5 Cara Tepat Melindungi Anak dari Serangan Nyamuk Bandel

“Mainnya kurang jauh.”

Biasanya diucapkan ke orang yang telat bandel. Tapi nyamuk dari dulu sampe sekarang tetep bandel padahal mainnya udah kemana-mana.

Kesel gak sih pas lagi tidur enak-enak terus kebangun terus gara-gara nyamuk? Lebih kesel lagi harus bergadang karena anak minta garukin badannya yang gatel bekas digigit nyamuk.

Beraninya sama anak kecil. DASAR NYAMUK BANDEL!

Tapi perlu diakui nyamuk sekarang makin ajaib. Tiba-tiba datang tapi pas dicari dia bisa sekejap hilang, kemudian datang lagi pas kita lengah. Yang paling mengesalkan adalah sepertinya si nyamuk bandel ini gak ada kenyangnya. Lebih agresif soal gigit menggigit.

Mengapa nyamuk jaman sekarang makin bandel?

Pada kamis minggu lalu (30/11/2017) saya dan komunitas @buibuksocmed kumpul-kumpul di “Gathering Community HIT Expert”. Ada ibu Lula Kamal yang juga hadir sebagai pembicara. Jadi banyak banget pengetahuan seputar nyamuk termasuk kenapa nyamuk sekarang kok makin agresif.

    Foto Bareng Ibu Lula Kamal di Gathering Community HIT Expert.

Indonesia ini merupakan negara tropis yang memiliki iklim hangat dan lembab. Nyamuk seneng banget dengan iklim seperti ini.

Perubahan pada iklim yang menjadi semakin panas atau yang biasa disebut pemanasan global ternyata tidak hanya berdampak pada bumi tapi juga berdampak pada siklus kehidupan nyamuk, dan juga wabah yang ditimbulkannya.

Mengikuti perubahan iklim, nyamuk pun secara cerdas berevolusi.  Nyamuk menjadi semakin sering kawin, dan ukurannya menjadi semakin kecil yang akhirnya mengakibatkan nyamuk harus menyedot lebih banyak darah untuk mengejar ke ukuran yang sesungguhnya agar memenuhi syarat untuk berkembang biak. Jangan heran kalau nyamuk jaman sekarang makin bandel dan agresif untuk menggigit manusia.

Bahaya nyamuk ini bukan hanya sekadar mengganggu kenyamanan tidur, tetapi juga bisa mengantar kita ke rumah sakit. Apalagi di musim hujan  ini, serangan nyamuk berbahaya dari genus aedes bisa saja terjadi ke rumah kita. Untuk itu perlu sekali dilakukan pencegahan.

TIPS MENCEGAH SERANGAN NYAMUK BANDEL

Sesama ibu-ibu yang mungkin memiliki masalah yang sama, saya mau berbagi tips pencegahan nyamuk bandel:

1. Menutup tempat penampungan air

Memang klise banget. Dari kecil kita sudah diajarkan untuk menjalankan 3M. Hayo, masih inget gak apa itu 3M?

Menguras, menutup, dan mengubur. Jadi jangan lupa untuk selalu menguras bak air, menutup tempat penampungan air, dan juga mengubur sampah yang menjadi tempat nyamuk berkembang biak.

Musim hujan emmang populasi nyamuk meningkat karena lebih banyak genangan yang dituimbulkan. Genangan ini yang memungkinkan menjadi sarang nyambuk untuk berkembang biak. Oleh karena itu menutup tempat penampungan air adalah salah satu pencegahannya.

Menutup tempat penampungan air ini tidak cukup. Kita harus rutin mengurasnya juga dan jangan lupa menyikat dinding-dindingnya agar bibit-bibit nyamuk yang menempel ikut terkuras. Membubuhkan bubuk abate di tempat penampungan juga menjadi salah satu cara mencegah nyamuk bandel berkembang biak.

Continue reading “5 Cara Tepat Melindungi Anak dari Serangan Nyamuk Bandel”

Apakah Harus Mempercayai Timbangan?

Foto diambil dari healtyeatingforfamily.com

“Berat turun ya, Fit?”

Kayanya itu pertanyaan yang menjadi trending topic di kehidupan saya dalam beberapa bulan ini. Mungkin pemicunya dari bentuk badan dan wajah yang katanya lebih tipis dari sebelumnya. Tentunya diiringi dengan kulit wajah yang semakin gelap karena terlalu banyak terekspos matahari.

BERAT BADAN SAYA TIDAK BERUBAH. SAYANGNYA.

Justru bertambah satu kilo dari sebelumnya. Memang lingkar perut jauh berkurang tapi ya berat badan sama saja. Kalau diingat-ingat lagi, berat badan saya tanpa olahraga memang lebih ringan dibanding ketika lebih aktif berolahraga. Saya pernah satu bulan tanpa exercise karena sakit. Yoga pun tidak. Waktu itu berat badan turun lumayan drastis. Ya namanya juga sakit ya. Ada perasaan senang karena setelah habis melahirkan akhirnya bisa kembali ke berat normal sebelum hamil. Tapi badan lembek semua. Otot yang sudah terbentuk pun hilang.

Setelah pulih saya mulai kembali rutin berlatih yoga. Berat badan pun naik sekilo dari sebelumnya. Sedih? Tidak sama sekali. Karena badan lebih kencang dan tentunya wajah jauh terlihat lebih fresh. Muka saya waktu sakit benar-benar seperti mayat hidup. Pucat dan lingkar mata menghitam.

Semenjak beberapa bulan ini rutin berlari saya mendapat lingkar pinggang semakin mengecil. Bukan, bukan mau pamer bagian ini. Beberapa teman menanyakan berapa berat badan saya sekarang dan saya pun kege-er-an sepertinya saya kurusan. Bukan, bukan mau pamer yang ini juga. Karena sebenarnya berat badan saya justru naik satu kilo dibanding sebelum berlari. Wajah memang lebih tirus, lengan atas pun mengecil, dan perut semakin kempis. Dalam perubahan yang menyenangkan itu ternyata angka di timbangan masih gak mau ikut berubah.

Apakah saya harus tetap mempercayai timbangan?

OTOT DI DALAM TUBUH TIDAK MEMAKAN TEMPAT SEBANYAK LEMAK

Angka di timbangan mungkin tidak salah, tapi kayanya gak adil jika itu satu-satunya patokan dalam menghakimi tubuh sendiri. Perbandingkan ukuran satu kilo lemak dengan satu kilo otot kan memang tidak sama ukurannya. Ya, massa otot lebih berat dibanding massa lemak. Saya akan jauh lebih bahagia jika berat saya meningkat tetapi otot lebih kencang dan terbentuk (walaupun ya kadang betis jadi lebih besar) dibanding berat yang lebih ringan tetapi badan kendor karena lemak. Jadi saya memang lebih percaya angka di meteran baju dibanding angka di timbangan badan. Penampilan fisik kita terkadang berbeda dengan angka ditimbangan. Terlihat lebih kurus bukan berarti lebih ringan. Jangan lupa: Lemak itu lebih ringan dibanding dengan otot.

Tapi mengecek berat badan dengan rutin juga gak ada salahnya. Angka timbangan yang paling jujur adalah saat bangun tidur. Ketika tubuh belum diiisi oleh makanan dan minuman. Coba aja cek di siang hari saat sudah diisi berbagai asupan makanan, pasti bertambah. Ketika esok paginya kembali turun. Tentunya jika proses pencernaan harian kita lancar.

Ada tiga cara untuk mengecek rasio otot dengan lemak berdasarkan artikel di Prevention, yaitu:

Pengukuran Berat Hidrostatik

Cara ini dengan menimbang berat badan di atas air. Kamu yakin mau menenggelamkan badan di dalam airdemi mengukur berat badan yang vakura? Saya sih tidak. Hehe..

Timbangan Impedansi Bioleketrik

Bahasa lebih mudahnya adalah timbangan tubuh dan lemak. Alat ini sudah mudah dicari di toko olahraga. Saat kita berdiri di atas timbangan, arus listrik yang aman akan dialirkan ke dalam tubuh. Kita bisa dengan mudah menghitung persentase lemak tubuh berdasarkan kekuatan pantulan balik signal listrik yang dialirkan dan berjalan di dalam tubuh.

Timbangan Pengukur Lemak Tubuh

Metode ini sepertinya lebih mudah dilakukan dibanding dua di atas. Kalau anak gym pasti sudah sering melihat alat ini. Metode ini dinilai cukup akurat dan gak seribet dua alat di atas. Dengan perhitungan yang tepat maka kita bisa mengetahui jumlah lemak di dalam tubuh. Mau mencari timbangan ini? Toko online beken di Indonesia juga sudah menyediakan kok. Sejujurnya.. saya sih belum punya. Masih timbangan berat badan digital biasa. Hehe..

BANYAK HAL YANG MEMBUAT BERAT KITA BERTAMBAH SAAT MEMULAI OLAHRAGA

Bukan timbangan kamu yang rusak. Berat badan bisa bertambah walaupun sudah rajin berolahraga.  Awal-awal lari saya juga sedikit terkejut karena berat badan saya kok gak langsung turun. Padahal saat itu sedang berpuasa jadi harusnya berkurang jauh. Kenyataannya justru bertambah!

Banyak faktor yang membuat tubuh menjadi lebih berat saat memulai olahraga. Cairan juga berpengaruh dalam meningkatnya berat tubuh ketika kita sedang rutin berlatih. Konversi dari glikogen atau gula ke glukosa adalah sumber energi untuk otot tubuh. Para pelari yang ingin bertanding biasanya melakukan carbo-loading untuk menabung energi yang nantinya menjadi bensin saat lomba. Glikogen terikat dengan cairan di dalam tubuh sebagai bagian dari proses pembakaran di dalam otot. Air juga memiliki beban dan sudah sepatutnya kandungan air di dalam otot juga memberi kontrbusi pada penambahan beban di dalam tubuh, kan?

Apakah jika terus latihan berat kita juga terus merangkak naik? Gak, gak gitu. Dr. Gary Calabrese, PT, DPT Senior Director dari Rehabilitation and Sports Therapy di  Cleveland Clinic  mengatakan otot tubuh kita sudah terbiasa dengan latihan yang kita jalani maka lama-lama kebutuhan glikogen menjadi lebih sedikit walaupun energi yang dikeluarkan berada dalam level yang sama. Seiring dengan itu, penyimpanan air pun menjadi lebih sedikit dan berat tubuh bisa di titik stabil atau bahkan berkurang. Jika ingin hasil yang diinginkan, konsistenlah dalam berolahraga meskipun berat tubuh telah berkurang. Ya, ini menjadi catatan untuk diri saya sendiri.

Mempercayai timbangan gak salah tapi jangan terpaku hanya pada itu saja untuk mengukur apakah berat badan kita sudah ideal atau belum. Kalau pola makan kita baik dan menjaga keseimbangan aktivitas fisik dan istirahat harusnya jangan terlalu kuatir dengan angka di timbangan. Kalau saya prinsipnya asal bahagia. Bahagia punya tubuh yang sehat dan gak mudah sakit, bahagia karena bisa tetap memakai baju size S, bahagia dibilang wajah lebih fresh, bahagia menjadi lebih kuat, bahagia bisa melihat kemampuan diri sendiri yang gak pernah diduga sebelumnya, dan bahagia bisa makan enak. Jujur, terlalu sering melihat angka di timbangan saya jadi susah bahagia. Semangat, Kakak!

Menyelamatkan Diri dari Anemia

20161205_101435-02

Olahraga lebih teratur, mengatur makanan, dan berhenti merokok sudah dijalani sekitar 5 tahun ini. Meski awalnya ingin kurus tapi lama-kelamaan tujuannya lumayan udah geser. Jujur nih, saya ingin merasakan hidup yang lebih baik. Sudah lelah juga dengan badan yang ringkih harus bolak balik ke rumah sakit karena menjalani pola hidup yang masih asal-asalan. Orang yang melihat saya sekarang mungkin gak nyangka kalau dulunya saya mengalami typus sampai 3 kali dalam setahun karena daya tahan tubuh yang buruk. Gimana mau sehat kalau pola hidupnya aja aca-acakan. Makan asal-asalan, jam tidur berantakan, dan pikiran kayanya lebih sering tegang.

Sehat.. sehat.. sehat.. pokonya saya mau sehat!

Sehat itu buat saya adalah investasi, jadi saya gak mau menunggu tua untuk mengubah pola hidup agak beneran. Bisa produktif sampai usia senja adalah cita-cita ibu-ibu anak dua yang sehari-harinya masih pecicilan ini. Banyak hal yang bisa didapat jika tubuh kita sehat. Dengan sehat saya bisa menjalani pekerjaan lebih baik, mengasuh anak, hingga jalan-jalan. Apalagi menjadi ibu gak gampang. Kita mesti sehat supaya bisa lebih fokus mengurus anak-anak, rumah, dan kerjaan. Bahkan nemenin anak belajar aja butuh pikiran dan tubuh yang sehat. Kalau lagi gak fit boro-boro fokus ngajarin anak.

APAKAH SAYA CUKUP PRODUKTIF?

IMG-20170329-WA0012

Usia saya termasuk usia yang masif produktif. Apalagi anak-anak masih kecil dan kerjaan lagi lumayan (alhamdulillah) banyak. Ada rasa bangga jika bisa menjalani sesuatu sesuai dengan target. Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah saya produktif?

Kita bisa menganggap diri kita produktif apabila sudah mampu menghasilkan sesuatu (barang atau jasa) sesuai yang diharapkan, yaitu waktu yang singkat dan tepat. Tapi ada masa-masanya kita sulit mengerjakan sesuatu sesuai target, misalnya saat tubuh lelah. Apalagi jika di periode menstruasi mood dan badan kayanya drop banget. Jangan-jangan saya ini anemia..

PENGARUH ANEMIA TERHADAP PRODUKTIVITAS

Rabu kemarin di The Darmawangsa Hotel saya menghadiri acara diskusi Indonesia Bebas Anemia: Sebagai Solusi Total untuk Indonesia yang Lebih produktif dan Bebas Anemia. Cara ini merupakan kampanye lanjutan yang diselenggarakan Merck, Perusahaan sains dan teknologi terkemuka, dan bekerjasama dengan PDGMI, organisasi profesi di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Nara Sumber dalam Indonesia Bebas Anemia
Nara Sumber dalam Indonesia Bebas Anemia

Kesadaran saya terhadap anemia dan dampaknya menjadi lebih terbuka. Sehat memang modal awal untuk produktif tetapi perhatian saya belum sampai ke hal yang lebih detail hingga ke anemia. Ternyata produktivitas kerja seringkali menurun bagi para wanita yang menderita anemia. Berdasarkan riset yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait survei Angkatan Kerja Nasional di bulan Agustus tahun 2015 yang diolah Pusdatinaker, jumlah pekerja wanita Indonesia sebesar 37,16% dari jumlah populasi masyarakat Indonesia, yang berjumlah 114.819.199.

“Anemia dapat memberikan dampak terhadap penurunan produktivitas kerja wanita Indonesia sebanyak 20% atau sekitar 6,5 jam per minggu.” – Prof. dr. Endang L. Achadi, Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia.

Produktivitas wanita Indonesia yang seringkali menurun disebabkan oleh defisiensi zat besi sehingga merasa mudah lelah, konsentrasi menurun karena kekurangan oksigen pada jaringan tubuh termasuk otak, sehingga mengurangi kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

APAKAH SAYA ANEMIA?

Menurut dokter Endang, kita memang dapat mengenali anemia dari gejala-gejala yang dirasakan atau dilihat seperti mudah lelah, mudah mengantuk, wajah yang lebih pucat, dan kurang dapat berkonsentrasi. Akan tetapi untuk mengetahui Anemia yang lebih jelas memang hanya dapat melalui cek darah. Anemia bisa disebabkan oleh:

1. Rendahnya asupan gizi yang penting untuk pembuatan Hemoglobin (HB) yaitu zat besi, asam folat, vitamin B12, dan protein.

2. Meningkatnya pengeluaran, yang disebabkan karena pendarahan, seperti infeksi kecacingan, pecahnya sel darah merah karena malaria atau thalassemia, atau pendarahan oleh sebab lainnya seperti luka.

Gejlala-gejala anemia yang perlu diperhatikan
Gejala-gejala anemia yang perlu diperhatikan

Sebagian besar anemia itu terjadi karena defisiensi zat besi. Jadi penting bagi kita untuk mengonsumsi makanan  yang kaya akan sumber zat besi. Permasalahannya adalah bahan makanan sebagian besar penduduk Indonesia berasal dari pangan nabati, sedangkan zat besi dari nabati lebih sulit diserap oleh tubuh. Ya mungkin ini juga terjadi oleh saya yang memang tidak terlalu suka makan daging. Bahkan saya sudah berhenti mengonsumsi daging merah. Mungkin saya satu di antara penduduk Indonesia yang mengalami anemia karena kurangnya asupan zat besi.

Wajah-wajah yang sepertimya tidak mengalami anemia defisiensi fe
Wajah-wajah yang sepertimya tidak mengalami anemia defisiensi fe

SOLUSI SEHAT UNTUK BEBAS ANEMIA

Kembali lagi ke tujuan saya berolahraga adalah ingin sehat. Walaupun terkadang suka terbawa ambisi ingin mencapai target-target tertentu. Di usia produktif ini tentunya saya ingin melakukan banyak hal dan tidak mau ada hal yang menghalangi produktivitas, termasuk anemia. Menjalani pola hidup yang lebih sehat kayanya sudah jalan yang paling benar untuk penangan Anemia Defisiensi Fe.

Memperbaiki Pola Makan

Kalau sebelumnya asal-asalan dalam mengonsumsi makanan, sekarang lebih memperhatikan kandungan gizi pada makanan. Makanan yang mengandung zat besi seperti makanan yang mengandung sumber protein tinggi, seperti daging merah, kuning telur, dan ikan. Tidak lupa dengan sayuran hijau dan kacang-kacangan.

Dalam sebuah risoles pun terdapat kandungan zat besi
Dalam sebuah risoles pun terdapat kandungan zat besi

 

Perlu diingat jika mau mengonsumsi kopi dan teh tidak dilakukan bersamaan dengan mengonsumsi makanan-makanan tersebut karena akan sia-sia. Tunggu minimal selama dua jam lebih untuk memberikan kesempatan tubuh untuk menyerap sari-sari makanan tersebut.

Mengonsumsi Suplemen Zat Besi

Kalau kita merasakan gejala-gejala anemia (kalau lupa bisa skrol lagi ke atas ya!) mungkin selama ini jumlah kandungan zat besi yang dikonsumsi masih kurang. Apalagi jika selama ini melakukan olahraga high-impact, seperti berlari. Kalau kata dr. Michael Trianto, SpKO, Spesialis Kedokteran Olahraga “Resiko Anemia Fe bisa terjadi pada kita yang melakukan olahrga berat. Saat banyaknya keringat yang keluar maka tubuh kita kehilangan banyak cairan elektrolit dan sel darah merah. Belum lagi akibat benturan yang terjadi memungkinkan meningkatkan proses hemolisis darah.”. Mungkin kita tidak akan menyadari mengalami anemia karena untuk yang rajin berolahraga gejala-gejala anemia seringkali tidak terlihat dibanding orang-orang yang tidak berolahraga.

Untuk wanita seringkali terasa lebih lesu dan susah konsentrasi saat sedang mengalami menstruasi. Hal ini membuat kita menjadi lebih malas dalam melakukan aktivitas. Suplemen penambah darah seperti Sangobion bisa kita konsumsi untuk melengkapi kebutuhan zat besi sehari-hari.

Kalau ternyata tubuh kita sudah cukup dengan kandungan zat besi gimana?

Gak bakal berpengaruh apa-apa kok! Itu kata dokter Endah loh, bukan kata Fitri Tasfiah. Kita tidak akan mengelami kelebihan zat besi hanya dengan makanan atau suplemen yang dikonsumsi. Jadi kalau tubuh kita sudah cukup dengan zat besi maka tubuh kita tidak akan menyerapnya. Sebaliknya, jika memang zat besi dalam tubuh kita masih butuh tambahan maka kandungan zat besi yang kita konsumsi akan mencukupi kebutuhan tubuh.

Program Olahraga untuk Bebas Anemia

Olahraga dalam intensitas sedang sangat direkomendasikan. Tidak berlebih dan juga tidak kurang. Ada dua jenis latihan, yaitu aerobik dan anaerobik. Aerobik ditujukan untuk kesehatan tuhuh, menurunkan berat badan, menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol darah, dan menurunkan kadar gula darah. Latihan anaerobic lebih ditujukan untuk meningkatkan kebugaran tubuh, tidak mudah lelah, dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Saat melakukan latihan kita harus memperhatikan beberapa prioritas. Pilih latihan yang mudah dilakukan dan hindari kelelahan yang berlebihan. Mendahulukan latihan otot besar, baru melakukan latihan pada otot kecil. Latihan dilakukan secara bertahap, jangan lupa unuk melakukan pemanasan dan pendinginan.

Pada saat ini Merck meluncurkan Senam Anemiaction sebagai salah satu langkah tindakan pencegahan gejala anemia. Senam Anemiaction adalah bentuk olahraga yang terdiri dari beberapa gerakan sederhana yang berfokus pada beberapa bagian tubuh, yaitu: aktivitas peregangan bawah, tengah, dan atas. Kata dr. Michael “Gabungan gerakan pada senam Anemiaction berfokus untuk meningkatkan mitokondria yang merupakan generator daris el pada tubuh manusia, sehingga siapapun yang melakukan senam tersebut mengurangi gejala-gejala anemia dan dapat menjadi lebih segar serta produktif saat beraktifitas.

Senam Anemiaction yang diperagakan bersama-sama dalam diskusi Indonesia Bebas Anemia
Senam Anemiaction yang diperagakan bersama-sama dalam diskusi Indonesia Bebas Anemia

Senam ini merupakan gerakan latihan otot pada tubuh bagian bawah, tengah, dan atas untuk meningkatkan kebugaran. Latihan ini kombinasi latihan aerobic dan anaerobic yang dilakukan dengan intensitas yang tepat. Pada senam ini juga terdapat gerakan pendinginan yang ditujukan untuk menghindari rasa pegal dan kaku sehingga kita bisa tetap beraktivitas seperti biasa.

Akan lebih menyenangkan jika kita mengisi hari dengan banyak hal yang kita suka. Kalau saya sih maunya bisa produktif sampai tua nanti (kalau dikasih umur panjang). Pola hidup sehat itu investasi, Gaes!

Cara Jenius Mengatur Keuangan Hanya dari Smartphone

DSC01926-01

Waktu masih kecil saya memiliki 3 buah celengan yang saya buat dari toples bekas permen. Masing-masing saya labeli sesuai dengan tujuan digunakannya. Dari kecil memang sudah diajari untuk menabung. Jika ingin sesuatu berarti saya harus rela menyisihkan uang jajan untuk ditabung. Sampai pada akhirnya saya mengenal bank. Lama-lama saya meninggalkan semua itu dan beralih menyimpan semuanya ke rekening bank. Pertama kali punya buku tabungan rasanya keren. Menabung jadi semakin semangat karena tiap angkanya bertambah langsung senang bukan main.

Tahun semakin berganti dan standar keren bukan hanya dari buku tabungan, tetapi kartu ATM. Merasa keren karena mengambil uang bisa lebih mudah. Apalagi saat punya kartu kredit. Melakukan transaksi tinggal gesek. Kemudahan ini yang membuat saya…

Gak kaya-kaya.

Bagaimana tidak, baru gajian langsung harus bayar banyak tagihan. Belum lagi belanja bulanan yang udah wajib dan gak bisa pakai nego. Untuk bekal anak ke sekolah aja ada budgetnya sendiri. Tapi ada satu racun yang membuat pengeluaran saya jadi berantakan: belanjain hobi.

Semenjak suka lari tiap bulan suka ada aja yang dibeli. Dimulai dari sepatu, baju, dan daftar-daftar race lari yang kecil-kecil menjadi bukit. Kalau event-nya di luar kota harus nambah lagi nih budgetnya. Biaya akomodasi dan uang jajan. Pantes ya gak kaya-kaya.

Kamis kemarin (23/3) di acara Jenius Talk, mas Aakar, financial planner dari Janus mengatakan yang kita butuhkan sebenarnya mengaturnya dari awal biar gak terkena jebakan batman. Dari sudah membuat ‘amplop’ untuk berbagai kebutuhan itu jadi masing-masing pengeluaran ada batasannya.

20170316_132821

Tip Mengatur Keuangan dari Janus Financial Planner di Acara Jenius Talk

Mumpung ada di event Jenius, jadi saya sekalian membuat akun baru untuk lebih tahu tentang produknya. Tentu saja harus mengunduh Jenius Apps terlebih dahulu ke smartphone. Saya kira apps ini sama dengan mobile banking apps, ternyata jauh di atas itu. Kalau mobile banking hanya ada fasilitas mengecek saldo dan mutasi serta transaksi. Jika Jenius kita bisa mengatur keuangan.

Jenius sendiri adalah aplikasi yang dirancang dan dikembangkan untuk membantu masyarakat dalam mengatur keuangan. Dengan Jenius, kamu dapat membuat rekening bank dengan download aplikasi, menabung untuk suatu tujuan, mengirim uang tanpa ribet, serta melakukan transaksi online dengan aman. Pokoknya Jenius ini sangat memudahkan pengaturan keuangan!

MENGANDALKAN TEKNOLOGI UNTUK MENGATUR KEUANGAN

Sebagai generasi (mengaku) milenial apa-apa maunya dimanjakan teknologi. Bahkan sudah malas harus bolak balik ke bank sekadar pembukaan rekening. Jadi kemunculan revolusi digitalisasi di perbankan sangat membantu ibu-ibu yang sok sibuk seperti saya. Pas tahu ada proses pembukaan rekening, mengatur limit kartu, blokir dan membuka blokir kartu, serta manajemen keuangan hanya dari smartphone saya anggap sebagai inovasi yang memang dibutuhkan.

20170324_074058
Mengatur keuangan dan melakukan transaksi dari Jenius Apps di smartphone

Apakah sama dengan mobile banking?

Sama sih. Karena kita bisa melakukan transaksi dan cek saldo hanya dari smartphone. Tapi kalau mobile banking kan tidak mengatur limit pengeluaran. Di dalam Jenius Apps terdapat fitur Dream Saver yang dapat membantu kita mencapai impian yang direncanakan. Misalnya saya ingin pergi ke Korea akhir tahun, saya dapat membuat menabung di alokasi yang sudah saya buat via apps.

Kalau saya kehilangan kartu saat travelling, saya bisa memblokir sendiri kartu secara temporary hanya tinggal klak klik. Kalau memang ternyata hanya lupa naro di koper dan akhirnya ketemu, saya bisa mengaktifkan lagi kartunya. Tapi.. kalau memang ternyata hilang beneran saya bisa memblokirnya secara permanen. Semua hanya dari smartphone. Simpel banget sih.

MEMISAHKAN PENGELUARAN SESUAI KEBUTUHAN DENGAN X-CARD

Permasalahan berikutnya adalah jika hanya memegang satu kartu, saya tetap harus memutar otak untuk membagi-bagi lagi. Tetap saja membutuhkan amplop untuk membagi-bagi setiap post pengeluaran. Amplop untuk belanja bulanan, amplop untuk uang jajan dan bekal anak, amplop untuk belanja pribadi saya (yang kalau udah urusan belanja sepatu lari dan daftar event lari udah jadi satu budget sendiri). Jangan sampai satu amplop menjadi benalu untuk amplop yang lainnya. Tekor-tekor juga.

Kembali ke cerita masa kecil saya yang membuat celengan-celengan sebagai ‘budget’ wishlist yang mau dibeli. Kartu ini seperti celengan-celengan saya itu. Supaya tiap celengan sudah ada tujuannya masing-masing. X-card ini terpisah dari kartu utama. Masing-masing bisa dilabeli sesuai tujuannya. Masing-masing kartu bisa diatur limitnya via smartphone dari Jenius Apps. Menariknya, kartu ini bisa dipindahtangankan ke orang lain.

Saat kita memiliki akun di Jenius maka kita dapat memiliki ada 3 kartu, yaitu m-card, e-card, dan x-card. M-card adalah kartu utama yang kita pegang, sedangkan x-card adalah kartu tambahan yang bisa diberikan ke orang lain dan tetap dalam kendali kita. Berbeda dengan e-card, kartu ini tidak ada kartu fisiknya. Merupakan kartu visual yang dapat digunakan untuk transaksi yang ada fasilitas pembayaran visa dan mastercard.

Nah, balik lagi deh ke masalah membagi pengeluaran dalam ‘amplop-amplop’. Jadi saya membagi pengeluaran dengan menggunakan x-card seperti ini:

Kartu khusus hobi

Saya paling gak bisa dilarang-larang buat gak beli sepatu. Sepatu saya sebenernya gak mahal-mahal banget, tapi lumayan sering. Sepatunya gak jauh-jauh dari sneakers dan sepatu lari. Sampai suami geleng-geleng kalau saya udah skrol-skrol Instagram buat liat-liat sepatu padahal sepatu yang baru belum keluar dari dus. Belum lagi buat daftar-daftar race lari. Pembayaran race kan rata-rata pakai kartu kredit jadi tiap ada info event lari langsung main daftar-daftar aja. Semenjak ada x-Card saya langsung bikin satu kartu khusus hobi dengan memberi limit. Kalau buat hobi limitnya per bulan aja, karena gak mungkin tiap hari juga kan dipakenya.

Kartu untuk belanja harian

Biarpun saya gak suka masak tapi kan di rumah harus ada makanan. Kalau gak beli ya si bibi yang masak. Saya buat satu kartu untuk urusan makanan di rumah. Karena saya kerja jadi kartu ini saya kasih si bibi. Jumlahnya saya atur mingguan, kalau bulanan takutnya nanti dia kebablasan. Sekaligus mengajarkan si bibi untuk mengatur uang belanja juga. Walaupun kartu dipegang dia tapi semua saya yang kontrol. Dari smartphone saya bisa mengatur besar uang belanja mingguannya. Oiya, ini bisa auto transfer, jadi kita gak perlu bolak balik transfer ke kartu tambahan ini.

IMG_20170324_063400
Mengatur pengeluaran berdasakan periode waktu

Kartu untuk entertainment

Ibu-ibu juga butuh hiburan. Apalagi sehari-hari harus mengurus sekolah anak, rumah, ngajar yoga, bikin artikel, dan olahraga. Melipir ke kedai kopi atau nge-wine bareng temen sih boleh lah ya. Hair spa dan luluran buat manja-manjaan di salon saya masukan ke entertainment. Soalnya ini perihal ‘me-time’. Tantangannya kan jangan sampai uang hura-hura melebihi budget. Maka itu saya buat satu kartu untuk menjaga kesehatan jiwa ini. Biar gak terlalu kebablasan, saya buat limitnya secara mingguan. Jadi di tanggal tua bisa tetap senang-senang. Asik kan!

20170316_125435-01

Dengan Jenius, pengaturan keuangan saya jadi lebih tertata dan saya bisa memenuhi kebutuhan pribadi maupun keluarga. Belum lagi bunga menabung di Flevi Saver dan Dream Saver Jenius adalah 5%. Yuk pakai Jenius. Download aplikasinya di sini.

Jebakan Impulsif Belanja dan Munculnya Penawaran Cash Back Card untuk Milenia

Sebagai ibu-ibu yang mengaku generasi milenia sepertinya kebiasaan belanja online menjadi suatu rutinitas. Apalagi kalau sudah terjebak oleh hobi. Untuk menjalani gaya hidup sehat saja tetap perlu biaya. Saya sendiri kalau mau nyari sesuatu pasti yang diintip adalah tokp-toko online karena lebih praktis. Yang dibuka gak jauh dari peralatan lari, matras yoga, baju dan celana yoga, sampai ke produk supporter untuk cedera. Untuk perbandingan harga pun biasanya lebih hemat. Kalau harus belanja ke mall, saya harus spending uang lebih untuk bensin dan uang parkir. Belum lagi mampir-mampir tempat makan atau ngopi.

Kita-kita yang berada dalam range usia 25-35 tahun ini memang disebut generasi milenia. Kaum milenia ini secara gaya hidup memang banyak maunya. Pengen menjalani banyak hal, misalnya ikut event-event lari, travelling, sampai nongkrong di coffeshop terkenal yang banyak diposting di Instagram. Ya kan?

1474524025756
Peluncuran HSBC Platinum Cash Back Card di Hard Rock Cafe Jakarta

Kata ibu Dewi Tuegeh, Senior Vice President Retail Banking & Wealth Managemen HSBC Indonesia saat launching HSBC Platinum Cash Back Card di Hard Rock Café Jakarta, memang untuk segmen saya yang mengaku generasi milenia memiliki beragam tuntutan prioritas yang harus dicukupi untuk mengaktualisasikan diri, jadinya tergiring ke perilaku impulsif dalam berbelanja. Padahal usia-usia segini secara ekonomi rata-rata (44%) masih belum di titik mapan dan stabil.

Sejujurnya transaksi secara online ini 50:50 antara untung dan rugi. Karena serba praktis dan dirasa “lebih murah” maka belanja jadi lebih terdorong karena impulsif. Tau-tau baru pertengahan bulan setengah gaji sudah mendekati kritis.

HSBC dengan produk barunya ini secara terbuka mengatakan target pasar mereka adalah generasi milenia yang ingin #SelaluLebih. Misalnya dalam meningkatnya perilaku transaksi online, maka HSBC pun memberikan promo cash back 25% untuk jenis transaksi ini. Selain transaksi online juga berlaku untuk transaksi di kategori restoran dan supermarket. Ada juga tambahan cash back 3% untuk transaksi apapun di manapun.

Tapi sebesar apapun cash back-nya saya masih tetap mikir lagi kalau memang harganya tidak terjangkau. Kadang harga gear memang gak kira-kira. Kalau mau beli itu ya harus nabung dulu. Beda ceritanya kalau bisa dicicil per bulan. Ternyata produk baru ini juga memenuhi kebutuhan generasi milena seperti saya ini. Kalau memang kita berat untuk membayar dalam jumlah angka besar maka dapat diubah menjadi cicilan bulanan dengan nilai minimal 50rb rupiah per bulan. Hmm..

Sebenarnya penawaran cash back ini HSBC lumayan tertinggal. Di dalam situs Duit Pintar, terdapat 12 kartu kredit terbaik 2016 dengan penawaran cash back dan Standar Chartered Master Card Titanium menapat rating tertinggi. Penawaran cash back sebesar 20%. Jumlahnya lebih kecil dengan produk baru HSBC yang baru dengan penawaran cash back 25%. Jadi, apakah HSBC bisa meluncur ke atas menyaingi pendahulunya?

1474523921456

TIPS MEMBELANJAKAN HOBI: Belanja Dengan Sadar

Harusnya dengan banyak kemudahan membuat keuangan kita lebih terkontrol. Jangan mudah terdorong untuk menjadi impulsif hanya karena iming-iming diskon atau karena lucu secara penampilan. Belanja dengan sadar adalah belanja dengan melewati berbagai pertimbangan, seperti tingkat kebutuhan dan perbandingan harga. Sebelum yakin membelinya sebaiknya intip-intip dulu ke toko sebelah dan cari pilihan termurah.

Kalau disebut satu persatu semua barang sepertinya butuh, tetapi ada yang butuhnya masuk ke kategori urgent dan ada yang butuhnya masih bisa ditahan. Untuk lari-larian kayanya gak habis-habis yang mau dibeli. Dari mulai sepatu, kaos kaki, visor, jersey, compression, sport watch, kacamata, dan masih banyak antrian berikutnya. Kalau semua dibeli dalam waktu bersamaan bisa-bisa bangkrut sebelum merasakan kesuksesan. Cara untuk filter semua itu adalah bikin list sesuai kebutuhan. Kebutuhan ya, bukan keinginan.

Setelah itu baru memanfaatkan fasilitas yang ada. Cari tahu promo-promo dari bank yang kamu gunakan seperti diskon atau cash back. Jangan terbalik ya! Jika situasinya karena tahu ada promo diskon atau cash back lalu cari-cari alasan untuk belanja urusan hobi padahal belum tahu yang dibutuhkan itu apa, ini jebakan betmen!