Mengintip Pesta Panen Buah Golden Melon Sunpride di Cilegon

“Manis banget!”

Pertama kali mencoba buah Golden Melon. Jujur, saya tidak tahu kalau Golden Melon ini ternyata semanis ini. Duh, kemana aja ya?

Walaupun dari penampilannya seperti buah import, ternyata Golden Melon ini termasuk buah lokal. Ini saya ketahui ketika diajak jalan-jalan untuk mampir ke panen buah Golden Melon di Cilegon Timur pada selasa kemarin, tanggal 26 September 2017.

Media, Blogger, dan Tim Sunpride yang berkunjung ke kebun Golden Melon SUNPRIDE

Pukul 10.30, matahari di Cilegon sedang nyala-nyalanya. Tapi saya dan teman-teman lain dari media justru baru menginjakkan kaki di sana. Cuaca lumayan terik dan sedikit berangin. Melihat buah melon yang kuning-kuning rasanya seperti penyegaran mata.

Golden Melon masih tertanam di kebun

Melon-melon yang kuning menyala membuat kedua tangan yang nakal ini gak sabar mau metik-metikin. Karena takut nanti diusir dan nyasar di Cilegon jadi saya urungkan hasrat terpendam ini. Dan kasian sama petani yang sudah susah payah menanam dan merawat, jadi saya tahan-tahan deh.

Upaya petani dalam menghasilkan melon yang berkualitas ini gak main-main. Jadi, kalau buah-buahan yang dari masih proses pertumbuhan sudah ada tanda-tanda kegagalan, maka melon-melon ini akan dibabat habis dan mereka menanam bibit baru. Padahal proses dari masa tanam hingga masa panen membutuhkan waktu sekitar 60 hari.

Petani-petani ini sepertinya posesif. Saya melihat setiap buah melon ini semuanya diikat oleh tali. Ternyata supaya buah-buahan ini tidak jatuh ke tanah. Posesif memang tanda sayang. berkat ke-posesif-an ini maka buah-buah yang ditanam tumbuh mulus dan bersih. Bahkan saat proses pemetikannya pun tidak bisa asal. Ini adalah komitmen dalam menjaga kualitas buahnya.

PROSES PASCA PANEN BUAH GOLDEN MELON

Pada musim panas justru kualitas buah Golden Melon sedang bagus-bagusnya. Dibanding dengan musim hujan yang lembab dan lebih banyak resiko untuk terkena penyakit tanamanan. Misalya daunnya yang keriting. Ini akan membuat buah yang dihasilkannya tidak akan terlalu bagus. Sedangkan kalau mau dijual dengan harga yang baik kan kualitasnya harus dijaga. Ngomong-ngomong soal kualitas, ini berarti bukan hanya mengenai rasa, tapi juga penampilan.

SUNPRIDE memiliki standar kualitas untuk buah-buahannya. Yang saya lihat saat mengikuti proses handling buah Golden Melon dari SUNPRIDE saat panen ini jadi lebih mengerti banget tentang bagaimana memilih buah, dan tentu saja buah yang berkualitas.

Berikut tahapan pasca panen Golden Melon di Kebun Sunpride:

Sortasi

Setelah dipetik, seluruh buah Golden Melon akan dipilah sesuai mutu dan ukuran yang ditetapkan. Sortasi adalah kegiatan hasil pertanian yang kurang baik dengan yang memiliki hasil yang baik. Kualitas kurang baik ini berkaitan dengan penampilan seperti cacat, luka, busuk, dan bentuk yang tidak normal.

Untuk menjadi buah-buahan dengn label SUNPRIDE berarti yang sudah lolos seleksi secara mutu dan kualitas. Jika ada buah-buahan yang memiliki hasil kurang baik maka akan disisihkan.

Buah-buahan yang tidak memenuhi standar mutu dan kualitas nilai jualnya akan lebih rendah. Ini juga yang menjadi pertimbangan mengapa petani Golden Melon ini membabat habis buah-buahan yang tumbuh tidak sesuai standar yang ditetapkan.

Grading

Setelah melalui tahap sortasi, semua buah yang sudah dipanen akan dilakukan penggolongan atau pengkelasan (grading). Grading adalah proses pemilihan berdasarkan standar permintaan konsumen atau standar nilai komersilnya.

SUNPRIDE sendiri memiliki standar mutu dan kualitas untuk buah-buahannya. Untuk bentuk dan penampilan luar, jika tidak sesuai standar yang ditetapkan maka tidak lolos untuk mendapatkan label SUNPRIDE. Begitupun untuk ukuran, sudah ada standar tertentu. Jadi kalau lebih kecil dari standar Golden Melon SUNPRIDE, maka buah ini tidak akan lolos seleksi.

Kulit yang kurang mulus atau bentuk yang tidak sesuai standar bukan berarti rasa di dalamnya berbeda. Jika kita membuka dalamnya mungkin akan merasakan kemanisan yang sama. Oleh karena itu, untuk buah-buahan yang tidak masuk ke seleksi buah SUNPRIDE akan masuk ke grade label di bawahnya: SUNFRESH.

SUNFRESH juga bukan berarti tidak ada standar tertentu. Jika standarnya lebih di bawah lagi, maka akan dijual yang tanpa label. Segmen pasar SUNPRIDE dan SUNFRESH adalah modern market. Non-label untuk yang generik.

Akan tetapi untuk tahun depan label SUNFRESH akan dihilangkan. Karena pertimbangan takut membingungkan konsumen. Jadi kedepannya hanya akan menjual buah-buahan yang memliki kualitas rasa dan bentuk yang terbaik dengan label SUNPRIDE.

Pembersihan

Setelah melalui tahap sortasi dan grading. Maka dilakukan pembersihan. Maka itu buah-buahan melon di sini tampak kuning megkilat. Saat kita belanja di supermarket, biasanya kita tergoda dengan buah-buahan yang bersih dan cantik.

Labelling

Buah-buahan yang sudah dibersihkan maka siap diberi label. Pelabelan sesuai dengan penentuan grade buahnya di tahap sebelumnya. SUNPRIDE sebagai buah dengan grade tertiggi, dan SUNFRESH di bawahnya. Untuk yang di bawah SUNFRESH maka tidak ada pemasangan label.

Packing

Ketika buah-buahan ini sudah melalui tahap sortasi, grading, pembersihan, pelabelan, maka siap dilakukan pengemasan (packing). Pengemasan ini dilakukan di atas timbangan agar jumlah buah yang dimasukan ke dalam dus sesuai dengan berat yang ditentukan.

Pengangkutan

Setelah dikemas ke dalam dus, maka buah-buahan ini siap diangkut ke pasaran.

Sebagai informasi tambahan, jika ingin menyicipi buah melon dengan kualitas terbaik sebaiknya tidak lebih dari 1 minggu setelah masa panen. Jika disimpan dalam ruangan dengan temperatur yang dingin maka bisa bertahan lebih lama lagi hingga 2  minggu.

MENGENAL GOLDEN MELON

Tidak semua pecinta buah sudah menyicipi Golden Melon. Varian melon ini memang tidak sebanyak Rock Melon yang awur-awuran di pasaran. Berdasarkan kekepoan saya, maka saya buka-buka supride.co.id untuk lebih mengenal buah ini.

Golden Melon ternyata sudah banyak diminati oleh banyak orang di dunia. Tidak hanya rasanya saja yang istimewa, Golden Melon juga memiliki banyak manfaat kesehatan, diantaranya kandungan vitamin C yang tinggi, ampuh dalam mengobati sariawan, menghaluskan kulit, meningkatkan imunitas tubuh, antioksidan dan penangkal dari serangan radikal bebas yang dapat menyebabkan kanker dan penyakit jantung.

Bikin ngiler, kan!

Golden Melon merupakan salah satu produk buah lokal hasil dari petani lokal di Jawa Barat. Buah lokal juga ternyata bisa bersaing dengan buah import jika ditangani dengan baik. Dengan mengonsumsi buah lokal, selain menambah nutrisi yang baik untuk tubuh juga dapat memajukan industri pertanian di Indonesia. Masalah kualitas, saya sudah melihat sendiri bagaimana SUNPRIDE handling buah-buahannya.

Dan masalah rasa…

Sejujurnya sampai sekarang saya juga masih terngiang kemanisan buah ini. Untung kemarin dapet oleh-oleh buahnya yang langsung dipetik dari kebun. Gak sabar buat nyicip lagi. Slurrpp!

Jadi teman-temanku yang suka menjaga kesehatan, jangan lupa dengan makin rajin makan buahnya. Saya ngupas buah dulu, ya!

Pecah Marathon Pertama di SCKLM

Entah sudah masuk ke toilet berapa kali untuk buang air kecil. Ekspetasi saya jam 9 malam sudah tidur bagai mayat. Kenyatannya malah tidak bisa tidur nyenyak, walau mata rapat tertutup.  Apakah semua orang begini waktu menghadapi full marathon pertama?

Guling kanan, guling kiri, hingga menyelupkan seluruh badan ke dalam selimut termasuk kepala. Saat melirik jam ternyata sudah berada di tengah malam.

2.30. Alarm di smartwatch memanggil walaupun sebenarnya saya tidak bisa tidur. Tandanya harus siap-siap. Wanita kan persiapannya lumayan banyak. Yang  pertama saya lakukan adalah: Makan. Setidaknya saya harus punya cukup tenaga saat lari nanti. Biarpun nasinya dingin. Biarpun gak ada enak-enaknya. Pokoknya makan!

Pukul 3.15 saya turun ke lobi hotel bertemu #KawanLari yang juga akan berlari bersama-sama di Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon (SCKLM). Bermodal dua energy gel -makanan konsentrat berupa gel- yang menjadi satu-satunya bekal berlari 42km nanti. Jarak ke venue cukup untuk dijadikan jogging pemanasan sebelum lari. Mengikuti pesan coach saya via whatsapp di malam sebelumnya, saya mencoba berdoa khusyuk sebelum mulai berlari. Mau makan aja kita doa apalagi mau lari jauh!

FB_IMG_1495676784026
Wajah-wajah bangun tidur dan yang tidak bisa tidur di pukul 3.15 pagi hari

Menjelang  pukul 4.00 – waktu start untuk kategori FM – di Dataran Merdeka.

Bersama 3600 pelari dari semua kategori. Untuk kategori Full Marathon terdapat 7000 pelari yang bersiap mengasah kakinya. Air mata mulai rembes. Sudah tidak ada lagi rasa takut. Yang tersisa adalah rasa haru. Gilaa… gue mau lari aja mesti jauh-jauh ke sini! Seloooo!

4.00 – flag-off

Berlari dengan santai. Gimana gak santai, saya dari Pen 4. Meski pada akhirnya menyelinap di Pen 3 bagian belakang. Kalau mau berlari lebih depan harus tangguh salip menyalip. Karena berlari sendiri jadi lebih mudah untuk salip menyalip. Santai tapi lama-lama berkeringat juga. Berlari pada pukul 4 ini lumayan menyenangkan sih. Kalau waktu Jakarta berarti masih pukul 3. Udara masih sejuk.

Wah, asik juga nih SCKLM! Gak salah deh FM di sini!

Batin saya bersautan sambil menikmati lari di medan yang menurun. Badan tidak terlalu lelah dan saya cukup menikmati pola lari ini. 5km pertama yang menyenangkan. Belari di average pace 6.40. Kalau melihat target waktu saya finish di sub 5 jam 30 menit, harusnya pas. Setelah dibuai dengan jalur yang menyenangkan tiba-tiba sampai ke posisi… MENANJAK!

Kira-kira berada di KM 7 dan bertemu Mbak Rijan, kawan lari dari Run For Indonesia (RFI). Sambil berlari Mbak Rijan mengajari saya cara berlari saat tanjakan dan cara berlari saat turunan. Saat menanjak kaki menjejak agak lebar ke kanan dan ke kiri. Tidak perlu terlalu cepat.

Setelah tanjakan pasti turunan. Saat jalan menurun jangan menahan kaki. Lari seperti sedang melakukan interval. Asik sih!

Baru senang menghadapi turunan tiba-tiba harus bertemu tanjakan lagi. Mulai gak asik nih. Hmm..

Tapi ya namanya lagi race, usaha mah tetep perlu. Jadi saya tetap mencoba berlari dengan pola yang sama. Sekarang lumayan ngos-ngosan.

Masih dalam keadaan ngos-ngosan, saya bertemu tanjakan lagi. Masya Allah!

20170521_062445-01

Akhirnya cadangan makanan pertama saya saya buka. Saya lupa sih tepatnya, yang jelas setelah KM 10. Sepertinya di KM 12. Tidak mampu menyamakan energi Mba Rijan yang sepertinya masih baterainya masih full, saya menyerah. Saya mempersilakan Mbak Rijan lanjut berlari dan saya cukup berjalan. Skill emang gak bisa bohong ya hehe..

Tapi untung juga saya gak terlalu ngoyo, ternyata tanjakan dan turunan ini terus berlangsung. Saya juga gak tau apakah ada akhirnya. Buat pemula yang masih ala-ala butuh lari dengan strategi. Kebetulan strategi saya adalah: Lari-jalan-lari-jalan-lari-jalan.

Badan Mulai Dingin

Matahari masih belum menyumbul, langit masih betah dengan keredupan. Saya juga berharap jangan segera terik. Tapi ternyata tubuh saya mulai terasa dingin. Mungkin juga karena keringat yang mengalir di tubuh. Saya memilih melambatkan lari (yang sebenarnya sudah lambat ini) dan cenderung jalan. Kira-kira di KM 17. Sampai di KM 19 saya mulai membuka cadangan energy gel yang juga tinggal satu-satunya. Nyesel juga sih belagu cuma bawa cadangan 2 gel. Lidah mulai nagih yang manis-manis. “Harusnya gue bawa permen!” membatin.

DSC03447-01
Bekal makanan satu-satunya saat race: energy gel

Namanya mau lari dengan selamat jadi saya gak mau terlalu nyoyo juga. Saat sampai di water station langsung mengambil 2 gelas air dan menghabiskannya, Kembung sih. Mulai pengen makan makanan yang padat tapi apa daya belum ada. Berharap dikasih panitia tapi belum sampai kilometernya.

Dalam kepayahan itu saya teringat kekuatan doa. Kalau udah gini aja langsung relijius. Melafalkan ayat alqur’an yang saya hapal. Kebetulan yang saya hapal juga tidak banyak. Tidak lupa untuk minta ke Sang Pencipta untuk diberi sehat sampai garis finish. Jangan sampai kenapa-napa. Lari kan niatnya mau bahagia, bukan sengsara.

Bertemu Pacer = Mimpi Buruk

Saat dilewati pacer 5.00 saya masih santai. Memang bukan target saya finish di bawah 5 jam. Tapi saat gerombolan balon pacer 5.30 lewat saya menjerit. Menjerit dalam hati. Gak terima!

Sedih karena saya merasa tidak mungkin bisa menyusul para pacer. Apalagi kondisi kaki lagi malas diajak lari. Kilometer terberat buat saya ada di antara 25km-30km. Dari data sih memang di sana average pace menurun ke 8.30. Paling jebol. Sudah pualing banyak jalannya.

Ya sedih jangan lama-lama. Biar tersalip yang penting harus bisa lari lagi. Kalau jalan terus kapan finishnya?

Kebetulan medannya lagi lumayan bersahabat. Menjelang KM 30 semangat kembali bangkit. Kata orang-orang di sini adalah titik hitam berlari FM. Untungnya saya masih gak di ambang hitam-hitam banget. Masih bisa lari tanpa kerasa kram. Ini sih harapan saya banget.

Matahari mulai naik dan mulai memasang buff untuk menutupi kepala dari sinar matahari. Dalam pejalanan bertemu Ko Willy  dari RFI dan Pacer 5.30. Sempoat-sempatnya mengambil jeda untuk sekadar foto bersama di gate 30km. Tapi sayangnya gak dari hape saya jadi gak tau itu di mana fotonya!

Dalam kesempatan ini juga saya diam-diam berlari duluan mendahului pacer 5.30. Akhirnya…

Bertemu #kawanlari

Setelah berhasil balas dendam ke pacer 5.30 yang sebelumnya melewati, ternyata masih banyak yang bikin up and down. Pas ketemu kurma saya senangnya luar biasa. Tidak ragu-ragu, saya ambil dua kurma! Pokoknya apa yang bisa dimakan akan saya makan. Setiap makanan berkontribusi menyumbang tenaga untuk sampai garis finish. Ini penting!

Saat mendapat minuman ya saya minum sepuasnya. Saat mendapat sponge basah saya ambil buat mendinginkan badan. Karena sponge-nya sudah tidak dingin jadi sebenarnya fungsinya cuma buat basuh badan aja. Positifnya badan jadi lebih segar. Minusnya adalah.. sepatu saya jadi basah.

Jadi saya berlari dengan kondisi telapak kaki basah. Nyaman? Tentu saja tidak. Rasanya mau buka sepatu. Tapi saat berlari sudah di atas 30km batas nyaman dan tidak nyaman sudah setipis kulit Syahrini. Lari sih lanjut terus sampai gak kuat lari lagi. Karena garis finish masih lama.

Saya sudah dilewati beberapa teman, saya juga sudah melewati banyak orang yang sebelumnya menyusul. Dari badan yang sudah habis tenaga sampai tiba-tiba ada tenaga lagi. Dari redup, hingga akhirnya terang, sampai tiba-tiba hujan. Dari disusul pacer, sampai akhirnya balas menyusul, dia pun kembali melewati, saya pun akhirnya menyusul lagi.

Berlari FM ini memang benar-benar seperti dalam perjalanan panjang. Jadi teringat kata supir taksi yang mengantarkan saya ke tempat belanja di sana yang bilang untuk jarak 42km nyetir pakai mobil aja udah bikin pegel apalagi harus lari. Iya juga sih.

Tapi di KM 36 ini saya berusaha bertahan dengan sisa-sisa tenaga. Sudah mulai meregangkan kaki dengan kembali banyak berjalan. Kemudian bertemu kembali dengan kawan lari dari RFI dan akhirnya saling berbagi kesengsaraan. Tenyata yang dibutuhkan saat ini adalah TEMAN. Lari juga udah gak kuat. Saat turunan saling menyemangati untuk berlari, saat tanjakan dua-duanya gak ada yang memberi semangat. Jalan adalah cara terbaik.

Mengumpat. 3 kilo terakhir saat yang nyaman untuk mengumpat.

“Om, kita udah di km 40!”

“Bodo amat! Di jam gue udah 41!”

“Di jam aku juga sih. Bangke ya!”

Segala macam sumpah serapah yang gak mungkin saya tulis di sini keluar saat itu. Enak juga sesekali mengumpat. Kalau di awal-awal masih penuh kesabaran, di 3 kilometer terakhir tingkat emosi sedang memuncak. Bagus sih buat ngilangin stres.

Last Push!

“Fit, di depan garis finish. Segini mah gue berani deh dilariin” Kata Om Gunawan yang menjadi teman seperjalanan di 5 kilometer terakhir ini. Tapi kok jalannya menanjak. Jujur, saya sih gak bernai lari di tanjakan. Gak mampu.

Pas mendekat ternyata balon yang dianggap garis finish itu hanylah petunjuk bahwa garus finish tinggal 500m lagi. Antara mau ngomel sama mau ketawa. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sampai akhirnya kamu melihat finish line:

“Om, yuk kita last push!”

Saya berlari dengan sisa-sia tenaga. Kebetulan dikasih turunan, jadi seperti dikasih bonus di akhir perjalanan. Saat gate semakin dekat, saya melihat waktu di gate berapa detik lagi tepat pukul 9.30. Ini berarti waktu saya untuk mencapai target sub 5.30 akan segera berakhir. Saking paniknya saya sampai teriak. Akhirnya terlewat dua detik. Hiks.

Tapi waktu berdasarkan chip time masih kurang 2,5 menit. Akhirnya berhasil menyelesaikan FM pertama dengan waktu official 5.27.24. Hamdallah..

Ya itulah kisah yang lumayan bikin deg-deg-ser di race FM pertama. Lumayan menyenangkan sih. Bikin penasaran mau nyoba lagi. Tapi…

gak sekarang!

Air Mancur Sri Baduga Menambah Pesona Purwakarta

IMG-20170219-WA0001
Foto dari Wira Nurmansyah

Malam yang terang dengan lampu-lampu yang bergantungan di bawah langit Purwakarta. Ditambah lagi gerobak-gerobak yang menyuguhkan aneka jajanan di pinggir jalan. Orang-orang berlalu lalang sambil menikmati makanan kecil yang dibelinya dan sibuk melakukan swafoto.

Keramaian kota ini sudah lama tidak terasa semenjak lahirnya Tol Cipularang. Biasanya kota ini dijadikan tempat singgah untuk beristirahat tetapi sudah tergantikan dengan rest area yang berdiri di sisi tol. Pada Sabtu malam di tanggal 20 Februari kemarin kota ini tidak seperti biasanya. Begitu padat, cantik, dan hidup. Malam ini menjadi salah satu sejarah untuk Purwakarta karena air mancur yang digadang-gadang terbesar se-Asia Tenggara resmi diluncurkan.

Saat mendapat undangan untuk menghadiri peresmian Air Mancur Sri Baduga senangnya luar biasa. Apalagi ternyata banyak tempat baru di Kabupaten Purwakarta yang menarik untuk dikunjungi. Air mancur yang terletak di tengah kota ini dibuat di sebuah danau yang dinamakan Situ Buleud yang sudah lama ada. Saya dan beberapa teman blogger lain yang diundang oleh Kementrian Pariwisata datang bersama-sama dengan antusias yang sangat tinggi. Antusias untuk pamer salah satunya. Uhuk!

IMG-20170310-WA0011
Menteri Pariwisata Arif Yahya dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat meresmikan pembukaan Air Mancur Sri Baduga

Rasa antusias ini bukan hanya milik kami, tetapi juga semua warga baik berasal dari Kabupaten Purwakarta maupun dari luar daerah. Karena sangat banyak peminatnya, untuk masuk ke area air mancur sangat sulit. Terdapat dua pintu untuk masuk. Pintu 1 untuk para warga dan pintu 2 untuk undangan dan media. Karena pintu 1 sudah sulit untuk dimasuki maka para warga yang tidak mau melewatkan pertunjukan air mancur akhirnya mengantri di pintu 2.

DI SAAT SUDAH DI DEPAN PINTU TAPI TIDAK BISA MASUK

Saya sendiri tidak bisa menghitung berapa banyak warga yang hadir, yang jelas posisi saya dan teman-teman sudah tidak bisa bergerak. Saya melihat banyak teman-teman wartawan yang mencoba masuk tapi menjadi beku karena pintu 2 yang sudah ditutup. Yang kami lakukan hanya ‘menyelamatkan kamera’. Saya yang beli kamera aja harus mencicil berusaha menyelamatkan kamera mirrorless dengan mengangkatnya ke atas. Takut rusaaaaak!

20170218_194534-01
Warga yang berdatangan mendekati Situ Buleud untuk menyaksikan Air Mancur Sri Baduga

Di saat tubuh yang terhimpit ribuan manusia dan tangan ke atas dengan memegang kamera, saya melihat wartawan dari media besar juga bersusah payah untuk mengangkat kameranya yang jauh lebih mahal. Duh, jadi malu sendiri.

Apalah saya ini!

Apalah kamera saya ini!

Posisi saya sudah dua baris dari pintu gerbang, tetapi tidak bisa masuk karena pintu gerbang tertutup rapat. Beruntung di depan saya adalah Ivan Loviano, badannya yang lebih besar membuat saya terasa aman. Pokoknya saya mepet ke dia aja biar gak kesikut-sikut orang. Saya, Ivan, Adis, Wira, Mamah Wiwiek, dan staf Kemenpar membentuk satu barusan supaya tidak terpencar. Kalau masalah sepatu keinjak orang sih udah lemesin aja shay…

IMG-20170310-WA0010
Sementara itu para pengunjung sedang dihibur oleh tarian kolosal Siliwangi Gugat yang memesona

Saya juga maklum kami sebagai undangan tidak bisa masuk karena antrian warga yang mencoba masuk di pintu ini juga sudah sangat panjang dan padat. Takutnya banyak warga yang dorong-mendorong dan terjadi hal yang tidak diinginkan. Saya tanya ke ibu-ibu di sebelah saya mengapa terus bertahan di antrian untuk bisa masuk, jawabnya:

“Namanya juga penasaran. Mau liat air mancurnya.”

Ya… saya juga sih. Yasudah kita sama-sama antri aja deh yuk bu!

Saat berada dalam jebakan kepadatan, tiba-tiba suara air mancur terdengar. Yah… terlewat!

Sedih banget gak bisa melihat air mancurnya padahal tujuan utamanya adalah melihatnya secara langsung. Kecewa tapi mencoba ‘sok-sokan’ pasrah. Sampai akhirnya mendapat kabar…

Ada sesi selanjutnya!

AKHIRNYA LIHAT AIR MANCUR SRI BADUGA!

Terharuuuu…

Setelah panas, pengap, air mata, dan keringat akhirnya bisa melihat air mancur kebanggaan Jawa Barat khususnya Kabupaten Purwakarta. Bukan hanya warga sana yang bangga, saya yang juga dari Bekasi juga bangga. Ini menjadi salah satu kebanggan Indonesia.

Air mancur rancangan Hery Sugihardi yang merupakan putra asli Purwakarta ini memang sangat cantik dan elegan. Semburan air yang menari, musik, dan cahaya warna-warni menjadi satu harmoni. Air-air menari setinggi 2 meter dalam gradasi merah, biru, kuning, hijau, dan ungu membuat seluruh pengunjung bersorai. GAK SIA-SIA KEMARI!

Penasaran juga?

Mampir aja ke Purwakarta. Lewat tol dari Jakarta hanya 2 jam kalau lancar. Kalau mau melihat-lihat taman air mancurnya bisa datang hari apa saja. Tetapi jika ingin melihat atraksi air mancur sesuai yang saya visualisasikan datangnya hari sabtu ya! Dibuka dari jam 19.30-20-30 WIB. Gratis kok!

Transformasi Eceng Gondok untuk Menyelamatkan Rawa Pening

DSC01325_1-02

Pagi menjelang siang cuaca yang cukup tidak teduh tapi juga tidak terlalu terik karena angin sedang menari-nari di Rawa Pening. Mata sedikit mengantuk karena untuk perjalanan ke Semarang saya sudah harus bangun pukul 2.30 pagi hari. Harapan saya bisa tidur di pesawat, tapi realitanya malah nonton film.

Rawa Pening, rawa yang gak bikin pening. Menyajikan panorama yang asik diliat. Meskipun hanya sebuah danau tapi latar gunungnya itu yang bikin betah mata. Berada di Kabupaten Semarang, danau di tengah daratan ini luasanya mencapai 2.070 hektar. Berdiri di atas jembatan yang bergantung di atas danau membuat netizen seperti saya gak sanggup kalau gak ambil foto buat diunggah di Instagram. Rawa pening ini memang cantik, berada di antara kaki Gunung Merbabu, Gunung Relemoyo, dan Gunung Ungaran.

20170302_103019(0)-01
Jangan lupa follow akun Instagram @fitritash ya!

Tepatnya hari kamis pertama di bulan Maret, Saya bersama teman-teman dari #Sidopiknik berkesempatan melihat Rawa Pening ini. Saat kami sampai dan berdiri di tepi danau sudah dapat melihat banyak tanaman eceng gondok, kira-kira sebanyak 1.800 hektar. Bukan saya yang menghitung, tapi Pak Irwan Hidayat sebagai direktur PT. Sido Muncul Tbk yang menjelaskan.

DSC01322

Selain eceng gondok dan perahu, ada juga mesin pengeruk yang berdiri di permukaan airnya. Mesin-mesin tersebut untuk mencabut tanaman eceng gondok dari danau.

Loh apa salah eceng gondok sampai harus dicabut?

Ternyata eceng gondok ini menghambat jalur perahu yang melintas di sekitar danau dan tentunya menghambat para nelayan juga untuk mencari ikan. Eceng gondok (Eichornia Craaipes) adalah tumbuhan air yang hidup mengapung dan memiliki kecepatan tumbuh tinggi. Bayangkan saja, 1 batang eceng gondok bisa bertambah pertumbuhannya seluas 1m2 hanya dalam waktu 23 hari. Ini yang menyebabkan proses sedimentasi di Rawa Pening.

Kedalaman air di Rawa pening sekarang sekitar 5-7 meter, padahal waktu tahun 1995 bisa mencapai 15 meter. Populasi ikan pun berkurang. Ini sebabnya eceng gondok ini mesti diangkat. Eceng gondok yang sebenarnya banyak manfaatnya menjadi tanaman yang lagi menjadi pusat perhatian karena meresahkan. Sad!

20170302_100937-01

Berdasarkan kekawatiran ini akhirnya Sido Muncul Tbk, yang lokasi pabriknya tidak jauh dari Rawa Pening mulai berpikir untuk mengubah eceng gondok menjadi briket bahan bakar berbentuk wood pellet yang memiliki value lebih, bukan dikenal sebagai penghambat dan limbah domestik semata. Setelah melalui proses penelitan akhirnya ditemukan pemanfaatan eceng gondok sebagai sumber bahan bakar baru.

ECENG GONDOK MENJADI SUMBER BAHAN BAKAR BARU

Setelah berjalan-jalan di Rawa Pening, akhirnya kami melanjutkan perjalanan untuk mampir ke pabrik Sidomuncul untuk melihat pengolahan eceng gondok menjadi sumber bahan bakar baru. Tidak disangka ternyata ada kawasan pabrik ini bisa dijadikan tempat berwisata juga. Banyak pepohonan yang ridang dan juga terdapat air mancur buatan. Bahkan kita bisa melihat harimau-harimau Sumatra di dalam kawasannya.

IMG-20170302-WA0018
#Sidopiknik babes on fire!

Sido Muncul memproduksi wood pellet sejak januari 2015 yang berbahan dasar ‘ampas’ limbah padat jamu dan hasil wood pellet ini dipakai untuk bahan bakar boiler proses prosduksi jamu. Penggunaaan bahan bakar untuk proses produksi saat ini 50% dari wood pellet dan 50% lainnya dengan gas.

Setelah masuk ke dalam pabrik langsung tercium aroma jamu. Satu per satu peserta piknik yang merupakan influencer dan pembuat konten diberi masker. Standar masuk ke kawasan produksi. Kami ditunjukkan bagaimana proses pengubahan eceng gondok menjadi briket bahan bakar. Tahap awal pengolahan tanaman eceng gondok ini adalah pencahahan. Proses ininuntuk mempermudah proses pengeringan. Bagian dari eceng gondok yang diubah menjadi briket bahan bakar adalah keseluruhan bagian, dari mulai daun hingga batang.

20170302_111118-01
Eceng gondok yang baru dicacah sebelum diekstraksi

Setelah itu lalu diekstraksi, mengubah dari bentuk tanaman basah perlu dikeringkan untuk mengurangi kadar airnya. Kadar air eceng gonsok segar rata-rata sekitar 30-40%. Proses pengeringan perlu dilakukan hingga kadar airnya maksimum 10%.

Tahap selanjutnya adalah penguapan. Setelah diuap, bahan baku ini dipanaskan hingga 100 derajat celcius, kemudian di-vacuum sampai ke suhu -0,8 dan akhirnya ke suhu lebih rendah, yaitu -0,7. Setelah itu tidak ada lagi eceng gondok yang dianggap gulma, tetapi briket bahan bakar berbentuk pellet yang memiliki nilai jual yang menggiurkan.

DSC01333
Eceng gondok yang sudah berubah bentuk menjadi wood pellet

Sumber bahan bakar ini bisa untuk sebagai bahan bakar industri hingga rumahan. Kalau kata Direktur Sidomuncul Tbk, Pak Irwan Hidayat: “Wood pellet yang bernilai 1.100 (Sudah termasuk proses dengan mesin) saat dieksport bisa menjadi 1.600. Sekilo wood pellet bisa senilai 200.”. Saat itu saya masih belum terbayang satu kilo itu terdapat berapa banyak wood pellet.

DSC01365-01
Inilah eceng gondok yang sudah berubah menjadi sumber bahan bakar baru berupa wood pellet!

Balik lagi ke Rawa Pening ya…

Jadi kalau eceng gondok ini diolah lebih ‘smart’, sebenarnya  dapat mengubah value yang jauh jauh jauuh lebih tinggi. Dan yang penting Rawa Pening bisa dieksplor lebih baik lagi menjadi wisata baru yang menjanjikan.

Tapi..

Kendala tetap ada wahai pemirsa. Pertumbuhan eceng gondok lebih cepat dari proses pengangkatan eceng gondoknya. Jadi ya membutuhkan alat dan mesin yang lebih banyak lagi juga. Harapannya sih banyak investor yang mulai melirik. Kamu mau join?

Kalau mau lihat video singkat tentang “Kisah Eceng Gondok di Rawa Pening” dari Motulz Anto silakan klik di bawah ya!

Inilah Wajah Baru Purwakarta yang Wajib Kamu Kunjungi!

“Memang Purwakarta bagus ya, Fit?”

Pertanyaan banyak teman setelah melihat banyak postingan #PesonaPurwakarta di media sosial. Saya juga dulu masih berpikiran yang “Emang di sana ada apa ya? Tempat wisata yang cukup dikenal adalah Waduk Jati Luhur. Naik perahu untuk merasakan menyantap ayam goreng dan sambal dadakan di tengah rumah makan yang mengapung di atas air. Lalu selain itu?

Saat keluar dari pintu tol Sadang, saya melihat daerah yang dahulu masih dalam bagian Karawang ini tidak banyak yang terasa berubah. Cara menikmati perjalanan masih dengan skrol-skrol Twitter dan Instagram. Sesekali membahagiakan lidah dan perut dengan snack yang dibeli di Rest Area KM 19. Sampai kemudian saya melihat banyak patung-patung yang berjejer di pinggir jalan.

Purwakarta sekarang dikenal dengan kota seribu patung. Kota yang dulu saya anggap biasa sekarang lebih artistik. Ditambah lampu-lampu jalan dengan nuansa heritage. Belum lagi lampion-lampion yang terurai di atas menambah kecantikan kota ini.

Kota yang nyaman adalah kota yang ramah untuk para pejalan kaki. Sore adalah waktu terbaik untuk berjalan kaki menikmati taman. Dari mulai Taman Maya Datar yang terdapat banyak gazebo dan bangku taman untuk duduk-duduk santai. Taman ini saya akui salah satu taman yang cantik dengan hiasan air mancur dan jembatan kecilnya.

Taman Maya Datar adalah alun-alun kota yang juga dibuka untuk masyarakat luas untuk berekreasi

Dengan berjalan kaki kita bisa sampai ke Kawasan Taman Situ Buleud. Kalau sore banyak warga yang berlari mengelilingi area luar taman ini. Tidak hanya lari, ada juga yang bersepeda hingga bermain skateboard.

Sore hari sekitar luar Taman Air Sribaduga dipakai untuk berlari

Perjalanan tiga hari saya kemarin merobohkan anggapan bahwa Purwakarta ini ‘biasa aja’. Salah banget kalau ada yang masih menganggap kota ini terbelakang. Di bawah ini tempat-tempat di Purwakarta yang lumayan kekinian dan kamu harus mampir:

TAMAN AIR MANCUR SRI BADUGA

Sebagian dari kita banyak yang tahu. Saat upacara peresmiannya saja ramai di beberapa media, bahkan tayang live di stasiun TV juga. Antusias masyarakat sangat tinggi untuk menyaksikan air mancur yang disebut terbesar se-Asia Tenggara. Bahkan banyak yang dari luar daerah sengaja ke Kota ini hanya untuk sekadar menebus rasa penasaran. Termasuk saya.

Air Mancur ini berdiri di Kawasan Wisata Situ Buleud. Kalau mau melihat pertunjukkan air mancurnya jangan pas hari kerja ya! Karena hanya dibuka di hari sabtu dan dibuat 3 sesi. Beneran deh, air mancurnya keren banget! Mungkin menjadi ikon baru kota ini. Bukan hanya air mancur yang biasa ada di taman-taman kota atau halaman depan gedung, tetapi ini berupa semburan air yang menari dengan iringan lagu dan cahaya laser warna-warni. Bukan air mancur mini tetapi berada di area seluas kurang lebih 1.8 hektar. Disekelilingnya terdapat bangku yang memuat sekitar lima ribu penonton. Gak heran kalau semua orang berebut untuk bisa menyaksikan pertunjukan ini. Oiya, pertunjukan ini GRATIS!

MUSEUM BALE PANYAWANGAN DIORAMA

Tolong jangan tutup page ini gara-gara saya menyebut museum!

Kalau kamu menganggap museum itu membosankan mungkin harus diingat-ingat lagi kapan terakhir kali mampir? Sekarang banyak museum dengan suguhan teknologi, termasuk Museum Bale Panyawangan Purwakarta. Saat baru masuk sudah disuguhkan buku interaktif yang menceritakan tentang sejarah tatar sunda. Kalau kamu malas membaca jangan kawatir, ada sajian berupa audio juga. Jadi untuk anak-anak atau orang dewasa yang agak malas membaca tetap mendapatkan cerita berupa suara dan didukung oleh gambar tersedia sebagai pendukung cerita.

Kita juga bisa jalan-jalan keliling Purwakarta secara virtual dengan mengayuh sepeda. Dilengkapi dengan layar lebar sebagai visualisasi kota ini. Dengan mengayuh sepeda ontel yang statis ini, pengunjung seakan-akan sedang bersepeda di jalanan Kota Purwakarta.

Naik Sepeda Ontel Keliling Purwakarta
Foto virtual dengan Bapak Bupati bisa langsung print!

Lumayan banyak informasi tentang Purwakarta, misalnya foto-foto Purwakarta tempo dulu. Jika tadi di atas saya menggambarkan Taman Air Mancur Sribaduga, di sini saya justru melihat penampakan taman ini saat masih sebuah danau. Tinggal klak klik layar dan gambar pun muncul. Masa yang gini dibilang kuno?

GALERI WAYANG

Sebauh museum tetapi disajikan dalam bentuk galeri. Tidak ada kaca-kaca yang membatasi pengunjung dan objek. Pengunjung dapat bebas meraba karya seni di dalam Galeri Wayang ini.

Kalau mau masuk ke sini, kamu memasuki kawasan Taman Maya Datar. Jujur aja, saya yang sebagai orang Bekasi lumayan iri di Purwakarta terdapat taman yang bagus banget dan bersih. Yang membuat lumayan terkejut ternyata masih di dalam komplek Pendopo Pemerintah Kabupaten Purwakarta.

Saat memasuki galeri yang memiliki komsep hitam putih, pengunjung dapat melihat aneka wayang di Indonesia. Wayang Golek, Wayang Kulit, Wayang Klitik, Wayang Wong, Wayang Betawi, dan jenis wayang lainnya tersusun cantik dan siap untuk menjadi objek foto pengunjung. Bukan hanya itu, pengunjung dapat melihat dan meraba sendiri relief kayu.

Sentuh langsung objek seninya bukan pelanggaran

 

Pilih sendiri cerita yang kamu inginkan!

Sebagai museum yang eksis di tahun 2017 tentunya sudah dilengkapi sajian layar interaktif. Ada pilihan cerita Ramayana dan Mahabrata. Di layar akan menggambarkan cerita yang kita inginkan. Namanya juga Galeri wayang, jadi penggambarannya berbentuk atraksi wayang. Menarik sih!

RESORT GILI TIRTA KAHURIPAN

Awalnya yang ada dalam bayangan saya adalah hanya sebuah taman dengan aneka buah dan bisa kita makan. Soalnya ada patung berbentuk durian dan manggis. Memang benar sih, tapi sayangnya saat saya ke sana tidak sedang dalam musim durian. Ya saya juga gak makan juga sebenernya. Baru mencium aromanya saja bisa muntah, ehehe..

Ternyata ada kolam renangnya juga. Biasanya kolam renang di kawasan seperti ini biasa banget. Agak kotor dan bentuk yang biasa aja. Ekspetasi saya memang sengaja diset tidak ketinggian. Biar cita-cita aja yang tinggi.

“Eh kok bagus!”

Cinta pada pandangan poertama. Airnya biru muda dengan background langit menjadikan tempat ini sungguh instagramable. Apalagi Berada di kawasan bukit dan kita seakan-akan berada di ujungnya. Tapi saya sarankan jangan ke sini sendirian. GAK ADA YANG MOTOIN!

BUKIT PANENJOAN

Sekilas tempat ini hanya wisata alam biasa. Saat memasuki kawasan ini terlihat sebuah perkebunan teh. Menyenangkan sih dapat menghirup aroma teh di suatu ruang hijau. Tapi sebagai anak (yang mengaku) muda merasa tidak ada yang terlalu istimewa.

Sampai akhirnya saya dan teman-teman berjalan lebih jauh lagi. Lupa menghitung berapa jaraknya karena kami sibuk menikmati pemandangan sambil dipandu oleh bapak lurahnya langsung. (Fyi, Pak Lurahnya masih muda dan ganteng loh!)

Sampai kita menginjak jembatan yang terbuat dari kayu dan bambu. Saya masih bingung menyebutnya apa ya. Karena jalur ini dibuat di atas kawasan kebun teh ini tetapi menapak lebih tinggi karena dibuat jalur yang seakan-akan menjadi jembatan.

Ada spot andalan untuk berfoto. Membuat kita seakan-akan berada di atas ketinggian dengan layar langit. Di bawahnya pemandangan hijau bukit-bukit yang berada di sekitar itu. Cocok deh buat posting di Instagram!

Gak heran kalau tempat ini lumayan lebih dikenal karena postingan di Instagram. Padahal dibuatnya belum lama. Atas inisiatif anak-anak muda di wilayah itu. Mereka menginginkan tempat ini memiliki bantak spot untuk foto. Sekarang sudah lumayan banyak pengunjung. Bahkan dibatasi hanya 40 orang saja. Buat mengurangi resiko kelebihan kapasitas. Jadi kalau kamu ke sini ajak teman-teman atau keluarga dan puas-puasin memperbanyak stok foto. Waktunya dibatasi hanya 20 menit. Semoga dengan postingan ini di sini bisa dibaca dan dikunjungi lebih banyak lagi ya!

Sebenarnya masih banyak lagi tempat-tempat Purwakarta yang wajib kamu kunjungi. Saya juga mengunjungi tempat pembuatan keramik Plered waktu menjelajah kota ini. Tapi highlight kekinian saya persembahkan untuk tempat-tempat di atas. Biar menambah kesan kekinian jangan lupa mampir ke Stasiun Kopi. Memang berada dekat dengan stasiun. Ada bebarapa menu yang dijadikan teman sore kamu.

Makasih banyak buat Kementrian Pariwisata yang mengajak saya untuk melihat Purwakarta sebagai bagian dari #PesonaIndonesia. Buat teman-teman yang jadi penasaran dengan wajah Purwakarta masa kini, silakan mampir!