IMG-20180604-WA0030

Cara Jenius Mengatur Keuangan Hanya dari Smartphone

DSC01926-01

Waktu masih kecil saya memiliki 3 buah celengan yang saya buat dari toples bekas permen. Masing-masing saya labeli sesuai dengan tujuan digunakannya. Dari kecil memang sudah diajari untuk menabung. Jika ingin sesuatu berarti saya harus rela menyisihkan uang jajan untuk ditabung. Sampai pada akhirnya saya mengenal bank. Lama-lama saya meninggalkan semua itu dan beralih menyimpan semuanya ke rekening bank. Pertama kali punya buku tabungan rasanya keren. Menabung jadi semakin semangat karena tiap angkanya bertambah langsung senang bukan main.

Tahun semakin berganti dan standar keren bukan hanya dari buku tabungan, tetapi kartu ATM. Merasa keren karena mengambil uang bisa lebih mudah. Apalagi saat punya kartu kredit. Melakukan transaksi tinggal gesek. Kemudahan ini yang membuat saya…

Gak kaya-kaya.

Bagaimana tidak, baru gajian langsung harus bayar banyak tagihan. Belum lagi belanja bulanan yang udah wajib dan gak bisa pakai nego. Untuk bekal anak ke sekolah aja ada budgetnya sendiri. Tapi ada satu racun yang membuat pengeluaran saya jadi berantakan: belanjain hobi.

Semenjak suka lari tiap bulan suka ada aja yang dibeli. Dimulai dari sepatu, baju, dan daftar-daftar race lari yang kecil-kecil menjadi bukit. Kalau event-nya di luar kota harus nambah lagi nih budgetnya. Biaya akomodasi dan uang jajan. Pantes ya gak kaya-kaya.

Kamis kemarin (23/3) di acara Jenius Talk, mas Aakar, financial planner dari Janus mengatakan yang kita butuhkan sebenarnya mengaturnya dari awal biar gak terkena jebakan batman. Dari sudah membuat ‘amplop’ untuk berbagai kebutuhan itu jadi masing-masing pengeluaran ada batasannya.

20170316_132821

Tip Mengatur Keuangan dari Janus Financial Planner di Acara Jenius Talk

Mumpung ada di event Jenius, jadi saya sekalian membuat akun baru untuk lebih tahu tentang produknya. Tentu saja harus mengunduh Jenius Apps terlebih dahulu ke smartphone. Saya kira apps ini sama dengan mobile banking apps, ternyata jauh di atas itu. Kalau mobile banking hanya ada fasilitas mengecek saldo dan mutasi serta transaksi. Jika Jenius kita bisa mengatur keuangan.

Jenius sendiri adalah aplikasi yang dirancang dan dikembangkan untuk membantu masyarakat dalam mengatur keuangan. Dengan Jenius, kamu dapat membuat rekening bank dengan download aplikasi, menabung untuk suatu tujuan, mengirim uang tanpa ribet, serta melakukan transaksi online dengan aman. Pokoknya Jenius ini sangat memudahkan pengaturan keuangan!

MENGANDALKAN TEKNOLOGI UNTUK MENGATUR KEUANGAN

Sebagai generasi (mengaku) milenial apa-apa maunya dimanjakan teknologi. Bahkan sudah malas harus bolak balik ke bank sekadar pembukaan rekening. Jadi kemunculan revolusi digitalisasi di perbankan sangat membantu ibu-ibu yang sok sibuk seperti saya. Pas tahu ada proses pembukaan rekening, mengatur limit kartu, blokir dan membuka blokir kartu, serta manajemen keuangan hanya dari smartphone saya anggap sebagai inovasi yang memang dibutuhkan.

20170324_074058
Mengatur keuangan dan melakukan transaksi dari Jenius Apps di smartphone

Apakah sama dengan mobile banking?

Sama sih. Karena kita bisa melakukan transaksi dan cek saldo hanya dari smartphone. Tapi kalau mobile banking kan tidak mengatur limit pengeluaran. Di dalam Jenius Apps terdapat fitur Dream Saver yang dapat membantu kita mencapai impian yang direncanakan. Misalnya saya ingin pergi ke Korea akhir tahun, saya dapat membuat menabung di alokasi yang sudah saya buat via apps.

Kalau saya kehilangan kartu saat travelling, saya bisa memblokir sendiri kartu secara temporary hanya tinggal klak klik. Kalau memang ternyata hanya lupa naro di koper dan akhirnya ketemu, saya bisa mengaktifkan lagi kartunya. Tapi.. kalau memang ternyata hilang beneran saya bisa memblokirnya secara permanen. Semua hanya dari smartphone. Simpel banget sih.

MEMISAHKAN PENGELUARAN SESUAI KEBUTUHAN DENGAN X-CARD

Permasalahan berikutnya adalah jika hanya memegang satu kartu, saya tetap harus memutar otak untuk membagi-bagi lagi. Tetap saja membutuhkan amplop untuk membagi-bagi setiap post pengeluaran. Amplop untuk belanja bulanan, amplop untuk uang jajan dan bekal anak, amplop untuk belanja pribadi saya (yang kalau udah urusan belanja sepatu lari dan daftar event lari udah jadi satu budget sendiri). Jangan sampai satu amplop menjadi benalu untuk amplop yang lainnya. Tekor-tekor juga.

Kembali ke cerita masa kecil saya yang membuat celengan-celengan sebagai ‘budget’ wishlist yang mau dibeli. Kartu ini seperti celengan-celengan saya itu. Supaya tiap celengan sudah ada tujuannya masing-masing. X-card ini terpisah dari kartu utama. Masing-masing bisa dilabeli sesuai tujuannya. Masing-masing kartu bisa diatur limitnya via smartphone dari Jenius Apps. Menariknya, kartu ini bisa dipindahtangankan ke orang lain.

Saat kita memiliki akun di Jenius maka kita dapat memiliki ada 3 kartu, yaitu m-card, e-card, dan x-card. M-card adalah kartu utama yang kita pegang, sedangkan x-card adalah kartu tambahan yang bisa diberikan ke orang lain dan tetap dalam kendali kita. Berbeda dengan e-card, kartu ini tidak ada kartu fisiknya. Merupakan kartu visual yang dapat digunakan untuk transaksi yang ada fasilitas pembayaran visa dan mastercard.

Nah, balik lagi deh ke masalah membagi pengeluaran dalam ‘amplop-amplop’. Jadi saya membagi pengeluaran dengan menggunakan x-card seperti ini:

Kartu khusus hobi

Saya paling gak bisa dilarang-larang buat gak beli sepatu. Sepatu saya sebenernya gak mahal-mahal banget, tapi lumayan sering. Sepatunya gak jauh-jauh dari sneakers dan sepatu lari. Sampai suami geleng-geleng kalau saya udah skrol-skrol Instagram buat liat-liat sepatu padahal sepatu yang baru belum keluar dari dus. Belum lagi buat daftar-daftar race lari. Pembayaran race kan rata-rata pakai kartu kredit jadi tiap ada info event lari langsung main daftar-daftar aja. Semenjak ada x-Card saya langsung bikin satu kartu khusus hobi dengan memberi limit. Kalau buat hobi limitnya per bulan aja, karena gak mungkin tiap hari juga kan dipakenya.

Kartu untuk belanja harian

Biarpun saya gak suka masak tapi kan di rumah harus ada makanan. Kalau gak beli ya si bibi yang masak. Saya buat satu kartu untuk urusan makanan di rumah. Karena saya kerja jadi kartu ini saya kasih si bibi. Jumlahnya saya atur mingguan, kalau bulanan takutnya nanti dia kebablasan. Sekaligus mengajarkan si bibi untuk mengatur uang belanja juga. Walaupun kartu dipegang dia tapi semua saya yang kontrol. Dari smartphone saya bisa mengatur besar uang belanja mingguannya. Oiya, ini bisa auto transfer, jadi kita gak perlu bolak balik transfer ke kartu tambahan ini.

IMG_20170324_063400
Mengatur pengeluaran berdasakan periode waktu

Kartu untuk entertainment

Ibu-ibu juga butuh hiburan. Apalagi sehari-hari harus mengurus sekolah anak, rumah, ngajar yoga, bikin artikel, dan olahraga. Melipir ke kedai kopi atau nge-wine bareng temen sih boleh lah ya. Hair spa dan luluran buat manja-manjaan di salon saya masukan ke entertainment. Soalnya ini perihal ‘me-time’. Tantangannya kan jangan sampai uang hura-hura melebihi budget. Maka itu saya buat satu kartu untuk menjaga kesehatan jiwa ini. Biar gak terlalu kebablasan, saya buat limitnya secara mingguan. Jadi di tanggal tua bisa tetap senang-senang. Asik kan!

20170316_125435-01

Dengan Jenius, pengaturan keuangan saya jadi lebih tertata dan saya bisa memenuhi kebutuhan pribadi maupun keluarga. Belum lagi bunga menabung di Flevi Saver dan Dream Saver Jenius adalah 5%. Yuk pakai Jenius. Download aplikasinya di sini.

IMG-20180604-WA0030

#DariPadaNunggu Lebih Baik Baca Tips Menunggu Produktif ini!

IMG-20160304-WA0023

Menunggu adalah aktivitas yang kurang menyenangkan untuk kebanyakan orang. Meski Raisa aja pernah bilang “Apalah arti menunggu?” tapi akhirnya dia juga bilang “Pergilah”. Untuk yang kerja di sekitar jalur kebijakan ganjil-genap banyak yang memilih menunggu sampai jam 8 malam untuk pulang.  Tetapi memang kemacetan tetap menghantui para pekerja di sekitar Jakarta setiap harinya saat jam pulang kerja. Rata-rata orang mengggunakan internet untuk aktivitas menunggu, baik menunggu jam ganjil-genap usai atau di dalam kendaraan.

Internet sepertinya merupakan sesuatu yang penting untuk para komuter. Berdasarkan survey dari Opera yang mencakup 9 kota besar di Indonesia, 78% responden merasa menunggu akan lebih baik jika terdapat koneksi internet. Hasil survey ini tidak berlaku hanya di DKI Jakarta karena dilakukan juga di kota besar Indonesia lainnya.

Fakta Pahit Tentang Menunggu di Indonesia

Dengan menunggu maka kita telah membuang waktu berharga, oleh karena itu sebaiknya dapat menggunakan waktu ini dengan efektif dan kalau bisa produktif. Opera sekarang meluncurkan #DariPadaNunggu untuk mendorong masyarakat dapar memaksimalkan waktu saat menunggu. “Waktu adalah aspek kehidupan krusial dan sudah seharusnya dimanfaatkan seefisien mungkin. Ingatlah kita tidak dapat memutarbalikkan waktu barang sedetikpun.” Kata Mas Salman Aristo, sutradara konten video Opera saat di acara Blogger Gathering di Kaffein SCBD pada tanggal 5 Oktober kemarin.

Di situs www.daripadanunggu.com para pengguna bisa bergabung gerakan #DariPadaNunggu dan bergabung dengan video interaktifnya. Terdapat juga video tutorial dari Opera yang akan rilis setiap minggu. Kita juga bisa ikut share tips mengubah aktivitas menunggu menjadi hal yang produktif di media twitter. Gerakkan ini bertujuan untuk menghemat satu juta jam yang biasanya sia-sia karena menunggu.

Mendukung gerakan ini saya juga mau ikutan berbagi tips menunggu agar lebih produktif dengan memanfaatkan internet ah!

1. Buka-buka wikipedia dan e-book biar makin keliatan pintar

Pintar itu bukan hanya tahu hal-hal yang bersifat akamademis, tetapi memahami segala hal. Kita juga jadi punya banyak bahan untuk bisa ngobrol sama gebetan atau (uhuk!) calon client. Bahkan saya juga paling senang ngobrol sama orang yang tahu banyak hal. Bisa dimodusin nanya berbagai hal meskipun bisa kita cari tahu langsung dengan akses internet, kan? Makanya membuka wikipedia atau e-book itu oke kok buat jadi bahan nunggu yang produktif.

Buka wikipedia biar makin pintar. Pintar berhalusinasi.
Buka wikipedia biar makin pintar hmm..

2. Baca berita online biar biar update terus

Ini masih dalam hal aktivitas browsing. saya gak suka-suka banget sama politik terapi sedikit-dikit baca gapapa lah. Biar gak keliatan culun aja pas orang-orang lagi bahas sesuatu terus kita cuma bisa bengong-bengong. Tapi harus pintar dalam memilih portal berita ya. Jangan sampai makan berita hoax.

_20161014_220209
Pilih berita online yang tepat biar gak kena berita hoax.

3. Nge-blog lah!

Menulis itu cara paling asik dalam merefleksikan diri. Memori otak manusia kan terbatas dan setiap hari memuat hal-hal baru. Dengan menulis kita bisa menuangkan hal-hal yang kita anggap penting dengan cara sendiri. Aku kadang kalau mau ingat pengalaman travelling tahun kemarin ya tinggal buka blog aja. Blog juga media yang aku pakai untuk sharing. Kadang suka dapat pertanyaan “Yoga untuk ambeien itu gimana ya, Fit?”. Ya biasanya aku langsung nulis dan ini berguna juga kalau dapat pertanyaan yang sama. Jadi kan gak perlu ngulang-ngulang lagi. Traffic blog meningkat kan itu bonus! :p

4. Update social media dong!

Kebanyakan orang menggunakan sosial media sebagai tempat ‘nyampah’. Tapi kan sampah juga ada klasifikasinya, sampai yang berguna atau sampah yang emang cocoknya ya dibakar aja. Sejujurnya dalam hampir 2 tahun ini saya menggunakan social media sebagai media personal branding. Saya menggunakan social media twitter, facebook, Instagram, dan steller. Ada juga vidio dan youtube serta G+, tetapi yang aktif digunakan adalah 4 yang disebut di awal.

 

5. Buka youtube buat belajar

Youtube atau platform media sejenis menjadi andalan utama generasi milenia untuk mencari hiburan. Kita bisa melihat dan mendengar single terbaru musisi kesayangan, menonton serial drama, sampai melihat video tutorial. Biar makin produktif kita juga bisa menggunakan media ini jadi bahan belajar. Saya juga suka banget liat video-video yoga dari youtube. Tinggal disesuaikan sama hobi masing-masing, seperti memasak, dandan, bahkan ya tutorial membuat video. Kali aja kan dari hobi malah bisa menjadi duit.

_20161014_215955
Mencari inpirasi via youtube.

6. Nge-vlog?

Vlog atau video-blogging merupakan aktivitas blogging dengan menggunakan medium video. Nah, ini lagi menjamur banget. Saya agak malu-malu nulisnya karena saya sendiri masih dalam wacana untuk membuat vlog pribadi. Take a picture, editing, and posting!

Ngomongnya sih gampang tapi dalam realisasinya sih lumayan ribet. #DariPadaNunggu mending intip video dari vlogger-vlogger kesayangan sebagai bahan referensi.

Belajar bikin konten produktif dengan foto dan video
Belajar bikin konten produktif dengan foto dan video.

7. Bikin playlist musik sendiri untuk mood booster

Melalui media musik streaming seperti apple music, joox, dan spotify kita juga bisa mendengarkan musik dan bikin playlist sendiri. Mood bagus biasanya bikin produktif juga, kan?

DSC_1752
Mendengarkan musik itu asik.

8. Liat-liat tips #DariPadaNunggu di twitter atau situs www.daripadanunggu.com

Seperti yang sudah disebutkan di awal-awal, ada berbagai macam tips yang bisa jadi bahan referensi di sini.

 

IMG-20180604-WA0030

Smartphone is My Truly Best Friend

photo (5)

Di awali dengan melihat satu foto yang diambil saat sesi yoga dan terlihat di dalam foto itu saya sedang mengajar dengan smartphone dalam genggaman. Seperti biasa, saya pasti akan unggah ke akun instagram saya yaitu fitritash, dan memberi menuliskan “smartphone is my truly best friend”.

Saya akui ketika dalam kelas yoga pasti smartphone saya letakkan pada samping matras. Kira-kira mengapa ya? Sambil mengingat-ingat lagi mengapa saya seakan tidak bisa terlepas dari benda yang satu itu, jadi saya menguraikannya satu per satu:

1. Melihat Waktu

Ini yang paling penting. Saya harus tahu jam berapa saya mulai dan pada jam berapa harus selesai. Dalam satu sesi yoga 90 menit, saya akan memecahnya menjadi:

10 menit untuk sesi “opening” – 15 menit untuk sesi “warming up asanas” – 30 menit “main asanas” – 15 menit untuk “cooling down asanas” – 20 menit untuk “Pranayama dan Relaxation”

photo (69)

Walaupun ini tidak menjadi patokan utama, tapi setidaknya durasi sesi yoga tidak melenceng terlalu jauh dari apa yang sudah direncanakan. Bisa saja lebih atau kurang lima hingga sepuluh menit, asal jangan sampai lebih sampai lima jam.

2. Melihat yoga sequence yang ditulis pada “Note”

Sequence adalah hal yang penting sebelum melakukan yoga. Ibaratnya sarapan, kita harus sudah mempersiapkan apa yang kita makan dan nilai gizi apa yang ingin dipenuhi saat itu. Walaupun saya telah menyusunnya dalam Microsoft Excel  untuk yoga sequence versi lengkap, tetapi saya tulis lagi point-pointnya di “note” yang ada pada smartphone. Jaga-jaga kalau lupa saat di kelas. Bisa disebut “contekan”.

photo (68)

3. Mendengar musik instrument untuk yoga

Saat melakukan yoga terkadang kita membutuhkan suara-suara yang membuat pikiran menjadi tenang dan memberi kenyamanan. Jika pada alam bebas orang bisa langsung mendengar suara ombak atau kicauan burung, jika dalam ruang tertutup kita harus menciptakan suasana-suasana itu. Untuk ini sesi yoga sering diiringi musik-musik lembut. Jika dahulu orang menggunakan suara dari kaset atau CD, sekarang kita bisa tinggal klik di app yang bisa di unduh di smartphone.

photo (64)

4. Menggunakan aplikasi untuk yoga

Biasanya ini dilakukan untuk yoga sendiri di rumah. Saya sendiri jarang menggunakannya karena lebih suka membuat sequence sendiri.  Tapi ini mungkin bisa menjadi acuan mengapa smartphone dibutuhkan saat yoga? Karena mendukung sekali untuk latihan yoga.
photo (66)

5. Foto

Ada istilah “Apalah hidup ini tanpa selfie”. Saya termasuk yang suka mengabadikan moment sehari-hari. Fitur “camera” pada smartphone mambantu saya  memenuhi kenarsisan yang mungkin sudah akut. Sebelum mulai sesi yoga foto, sesudah sesi yoga pun foto.

photo (8)

photo (9)

Disclaimer: Jika sedang mengajar tidak akan senarsis ini kok. Foto sendiri biasanya dilakukan saat tidak dalam kelas mengajar.

6. Foto (2)

Saat mengajar terkadang saya meng-capture pesertabyang sedang melakukan asanas. Bisa untuk kebutuhan upload di sosial media atau untuk dokumentasi sendiri. Biasanya peserta pun senang melihat dirinya difoto saat yoga. Nah, untuk itu smartphone harus selalu di dekat saya.

photo (10)

7. Posting di Sosial Media

Apalah gunanya selfie jika tidak di-share. Setelah foto, tidak lupa diposting di path, instagram, twitter. Tentunya dengan tujuan mendapat “like” atau “love”. Namanya juga hidupndi era digital. Tapi ini hal positif kok. Beberapa teman saya akhirnya pada tertarik ikut yoga karena postingan-postingan saya ini.

photo (70)

Nah, smartphone benar-benar penting kan?