3 Race Ulang Tahun di 2017: Milo Run, Titan Run, dan Maybank Bali Marathon

Ternyata begini ya rasanya kalau sudah menginjak satu tahun berlari. Bisa mengalami pengulangan di satu race yang sama dengan pengalaman dan cerita yang berbeda. Merasakan progress diri sendiri yang tanpa disadari semakin lama semakin meningkat.

Ini masalah waktu.

Ternyata jam terbang memang gak bisa bohong. Dengan kemampuan lari saya yang ala kadarnya, ternyata bisa melakukan perbaikan waktu juga.

Waktu setahun ini bukan tanpa cerita. Ada tawa, tangis, cedera, dan drama-drama lainnya.

Semakin lama semakin biasa. Mungkin ini juga yang terjadi pada kaki saya. Setahun yang lalu, setiap ikut race dan berlari di satu kilo pertama rasanya sudah mau menyerah saja. Sekarang, ya Alhamdulillah..

Tetep cape juga.

Gak mungkin gak cape. Namanya lari ya pasti cape. Tapi badan sudah bisa lebih berkompromi. Sudah bisa ngatur-ngatur pace di setiap jarak. (Gaya banget ya!)

MILO JAKARTA INTERNATIONAL 10K

Buat lomba lari 10K, event MILO Jakarta International 10K ini dianggap bergengsi. Masih diminati oleh para penggiat lari, baik yang pro maupun yang sekadar hura-hura. Event laridi Jakarta  ini sudah ada sejak tahun 2004. Yang menarik dari event ini adalah medalinya terbatas hanya untuk 2000 penamat pertama.

Fitri Tasfiah, muncul di tahun 2016. Dengan bermodalkan latihan lari yang baru sebulan dan belum pernah menginjak jarak 10K, mengikuti race ini sudah luar biasa nervous-nya.

Lari 3K aja rasanya udah cape, ini lagi mau lari 10 kilo. Jarak yang sama dari rumah saya di Bekasi ke Cibubur. Pada subuh itu saya datang dengan Farrel, anak sulung yang juga saya racunin ikut lari di Milo Run ini. Tentunya dengan jarak untuk anak-anak. Sejujurnya sekalian kerja sih. Ada campaign yang harus melibatkan anak, hehe..

Di Milo Run 10K ini saya berlari dengan perut yang masih kosong, jadi kesan-kesan di race pertama ini adalah: lapar. Kecepatan diatur sedemikian rupa supaya bisa tangguh menamatkan race 10K pertama dalam hidup. Sebenarnya memang pacenya segitu-gitu aja sih. Lumayan lah, bisa finish dengan waktu 1 jam 20 menit. Lumayan..

Waktu Finish unofficial di race 10K pertama

Meskipun pulang cuma bawa baju kotor tanpa ada medali apapun di tangan. Untung hepi.

Setahun kemudian, tepatnya 2 bulan yang lalu, saya kembali mengikuti MILO Run ini. dengan jarak yang sama ternyata bisa memperbaiki waktu. Dari 1 jam 20 menit ke 1 jam 5 menit. Dari yang tahun lalu gak dapat medali, sekarang bisa dapat medali limited editon untuk 2000 penamat pertama.

Akhirnya berhasil mendapat medali untuk 2000 penamat pertama di Milo Run 2017

Ahh.. terharuuu!

TITAN RUN

Titan Run adalah event lari pertama yang saya jalani selain di Jakarta. Kebetulan lokasinya di Tangsel, tepatnya di Alam Sutera.

Titan Run 2016 adalah race serius kedua saya. Kenapa serius?

Karena ini pertama kalinya saya menguji kemampuan dengan berlari 10K tanpa berhenti (Kecuali saat minum di Water Station). Race ini menjadi salah satu persiapan menghadapi Half Marathon pertama di Maybank Bali Marathon, yang diselenggarakan pada bulan yang sama.

Behasil sih.

Tapi waktu finish saya di 10K saya gak ada perubahan dari Milo 10K yang berlangsung 2 minggu sebelumnya. Kalau dipikir-pikir sih lumayan lama, hahaha..

Tapi waktu itu mah bangga-bangga aja. Seneng bisa lari 10K beneran pada akhirnya ya…

Langkahnya bener-bener diirit-irit biar gak ngos-ngosan. Ya tapi tetep ngos-ngosan juga!

Titan Run 2016: Lambat asal selamat

Di Titan Run tahun ini ceritanya mau upgrade jarak. Kalau tahun sebelumnya mentalnya cuma buat 10K, tahun ini mencoba di jarak 17,8K. Jarak ini memang unik karena memang untuk menyambut hari kemerdekaan RI di tanggal 17 bulan 8.

Tadinya mau turun ke 10K karena hanya beda seminggu dengan Pocari Run yang di Bandung. Di Pocari Run saya mengambil jarak 21K. Lumayan cape juga karena kurang isturahat. Dari Bali langsung ke Bandung demi bisa lari di event lari yang katanya mesti dicoba ini.

Karena sudah nanggung daftar dan gak ngejar PB juga, akhirnya tetap memilih jarak 17,8K. Benar-benar lari untuk recovery. Menikmati jarak demi jarak tanpa membuat target waktu yang bikin sakit kepala dan sakit hati.

Avg pace 6:19 pada Km 16 untuk jarak 17,8K di Titan Run 2017

Lari di Titan Run tahun ini ternyata masih seru seperti tahun sebelumnya. Habis lari bisa kulineran sekenyangnya dan gratis.

Sayangnya sempet ada drama mules pas mau start. Penyakit saya banget nih kalau mau race.

Malemnya habis makan mie instant pakai cabe rawit. Alhasil pas sampai venue langsung lari-lari nyari toilet. Mana start tinggal 10 menit lagi. Udah telat, pup pula!

Untungnya saya bisa finish tanpa kendor-kendor banget waktunya. Dibanding tahun lalu sih ini udah Alhamdulillah banget!

MAYBANK BALI MARATHON (MBM)

Kata teman-teman senior di dunia lelarian, MBM ini adalah lebarannya para pelari. Mau serius ataupun cuma wisata yang penting ikutan lari. Tapi bener sih. Saya melihat banyak wajah-wajah famous di dunia lelarian turun di event ini. Ya sebagian memang sudah ada sponsor yang daftarin sih. Enak ya..

Buat saya MBM 2016 menjadi sejarah dalam hidup. Pertama kali saya menginjak jarak 21K dan proses dari gak pernah lari ke event ini hanya berselang 2 bulan. Latihan fokusnya ya 3 minggu sebelum hari H. Bayangkanlah!

Gak heran kalau akhirnya lutut saya sampai sengklek karena persiapan yang kejar tayang ini. Tapi masih lumayan bangga karena virgin HM saya di track yang luar biasa menantang ini masih di bawah 3 jam.

Banyak drama yang dialami saat mengikuti virgin HM di MBM ini, salah satunya ya kebelet pup. Namanya juga masih newbie-super-newbie. Karena nervous, jadi sebelum lari saya minum air putih lumayan banyak. Hasilnya ya jadi kebelet pipis pas mau start.

Karena tidak tersalurkan akhirnya jadi kebelet pup. Repot juga kan pas lari nanya-nanya toilet ke penduduk setempat buat bisa dinumpangin setoran. Untung gak kebelet yang lain kan!

Dalam keadaan kaki yang sengklek dan track di Bali yang hilly, HM pertama saya lumayan terasa berat. Belum lagi Bali kan panasnya cantik banget. Target di bawah 3 jam jugaTapi untungnya mental mamak-mamak Bekasi ini ternyata lumayan tangguh. Niat bisa sampai finish begitu kuat, jadi pada akhirnya waktu finish sesuai yang ditargetkan.

HM pertama di MBM 2016 finish pada waktu 2 jam 49 detik

MBM tahun ini lain cerita. Lebih gak niat.

Mentang-mentang bukan HM pertama, jadi persiapan gak mateng-mateng banget. Gak punya persiapan khusus. Latihan juga seadanya. Malahan sempet break seminggu lebih.

Dibanding carbo-loading, saya malah berburu gelato.

Mental juga udah gak segugup yang pertama. Malahan terlalu santai.

Karena memang gak membuat target apa-apa di MBM tahun ini. Saya sadar jalur di Bali ini banyak naik turunnya, jadi merasa sia-sia kalau mengejar PB (Personal Best). Ya minimal bisa sub 2 jam 30 menit. Supaya gak terlalu merosot banget bedanya dengan HM di Pocari Run.

Ternyata memang benar. Tanjakan MBM tahun ini masih bikin betis menjerit.

Berusaha santai tapi ya cape juga. Untungnya dari KM 14 jalurnya sudah bersahabat. Sampai finish lancar banget tanpa kendala apa-apa.

Kebetulan waktunya masih sama dengan HM di Pocari Run, yaitu 2 jam 20 detik. Padahal lari HM di Bali lebih menantang dibanding saat di Bandung sebulan sebelumnya.

Half Marathon di MBM 2017 dengan perbaikan waktu dari tahun sebelumnya

Memang benar kata orang-orang: Jam terbang gak bisa bohong.

Semakin sering berlari maka tubuh kita juga semakin biasa. Ini yang mahal dan tidak bisa dibeli. Yang ingin saya pertahankan sekarang adalah tetap bisa menikmati lari.

Berlari bukan maslaah tujuan, tetapi bagaimana menjalani prosesnya. Dibanding terlalu obsesi trus nantinya cape sendiri dan jadi jenuh. Ya.. kan bukan atlet juga. Umur juga udah gak muda-muda banget.

Semoga masih bisa menikmati perjalanan berlari sampai tahun-tahun ke depannya. Tambah pengalaman, tambah cerita. Sangat-sangat menyenangkan!

20180330_164005(0)-01

Aneka Drama Pertama Kali Ikut Bali Marathon

 

1474349671186

Tidak terasa sudah 3 minggu Maybank Bali Marathon (MBM) berlalu. Dari rasa lelah hingga sakit efek cedera pun sudah hilang. Tapi saya masih ingat sekali drama-drama yang terjadi sepanjang ikut MBM. Pengalaman yang mungkin tidak akan terlupakan, apalagi ini adalah tempat saya lepas virgin half marathon.

Untuk kategori 21K, start mulai pukul 5.30. tetapi saya dan rombongan #kawanlari sampai di lokasi pukul 4.30. Karena lokasi race di Gianyar dan hotel saya di Kuta maka sudah dari pukul 3 Shuttle kami berangkat. Perkiraan finish adalah pukul 8.30, karena target saya di MBM ini adalah 3 jam. Drama-drama yang menjadi moment sepanjang Bali Marathon adalah:

KEBELET PIPIS

Ketika sampai venue hal pertama yang saya lakukan adalah mencari toilet. Dari masih di dalam shuttle menuju Gianyar pun sudah kebelet pipis. Entah kenapa saya kok jadi beseran banget menjelang MBM ini. Dalam langit yang masih gelap, kumpulan kepala sudah mengantri di depan toilet. Setelah ikut mengantri akhirnya saya menuntaskan segala urusan di dalam toilet. Napas lega ketika keluar dari bilik toilet. Saya pun langsung stretching dan pemanasan di dekat garis start. Tidka lupa untuk mengambil posisi yang terdepan di garis start. Ya gak depan-depan banget sih. Masih di baris kedua di belakang para pelari Kenya.

Ketika start dimulai, saya berlari lumayan bersemangat. Namanya juga masih baru-baru. Baru sekitar 100m mulai gelisah. Saya kebelet pipis lagi.

Oh. My. God.

PUP DI TENGAH RACE

Mules menahan pipis yang tak tersampaikan akhirnya berubah menjadi mules mau pup. Ketika itu sudah masih di KM3. Sisa kilometer masih panjang menuju 21. Awalnya masih mempunyai spirit untuk melanjutkan berlari, lama-lama kok semakin di ujung. Apalag tekanan saat berlari seperti terus mendorong hingga semakin tak tertahankan. Saya pun mulai bertanya ke setiap warung yang terbuka.

“Pak, ada toilet?”

“Bu, ada toilet?”

Setelah beberapa kali mendapat jawaban yang mengecewakan akhirnya mendapat titik terang. Ada penduduk yang memberi tumpangan rumahnya untuk saya melepas beban yang di tahan. Ya namanya rumah penduduk, saya tidak mungkin lari-lari dan melepas sopan santun. Saya sejenak melupakan target waktu dan melepas sepatu perlahan.

Yang jelas ini bukan wajah kebelet pup, tapi kebelet pengen finish
Yang jelas ini bukan wajah kebelet pup, tapi kebelet pengen finish

BERTEMU TANJAKAN CANTIK DAN PAHA TERTARIK

Saat di KM7 perjalanan pun semakin sulit. Tanjakan demi tanjakan mesti di lewati. Dengan kondisi lutut yang masih cedera ini lumayan sulit. Kelemahan saya memang pada tanjakan. Awal saya merasakan sakit pada lutut juga karena latihan di tanjakan. Jadi wajar kalau saya lumayan takut terhadap tanjakan.

Ternyata ketakutan ini terbukti. Ada yang terasa tertarik di paha belakang dan membuat saya kesulitan berlari. Oh, apakah ini yang namanya kram?

Saya harus berlari dengan kondisi kaki seperti ini sekitar 14KM lagi. HA HA HA!

LARI SAKIT, JALAN LEBIH SAKIT

Saya akui memang dari mulai rasa lelah hingga rasa sakit bercampur menjadi satu. Kadang saya sendiri tidak mau membayangkan karena takut malah menjadi lebih parah. Saya berlari dengan kaki sedikit pincang, kadang saya melonggarkan kaki kanan agar sedikit release dari ketegangan.

Lari-jalan-lari-jalan. Begitu lah cara saya bisa bertahan. Akan tetapi saat berjalan ternyata saya lebih terlihat aneh karena sudah tidak sanggup berjalan lurus. Lutut kanan seperti tidak bisa ditekuk saat berjalan. Belum lagi karena efek otot paha yang tertarik ini. Cara jalan saya sudah seperti anak monyet yang sedang mencari toilet atau anak kecil yang baru disunat: Ngangkang.

Saya pun akhirnya sempat melipir untuk mengantri mendapat cairan pereda rasa sakit dalam bentuk spray yang berada di tepi jalan. Entah ini memberi efek atau tidak yang jelas pasti akan memberi sedikit sugesti pada saya.

STRETCHING DULU DEH!

Selain lari dan jalan, yang saya lakukan sepanjang race adalah: stretching. Saat terasa sudah maksimal rasa sakitnya pasti saya melipir untuk stretching sejenak untuk release ketegangan otot. Biarkan otot yang mengendur, tapi semangat tetap kencang.

MULAI NGOMONG SENDIRI

Mungkin halu salah satu efek lari. Selama 21K berlari sendiri. Lelah, sakit, dan excitement dirasakan sendiri. Apalagi ini lari pertama saya di jarak 21K dengan track yang luar biasa menantang. Banyak tanjakan dan turunan yang harus dilalui. Yang banyak menghibur adalah kumpulan anak kecil yang berbaris dan memberi semangat.

“Run.. Fitri..Run..”.

Iya, ini Forrest Gump banget!

Makin lama makin ngoceh sendiri:

“Go Go Go!”

The finish line ahead!

“Lu mau sakit, mau ngeluh, mau jalan… nanti aja kalau udah finish!.”

Kadang juga begini:

“Fit, lu ngapain sih di sini!”

Drama-drama di atas justru menjadikan pengalaman MBM kemarin jadi penuh kenangan. Lebih seru lagi karena ramai-ramai dengan teman-teman.

Tapi belum selesai…

GAGAL PULANG DAN GAK BISA PULANG

Selain drama di race ternyata saya mengalami drama di Bandara. Senin pukul 11.00 WITA harusnya saya take off ke Jakarta. Karena telat check-in beberapa menit akhirnya tidak bisa ikut penerbangan sesuai jadwal.

Dan semua jadwal penerbangan sudah penuh hingga selasa sore. What a wonderful day!

DOMPET AKU KE MANA?

1474349789954
Touchdown Jakarta. Bye, Drama!

30 Agustus 2016 pulul 16.00 WIB. Turun dari pesawat dan menghirup udara Jakarta menjadi sangat menyenangkan. “Selamat tinggal drama di Bali” dengan tersenyum lega.

Sempat foto untuk terakhir kali dengan medali kemudian mencari toilet. Karena hari masih sore saya memutuskan untuk naik Damri saja ke Bekasi. Saat membayar tiket bus ternyata DOMPETNYA HILANG!

Mencoba tenang sambil menyusuri kembali yang di lewati termasuk toilet tapi hasilnya nihil. Kemudian melapor pada petugas. Makin pusing karena saya sendiri lupa kapan terakhir kali melihat dompet. Yang jelas terakhir kali ya di Bali.

Tapi rupanya Sang Penulis Skenario mulai tampak kasihan. Akhirnya saya mendapat kabar kalau dompet ditemukan di Lion Air, pesawat yang mengantarkan saya ke Jakarta. Setelah diingat-ingat, dompet itu keluar dari tas ketika saya mencoba foto medali di atas pesawat.

Oke.

20180330_164005(0)-01

Lari Pagi di Kuta Banyak Untungnya

DSC_0235_1

Lari biar sehat?

Saya lari biar ngirit. Begitulah yang terjadi saat akhir pekan kemarin di Bali. Sengaja membawa running gear agar dapat menikmati pagi di sekitar Seminyak dan pantai Kuta tanpa harus membayar ongkos taksi. Tentu saja sehat itu bonus. Eh, atau kebalik?

Sehari sebelumnya saya harus mendekam di balik selimut kamar hotel karena fisik yang kurang bagus. Kepala agak berat dan suara parau karena sedang terkena flu. Malam sebelumnya masih ikut Birthday Run Yuli di sekitar FX dengan badan yang tidak terlalu fit.

Birthday Run Ibu Yuli di FX beberapa jam sebelum berangkat ke Bali
Ikut Birthday Run Ibu Yuli di FX  sebelum berangkat ke Bali

Saya mendarat di Bali sekitar pukul 14.30 WITA dan langsung segera ke Hotel Fave Sunset di Seminyak. Karena memang hanya sendiri jadi memang mencari hotel yang murah tetapi lumayan ramai. Iya, saya penakut. Hotel yang memberikan sensasi seperti di kamar kosan. Karena setiap suara yang keluar masuk dari kamar sebelah pun terdengar. Tapi fasilitas lumayan oke. Tempatnya bersih, ada water heater, dan service room untuk makanan. Di lobby ada Circle K yang kalau mau beli makanan atau minuman tinggal turun ke bawah. Bisa juga menikmati mocktail atau kopi di pinggir kolam renang.

DSC_0242-01

Maaf jadi melebar ke hotel. Balik lagi ke lari. Pada sabtu paginya saya menilik ke arah jendela, tampak hanis hujan. Sepertinya saat yang bagus untuk berlari. Sedikit stretching agar badan enak untuk diajak lari. Apalagi kondisi badan sedang kurang oke.

Morning stretching before running
Morning stretching before running

Saya nyalakan dua aplikasi, yaitu Nike + dan Google Maps. Untuk orang yang tidak hapal jalan ini sangat penting. Saya arahkan ke Pantai Kuta. Minimal mandatory foto dengan background pantai tercapai. Jalan agak basah karena sisa hujan tidak menyurutkan semangat saya untuk sampai pantai. Saya berlari di trotar, terkadang harus melambatkan  dan agak keluar trotoar karena ada….

Anjing.

Saya lumayan takut anjing. Trauma karena waktu kecil beberapa kali dikejar anjing. Dan sepanjang jalan saya harus beberapa kali bertemu hewan ini. Saya tau anjing hewan yang ramah, apalagi di Bali. Tapi ya namanya juga sudah penakut mau diapain lagi. Tapi saya sangat suka saat berpapasan dengan orang di jalan. Masyarakat setempat sangat ramah. Setiap berpapasan mereka menyapa “Selamat Pagi!”. Jarang sekali ditemui di tempat saya tinggal. Hehe..

_20160720_121116(1)
Dari app Nike+ diketahui pembakaran kalori sebanyak 498cal

Dengan berlari kita bisa berkeringat dan irit ongkos. Lumayan ongkos taksinya bisa dipakai untuk uang makan siang. Duh, maaf saya memang perhitungan. Tapi ada lagi manfaat yang didapat kalau kita jalan-jalan pagi di Kuta dengan berlari: Banyak bule cakep dengan badan oke yang pada lari. Tapi gak sempat saya foto. maaf.

DSC_0237-02
Istirahat sejenak sambil stretching di pantai Kuta

Selain pemandangan pantai yang indah kita juga bisa menikmati pemandangan bule yang berkeringat. Tapi ya memang gak sempet difoto sih. Saya yakin kamu yang baca tulisan ini juga sudah sering liat kalau lagi ke Bali. Ya, kan?

Tapi pagi itu memang tidak terlalu cerah. Saat berlari dari pantai Kuta menuju hotel ditemani oleh gerimis. Untung baru gerimis ya. Kalau sudah begini berlari harus lebih hati-hati karena rawan tergelincir. Atau pilih-pilih jalan yang gak becek. Ingat, sepatunya mahal. (Gak gini juga sih, kak!)

Banyak yang bertanya kenapa saya bisa foto diri sendiri padahal larinya sendiri? Kan bisa minta tolong. Pas di Kuta saya meminta bapak yang mmebersihkan pantai untuk mengambil gambar. Jadi, manfaat lainnya kalau kita lari sendiri di Bali adalah: Lebih akrab dengan orang baru.

Foto dengan background pantai adalah mandatory kalau ke Bali
Foto dengan background pantai adalah mandatory kalau ke Bali

Ini baru di Kuta, apalagi di tempat-tempat lainnya yang pantai nya lebih indah. Pasti lebih asik lagi. Kalau bisa sama teman sih sebenernya lebih menyenangkan. Tapi lari sendiri pun bisa jadi sangat menyenangkan asal kita menikmatinya.

20180330_164005(0)-01

Serba Terpaksa di #Brikpiknik ke Bali

Perjalanan bersama #brikpiknik tidak terasa sudah satu bulan lebih, dimulai dari Malang-Bromo, Jogja, dan yang terakhir adalah Bali. Pulau Bali sebagai sesi terakhir dari tiga sesi kelas #brikpiknik melengkapi rangkaian #brikpiknik sebelumnya. Setelah puas menikmati sunrise di Gunung Bromo, berenang di sungai kali Oyo di hari yang cerah, hingga pada akhirnya TERPAKSA harus menikmati keindahan sunset di Pantai Balangan.

Terpaksa menjadi peserta

IMG_9362

Di dua kelas #brikpiknik sebelumnya saya dikenal sebagai “Minah”. Mimin #brikpiknik perempuan yang cerewet dan semena-mena kepada para peserta. Disaat yang lain mengerjakan tugas yang diberi deadline singkat, saya bisa memanfaatkannya dengan tidur. Sungguh (terlihat) nikmat menjadi mimin. Sebagian tugas mimin bisa dibaca tulisan saya sebelumnya di sini.

Pada kamis sore di sesi wawancanda terakhir, ada satu nama mysterious guest yang belum juga dibuka oleh pak Kepsek #brikpiknik, yaitu Om Ded. Saya bingung kenapa peserta terakhir ini harus dirahasiakan? Sempat terlintas bahwa Pak Kepsek belum dapat peserta. Sampai akhirnya beberapa notif twitter masuk. Loh, kenapa saya disebut-sebut?

Siapa sangka kalau saya sendiri yang menjadi peserta terakhir di #brikpiknik kelas C. Loh, kok bisa mimin jadi peserta?

Walaupun sempat bingung di awal tapi saya menyambut dengan suka cita. Kapan lagi mendapat kesempatan untuk merasakan kegiatan peserta #brikpiknik yang menghebohkan semua lini sosial media dengan konten-konten kreatifnya. Saya pun TERPAKSA untuk tidak menolak.

Terpaksa mendapat partner ‘gokil’

Riyanni Djangkaru, sang petualang yang dengan gagah berani menerjang hutan dan lautan kini ada di grup saya. Anggota Group lainnya juga gak kalah random, seperti Fahrizal Tawakal, Jhines Gozali, dan Acel Gunadirdja. Group ini pun diramalkan akan mendapat juara satu dalah hal: mendapat hape politron 4G.

Seperti nama grup kami yaitu #Rela, kami berkomitmen untuk TERPAKSA relaks.

“Mumpung Bali, Bro!”

IMG_9454

IMG_9451

Terpaksa menikmati keberagaman pantai di Bali

Bayangkan, di saat orang-orang aktif pasang status “rindu pantai”, saya dan para peserta lainnya malah TERPAKSA harus menikmati keindahan empat pantai di Bali! Dimulai dari Pantai Pandawa. Kira-kira enaknya ngapain kalau dikasih pantai senyaman ini?

IMG-20150922-WA0014[1]

Tidak hanya itu, saya dan lainnya pun TERPAKSA harus merasakan keindahan sunset di pantai Balangan. Pantai yang seksi di Uluwatu ini memang dijadikan salah satu destinasi para fotografer mengejar sensualitas langit yang sedang menenggelamkan matahari. Pantang ada cinta ditolak di Pantai Balangan. Kira-kira begitu ungkapannya.

IMG-20150922-WA0017[1]

Setelah kenyang menikmati sunset, kita TERPAKSA dikenyangkan dengan aneka seafood yang dihidangkan di pinggir pantai Jimbaran. Ini kok #brikpiknik maksa banget bikin kita semua hepi!

Esok harinya masih ada keriyaan dengan latar pantai. Kali ini tidak hanya dikenyangkan dengan pemandangan dan suara ombak di pinggir pantai, tetapi kita bisa langsung bermain di atasnya. Ada berbagai macam pilihan watersport, dari mulai banana boat hingga parasailing. Kami pun TERPAKSA basah!

IMG-20150925-WA0003[1]

Ada alternatif buat kamu yang bermasalah dengan air laut.

Tada!

IMG-20150925-WA0000[1]

Terpaksa tambah kreatif

Yang membedakan #brikpiknik dengan kegiatan piknik lainnya adalah selain untuk hore-hore, ini adalah event untuk sharing ilmu dan mempelajari hal baru untuk membuat konten kreatif. Dari #brikpiknik saya menjadi tahu bahwa untuk membuat video tidak harus ribet gadget khusus. Bahkan Daus Gonia dan timnya dari grup #Baper berhasil membuat video seru hanya dengan app yang dadakan diunduh di smarthone. Itu pun baru dipelajari hari itu, dengan kesempatan hanya satu jam edit.

Tapi kenapa mesti Daus sih?

239b2f36bda20375bc2929a97cd41b89[1]

Terpaksa kerajingan posting

Salah satu tantangan adalah bagaimana tetap update di setiap kunjungan. Saya dan seluruh peserta #brikpiknik harus dengan gesit update kegiatan di semua lini sosial media untuk meramaikan kegiatan #brikpiknik ini. Sayang kan, kalau kegiatan seru kami hanya menumpuk di storage device tanpa bisa “pamer”?

Untungnya kami dibekali pulsa dari Indosat untuk menikmati paket data sepanjang kegiatan #brikpiknik. Browsing, posting, download app sangat cepat. Kami pun TERPAKSA untuk gesit!

Terpaksa bawa pulang gadget

Tujuan utama ikut #brikpiknik adalah menambah teman baru dan bertemu idola. Ada beberapa dari anggota yang sebelumnya baru melihat di sosial media tanpa pernah bertemu langsung. Di sini selain bisa bertemu juga mendapat ilmu baru dari para senior.

Ternyata selain ditambah bonus keindahan alam dan melakukan hal yang seru, kami juga DIPAKSA untuk membawa pulang gadget dan pulsa dari Indosat.

IMG_20150923_111652_1442982419629[1]

Terpaksa di antara kalian

Di suatu perjalanan menuju pantai Balangan, ada dua ibu-ibu alumni salah satu TV swasta ternama yang duduk di sisi kanan dan di sisi kiri saya. Alhasil saya TERPAKSA ikut terseret dalam bahasan dua ibu-ibu ini karena topik mereka yang sangat inspiratif.

“Rara Riana Kalsum apa kabar?”