Processed with VSCO with  preset

Ucapan Maaf Via Broadcast, Masih Jadi Masalah?

_20160706_042129-01

Di era digital ini banyak dari kita yang merindukan ucapan seperti zaman kartu ucapan secara fisik masih popular. Saya juga.

Tapi apakah kita yang merindukan ini masih mengirimkan kartu ucapan via pos? Manusia memang banyak maunya, tetapi sering tidak seimbang dengan usahanya. Mungkin dari kita sudah disibukkan bekerja 8 jam sehari (dan bisa juga lebih), belum lagi waktu bersama keluarga dan teman-teman yang hanya mengais sisanya. Mungkin inilah teknologi diciptakan. Untuk mempermudah hidup.

Setelah keberadaan instant messenger dan social media banyak yang memanfaatkan fitur broadcast untuk mengucapkan maaf. Baik secara tulus atau sekadar formalitas. Tapi rupanya banyak yang misuh-misuh dikirim pesan dengan cara ini. Alasannya karena dianggap tidak tulus. Lalu dari mana kita tahu hati seseorang tulus atau tidak?

Saya sudah lama bukan penganut broadcast messenger. Ya, diakui ini berakhir semenjak banyak yang mengeluh via sosmed. Tapi masih dengan senang hati membalas pesan ucapan maaf satu per satu tanpa memilah bagaimana cara mengirimnya. Pemikiran saya cukup sederhana. Di hari lebaran kita semua berkumpul dengan keluarga. Bahkan mungkin ada yang memang bertemunya seahun sekali karena tinggal di tempat yang berjauhan. Saya sendiri bertemu nenek saya hanya setahun sekali, kecuali ada acara khusus.

Namanya juga kumpulnya jarang-jarang, kita semua saling bertukar cerita atau bermain dengan anak dan keponakan. Belum lagi harus ziarah ke makam dan silaturahmi ke saudara dan kerabat. Untuk yang sudah punya anak, tugas bertambah karena tidak ada helper yang biasanya meringankan pekerjaaan. Lalu kapan waktu untuk memegang smartphone untuk mengucapkan maaf keada kerabat?

Berapa jumlah kenalan di contact list? Ada saudara, teman sekolah, teman kerja, teman main, dan teman digital. Beruntung jika kita masih punya waktu untuk mengucapkan satu per satu pesan ucapan maaf. Karena kadangkalau  dinanti-nanti akhirnya moment-nya terlewat dan lupa. Bagaimana jika tidak sempat?

Kita tidak pernah tahu ketulusan hati seseorang. Silakan memilih cara mengucapkan maaf yang menurut kita baik dan disukai tanpa mudah berburuk sangka terhadap orang lain. Ini adalah hari yang suci dan semoga hati kita semua juga kembali suci.

Saya Fitri Tasfiah mengucapkan minal aidin wal faidziin, mohon maaf lahir dan batin. Damai di hati, damai untuk semesta.

Processed with VSCO with  preset

#CeritaSore: Sore, Rindu, dan Taman

Sore. Ada yang menganggapnya sebagai waktu melepas lelah. Ada juga yang masih sibuk mengejar deadline agar bisa pulang tidak terlalu larut. Sebagian dijadikan waktu rehat sejenak untuk lanjut ke tumpukan pekerjaan. Tapi untuk saya, sore saat yang asik untuk kumpul bersama teman.

Bicara tentang sore, apa yang pertama terbayang? Jika saya langsung terbayang pada pisang goreng dan kopi. Bagi saya sore itu tentang kebiasaan atau hal-hal yang dirindukan. Dan kita rindu pada hal-hal yang sudah menjadi biasa, bukan?

Sore kemarin bersama Om ded, Goenrock, Shinyo, dan Nino bukan hal yang biasa saya lakukan, juga bukan hal yang saya rindukan, tapi hal yang saya inginkan. Sebelumnya punya angan-angan untuk membuat video yoga. Tidak muluk-muluk, saya beberapa menit saja. Dari awal kumpul di Yesteday Lounge untuk ngobrol santai dan menikmati pisang goreng, kami bergeser ke Taman Ayodya.

Taman Ayodya terletak di tengah kota, yaitu jalan Barito, Jakarta Selatan.  Sore itu tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang yang sedang menikmati hari di bawah langit yang sudah teduh. Hanya duduk dan saling bercerita dengan pasangan, ada juga yang mengajak anak untuk bermain. Di antara susana yang begitu santai, kami datang tanpa menyempatkan untuk duduk. Sibuk untuk mencari spot yang bagus untuk pegambilan gambar. Ketika itu yang kami kejar adalah waktu. Waktu yang menentukan matahari. Jika sudah gelap, tentu rencana sudah beda lagi.

Saya menikmati sore dengan stretching ringan, teman-teman yang lainnya mengambil gambar. Suasanya rileks, bisa ngobrol dan tertawa. Sungguh sangat sore sekali! Sayangnya kurang secangkir kopi dan pisang goreng. Bicara tentang sore, ada yang perlu di tambahan: Moment untuk dijadikan kerinduan berikutnya.

Processed with VSCO with  preset

Dibalik Wawancanda #brikpiknik

“Brikpiknik itu apa sih?”

Pertanyaan yang pertama saya dapatkan ketika menjadi salah satu mimin @brikpiknik. Waktu itu follower di @brikpiknik belum mencapai 100. Miminnya ada tiga, yaitu Deddy Avianto (Kepala sekolah), Abenk (Sebagai Mince), dan saya sendiri (Sebagai Minah).  Pertanyaan itu tidak langsung dijawab, tapi mengajak para penggiat sosial media untuk menyimak sendiri linimasa @brikpiknik. Deddy Avianto, atau akrab disapa “Omded” membuat sesi wawancanda dengan para peserta #brikpiknik yang sudah terpilih untuk meramaikan linimasa pra piknik. Selain itu supaya para peserta yang random bisa sekalian saling berkenalan. Setiap hari ada dua peserta yang menjadi mengisi wawancanda, dan diramaikan oleh peserta yang lain. Sesi terakhir baru Omded #brikpiknik dan Hera Laxmi Devi atau akrab disapa dengan Mbak Devi (Division Head of Digital Marketing PT Indosat Tbk) yang memecah rasa penasaran penggiat sosmed tentang #brikpiknik.

27dade0d96b8c365151051a627e30b79

Dinamakan wawancanda karena selalu ada canda dalam wawancara. Pada akhirnya ini menjadi ajang seru-seruan para peserta untuk saling berinteraksi, walaupun mungkin sebenarnya belum pernah ketemu bahkan belum saling mengenal. Wawancanda juga dibuat agar saat piknik terselenggara sudah tidak ada kekakuan lagi. Setelah wawancanda selalu ada kuis yang berkaitan dengan wawancanda. Ada voucher @indosatmania senilai 50.000 rupiah untuk 5 pemenang yang terpilih setiap harinya. Buat para kuis hunter, mereka pasti ready banget nih!

Pada awal-awal wawancanda mungkin follower belum terlalu paham tentang #brikpiknik. Tapi sudah ada bayangan jika #brikpiknik itu adalah kegiatan piknik karena topik wawancanda adalah persiapan peserta untuk piknik. Sampai pada sesi wawancanda dengan Omded dan Mbak Devi akhirnya makin terbuka dengan jelas apa itu #brikpiknik.

Jadi #Brikpiknik itu adalah kegiatan jalan-jalan yang juga sekaligus mengajak peserta untuk membuat konten kreatif yang disponsori @indosatmania. Oleh itu pesertanya terdiri dari Content Produser (Photografer, Videografer, Blogger) dan Influencer. Di sini juga pasti ada “Cah ayu”-nya yang membuat brikpiknik menjadi kemasan yang cantik. Setiap peserta dibekali minifig/brik untuk dikreasikan sebebas mungkin oleh peserta. Namanya juga “brikpiknik”, jadi seakan-akan brik yang sedang jalan-jalan. Brik ini juga menginterprestasikan setiap peserta.

eff09e165323cb2519553abd946714c0 (1)

Persiapan Wawancanda

Untuk memasangkan peserta di topik wawancanda sudah keahlian Omded. Dilihat jumlah impression yang tercapai sih Omded ini kayanya paling jago “jodoh-jodohin” peserta. Traffic-nya pun sesuai yang direncanakan. Tinggal bagaimana kerja keras mimin lainnya untuk menemukan jadwal yang tepat. Ada yang bisanya siang, ada juga yang bisanya malam. Namanya juga pesertanya random. Tapi kan harus barengan!

Di sini saya appreciate Abenk alias Mince yang dengan giat japri peserta satu per satu. Walaupun sudah dapat jadwal peserta, tapi para mimin tetap harus rajin mengingatkan lagi. Jadi, maapin ya kalau para mimin ini bawel japri kalian. Kitanya juga kan dibawelin Omded hehe..  (ups!)

Sebelum wawancanda dimulai biasanya kita “ingetin” lagi via whatsapp. Kalau belum centang biru biasanya mulai panik. Jalan yang harus ditempuh adalah langsung telepon. Nah, pernah pas ditelepon masih gak diangkat. Makin panik kan?

Beberapa menit sebelum wawancanda dimulai akhirnya yang bersangkutan balas whatsapp. Ternyata dia baru bangun sodara-sodara..

Bagaimana dengan draft pertanyaan?

Mince dan Minah sudah di-brief Omded tentang pertanyaan-pertanyaan untuk sesi wawancanda. Tapi tidak menjadi patokan baku. Ada improvisasi dari para miminnya. Biasanya kita juga mencari tahu dulu background dari peserta. Harus kepo dulu dengan googling sana sini untuk mendapat profil peserta. Bahkan Scrolling TL akun sosmednya. Walaupun aslinya belum kenal tapi harus sudah “sok kenal” dengan para peserta yang mau diwawancanda. Alhasil seperti yang sudah kalian lihat di TL. Lalu apakah semua berjalan sesuai draft?

Simak sendiri deh 😀

Di balik Wawancanda Tayang

Mungkin yang terlihat di TL adalah para mimin dan para peserta sedang duduk santai bermain henpon dengan menyeruput segelas es teh manis. Aslinya adalah kita harus pandai mengatur tangan bagaimana bisa tetap beraktivitas dan bisa juga tetap bermain hape. Jika sesi wawancanda pada jam makan siang mungkin tidak terlalu sulit karena bisa sambil duduk tenang ngetwit sambil menikmati makanan, tapi lumayan sulit jika berlangsung malam.

Belum tentu pada jam tersebut peserta sudah duduk santai di rumah. Ada yang diburu waktu mau menonton film di bioskop. Jadi pas lagi wawancanda dia dan mimin saling kejar-kejaran supaya wawancanda bisa selesai sebelum film dimulai. Sering juga saat wawancanda sebenarnya peserta sedang dalam perjalanan pulang. Misalnya dalam satu pertanyaan bisa lama menunggu jawaban. Mimin biasanya sudah mulai cerewet di whatsapp karena mengingat durasi.

“Kak, jawab pertanyaan yang ini kak”

“Iya maaf lama. Aku sambil nyetir”

Duaaar!

Itu hanya sebagian contohnya saja. Banyak yang lebih random. Lalu bagaimana dengan para mimin?

Sebelum dimulai biasanya Mince dan Minah sudah “lempar-lemparan” siapa yang mau menjadi interviewer utamanya. Kalau salah satunya lagi sibuk artinya yang satu lagi harus bisa meng-cover keseluruhan wawancanda. Dari mulai sesi wawancanda hingga sesi kuis. Misalnya Mince harus meeting, berarti Minah harus bisa pegang kendali semuanya. Dari mulai memberi pertanyaan, menyauti, retweet-in, dan memberi kuis. Sebaliknya pun begitu. Kalau Minah sedang mengajar, biasanya Mince yang memegang kendali wawancanda. Walaupun begitu pernah juga harusnya bagian Minah tapi Mince harus turun tangan karena pas jamnya sudah mulai tapi Minahnya masih belum lempar pertanyaan ke TL. Minahnya ngapain?

Minahnya lagi sibuk mencari spot asik untuk bisa duduk wawancanda sambil mengasuh anak. Iya, saya memang sedang berada di mall untuk mengasuh anak sendirian. Karena gak mungkin dorong stroller sambil ngetweet (bahaya, kan?) jadi buru-buru mencari coffee shop yang sinyalnya bagus.  Pas sudah kondusif baru melanjutkan yang sudah dimulai Mince. Apakah sampai di situ sudah aman? Ternyata coffee shop-nya bersebrangan sama tempat mainan anak. Kalian pasti bisa mengira-ngira kan apa yang terjadi? Begitulah..

Begitu pun Mince, pernah tiba-tiba minta Minah lanjutin wawancanda. Ternyata selama sesi wawancanda Mince sambil gendong anaknya yang masih bayi. Ya namanya juga pulang kerja dan kangen anak. Kemudian anaknya nangis pas Mince sedang sibuk wawancanda. Nah, repot kan?

Jadi syarat utama jadi mimin wawancanda adalah: multi-tasking!

Kelas Baru, Mimin Baru

Dengan bertambahnya kelas, bertambahnya lagi peserta yang diwawancanda. Kelas A pun masih dilibatkan untuk meramaikan wawancanda. Tanpa diminta juga pasti mereka rusuhin sih. Banyak yang susah move on dari #brikpiknik. Mimin pun makin kerja keras untuk menyatukan jadwal semuanya.  Belum lagi arus TL semakin ramai dan jempol pun harus semakin gesit.

Di tengah kesibukan itu Omded tiba-tiba memasukkan dua nama sebagai mimin baru, yaitu Paw dan Debby. Untuk kelas B ada penambahan wawancanda offline, dimana Paw sebagai videografer dan debby sebagai host. Mereka memang paketan cocok sih ya. Selaij itu mereka juga membantu wawancanda online-nya. Duh, makasih banyak jadi Minah dan Mince benar-benar terbantukan.

Ada satu hari di mana jam wawancanda tidak cocok dengan jadwal miminnya (Mimin juga boleh sibuk kan? Masa peserta aja? :p). Dan Debby alias Neng Min yang take over wawancanda. Pasti makin bikin rame dong, terutama yang cowok-cowok. Semua tau lah siapa itu Debby Permata.

17e9509b5d5b2a5b7b7384ac76f68534

Ternyata kejutan bukan hanya sampai di situ. Ada Aam atau Enthong yang masuk ke dalam barisan mimin. Biar wawancanda offline semakin seru!

ae92b8e5ccfb7d37e0fa1a0863815e14 (1)

IMG_9206

 

Processed with VSCO with  preset

Mengunjungi Alam untuk Menjadi Manusia

IMG_8499

Manusia digerakkan oleh rutinitas setiap harinya. Karyawan bekerja 8 jam sehari untuk memenuhi kewajibannya kepada perusahaan, belum lagi ditambah jam lembur. Ibu rumah tangga disibukkan dengan kegiatan hariannya dalam mengurus keluarga, belanja, membenahi rumah, dan ke minimarket terdekat sekadar membeli susu atau diaper untuk anaknya.

Apa yang tersimpan dalam memori adalah hasil dari susunan yang kita bentuk. Untuk menjadi manusia saya memilih sebuah keseimbangan. Tidak ingin sepenuhnya hitam dan tidak ingin sepenuhnya putih. Lalu apakah harus menjadi abu-abu?

Saya juga tidak menyukai abu-abu. Sesuatu yang samar dan tidak mampu memberi statement yang kuat. Hitam dan putih dapat saling beriringan tanpa harus menjadi abu-abu. Saya mengisi kegiatan dengan menjalani peran yang sudah diciptakan dan saya ciptakan.  Menjadi orangtua untuk anak-anak, seorang istri untuk suami, seorang anak untuk orangtua, seorang teman untuk teman-teman, dan seorang pekerja. Tetapi bukan hal itu saja yang saya harapkan tersimpan dalam memori. Saya juga ingin mengingat kenangan dengan hal-hal yang indah. Keindahan membuat saya lebih ingat bersyukur. Maka sebuah kesempatan untuk bisa mengunjungi alam adalah salah satu hal terbaik yang saya harap dapat kekal di memori sehingga dapat diceritakan lagi kemudian.

FullSizeRender (1)

Sempat membaca di beberapa artikel bahwa traveling adalah metode yang baik untuk mereduksi stress. Karena saat travelling kita “memberi makan” diri sendiri dengan melupakan sejenak rutinitas. Menikmati udara segar, menikmati sinar matahari pagi tanpa dipenuhi dengan kemacetan dan polusi udara, dan melakukan apa yang kita suka. Untuk itu saya memilih destinasi liburan ke alam. Gunung dan pantai tidak pernah gagal dalam memanjakan mata. Keindahan banyak kita dapatkan di manapun, akan tetapi keindahan yang alami terkadang memang harus kita sendiri yang mencari, dan mengejarnya. Yang terpenting dalam sebuah perjalanan adalah memberi kesempatan pada diri sendiri untuk memandang hidup ini lebih luas lagi, dan memahami bahwa di luar lingkaran kehidupan yang kita alami ternyata terdapat banyak kehidupan yang lain.

Menjadi manusia bukan hanya menjalani peran sebagai pekerja, keluarga, teman, akan tetapi juga menjalani peran untuk diri sendiri. Manusia bukanlah mesin yang menjalani sesuatu dengan ritme yang sama demi sebuah tanggungjawab, akan tetapi mahluk hidup yang diciptakan untuk menjalani banyak peluang. Bersantai, menikmati secangkir kopi, dan hanya memandang air ombak yang menari atau langit yang berwarna juga merupakan bagian dari tugas manusia yang terkadang kita sendiri tidak pedulikan. Namaste!