan yang tidak bisa tidur di pukul 3.15 pagi hari

Menjelang  pukul 4.00 – waktu start untuk kategori FM – di Dataran Merdeka.

Bersama 3600 pelari dari semua kategori. Untuk kategori Full Marathon terdapat 7000 pelari yang bersiap mengasah kakinya. Air mata mulai rembes. Sudah tidak ada lagi rasa takut. Yang tersisa adalah rasa haru. Gilaa… gue mau lari aja mesti jauh-jauh ke sini! Seloooo!

4.00 – flag-off

Berlari dengan santai. Gimana gak santai, saya dari Pen 4. Meski pada akhirnya menyelinap di Pen 3 bagian belakang. Kalau mau berlari lebih depan harus tangguh salip menyalip. Karena berlari sendiri jadi lebih mudah untuk salip menyalip. Santai tapi lama-lama berkeringat juga. Berlari pada pukul 4 ini lumayan menyenangkan sih. Kalau waktu Jakarta berarti masih pukul 3. Udara masih sejuk.

Wah, asik juga nih SCKLM! Gak salah deh FM di sini!

Batin saya bersautan sambil menikmati lari di medan yang menurun. Badan tidak terlalu lelah dan saya cukup menikmati pola lari ini. 5km pertama yang menyenangkan. Belari di average pace 6.40. Kalau melihat target waktu saya finish di sub 5 jam 30 menit, harusnya pas. Setelah dibuai dengan jalur yang menyenangkan tiba-tiba sampai ke posisi… MENANJAK!

Kira-kira berada di KM 7 dan bertemu Mbak Rijan, kawan lari dari Run For Indonesia (RFI). Sambil berlari Mbak Rijan mengajari saya cara berlari saat tanjakan dan cara berlari saat turunan. Saat menanjak kaki menjejak agak lebar ke kanan dan ke kiri. Tidak perlu terlalu cepat.

Setelah tanjakan pasti turunan. Saat jalan menurun jangan menahan kaki. Lari seperti sedang melakukan interval. Asik sih!

Baru senang menghadapi turunan tiba-tiba harus bertemu tanjakan lagi. Mulai gak asik nih. Hmm..

Tapi ya namanya lagi race, usaha mah tetep perlu. Jadi saya tetap mencoba berlari dengan pola yang sama. Sekarang lumayan ngos-ngosan.

Masih dalam keadaan ngos-ngosan, saya bertemu tanjakan lagi. Masya Allah!

20170521_062445-01

Akhirnya cadangan makanan pertama saya saya buka. Saya lupa sih tepatnya, yang jelas setelah KM 10. Sepertinya di KM 12. Tidak mampu menyamakan energi Mba Rijan yang sepertinya masih baterainya masih full, saya menyerah. Saya mempersilakan Mbak Rijan lanjut berlari dan saya cukup berjalan. Skill emang gak bisa bohong ya hehe..

Tapi untung juga saya gak terlalu ngoyo, ternyata tanjakan dan turunan ini terus berlangsung. Saya juga gak tau apakah ada akhirnya. Buat pemula yang masih ala-ala butuh lari dengan strategi. Kebetulan strategi saya adalah: Lari-jalan-lari-jalan-lari-jalan.

Badan Mulai Dingin

Matahari masih belum menyumbul, langit masih betah dengan keredupan. Saya juga berharap jangan segera terik. Tapi ternyata tubuh saya mulai terasa dingin. Mungkin juga karena keringat yang mengalir di tubuh. Saya memilih melambatkan lari (yang sebenarnya sudah lambat ini) dan cenderung jalan. Kira-kira di KM 17. Sampai di KM 19 saya mulai membuka cadangan energy gel yang juga tinggal satu-satunya. Nyesel juga sih belagu cuma bawa cadangan 2 gel. Lidah mulai nagih yang manis-manis. “Harusnya gue bawa permen!” membatin.

DSC03447-01
Bekal makanan satu-satunya saat race: energy gel

Namanya mau lari dengan selamat jadi saya gak mau terlalu nyoyo juga. Saat sampai di water station langsung mengambil 2 gelas air dan menghabiskannya, Kembung sih. Mulai pengen makan makanan yang padat tapi apa daya belum ada. Berharap dikasih panitia tapi belum sampai kilometernya.

Dalam kepayahan itu saya teringat kekuatan doa. Kalau udah gini aja langsung relijius. Melafalkan ayat alqur’an yang saya hapal. Kebetulan yang saya hapal juga tidak banyak. Tidak lupa untuk minta ke Sang Pencipta untuk diberi sehat sampai garis finish. Jangan sampai kenapa-napa. Lari kan niatnya mau bahagia, bukan sengsara.

Bertemu Pacer = Mimpi Buruk

Saat dilewati pacer 5.00 saya masih santai. Memang bukan target saya finish di bawah 5 jam. Tapi saat gerombolan balon pacer 5.30 lewat saya menjerit. Menjerit dalam hati. Gak terima!

Sedih karena saya merasa tidak mungkin bisa menyusul para pacer. Apalagi kondisi kaki lagi malas diajak lari. Kilometer terberat buat saya ada di antara 25km-30km. Dari data sih memang di sana average pace menurun ke 8.30. Paling jebol. Sudah pualing banyak jalannya.

Ya sedih jangan lama-lama. Biar tersalip yang penting harus bisa lari lagi. Kalau jalan terus kapan finishnya?

Kebetulan medannya lagi lumayan bersahabat. Menjelang KM 30 semangat kembali bangkit. Kata orang-orang di sini adalah titik hitam berlari FM. Untungnya saya masih gak di ambang hitam-hitam banget. Masih bisa lari tanpa kerasa kram. Ini sih harapan saya banget.

Matahari mulai naik dan mulai memasang buff untuk menutupi kepala dari sinar matahari. Dalam pejalanan bertemu Ko Willy  dari RFI dan Pacer 5.30. Sempoat-sempatnya mengambil jeda untuk sekadar foto bersama di gate 30km. Tapi sayangnya gak dari hape saya jadi gak tau itu di mana fotonya!

Dalam kesempatan ini juga saya diam-diam berlari duluan mendahului pacer 5.30. Akhirnya…

Bertemu #kawanlari

Setelah berhasil balas dendam ke pacer 5.30 yang sebelumnya melewati, ternyata masih banyak yang bikin up and down. Pas ketemu kurma saya senangnya luar biasa. Tidak ragu-ragu, saya ambil dua kurma! Pokoknya apa yang bisa dimakan akan saya makan. Setiap makanan berkontribusi menyumbang tenaga untuk sampai garis finish. Ini penting!

Saat mendapat minuman ya saya minum sepuasnya. Saat mendapat sponge basah saya ambil buat mendinginkan badan. Karena sponge-nya sudah tidak dingin jadi sebenarnya fungsinya cuma buat basuh badan aja. Positifnya badan jadi lebih segar. Minusnya adalah.. sepatu saya jadi basah.

Jadi saya berlari dengan kondisi telapak kaki basah. Nyaman? Tentu saja tidak. Rasanya mau buka sepatu. Tapi saat berlari sudah di atas 30km batas nyaman dan tidak nyaman sudah setipis kulit Syahrini. Lari sih lanjut terus sampai gak kuat lari lagi. Karena garis finish masih lama.

Saya sudah dilewati beberapa teman, saya juga sudah melewati banyak orang yang sebelumnya menyusul. Dari badan yang sudah habis tenaga sampai tiba-tiba ada tenaga lagi. Dari redup, hingga akhirnya terang, sampai tiba-tiba hujan. Dari disusul pacer, sampai akhirnya balas menyusul, dia pun kembali melewati, saya pun akhirnya menyusul lagi.

Berlari FM ini memang benar-benar seperti dalam perjalanan panjang. Jadi teringat kata supir taksi yang mengantarkan saya ke tempat belanja di sana yang bilang untuk jarak 42km nyetir pakai mobil aja udah bikin pegel apalagi harus lari. Iya juga sih.

Tapi di KM 36 ini saya berusaha bertahan dengan sisa-sisa tenaga. Sudah mulai meregangkan kaki dengan kembali banyak berjalan. Kemudian bertemu kembali dengan kawan lari dari RFI dan akhirnya saling berbagi kesengsaraan. Tenyata yang dibutuhkan saat ini adalah TEMAN. Lari juga udah gak kuat. Saat turunan saling menyemangati untuk berlari, saat tanjakan dua-duanya gak ada yang memberi semangat. Jalan adalah cara terbaik.

Mengumpat. 3 kilo terakhir saat yang nyaman untuk mengumpat.

“Om, kita udah di km 40!”

“Bodo amat! Di jam gue udah 41!”

“Di jam aku juga sih. Bangke ya!”

Segala macam sumpah serapah yang gak mungkin saya tulis di sini keluar saat itu. Enak juga sesekali mengumpat. Kalau di awal-awal masih penuh kesabaran, di 3 kilometer terakhir tingkat emosi sedang memuncak. Bagus sih buat ngilangin stres.

Last Push!

“Fit, di depan garis finish. Segini mah gue berani deh dilariin” Kata Om Gunawan yang menjadi teman seperjalanan di 5 kilometer terakhir ini. Tapi kok jalannya menanjak. Jujur, saya sih gak bernai lari di tanjakan. Gak mampu.

Pas mendekat ternyata balon yang dianggap garis finish itu hanylah petunjuk bahwa garus finish tinggal 500m lagi. Antara mau ngomel sama mau ketawa. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sampai akhirnya kamu melihat finish line:

“Om, yuk kita last push!”

Saya berlari dengan sisa-sia tenaga. Kebetulan dikasih turunan, jadi seperti dikasih bonus di akhir perjalanan. Saat gate semakin dekat, saya melihat waktu di gate berapa detik lagi tepat pukul 9.30. Ini berarti waktu saya untuk mencapai target sub 5.30 akan segera berakhir. Saking paniknya saya sampai teriak. Akhirnya terlewat dua detik. Hiks.

Tapi waktu berdasarkan chip time masih kurang 2,5 menit. Akhirnya berhasil menyelesaikan FM pertama dengan waktu official 5.27.24. Hamdallah..

Ya itulah kisah yang lumayan bikin deg-deg-ser di race FM pertama. Lumayan menyenangkan sih. Bikin penasaran mau nyoba lagi. Tapi…

gak sekarang!

Semangat Ikut Lomba Masak dari Alfamart demi ke Belanda

20170317_081020-01

“Jalan kaki ke Alfamart kayanya lebih gampang daripada jalan ke dapur.“

Yang merasa begini juga ayo kita rapatkan barisan! Masak itu buat saya menghabiskan banyak waktu, modal, dan tenaga. Belum tentu enak juga. Ya ini mah alasan klasik ibu-ibu milenial yang emang belum nemu ‘mood’ masak aja.

Tapi.. jujur deh saya justru lagi getol-getolnya ngumpulin stamp Alfamart buat dapet cookware. Kalau berhasil dapat 30 stamp bisa dapet 1 fry pan RoyalVKB Cookware yang 24cm. Tapi ya gara-gara fry pan premium ini saya jadi agak rajinan ke dapur. Ternyata peralatan masak itu penting banget ya buat naikin mood masak. Makin keren alat masaknya  makin semangat. Apalagi kalau buat diunggah di media sosial. Pantesan dulu banyak ibu-ibu semangat banget sama panci sampai ada yang namanya kredit panci. Eh, masih ada gak sih?

2

Syarat dapat stamp ini dengan pembelian produk sponsor senilai 30 ribu berlaku sampai 30 Mei 2017. Kebetulan diapernya Shayna masih jadi produk sponsor jadi makin semangat ngumpulinnya. Malahan ada yang sampai tiga kali nukerin stamp. Jadi merasa kompetitip kan!

DARI MASAK SAMPAI KE BELANDA

Di suatu senin yang cerah dan cenderung panas ibu-ibu yang optimis ini jalan ke Alfamart untuk menukar stamp, sekalian beli susu Shayna yang habis. Tiba-tiba mbak kasir dengan rambut panjang dikuncir kuda memberi info dari syurga. Dengan belanja produk sponsor dari RoyalVKB Cookware senilai 30 ribu kita bisa ikut lomba masak yang grandprize-nya ke Belanda.

BELANDA!

Buat saya yang belum pernah jalan-jalan yang agak jauhan, apalagi ke Eropa kayanya langsung mendadak pengen bikin banyak resep biar menang. Yang tadinya malas masak malah jadi mendadak produktif. Pokonya aku mah ikhlas kalau disuruh ke Belanda…

Mulai cari-cari ide dari yang simple-simpel karena saya gak sanggup juga kalau mendadak bikin resep kaya Ibu Sisca Soewitomo. Resep pertama saya adalah pancake. Gak terlalu ribet tapi juga enak. Yang jelas pasti kemakan sama anak-anak. Buat apa bikin masakan yang susah tapi ternyata gak kemakan anak-anak. Resepnya disimpen dulu di buku biar gak dicontek orang. (Dih, siapa juga yang mau niru dari yang baru belajar masak!)

Semoga bisa menang ya. Kalau menang kan lumayan bisa diundang tante Farah Quin buat masak di depan dia. Kesempatan ini untuk 10 konsumen yang terpilih. Nanti kita diundang juri buat masak di depan mereka. Ih, kan seru! (padahal dengkul gemeteran)

1

Ada tiga pemenang yang dipilih untuk mendapat hadiah. Hadiah untuk pemenang pertama tentu saja ke Belanda, pemenang kedua mendapat sepeda motor matic, pemenang ketiga mendapat uang tunai. Semua pemenang mendapat 1 set cooking ware.

Mekanismenya begini:

  1. Belanja produk sponsor dari RoyalVKB Cookware senilai 30.000 dan catat nomor struk belanjanya.
  2. Buat resep makanan yang menarik dan tentu saja enak. Jangan lupa difoto ya!
  3. Setelah difoto kamu unggah ke media sosial (Twitter, Instagram, Facebook) dan tulis resepnya pada caption dengan tagar #ResepBundaAlfamart. Jangan lupa sertakan nomor struk belanjanya.
  4. Kalau masuk 10 besar yang terpilih nanti langsung dites masak resep yang kamu buat langsung di depan mereka. Nanti dipilih pemenangnya dari urutan 1 sampai 10. Iya, semua dapet hadiah!
  5. Posting resep sebanyak-banyaknya karena buat yang mengirim terbanyak dapat a-voucher belanja di Alfamart senilai 500.000

Buat ikutan lomba ini jangan coba-coba nyontek punya orang  karena kalau nanti disuruh masak depan jurinya dan ternyata beda bakalan malu. Udah malu, gak bisa menang pula. Jadi usahakan memang original milik sendiri. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Buat yang gak dapat 3 besar tetap dapat hadiah berupa voucher belaja Alfamart dengan nilai terbesar hingga 5.000.000.  Tapi hati-hati penipuan ya! Buat lebih jelasnya buka aja www.alfamartku.com.

Menyambut 2017 dengan Lari-Larian sampai Nangis

“Tahun baru ke mana?” sepertinya menjadi trending topic menjelang dan sesudah tahun baru. Dan jawaban “Gak kemana-mana” adalah jawaban template saya buat pertanyaan tadi.

Kok, kasian ya?

Tapi justru saya happy banget bisa tahun baruan di rumah (meskipun ujung-ujungnya di hotel juga buat numpang tidur) karena gak harus macet-macetan dan bangun tidur dengan mata yang masih segar-segarnya. Karena saya mau menyambut tahun baru dengan…

Lari.

Oke maaf kalau agak basi. Tanggl 10 kok bahas tahun baru. Maunya sih pas tanggal satu teng langsung nulis di blog tapi apa daya jadwal yang masih dalam rangka ngejar setoran. Oke saya mulai ya ceritanya…

Lari di pagi pertama 2017

Langit masih sedikit bersemu tapi saya dan dua sepatu New Balance 1260v5 berwarna biru sudah berdiri di Stadion Madya Senayan. Maaf harus menyebut nama sepatu karena masih norak-noraknya pakai sepatu baru. Ya ujung-ujungnya cuma dipake buat latian sih ya.. (maaf ternyata sepatu ini gak terlalu cocok banget sama kaki saya)

Event lari terakhir itu 4 Desember 2016 pas Lombok Marathon dan habis itu udah sibuk ngurusin anak yang lagi dalam masa ujian akhir semester ditambah jadwal ngajar yoga yang lagi kejar tayang. Huft banget deh..

Jadi ya memang lama banget gak lari. Ditambah kaki juga masih agak sakit. Dua minggu menjelang race pertama di 2017 langsung ngebut latian. Ternyata betis kanan masih sakit banget ditambah lama banget jadi pas mulai lari lagi kaya yang baru pertama kali lari. Payah banget pokonya. Mana tensi lagi drop banget jadi lagi sering keliyengan. Malahan beberapa kali ngeblank pas lagi ngajar yoga. Gelap dalam beberapa detik.

Di saat badan yang lagi payah banget malah bikin resolusi yang aneh-aneh. Padahal biasanya gak pake resolusi-resolusian. Bener-bener deh!

Pengen punya studio yoga sendiri, pengen ambil spesialisasi baru untuk yoga, pengen nyobain full marathon. Yang terakhir ini agak ngilu sih bayanginnya. Seeenggaknya buat saya yang masih newbie diperlarian.

6.30 di pagi pertama 2017 dengan banyak target di kepala. Tahun ini mau nyobain full marathon. Muluk-muluk gak sih?

Yaudah gak usah jauh-jauh deh. Seminggu lagi mau ikut race 2017, tapi fisik kayanya masih belum siap. Liat jam di tangan baru lari 3 kilometer dan kaki masih lari dengan pincang. Sampai akhirnya berasa ada burung yang muter-muter di kepala trus pusing sendiri.

“Kok gak bisa lari kaya kemarin!”

“Kok masih sakit!”

“Kok jadi pincang!”

“Kok sekarang lambat!”

“Kok payah banget!”

Dan banyak kok kok yang lain. Jadi kesel. Kecewa. Rasa ingin itu memang sangat pandai membuat kita menjadi orang yang mudah kecewa. Padahal ya masih beruntung masih punya kaki, masih bisa berlari, masih dikasih sehat. Manusia.

Setelah lari 3 kilo tiba-tiba saya menghentikan langkah untuk berlari dan tak terasa air mata mengalir ke pipi. Race udah mau seminggu, beberapa lagi mau FM, tapi sekarang lari aja belum bener. Kesel sama kaki. Kesel sama badan. Kesel sama diri sendiri.

Wah makin gak bener nih!

Oke.. ini ada yang salah. Target juga harus liat kondisi fisik sendiri. Tarik napas yang dalam..

Inhale..

Exhale..

Saat itu lapangan masih sepi. Suara detak jantuk dan tarikan napas terdengar begitu jelas. Suara-suara di pikiran pun terasa nyaring. Pasti sepi lah! Siapa yang mau berlari sepagi itu di saat malamnya baru merayakan tahun baru?

Ya ada sih. Saya.

Mungkin memang saya terlalu banyak ingin, sampai lupa untuk bahagia. Lari dengan bahagia tanpa ada beban. Biarlah kaki saya yang memiliki beban, tapi tidak di pikiran. Saya mulai santai untuk meneguk air yang tersimpan di botol dan menikmati roti yang sengaja dibawa untuk sarapan.

Setelah merasa lebih enakan, saya mulai berlari lagi. Tanpa mikir target waktu dan lainnya. Hanya lari. Gak sangka bisa lari lebih cepat dari sebelumnya. Nikmati larinya dan jangan menambah beban apapun dengan harus ini itu. Lari karena saya suka lari. Titik.

Semakin siang ternyata banyak teman juga yang merayakan pagi pertamanya dengan berlari. Makin hepi deh!

Thanks!

Race pertama 2017

Nah kaann.. akhirnya masuk ke tanggal yang ditakutin dari kemarin. Nyaris mikir batal ikut aja tapi ya kan sayang udah bayar. Paling penting sih nambah medali hehe..

Halim Runaway away 10K dan Sky Run 5K adalah race pertama di 2017. Bedanya hanya sehari. Tanggal 7 Januari dan tanggal 8 Januari. Halim race 10K kayanya terberat yang saya alami. Saat berlari badan terasa dingin dan mulai agak oleng. Untung banget pas lagi lari ditemenin Ko Willy karena lihat saya berhenti. Saya ngerasa keliyengan dan pandangan mulai burem.

“Jangan merem fit ! Liatnya jangan ke bawah tapi lurus ke depan!”

Kata Ko Willy saat saya merasa mulai ilang-ilangan. Pas ketemu water station langsung minum pocari yang banyak. Alhamdulillah sih akhirnya bisa lanjut sampai finish. Sebenarnya tracknya juga agak naik turun jadi makin menguras tenaga. Ini alaesan juga sih. Kalau latihannya lebih rajij mungkin gak kaya gini juga.

Ya kalau lagi kuat lari ya lari, kalau gak kuat ya jalan. Saya juga teringat saat latihan, terlalu memaksa juga tidak baik.

Medali Halim Runaway 10K yang “imut” banget

Medali Sky Run 5K yang lebih menyenangkan dibanding race sebelumnya

Saya memilih untuk lebih merasakan kondisi tubuh dan tidak terlalu mengejar target waktu. Alhasil 10K saya di halim turun banget waktunya: satu jam 11 menit. (hahaha…)

Ya sudahlah ya. Yang penting bisa finish dan masih bisa lari buat besoknya lagi. Dan nambah stok foto buat instagram pastinya ya…

Besok paginya saya ikut Sky Run (yang nyaris juga saya batalkan). Belajar dari Halim Runaway, saya gak mau ngoyo. Larinya lebih santai. Waktunya juga ya pastinya santai juga. :p

Wajah mengjadapi garis finish di Halim Runaway 2017

Bersama Run For Indonesia yang ikut Halim Runaway

Cewek-Cewek Run For Indonesia di Sky Run 2017

 

Dua race dalam dua hari selesai!

2017 memang banyak target tapi target terbesar kan bisa menjalani hidup dengan bahagia. Ya, toh?

Welcome 2017!