IMG-20180604-WA0030

6 Trik Pelari Pemula Menaklukan Lari Maraton Pertama

Lari santai gak harus mikir? Salah banget. Apalagi kalau lari untuk full marathon. Saya percaya setiap pelari punya metode masing-masing untuk mempersiapkan race. Kebetulan saya ini masuknya ke recreational runner. Pokoknya yang waktunya jauh banget lah sama pelari podiumer.

Berlari santai juga perlu Persiapan. Kalau gak siap gimana bisa santai? Kalau latihan sih ya sudah jelas wajib hukumnya. Semakin jauh berlari, semakin banyak tenaga yang terbuang. Bagaimana berlari dengan efisien?

BUAT TARGET WAKTU!

Bagaimana bisa mendapatkan target waktu? Berdasarkan hasil latihan dan pencapaian waktu di race 10K dan 21K sebelumnya. Saya berani membuat target waktu 5.30 untuk maraton pertama di Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon (SCKLM), setelah waktu half marathon race sebelumnya (pada akhirnya) bisa di bawah 2.30. Sebelumnya agak susah menembus ini. Masalah waktu sih. Semakin terbiasa kita berlari maka semakin terbiasa juga dengan jarak.

04.00 – Start

06.30 – 21km

08.00 – 30km

09.30 – Finish

Target ini gak mutlak kok. Belajar dari pengalaman, saya sadar kalau kita gak akan tau “faktor X” yang mungkin terjadi saat race. Tapi bikin patokan gak ada salahnya. Jadi tau kapan harus santai dan seberapa santai. Kalau ada sisa waktu banyak kan waktu santainya agak lamaan. Santai saya ini maksudnya berjalan kaki. Pokonya apapun yang terjadi jangan sampai berhenti. Takut nanti jadi ngunci dan susah lari.

Iya, saya pernah 2 kali kena kram saat race HM dan rasanya gak enak banget.

Berlari di track yang memiliki elevasi lumayan panjang memang perlu strategi. Selain saya mempercayai Saucony Freedom yang baru dibeli menjelang race (uhuk! Pamer…), saya (mesti) mempercayai badan saya sendiri. Ini strategi pelari ala-ala ini dalam menghadapi rute SCKLM yang buat kata orang-orang menantang:

1. Fokus dan sensi

Entah saya harus bersyukur atau sedih saat kehilangan Sony Walkman yang menjadi senjata saya supaya gak bosen kalau lagi lari. Bete juga sih karena biasa race dengan earphone. Tapi ternyata ini yang menjadi penolong saya di SCKLM. Pas tau badan cape banget yaudah jangan ngoyo. Dipaksain lari juga pace-nya gak bakal nambah banyak. Nah ada momen badan saya dingin banget. Kayanya sekitar KM 17. Langit masih redup. Saya liat kulit tangan sudah mengeluakan garam. Bibir juga asin. Lidah pait.

Lidah mulai nagih yang manis-manis. Saya mulai mengurangi pace dan banyak jalan. Selain itu memang kecapean juga banyak dihajar naik turun. Lumayan pegel-pegel di paha dan betis. Saya berlari dengan menikmati cadangan terakhir energy gel (yang pertama sudah dimakan di KM 10). Sampai bertemu WS langsung meneguk air putih. Sampai badan enakan saya coba lari lagi seperti biasa. Yang tahu kondisi badan kita ya diri kita sediri. Jadi saat berlari – meskipun di kecepatan yang menurut kita santai – mesti tetap fokus.

2. Dukung kenyamanan berlari

Apa yang bikin kita gak nyaman saat berlari, hindari! Karena tidak memiliki mental dan fisik sekuat atlet, saya memilih gear yang menambah kenyamanan. Sadar diri gak kuat kena terik matahari, saya memakai sport eyewear, visor, dan buff. Buff ini fungsinya sekalin untuk mengelap keringat bisa juga dipakai dikepala untuk menutupi ubun-ubun dari sinar matahari. Sadar kakinya gampang pegal, saya memakai celana compression. Untuk sepatu cari yang paling nyaman. Ukuran jangan sampai kesempitan. Saya pun memilih tidak membawa hydration untuk mengurangi beban yang dibawa tubuh. Untuk event sekelas SCKLM persiapan air minum pasti sudah disiapkan dengan baik oleh panitia. Masalah-masalah pribadi yaudah gak udah dipikirin dulu.

3. Makan banyak supaya kuat

Gak sia-sia selama 2 hari di KL pesta karbo. Ternyata lari di atas 21K itu memang butuh tenaga banyak ya. Kesalahan saya adalah saya Cuma membawa 2 gu-gel. Ternyata kalau udah lari jauh gitu maunya ngemil terus. Bocorannya sih akan mendapat pisang di KM 17, ternyata… zonk!

Pisang saya dapat beberapa kali tapi sudah di atas 25km. Berharap banget dapat pisang karena perut sudah kembung dengan air. Walaupun di WS sebelumnya sudah mendapat gel sih. Lumayan buat nambah tenaga. FM itu memang ajaib. Ada masanya tenaga habis sehabisnya. Tapi ada masanya tenaga pulih dan ada kekuatan buat lari lagi. Makan dan minum ini memang penting!

4. Menikmati perjalanan apapun tanjakannya

Pertama kali ikut full marathon dan langsung kena track yang banyak tanjakannya. Pertama kali dapat tanjakan masih dilariin. Saat turunan dihajar speed. Tanjakan kedua, masih semangat seperti tanjakan pertama. Tanjakan ketiga, mulai goyah. Setelah sadar kalau tanjakannya ini akan berlanjut terus akhirnya mulai santai sama diri sendiri. Kalau tanjakan yaudah jalan aja. Pas turunan ya ambil kesempatan buat lari. Saat turunan pace kita akan naik meski dengan power yang sama. Lumayan bisa menggantikan utang waktu saat jalan.

Berlari dengan pace sendiri. Jadi saat dilewati banyak pelari lain yasudah santai aja. Nanti juga kebalap lagi. Eh..

5. Cari teman ngobrol

Sepanjang lari saya bertemu dengan beberapa teman dari Run For Indonesia tapi ya gak sempat ngobrol. Namanya juga masih fokus lari. Saat 5 kilo terakhir, di saat kaki udah males lari, bertemu dengan yang memakai jersey yang sama. Saat-saat ini saya butuh banget teman senasib. Kebetulan saya bertemu yang senasib: menikmati jalan santai.

6. Berdoa

Manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Saya ingat jika kita berdoa dengan tulus dan khusyuk insya Allah akan dijabah. Apalagi lagi sengsara-sengsaranya. Saat berlari kita hanya bisa berkomunikasi dengan diri sendiri dan Tuhan. Daripada mengeluh saya lebih memilih berdoa. Doa supaya sehat sampai finish. Jujur, saya takut sekali kalau sampai pingsan atau cedera. Apalagi saya seorang ibu, ada anak-anak yang menunggu di rumah. Saya berdoa supaya saya sehat, anak-anak di rumah juga sehat. Gak lucu kan kalau gara-gara lari saya jadi kenapa-napa. Apalagi larinya jauh. Jauh dari rumah.

Saya memang bukan pelari cepat apalagi pelari pro. Cuma ibu dari dua orang anak yang belum ada setahun berlari tapi nekat mengambil jarak full marathon. Bukan, bukan mau cuma gaya-gayaan. Tapi memang mau menguji kemampuan diri. Dari pada penasaran terus. Biar nekat tapi saya latihan kok. Walaupun sejujurnya tidak ada latihan long run, tapi konsisten latihan dengan menu yang variatif.

Untuk membuat target waktu tidak bisa menebak asal. Melihat hasil latihan yang dijalani dan juga dari catatan waktu dari race terakhir. Karena pelari ala-ala ini agak malas kalau lari jauh-jauh jadi saya sengaja mengambil race half marathon di bulan april (SCKLM di tanggal 21 Mei). Dari hasilnya jadi tahu bisa menargetkan waktu berapa untuk SCKLM ini. Sekali lagi saya tekankan kalau inilah cara saya – si pelari ala-ala- untuk saya sendiri. Jangan protes ya…

IMG-20180604-WA0030

11 Jebakan dalam Lari yang Dialami Pelari Pemula Seperti Saya

20170203_125201

Umur sudah kepala tiga tapi malah makin pecicilan. Apalagi kaum urban sekarang  sudah gak peduli umur dan saya memilih berada di antaranya. Karena banyak yang nyemplung ke pola hidup yang (mudah-mudahan) lebih sehat. Beberapa teman juga sudah pada tau kalau saya sekarang bukan hanya penggiat yoga, tapi juga mulai suka lari. Belum ada setahun sih, tapi lumayan TERJEBAK nih!

Seperti masuk ke JEBAKAN, banyak hal yang bikin saya “Ooo.. ternyata gini ya..”. Banyak hal yang baru saya tau setelah ikut-ikutan lari kaya temen-temen semua. Dari mulai masalah sepatu lari, baju lari, pace, sampai ke cedera-cederanya.

Sebelum lari kaya sekarang, saat liat postingan nike+ sahabat media sosial lumayan kaget liat yang bisa lari 10KM, Ngebayangin jaraknya aja udah cape. Saya bisa lari 1KM aja kayanya susah banget, Biasanya Cuma jogging-joging 15 menit selesai. Segitu juga cape loh!

Larinya diirit-irit speed-nya biar ga kecapean. Cuma modal pake kaos yang dipake tidur dan celana pendek, yang penting bahannya bisa menyerap keringat. Sepatu bukan sepatu khusus lari, tapi training shoes. Jadi tetap bisa buat lari juga. Gak terlalu banyak mikir.

Tapi… semua itu berubah saat ‘kecemplung’ lari bareng komunitas dan ikut-ikutan event lari. Seperti…

GANTI-GANTI SEPATU LARI SAMPAI DAPAT SEPATU YANG PAS

DSC00219

Masalah “yang tepat” ini ternyata gak main-main. Karena saya mengalami kuku jari kaki yang rusak setelah menyelesaikan virgin half marathon di Bali. Padahal ukurannya pas. Ternyata kalau untuk lari memang gak boleh terlalu pas, harus dilebihi sedikit dari ukuran biasa. Tapi jangan terlalu besar juga. Memilih sepatu lari memang harus sesuai bentuk kaki. Jujur, sepatu lari pertama saya adalah Adidas Running Super Cloud Pink. Saya memilih sepatu itu berdasarkan tulisan “Running” dan kebetulan lagi diskon. Bahan pertimbangan saya saat itu dalam memilih sepatu lari ya ada tulisan “Running”-nya, That’s it.

Ternyata buat dapat sepatu yang pas gak cukup dengan embel-embel ‘running shoes’ tapi sesuaikan dengan kebutuhan kaki. Menurut orang lain cocok belum tentu pas di kaki kita, karena memang bentuk kaki belum tentu sama. Jadinya tanpa terasa saya mulai rajin jajan sepatu dan mulai memisahkan sepatu untuk latihan dan sepatu untuk race. Bahkan sepatu yang akan dipakai disesuaikan lagi dengan jarak yang akan ditempuh. Karena masih betah lari di track jalan lurus, jadi saya memang belum punya sepatu trail. Someday lah ya..

JANGAN SEPELEKAN PERIHAL BAJU LARI

DSC00216

Pakaian berbahan menyerap keringat bukan berarti nyaman untuk lari. Waktu baru pertama lari di GBK saya pakai tanktop berbahan kaos dan celana legging. Baju buat yoga banget lah, karena memang saya pergi lari setelah latian yoga di JNICC. Hari pertama saya lari di sana ternyata langsung berjarak 6KM lebih dan baru setengah perjalanan baju sudah basah semua dan dingiiiiiin!

Bagaimana tidak terasa dingin karena saya berlari dengan baju yang basah karena keringat dan tidak menguap. Ditambah terkena hembusan angin jadinya terasa dingin banget. Karena bahannya katun jadinya saat basah terlihat sekali ceplakan keringatnya. Setelah itu saya sadar orang-orang pakai baju lari itu bukan sekadar gaya-gayaan aja. Memang baju lari sekarang ini bukan yang berbahan cotton, tetapi bahan sintetik seperti spandex dan polyester. Dan biasanya sudah resisten terhadap bau akibat keringat dan cepat kering. Begitu pun untuk sport bra. Jangan salah pilih untuk memilih bahan. Buat wanita sport bra lebih penting dari baju larinya karena yang paling menempel di badan. Jangan lupa, merk memang gak pernah bohong.

TERNYATA LEGGING YANG MAHAL BANGET ITU COMPRESSION

Awalnya liat orang-orang kok pada seneng banget pake legging. Sampai cowok-cowok juga pakai celana ketat yang membuat bentuk kakinya sangat terlihat. Ternyata itu celana compression. Tapi saat melihat harganya yang sampai menginjak jutaan aku pun mengurungkan niat untuk dapat memiliki. Hiks.

Lama-lama penasaran juga. Karena yang pakai lumayan banyak. Saya mulai tanya-tanya ke teman-teman yang pakai dan jadi mulai tertarik. Minimal kan kalau pakai celana compression panjang kakinya gak belang-belang banget, karena sudah semakin sedih melihat paha yang semakin belang.  Banyak review menarik tentang benda ini. Awalnya yang suka pakai knee band untuk melindungi lutut, setelah pakai compression jadi enggak lagi. Lari jadi lebih nyaman karena otot kaki lebih tersangga. Bisa juga dipakai untuk recovery otot pasca lari. Setelah beberapa bulan ikutan race akhirnya saya mulai TERJEBAK memakai compression. Alhamdulillah.. tetap CEDERA!

Compression hanya gear pendukung, mesinnya tetap ada pada tubuh sendiri. Jadi latihan tetap yang yang utama. Saat lari di 2XU Compression Run dan Lombok Marathon saya mengalami kram di pangkal paha. Ini sudah dipastikan efek kurang latihan. Tapi bukan berarti compression tidak ada manfaatnya sama sekali. Saya juga lumayan terbantu dengan adanya compression ini. Malahan saya memakai calf compression jika sedang memakaai short pants. Lumayan mengurangi rasa sakit saat berlari. Saya memaki calf compression memang karena sedang merasa nyeri di bagian betis. Worth to buy, kok!

GEAR! GEAR ! GEAR!

Photo by Reinhard

Kalau liat orang lari yang banyak gear-nya kayanya ribet ya. Kembali ke “Paling cuma buat gaya-gayaan!”. Tanpa terasa saya mulai cicil-menyicil keperluan lari. Ini bukan berdasarkan nafsu semata, tetapi memang kebutuhan. Saat berlari saya mulai risih dengan keringat yang menetes ke mata dan membuat mata saya pedih. Ditambah poni yang suka menutup. Belum lagi jika matahari mulai naik, pandangan menjadi lebih silau. Untuk itu saya membeli visor. Awalnya saya kira cukup beli satu, lama-lama mulai centil menyesuaikan visor dengan warna baju atau sepatu lari.

Begitu pun dengan running belt, hape salah satu barang yang harus saya bawa saat berlari. Tapi lama-lama ganggu juga klau harus ditenteng-tenteng. Resiko untuk jatuh juga lebih tinggi.

Saat berlari kadang terasa bosan. Ini yang membuat lari jadi semakin lebih berat. Waktu GBK masih bisa dipakai untuk latihan lari saya mendengar lagu dari yang sedang zumba. Kok enak juga ya lari sambil diiringi lagu. Jadi makin semangat. Bahkan ritme lagu membuat bisa membuat kita berlari lebih cepat. Akhirnya saya membeli sport earphone dari sony walkman.

Terakhir ini yang paling penting. RUNNING WATCH!

Saat lari kita suka penasaran kan ada di pace berapa dan sudah berlari berapa kilo. Kalau harus melongok hape yang tersimpan di running belt kayanya jadi kurang efisien. Kalau lagi sial GPS-nya error. Mungkin masalah koneksi. Ini membuat hasilnya kurang akurat. Running Watch buat saya ini juga penting. Untuk brand dan tipenya bisa disesuaikan dengan kantong. Awalnya saya memakai yang cukup menginformasikan waktu, pace, dan jarak. Sekarang mulai demanding yang ada heart rate-nya. Ya namanya juga mau lari dengan aman.

Soal running gear ini memang banyak banget jenisnya. Yang saya sebutkan masih belum ada apa-apanya. Tapi sebelum impulsif membeli pikirkan lagi manfaatnya dan tingkat keperluan. Buat list-nya dulu jadi belinya dicicil dari yang paling perlu banget sampai ke yang ga perlu-peelu banget. Kecuali kalau kamu memang uang jajannya banyak banget, yaudah silakan diborong kakaaaa…

PACE SANTAI DAN PACE GAK SANTAI BANGET

Lari gak usah cepat, yang penting sampe. Ini yang ada di pikiran setiap mau lari. Saat belum mebgalami ikut eveny lari dan ditanya “Waktunya berapa tadi?”. Ternyata waktu menjadi hal yang lumayan signifikan bagi kebanyakan orang. Tengsin juga kan kalau jadi yang terakhir finish. Istilah ‘pace’ juga baru saya tau setelah lari saat lari ramai-ramai seperti sekarang. Pace atau tempo adalah istilah kecepatan dalam lari. Jadi berapa menit yang dihabiskan dalam menjangkau waktu tertentu. Ada pace santai dan pace cepat. Saat saya melakukan pace santai, saya berlari dengan napas yang tidak terlalu ngos-ngosan dan bisa diselingi ngobrol bersama teman. Istilahnya ‘easy run’. Untuk mengetahui dan mengenali pace sendiri diperlukan latihan yang rutin. Paduan saya dalam berlari berada di antara pace 6 hingga 7. Kalau lagi latihan speed ya pacenya sudah mulai gak santai. Makanya saya jarang-jarang hahaha..

Pace setiap orang memang beda-beda. Saat baru pertama ikut lari-larian saya hanya mampu berada di sekitar pace 8. Bisa 7 udah alhamdulillah banget. Sekarang kalau lari waktu 10K-ya kena 1 jam 10 menit ke atas udah cemberut. Manusia..

LATIHAN LARI BUKAN CUMA LARI

Ini JEBAKAN berikutnya yang Fitri Tasfiah baru tahu setelah ikut-ikut race. Biar bisa lari nyaman tentunya tubuh juga harus siap. “Latihan lari bukan cuma jogging setiap hari. Sesekali interval, sesekali jogs stride..” Kata Mas Arif, Pelatih lari yang saya kenal saat saya baru selesai event lari di Halim Runaway awal Januari kemarin. Kebetulan waktu itu kaki saya sedang sakit jadi memang banyak yang ngasih masukan.

Tapi saya setuju masalah menu latihan jni. Untuk dapat lari nyaman, otot kita juga harus siap. Latihan penguatan otot diperlukan agar kita dapat kuat menopang saat berlari. Begitupun pentingnya stretching pemanasan dan pendinginan. Selain itu juga kita perlu latihan pernapasan untuk meningkatkan VO2 MAX. Latihan pernapasan dalam yoga seperti bhrastika dan kapalabathi lumayan membantu untuk ini. Saat weekend saya gunakan untuk latihan long run untuk melatih endurance. Latihan interval dilakukan seminggu dua kali. Oiya, saya juga baru tahu dengan metode tempo run. Lari dalam waktu tertentu (1 jam, 2 jam, 3 jam) dengan pace yang nyaman. Kalau kata pelatih saya tidak perlu memikirkan pace, yang penting tidak berhenti kecuali untuk minum. Latihan tempo ini bisa dijadikan latihan long-run juga. Jujur, sampai sekarang saya juga belum mampu-mampu banget makanya saat race 21K kemarin saya kena kram di paha. Antara belum mampu sama malas memang beda tipis. Jangan ditiru, ya..

LATIHAN UNTUK MEMILIKI FORM LARI YANG SEMPURNA

Duh, apalagi ya ini form lari? Lari aja ternyata lumayan ribet. Ini yang suara batin saya saat tau istilah ini. “Jangan heels stride ya!” katanya. Karena ini lebih beresiko untuk cedera. Agak susah kan ya menghilangkan kebiasaan. Saya pun “ditegor” karena bahunya masih goyang. Jadi walaupun tangan mengayun tapi bahu harus tetap rileks dan tidak banyak goyang seperti orang berenang. Saat saya latihan dengan Marwan -Pelatih saya sejak pertengahan Januari kemarin- saya baru tahu kalau cara langkah saya itu salah. Jadi… selama ini?

Saat berlari kaki kita tidak melangkah seperti mau menendang, tetapi yang diangkat terlebih dahulu adalah pahanya dan pergelangan kaki ke bawah diangkat dan mengayun ke depan. Seperti kuda yang sedang berlari. Untuk itu latihan drills diperlukan untuk memperbaiki langkah kaki dalam berlari, seperti butt-kicks, high knees, a-skip,  carioca, dan straight-leg bounds. Ini lumayan bikin ngos-ngosan tapi kalau sudah latihan ini larinya memang lebih enak sih. Makasih ya coach!

WAKTU ISTIRAHAT BUKAN BERHENTI LATIHAN

Rest time!

Tapi bukan berarti bisa seharian leyeh-leyeh di kasur sambil nonton drama korea dari pagi hingga ketiduran sampai malam. (Duh, iya ini saya banget!)

Otot kita harus tetap dilatih agar gak terbuang sia-sia. Bahkan waktu kaki saya nyeri saya tetap harus latihan tapi….

tidak boleh lari di aspal!

Ternyata lari di aspal terus menerus akan membuat otot cepat lelah. Ya seperti yang sedang saya alami. Latihan perlu diselingi di jalur tanah atau rumput. Katanya sakit dengan lari sembuhnya dengan lari juga. Ini ternyata bener banget! Semua cedera sembuhnya ya dengan lari juga. Lari santai aja. Listen your body, jadi kalau sudah terasa gak nyaman bisa berhenti.

Tapi memang yang saya alami bukan cedera serius. Hanya masalah otot saja. Jadi buat temen-temen, kembali lagi ke kondisi masing-masing ya..

CEDERA BISA BERARTI ADA YANG SALAH PADA CARA BERLARI

Lari mau sehat kok malah jadi sakit. Batin saya waktu cedera di lutut. Bukan larinya yang salah, tapi memang cara latihan saya yang salah. Ngebut latihan untuk persiapan virgin half marathon, padahal harusnya bertahap. Kayanya otot saya kaget dan belum siap. Tapi ada juga yang bilang ini adalah tahapan penguatan otot, jadi nanti juga hilang. Dari beberapa cedera yang saya alami semua berada di kaki kanan. Pada akhirnya saya sadar mungkin selama ini beban terlalu banyak ditumpu oleh kaki kanan. Walau tidak mudah, saya coba untuk lebih balance tumpuan kanan dan kiri. Saat berlari memang tetap harus benar-benar fokus. Kuatkan indera untuk merasakan tubuh sendiri. Dengan lari ini saya jadi lebih belajar mengenali tubuh sendiri.

LARI UNTUK KURUS ATAU KURUS UNTUK LARI?

Dulu saya berlari supaya dapat lebih banyak membakar lemak, sekarang saya mengatur pola makan supaya larinya lebih enak. INI JEBAKAN!

Awalnya saya kira dengan berlari saya bisa lebih bebas dalam menghantam semua makanan. Ternyata berat badan mempengaruhi lari juga. Mulai memperhatikan nutrisi. Sekarang lagi pengen banget ngurusin badan supaya lebih enteng kalau lari. Dear timbangan, please be nice!

TERNYATA RACE LARI ITU BANYAK BANGET!

Setiap ada info jadwal event lari biasanya langsung daftar. Syarat utamanya jangan bentrok. Sampai akhirnya tanpa kerasa jadwal race ternyata ada SETIAP MINGGU. Karena kan daftar biasanya sudah beberapa bulan sebelumnya. Tapi gapapa sih. Itung-itung latian juga. Kalau gak ada race mungkin saya cuma leyeh-leyeh aja di rumah atau baru lari 5KM udah nyerah. Semangat bisa kembang kempis. Tapi kalau lari di track lomba minimal harus lari sampai finish. Biarpun kalau cape ya jalan juga. Gapapa, jalan gak dosa kok!

Lari di saat race lebih semangat karena kita berlari bersama ribuan peserta lainnya, ada water station, jalanan steril, dan ada garis start dan garis finish. Cuma jatah ngopi-ngopi memang harus dikorbankan karena RACE ITU BAYAR!

IMG-20180604-WA0030

8 Informasi yang Perlu Kamu Ketahui untuk Berlari di Taman Tebet Honda

Perhatian: Postingan ini banyak menampilkan muka saya, jadi kalau kamu kurang berkenan silakan tutup lagi page ini!

Kalau emang langsung ditutup, kamu mah terlalu!

Oke, saya mulai bercerita. Ini berdasarkan pengalaman pridadi saya sendiri. (lha, bisanya kan gitu!)

Ibaratnya musafir, anggap aja saya ini musafir versi lari-larian. Rumah di Bekasi tapi latihan lari di Senayan, kadang ke Kuningan. Apalagi kalau ada event lari bisa nyebrang dua kota: Jakarta dan Tanggerang.

Mungkin nasibnya anak Bekasi memang begini. Mau lari aja mesti nyebrang tol dulu. Sekalian kerja juga sih. Saya sering mengajar yoga di sekitar Jakarta Pusat, jadi  sekalian nyelipin untuk lari. Biar sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Rabu kemarin saya ditawarin Ka Riris dari Komunitas Yoga Taman Tebet untuk mengisi yoga di sana. Sebelumnya sudah pernah tapi dulu belum lari-larian. Sekarang pas baca “Taman Tebet” langsung kepikiran untuk nyoba lari di sana juga. Setauku ada dua taman dan ada jogging track-nya. Yang satu sekitar kurang lebih 400m, yang satu lagi sampai 800m.

 

Kamis sorenya  dengan cuaca yang masih lumayan terang saya menuju Taman Kota Tebet. Saat masuk ke dalamnya tiba-tiba suasanya menjadi teduh. Pepohonan yang tinggi dan rindang menghalau sinar matahari untuk menembus kulit. Biasanya saya selalu pakai visor, sekarang saya merasa tidak perlu. Taman ini tadinya berupa Hutan Kota yang tidak terawat, lalu oleh Pemprov DKI -masa pemerintahan Bapak Fauzi Bowo tanggal 28 Juli 2010- bekerjasama dengan PT. Honda Prospect Motor (HPM) tempat ini direnovasi. Sekarang warga Tebet bisa merasakan ruang terbuka yang berfungsi untuk menjadi sarana berolahraga dan berekreasi. Dan akhirnya saya pun mengerti kenapa dinamakan Taman Tebet Honda.

Berikut ini informasi penting yang perlu kamu catat jika ingin lari di sana:

1. Satu putaran bisa mencapai 800m

Dibanding lari di GOR Soemantri atau Lapangan Madya ini lebih luas. Jadi kamu gak perlu kaya marmut yang banyak muter-muter buat sekadar lari 5km. Tapi kalau di taman sebelahnya jalurnya tidak sepanjang ini, kira-kira hanya 400m (atau mungkin kurang). Tapi di sana ada ruang untuk senam dan fasilitas lainnya.

 2. Lebar jalur sempit

Kalau yang belum biasa jalurnya seperti saya ini, larinya santai saja dan nikmati sensasi lari di bawah pohon yang rindang dan hijau. Tujuannya memang untuk jogging. Kalau kamu biasa lari di Lapangan Madya atau GOR Soemantri mungkin gak masalah untuk bisa lari dengan kecepatan tinggi. Kalau di sini: awas nabrak orang!

3. Ada tanjakan dan turunan

Memang jalurnya tidak benar-benar rata. Kadang menanjak dan kadang menurun. Apalagi pas masuk ke jembatan. Lumayan untuk latihan paha. Kayanya kalau biasa  lari di sini pas lari di jalur rata bisa kenvang ya. Ya baru kayanya. Sejujurnya saya juga agak payah lari di jalan naik turun. Masih belum terlatih hehe..

 4. Bawa minum sendiri

Kalau saya memang gak tahan kalau lari gak pakai minum. Maksimal 3km harus meneguk air mineral atau isotonic. Kemarin sempat begitu juga. Pas 3km saya mulai nyari-nyari tempat yang menjual minuman. Akhirnya saya berjalan keluar dan menemukan warung. Untungnya lokasinya tepat di depan pintu masuk. Ya, nyebrang dikit..

 5. Jangan menyampah!

Pelari kok nyampah? Saya akui tempat ini lumayan bersih dan terawat (kecuali toiletnya ya!). Kalau sampai seikit saja nyampah kamu bakalan merasa menjadi manusia yang paling malu-lauin.  Di sana banyak persediaan tempat sampah jadi untuk yang membawa air kemasan, buanglah sampah pada tempatnya!

 6. Hati-hati pada serangga!

Serangga sebagai bagian dari alam. Karena ini sebenarnya hutan kota yang dipenuhi pepohonan rindang, sudah sepatutnya banyak serangga yang hidup di dalamnya. Saat mau stretching untungnya masih liat-liat bawah. Jadi saya melihat ada serangkaian semut merah yang berbaris pada tanah yang bersebelahan dengan jalur lari. Meleng dikit udah abis kena semut. Atau mereka yang keinjek kita. Kasian juga, kan?

 7. Dibanding sunblock, lebih baik membawa autan

Entah karena sedang redup atau memang sudah setiap hari begini karena banyak pohon rindang, saya tidak merasa panas terik matahari. Yang dirasakan malahan gateeeeel. Ternyata banyak bentol bekas gigitan nyamuk. Nah, mungkin obat luar seperti minyak kayu putih boleh juga di bawa. :p

 8. Banyak tukang jajanan

Penting banget nih! Kalau habis lari kan suka lapar. Dengan berjalan ke luar, kita bisa langsung menemukani tempat makan atau camilan yang memuaskan lidah dan perut.

Kayanya itu saja informasinya. Selebihnya biar anak Tebet dan kamu yang kreatif yang menambahkan.  Oiya tambahan lagi, jangan lupa tetap stretching sebelum dan sesudah berlari ya. Biarpun lari santai tapi bukan berarti ngasal.

 

Sekalian  juga numpang promo untuk anak Tebet dan sekitarnya (atau yang mau jauh-jauh ke Tebet), hari sabtu tanggal 21 Januari 2016 ini saya kebagian mengisi di Yoga Taman Tebet ini. Kita mulai pukul 7 pagi. Mari kita yoga bersama biar tambah sehat!

Gratis! Tapi jangan lupa bawa matrasnya ya!

 

IMG-20180604-WA0030

Menyambut 2017 dengan Lari-Larian sampai Nangis

“Tahun baru ke mana?” sepertinya menjadi trending topic menjelang dan sesudah tahun baru. Dan jawaban “Gak kemana-mana” adalah jawaban template saya buat pertanyaan tadi.

Kok, kasian ya?

Tapi justru saya happy banget bisa tahun baruan di rumah (meskipun ujung-ujungnya di hotel juga buat numpang tidur) karena gak harus macet-macetan dan bangun tidur dengan mata yang masih segar-segarnya. Karena saya mau menyambut tahun baru dengan…

Lari.

Oke maaf kalau agak basi. Tanggl 10 kok bahas tahun baru. Maunya sih pas tanggal satu teng langsung nulis di blog tapi apa daya jadwal yang masih dalam rangka ngejar setoran. Oke saya mulai ya ceritanya…

Lari di pagi pertama 2017

Langit masih sedikit bersemu tapi saya dan dua sepatu New Balance 1260v5 berwarna biru sudah berdiri di Stadion Madya Senayan. Maaf harus menyebut nama sepatu karena masih norak-noraknya pakai sepatu baru. Ya ujung-ujungnya cuma dipake buat latian sih ya.. (maaf ternyata sepatu ini gak terlalu cocok banget sama kaki saya)

Event lari terakhir itu 4 Desember 2016 pas Lombok Marathon dan habis itu udah sibuk ngurusin anak yang lagi dalam masa ujian akhir semester ditambah jadwal ngajar yoga yang lagi kejar tayang. Huft banget deh..

Jadi ya memang lama banget gak lari. Ditambah kaki juga masih agak sakit. Dua minggu menjelang race pertama di 2017 langsung ngebut latian. Ternyata betis kanan masih sakit banget ditambah lama banget jadi pas mulai lari lagi kaya yang baru pertama kali lari. Payah banget pokonya. Mana tensi lagi drop banget jadi lagi sering keliyengan. Malahan beberapa kali ngeblank pas lagi ngajar yoga. Gelap dalam beberapa detik.

Di saat badan yang lagi payah banget malah bikin resolusi yang aneh-aneh. Padahal biasanya gak pake resolusi-resolusian. Bener-bener deh!

Pengen punya studio yoga sendiri, pengen ambil spesialisasi baru untuk yoga, pengen nyobain full marathon. Yang terakhir ini agak ngilu sih bayanginnya. Seeenggaknya buat saya yang masih newbie diperlarian.

6.30 di pagi pertama 2017 dengan banyak target di kepala. Tahun ini mau nyobain full marathon. Muluk-muluk gak sih?

Yaudah gak usah jauh-jauh deh. Seminggu lagi mau ikut race 2017, tapi fisik kayanya masih belum siap. Liat jam di tangan baru lari 3 kilometer dan kaki masih lari dengan pincang. Sampai akhirnya berasa ada burung yang muter-muter di kepala trus pusing sendiri.

“Kok gak bisa lari kaya kemarin!”

“Kok masih sakit!”

“Kok jadi pincang!”

“Kok sekarang lambat!”

“Kok payah banget!”

Dan banyak kok kok yang lain. Jadi kesel. Kecewa. Rasa ingin itu memang sangat pandai membuat kita menjadi orang yang mudah kecewa. Padahal ya masih beruntung masih punya kaki, masih bisa berlari, masih dikasih sehat. Manusia.

Setelah lari 3 kilo tiba-tiba saya menghentikan langkah untuk berlari dan tak terasa air mata mengalir ke pipi. Race udah mau seminggu, beberapa lagi mau FM, tapi sekarang lari aja belum bener. Kesel sama kaki. Kesel sama badan. Kesel sama diri sendiri.

Wah makin gak bener nih!

Oke.. ini ada yang salah. Target juga harus liat kondisi fisik sendiri. Tarik napas yang dalam..

Inhale..

Exhale..

Saat itu lapangan masih sepi. Suara detak jantuk dan tarikan napas terdengar begitu jelas. Suara-suara di pikiran pun terasa nyaring. Pasti sepi lah! Siapa yang mau berlari sepagi itu di saat malamnya baru merayakan tahun baru?

Ya ada sih. Saya.

Mungkin memang saya terlalu banyak ingin, sampai lupa untuk bahagia. Lari dengan bahagia tanpa ada beban. Biarlah kaki saya yang memiliki beban, tapi tidak di pikiran. Saya mulai santai untuk meneguk air yang tersimpan di botol dan menikmati roti yang sengaja dibawa untuk sarapan.

Setelah merasa lebih enakan, saya mulai berlari lagi. Tanpa mikir target waktu dan lainnya. Hanya lari. Gak sangka bisa lari lebih cepat dari sebelumnya. Nikmati larinya dan jangan menambah beban apapun dengan harus ini itu. Lari karena saya suka lari. Titik.

Semakin siang ternyata banyak teman juga yang merayakan pagi pertamanya dengan berlari. Makin hepi deh!

Thanks!

Race pertama 2017

Nah kaann.. akhirnya masuk ke tanggal yang ditakutin dari kemarin. Nyaris mikir batal ikut aja tapi ya kan sayang udah bayar. Paling penting sih nambah medali hehe..

Halim Runaway away 10K dan Sky Run 5K adalah race pertama di 2017. Bedanya hanya sehari. Tanggal 7 Januari dan tanggal 8 Januari. Halim race 10K kayanya terberat yang saya alami. Saat berlari badan terasa dingin dan mulai agak oleng. Untung banget pas lagi lari ditemenin Ko Willy karena lihat saya berhenti. Saya ngerasa keliyengan dan pandangan mulai burem.

“Jangan merem fit ! Liatnya jangan ke bawah tapi lurus ke depan!”

Kata Ko Willy saat saya merasa mulai ilang-ilangan. Pas ketemu water station langsung minum pocari yang banyak. Alhamdulillah sih akhirnya bisa lanjut sampai finish. Sebenarnya tracknya juga agak naik turun jadi makin menguras tenaga. Ini alaesan juga sih. Kalau latihannya lebih rajij mungkin gak kaya gini juga.

Ya kalau lagi kuat lari ya lari, kalau gak kuat ya jalan. Saya juga teringat saat latihan, terlalu memaksa juga tidak baik.

Medali Halim Runaway 10K yang “imut” banget
Medali Sky Run 5K yang lebih menyenangkan dibanding race sebelumnya

Saya memilih untuk lebih merasakan kondisi tubuh dan tidak terlalu mengejar target waktu. Alhasil 10K saya di halim turun banget waktunya: satu jam 11 menit. (hahaha…)

Ya sudahlah ya. Yang penting bisa finish dan masih bisa lari buat besoknya lagi. Dan nambah stok foto buat instagram pastinya ya…

Besok paginya saya ikut Sky Run (yang nyaris juga saya batalkan). Belajar dari Halim Runaway, saya gak mau ngoyo. Larinya lebih santai. Waktunya juga ya pastinya santai juga. :p

Wajah mengjadapi garis finish di Halim Runaway 2017
Bersama Run For Indonesia yang ikut Halim Runaway
Cewek-Cewek Run For Indonesia di Sky Run 2017

 

Dua race dalam dua hari selesai!

2017 memang banyak target tapi target terbesar kan bisa menjalani hidup dengan bahagia. Ya, toh?

Welcome 2017!

IMG-20180604-WA0030

Lombok Marathon: Berlari dengan Kehangatan Penduduk Pulau Seribu Masjid

“Welcome to Lombok!”

Suara dari sebelah saya ketika pesawat berhasil mendarat di Bandar Udara International Lombok. Saat gate pesawat di buka saya pun bergegas keluar dengan menggeret koper kecil yang warnanya selaras dengan kaos yangs edang saya pakai. Di pintu kedatangan sudah ada bapak Heri dari pihak Travel yang bekerja sama dengan Lombok Marathon. Saya pun dikalungi selendang dari kain tenun khas Lombok sebagai tanda selamat datang. Pokonya is ti me wa!

Sambutan selamat datang di pintu kedatangan Bandar Udara International Lombok

Pulau Lombok menyambut manusia yang beru pertama kali ini menginjakan kaki di sana dengan hujan yang cukup deras. Saya pun menaiki mobil Avanza silver yang akan mengantarkan ke hotel di wilayah Mataram. Sambil memandangi ke arah jendela saya menjelajah satu persatu isi kota. Biarpun banyak juga yang terlewat karena perut mulai terancam kelaparan dan menagih alam taliwang. Kemudian mata mengarah ke arah satu bangunan berupa tugu yang berbentuk masjid. Meskipun hujan ada beberapa wisatawan yang mengambil gambar di tugu tersebut.

“Itu adalah simbol bahwa Lombok pulau seribu masjid.” Kata Edi, supir yang mengantarkan saya di sana. Jadi nanti saya akan berlari di daerah yang kaya akan bangunan masjid. Kalau sampai lupa salat sih ya ter la lu!

Dari penampakannya Edi ini dia masih lumayan muda. Edi ini bisa sekaligus menjadi tour guide. Sambil menyetir dia menceritakan budaya yang menjadi ciri khas Lombok. Tapi saya lapar mas. Boleh kita buruan ke tempat makan?

Tugu yang menajdi simbol Lombok Pulau Seribu Masjid

THE DAY OF LOMBOK MARATHON

Alarm 2.20 pagi hari sudah berbunyi. Dengan tubuh yang masih memiliki magnet kuat terhadap kasur saya pun agak malas-malasan untuk melepaskan selimut. Kelopak mata masih terasa lengket seperti pasangan yang baru satu bulan jadian. Tapi karena shuttle yang mengantarkan ke Senggigi maksimal pukul 3 pagi maka mau tidak mau saya mengakhiri mesra-mesraan dengan kasur.

Untuk pelari dengan jarak 42km dan 21km start di Senggigi. Pukul 3.30 waktu Indonesai Bagian Barat saya dan rombongan yang menaiki shuttle telah sampai. Masih bingung mencari-cari di mana garis start.

Ternyata…

Gerbang startnya baru mau dibuat!

Jadi karena posisi di jalan utama maka untuk membuat gerbang start menunggu jalanan telah steril. Karena masih lama mulainya maka saya pun memilih pemanasan dan berkali-kali buang air kecil. Penyakit langganan tiap mau race: beseran.

Peserta dari #KawanLari Run For Indonesia yang paling duluan sampai di garis start

Setelah bolak balik lari-lari kecil akhirnya kawan lari dari Run For Indonesia sampai. Suasana yang sebelumnya sunyi jadi ramai. Ketauan deh ini biangnya rame di setiap ajang lomba lari. Pokonya pantang mulai sebelum PB alias banyak photo.

Bersama #kawanlari dari Run for Indonesia yang mengikuti Lombok Marathon kategori Full Marathon dan Half Marathon di garis start

And the race is begin

5..4..3..2..1..

Go!

Saya mulai menggerakan kaki perlahan. Beneran pelan. Karena gebangnya sempit jadi saya dan beberapa pelari lain memulai lari dengan berjalan. Beda dengan race di Jakarta yang justru saat start adalah saat menacap gas secepat mungkin. Peserta tidak terlalu banyak tetapi cukup untuk event yang baru pertama kali digelar. Cuaca teduh menambah rasa santai.

Sehari sebelumnya Lombok hujan lumayan lama jadi cuaca pagi lumayan teduh. Ini yang membuat saya pun berat meninggalkan Kasur. Tapi kan ke Lombok mau lari!

Dari pelan semakin cepat dan semakin cepat lagi sampai target pace tercapai. Berusaha tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Kaki baru panas tiba-tiba berhadapan dengan tanjakan.

“Masya Alloh!”

Saya menelan ludah dan menguatkan lagi nyali. Akhirnya dari mulai lumayan cepat mulai melambat dan semakin lambat dan lambat banget.

“Ayo terus lari! Baru tanjakan pertama!”

Ada suara yang menegur. Siapa sih yang berani negur-negur?

Ricky. Pacer pribadi ceritanya. Lupa kalau buat Lombok marathon ini dia mau jadi volunteer biar saya dapet PB (Personal Best). Antara seneng sama ngeri sih. Kalau cape gak bisa seenaknya jalan karena pasti ada yang bawelin. Enaknya ya jadi ikutan ketarik. Serba salah emang.

Di fitnah jadi atlet

Tekad saya di race ini adalah berlari santai tapi ya gak santai-santai banget. Tapi lama-lama mulai meninggalkan rombongan yang lari bareng di awal-awal. Gayabet.

Lama-lama semakin semangat dan tanpa terasa larinya agak serius dikit. Niatnya kan mau lari santai sambil foto-foto. Tapi pas udah lari jadi agak sayang juga kalau banyak berhenti.

Beberapa kali berpapasan dengan teman yang mengambil full marathon. Sapa-sapaan tapi tetap berlari. Yang penting saling memberi semangat.

Sampai di kilometer 6 ada pria tinggi dan berkepala gundul menyapa “Mbak atlet ya?”

Karena takut salah dengar saya pun memberi ekspresi yang meminta dia mengulang lagi perkataannya. Ternyata benar dia menanyakan apakah saya atlet.

“Bukan lah mas. Saya pelari hore.” Jawab saya agak sedikit ngakak. Tapi ngakak yang sedikit ngos-ngosan. Saya melihat jam dan sudah di km 6 dengan pace 6.30. Kemudian dia bertanya lagi “Larinya kok cepet?”

Agak tersanjung gimana gitu. Memang pada saat itu tidak ada yang di depan saya. Ada sih tapi udah jauh banget di depan sampai gak keliatan haha..

Karena pesertanya sedikit jadi memang jarak pelari satu dan pelari lainnya lumayan jauh. Yang ada di kanan kiri saya rata-rata cowok. Beda dengan race half marathon saya seminggu sebelumnya di 2XU Compression Run Jakarta yang pesertanya sangat banyak dan kompetitif. Kalau di Jakarta pace segitu saya udah diasepin banyak pelari saking lambatya.

Ternyata pria tersebut warga asli Lombok. Saya ketahui setelah saya membalas pertanyaan dia yang menanyakan saya bersasal dari mana. Kami pun akhirnya ngobrol. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan dia karna kalau banyak ngobrol kapan sampenya?

Maap ya, Mas.

Masyarakat turut menyemangati pelari

Menyenangkan jika mengikuti race di suatu daerah dan penduduknya ikut mendukung. Lombok Marathon ini baru pertama kali digelar tahun ini. Tetapi dukungan pemerintah kuat karena menjadi materi wisata kota Lombok. Bahkan Bapak Zainul Majni yang merupakan Gubernur Nusa Tenggara Barat mengikuti ajang lomba lari ini dengan kategori half marathon.

Di bawah pukul 6 banyak masyarakat yang baru keluar dari masjid selepas subuhan turut menonton peserta lari Lombok Maratjon. “Ayo semangat!” hingga yel yel “In do ne sia!” menyambut para pelari yang melintas di jalanan. Bahkan kami pun diberi air mineral kemasan oleh para supporter.

Bukan hanya yel yel saja, tetapi beberapa pelajar memainkan mini drum band di tepi jalan untuk memeriahkan ajang lomba lari ini. Semakin siang memang semakin banyak jarak yang sudah ditempuh, semakin lelah juga kaki melangkah, tetapi semakin ramai penduduk yang meramaikan. Meskipun tidak semuanya berteriak memberi semangat, ada pula yang hanya foto-foto dan menonton. Tetapi membuat Lombok Marathon jadi meriah dan ramai.

Kram.. oh kram..

Pada kilometer 14 saya sudah merasa lumayan lelah tapi tekad untuk lekas finish masih kuat. Apalagi di depan Epicentrum Mall ada anak-anak yang mengibarkan bendera merah putih dan mengajak tos para pelari. Lumayan bikin senyum.

Di tengah semangat yang mulai naik lagi saya mulai merasakan signal gak enak di pangkal paha kiri. Duh.. jangan sampai kram..

Meski mulai melambat tetapi saya tetap melanjutkan lari.

Keep on the track! Kamu bisa under 2.30.” Kata Kak Pacer yang dari awal menemani lari. Bukan nemenin banget sih, tapi dia ada di depan. Kadang kajauhan di depannya. Pas tau saya masih jauh di belakang dia mulai melambat, bahkan lambat banget kalau versinya dia. Memang susah ya kalau pelari pace 4 harus nemenin lari pace keong.

Sampai di kilometer 15 saya masih bertahan lari tanpa jalan. Kecuali pas lari minum di WS ya. Signal di pangkal paha kiri semakin kuat tetapi saya tetap memaksakan berlari. Sampai akhirnya…

Kram!

Foto (agak) dramatis setelah saya menyiramkan air mineral ke kepala

Saat kram kaki lumayan aduh banget larinya. Saya pun terkeos-keos dan semakin keos. Jalan. Ya.. saya mulai jalan. Saat jalan terasa semakin nyeri. Tapi mau lari juga udah gak sanggup banget.

Keep running!” kata kak Pacer. Nyebelin banget ya pas udah sakit banget masih harus disuruh tetep lari. Kartanya tinggal 3 kilo lari. Seakan-akan cuma dia yang pake sportwatch.

EMPAT KILO LAGI PAAAAK!

Semakin dekat semakin berat

Jarak yang harusnya dekat dengan garis finish tetapi seperti jarak neraka bagi saya. Kaki semakin susah diangkat. Bahkan sempat gak bisa diangkat sama sekali. Kram semakin parah. Bahkan orang-orang yang menonton pada tau saya kram hanya melihat cara saya berjalan dan berlari: pincang.

Kepanikan muncul ketika saya tidak bisa mengangkat paha kiri. Lalu gimana saya bisa lari?

Saya harus mengambil ancang-ancang beberapa kali hingga akhirnya paha kiri bisa diangkat. Seperti roda, ketika sudah berguling maka dia bisa berjalan sendiri. Tetapi jika belum ada yang mendorong, dia pun tidak akan bergerak.

Dua kilo lagi. Saya berada di depan Masjid Islamic Center Mataram. Masjid dengan bagunan yang besar dan warna yang menarik mata. Saya sempat melihat malam sebelumnya. Masjid itu terlihat lebih indah di malah hari karena ada lampu-lampu yang membuatnya tampak lebih menarik.

Berlari di depan Masjid Islamic Center Mataram

Ironisnya di depan masjid yang indah saya justru sedang sangat tersiksa. Lari terpincang-pincang sedangkan jarak garis finish masih 2 kilo lagi. Jarak dekat jika membandingkan dengan 21km, tetapi jarak jauh jika kondisi berlarinya seperti anak satu tahun yang baru belajar berjalan.

“Ayo 500 meter lagi!” kata Kak Pacer yang kayanya makin  gemes sama saya yang makin kesini makin lambat sampai gak sampe-sampe garis finish. Saya pun semakin gemes sama dia sampai rasanya mau melempar botol air kemasan yang saya pegang sepanjang lari. NAMANYA JUGA SAKIT SIH KAK!

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Finish!

Finish!

And the games is over..

Urutan ke 13 kategori half marathon female. Wah, kayanya ini pertama kalinya sampai di angka ini. Terharu. Kalau race di Jakarta kayanya gak mungkin bisa segitu. Catatan waktu juga masih sama dengan race sebelumnya.

Our happy face after finish!

Tapi ada rasa bangga saat kita menyelesaikan sesuatu berdasarkan full effort. Apapaun hasilnya itulah hasil usaha maksimal yang saya mampu. Dengan kondisi kram mendadak di 4 kilometer terakhir. Terima kasih Kak Pacer dan terima kasih penduduk setempat yang udah ngasih semangat. Sampai jumpa di Lombok Marathon 2017!