20180330_164005(0)-01

Jadi Kisah Romantis di Hari Ibu

20161229_180657

Seandainya saya dapat menemukan buku diari 16 tahun yang lalu. Saat itu saya sedang puber-pubernya. Saya yang bukan anak remaja yang hobi menulis buku diari tetapi kali itu saya menuliskan sesuatu:

“Aku ingin dipeluk Mama.”

Romantis. Juga bisa dalam hubungan ibu dan anak. Saya juga mau diperlakukan romantis sama mamanya. Walaupun dibesarkan Mama, tapi kayanya ga banyak kenangan masa kecil yang istimewa. Rasanya saya sulit menemukan kenangan-kenangan seperti disuapi atau digendong Mama. Lebih banyak rekaman tentang Papa yang biarpun sangat tegas, tetapi ada memori yang akan terekam abadi seperti saat papa menggendong saya dari belakang.

Sekarang ini sedang pusing-pusingnya menghadapi anak SD. Farrel, anak pertama yang luar biasa manja dan pandai membuat isi kepala mamanya seperti halilintar. Usia 8 tahun tapi belum bisa membereskan buku sendiri. Belajar juga masih harus didampingi. Kayanya saya orangtua yang paling sering wasapin gurunya Farrel sekadar untuk nanyain “Miss, besok ada PR ga?”

Suatu waktu saya mendengar nasehat mama ke Farrel, waktu saya sedang kesal-kesalnya. Begini kira-kira:

“Farrel, kamu harus kaya Mami. Mami masih kecil pintar di sekolah. Mami ga pernah nyusahin Oma. Pergi sekolah sendiri, belajar sendiri, beresin buku sendiri. Mami dari kecil udah mandiri.”

Duh.. aku nulis ini aja mata bisa langsung basah. Gak ngira mamaku punya memori seperti ini tentang aku. Aku kira mama gak inget dengan hal-hal kaya gitu.

Tapi memang semenjak menjalani sendiri kehidupan menjadi seorang ibu,  sosok Mama di mata saya banyak berubah. Saya jadi tau memang menjadi ibu itu berat. Saya aja yang baru punya dua anak sudah banyak ngeluhnya, apalagi mama yang usia 30 tahun sudah memiliki 4 anak dengan jarak yang lumayan dekat. Pasti berat.

Dua kali melahirkan dan dua-duanya didampingi mama. Waktu pertama kali merasakan mau melahirkan saya meminta maaf ke mama. Itu dalam keadaan yang sudah mules luar biasa karena kontraksi. Bukan hanya mendampingi, tetapi yang pertama kali menemani saya buang air kecil saat setelah melahirkan, memandikan, menggantikan pembalut, hingga mencuci darah saya.

Mama memang bukan tipe orangtua yang romantis. Tidak pernah memberi kado atau merayakan ulangtahun buat saya. Tapi Mama mengajarkan Farrel untuk menjadi anak yang romantis untuk mamanya. Di hari ibu kemarin Mama menemani Farrel membeli hadiah dalam rangka “hari ibu”.

“Mami pasti suka ini.” Kata anak lelaki yang sehari sebelumnya kena omelan mamanya.

Kado romantis dari Farrel dalam rangka “hari Ibu”

I love you, Farrel.

Selamat hari ibu , Mama.

20180330_164005(0)-01

Menikmati Liburan Hanya di Bekasi

Macet. Begitu yang dikeluhkan orang-orang pada hari libur panjang kemarin. Untuk merayakan akhir tahun banyak yang memilih ke luar kota. Akan tetapi suasana di dalam kota pun masih padat. Terbukti mall-mall di Jakarta masih dipenuhi pengunjung. Karena keadaan saya sedang kurang sehat dan juga suami masih belum libur maka memutuskan berlibur di dalam kota saja. Lalu bagaimana dengan anak-anak?

Anak-anak pasti senang bermain, entah di mana tempatnya. Cari suasana yang anak-anak memang suka. Di Bekasi ada?

Go!Wet Waterpark

Go!Wet Waterpark ini sejenis permainan air seperti di Waterboom. Terletak di Grand Wisata. Lebih aman lewat tol keluar di gerbang tol Grand Wisata/Tambun. Akan tetapi karena pada hari libur kemarin tol dalam rangka arus balik jadi saya memilih jalur masuk dari komplek ke komplek (Mutiara Gading). Lumayan selamat dari arus macet. Dari rumah saya di sekitar Rawalumbu ke Grand Wisata membutuhkan waktu tidak sampai 30 menit. Sampai di sana pun langit sudah redup. Sengaja saya pilih sore karena jika pagi ke siang pasti masih dalam terik-teriknya. Jam 3 sore memang waktu ideal. Masih terang tapi sudah meredup dan masih dapat menikmati berbagai wahana. Ternyata keputusan memilih waktu sore hari sangat tepat. Kata ibu-ibu yang mempunyai gerai cepat saji di sana, tadi pagi sangat ramai pengunjung. Kayanya kalau terlalu ramai jadi kurang seru. Pas di ruang bilasnya harus ngantri hehe..

Tapi Go!Wet ini sebenernya sangat luas. Walaupun ramai tetapi tidak sampai berdesakan. Ada beragam wahana permainan air yang tersedia. Jika ingin merasakan suasana ombak di pantai ada Go!Wave. Jika ingin berputar-putar di atas air sambal meluncur ada Go!Spin dan Go!Twist. Untuk balita juga tersedia permainan air yang disesuaikan dengan usia mereka seperti bermaian perosotan yang tidak terlalu tinggi. Akan tetapi aku selalu mengawasi anak-anak untuk bermain. Terutama Shayna (2,5 tahun) yang memang masih harus didampingi. Kalau Farrel (7 tahun) sudah bisa bermain sendiri, akan tetapi untuk permainan meluncur yang lumayan tinggi memang tetap harus didampingi. Selain bersama anak, aku ke sana juga bersama adik, mama, dan papa. Mamaku hanya yang santai-santai di atas ban dengan air yang berjalan seperti Go!Wave dan Go!Lazy. Papa, seperti umumnya lelaki yang sudah mudah lelah memilih bersantai di foodcourt.

Serunya bermain di wahana air adalah semua usia bisa menikmati karena banyak permainan air. Harga tiket masuk memang dalam edisi liburan jadi lumayan lebih mahal. Tapi ini terbantu dengan adanya promo” buy 1 get 1” untuk transaksi melalui kartu bank tertentu. Dibanding harus ke Waterboom PIK atau Jungle di Bogor dengan biaya tol, bensin, ditambah melawan kemacetan, bagi kami yang orang Bekasi ini sudah terasa sangat murah. Banget!

Sejauh ini Go!Wet masih jadi andalan destinasi bermain bersama anak untuk kategori non-Mall di Bekasi. Masih berharap ada lagi tempat-tempat yang seru buat jalan-jalan bersama keluarga. Atau sebenernya masih ada lagi?