Processed with VSCO with  preset

#IndiaTrip Part 2: Drama di Bandara Bangalore, Nyaris Nangis

Akhirnya sampai bandara Bangalore (Bengaluru), India. Setelah 4 jam dalam perjalanan dan 10 jam bertahan hidup di Changi. Tapi karena perbedaan waktu Singapore dan Bangalore sekitar 2 jam jadi sampai di sana jam 1 malam. Saya dari Singapore jam 10.45 dengan hitungan waktu setempat.

Dari rumah Bekasi jam 5.15 pagi pada hari sebelumnya. Jadi saya sudah menghabiskan waktu seharian. Rasa lelah dan lapar menghampiri. Rasa senang juga dan terharu akhirnya bisa menginjakkan kaki di Bangalore. Telepon selular kehilangan koneksi dan belum tersambung wifi. Saya belum bertemu Pak Dharsono juga.

Gagal Lolos imigrasi

Setelah form imigrasi selesai diisi, saya melajutkan mengantri imigrasi. Saya menyerahkan passport + Visa dan Form Imigrasi. Tidak ada muka ramah pada petugasnya. Seperti penuh curiga. Ya, mungkin ini karena jam 1 malam. Dia mungkin sudah mengantuk juga. Tapi aku juga lelah pak..

Saya berkali-kali ditanya soal alamat. Alamat saya tinggal di India dianggap bermasalah karena menulisnya tidak lengkap. Karena koneksi internet mati jadi saya susah mencarinya. Convo-nya sudah kelelep jadi tidak bisa dicari. Mau texting lagi tapi kan gak ada signal. Akhirnya saya disuruh balik lagi untuk memberikan alamat yang proper, sekaligus nama dan kontak orang India yang akan menjemput. Saya tidak diizinkan masuk tanpa melengkapi data tersebut.

Kemudian saya mulai membanding-bandingkan dengan Changi. Di Singapore walaupun aturannya ketat tapi petugasnya tetap ramah. Saya tidak menulis lengkap karena formnya memang tidak muat. Tapi alamatnya memang benar. Duh, apa mungkin karena untuk pertama kali jadi lumayan dipersulit?

Bertemu Pak Dharsono

Saat kembali ke ruang pengisian form, saya mencoba mengaktifkan wifi dan BERHASIL. Seperti menemukan oase di padang pasir. Ternyata internet adalah segalanya. Saya aktifkan m-banking dan mengisi pulsa. Pulsa saya habis waktu di Singapore karena berusaha menelepon Pak Dharsono (meski akhirnya tetap tidak bertemu). AKhirnya saya bisa menghunubgi teman saya di India dan dia pun memberikan alamat lengkap via whatsapp.

Tiba-tiba ada pria tua dengan wajah oriental menghampiri “Mbak, Fitri ya?”

Saya langsung bersemangat “Pak, Dharsono?”

Akhirnya kami bertemu!

Beliau kesulitan dalam mengisi form. Pak Dharsono sudah 70 tahun dan tidak bisa Bahasa inggris. Tapi alhamdulillah ada pegawai baik disana yang membantu mengisikan. Saya pun membantu Pak Dharsono untuk melengkapi formnya.

Semangat Terakhir, Perut Melilit

Setelah itu kembali melewati ke petugas imigrasi. Tapi yang tadi sudah kosong. Tinggal satu cube lagi dan berbeda petugas dengan di awal. Entah ini lebih ramah atau malah lebih parah?

Saya yang penumpang terakhir yang tersisa.

Jantung berdegup. Saya takut prosesnya akan sulit seperti yang pertama. Teryata…

Banyak pertanyaan yang saya hadapi.

Pekerjaan, Jumlah anak, tujuan ke sana, tinggal di mana, siapa teman saya di sana, apa kegiatan yang saya lakukan, dll. Pertanyaannya sudah ke arah…. Ngobrol.

Mungkin karena saya yang terakhir maka mereka merasa lebih santai. Mungkin maksud mereka baik, biar saya lebih santai. Tapi mereka salah waktu. Semakin lama di sana, saya semakin tegang. Tanpa mereka ketahui asam lambung saya sudah naik. Saya merasa sakit sekali di bagian perut. Belum lagi rasa lelah. Mereka mungkin tidak tahu juga saya dari rumah di Indonesia pagi sekali dan harus transit lama di Singapore. Dan ini sudah dini hari.

Fitri? Your name like Indonesian name?

Kata petugasnya yang duduk di sebelah petugas yang seharusnya mewawancarai saya. Saya katakan memang dari Indonesia. Lalu dia curhat kalau suka menggunakan obat dari Indonesia yang namanya…

lupa. Saya yang lupa dan memang tidak berniat mengingatnya.

Pikiran saya sudah penuh benang kusut. Tidak sanggup menguraikan pertanyaan demi pertanyaan. Sementara teman saya yang dari India sudah menelpon berkali-kali. Yang menjemput pun sudah mengirim sms. Tapi saya tidak boleh mengangkat telepon saat wawancara. Muka terasa kaku, tangan terasa dingin, dan perut seperti ditusuk-tusuk.

Akhirnya…

Lolos.

“Yess!” masih sempat buat saya untuk bilang itu. Seperti melalui siding skripsi. Terasa legaaa…

Mau nangis juga. Saya kok seperti dianggap teroris. Perasaan muka kemayu begini. Apalagi saya sendirian. Trus kemana Pak Dharsono?

Teman saya menelpon katanya Pak Dharsono sudah keluar dari tadi. Mau tau gak apa yang membuat Pak Dharsono lebih cepat?

Dia tidak Bahasa Inggris. Jadi langsung disuruh masuk. Oke.

Yang penting semua selamat. 🙂

(bersambung)

Selanjutnya: “Kehidupan Ashram Sadhana Dhama, Bagai Pesantren!”