Processed with VSCO with  preset

Lombok Marathon: Berlari dengan Kehangatan Penduduk Pulau Seribu Masjid

“Welcome to Lombok!”

Suara dari sebelah saya ketika pesawat berhasil mendarat di Bandar Udara International Lombok. Saat gate pesawat di buka saya pun bergegas keluar dengan menggeret koper kecil yang warnanya selaras dengan kaos yangs edang saya pakai. Di pintu kedatangan sudah ada bapak Heri dari pihak Travel yang bekerja sama dengan Lombok Marathon. Saya pun dikalungi selendang dari kain tenun khas Lombok sebagai tanda selamat datang. Pokonya is ti me wa!

Sambutan selamat datang di pintu kedatangan Bandar Udara International Lombok

Pulau Lombok menyambut manusia yang beru pertama kali ini menginjakan kaki di sana dengan hujan yang cukup deras. Saya pun menaiki mobil Avanza silver yang akan mengantarkan ke hotel di wilayah Mataram. Sambil memandangi ke arah jendela saya menjelajah satu persatu isi kota. Biarpun banyak juga yang terlewat karena perut mulai terancam kelaparan dan menagih alam taliwang. Kemudian mata mengarah ke arah satu bangunan berupa tugu yang berbentuk masjid. Meskipun hujan ada beberapa wisatawan yang mengambil gambar di tugu tersebut.

“Itu adalah simbol bahwa Lombok pulau seribu masjid.” Kata Edi, supir yang mengantarkan saya di sana. Jadi nanti saya akan berlari di daerah yang kaya akan bangunan masjid. Kalau sampai lupa salat sih ya ter la lu!

Dari penampakannya Edi ini dia masih lumayan muda. Edi ini bisa sekaligus menjadi tour guide. Sambil menyetir dia menceritakan budaya yang menjadi ciri khas Lombok. Tapi saya lapar mas. Boleh kita buruan ke tempat makan?

Tugu yang menajdi simbol Lombok Pulau Seribu Masjid

THE DAY OF LOMBOK MARATHON

Alarm 2.20 pagi hari sudah berbunyi. Dengan tubuh yang masih memiliki magnet kuat terhadap kasur saya pun agak malas-malasan untuk melepaskan selimut. Kelopak mata masih terasa lengket seperti pasangan yang baru satu bulan jadian. Tapi karena shuttle yang mengantarkan ke Senggigi maksimal pukul 3 pagi maka mau tidak mau saya mengakhiri mesra-mesraan dengan kasur.

Untuk pelari dengan jarak 42km dan 21km start di Senggigi. Pukul 3.30 waktu Indonesai Bagian Barat saya dan rombongan yang menaiki shuttle telah sampai. Masih bingung mencari-cari di mana garis start.

Ternyata…

Gerbang startnya baru mau dibuat!

Jadi karena posisi di jalan utama maka untuk membuat gerbang start menunggu jalanan telah steril. Karena masih lama mulainya maka saya pun memilih pemanasan dan berkali-kali buang air kecil. Penyakit langganan tiap mau race: beseran.

Peserta dari #KawanLari Run For Indonesia yang paling duluan sampai di garis start

Setelah bolak balik lari-lari kecil akhirnya kawan lari dari Run For Indonesia sampai. Suasana yang sebelumnya sunyi jadi ramai. Ketauan deh ini biangnya rame di setiap ajang lomba lari. Pokonya pantang mulai sebelum PB alias banyak photo.

Bersama #kawanlari dari Run for Indonesia yang mengikuti Lombok Marathon kategori Full Marathon dan Half Marathon di garis start

And the race is begin

5..4..3..2..1..

Go!

Saya mulai menggerakan kaki perlahan. Beneran pelan. Karena gebangnya sempit jadi saya dan beberapa pelari lain memulai lari dengan berjalan. Beda dengan race di Jakarta yang justru saat start adalah saat menacap gas secepat mungkin. Peserta tidak terlalu banyak tetapi cukup untuk event yang baru pertama kali digelar. Cuaca teduh menambah rasa santai.

Sehari sebelumnya Lombok hujan lumayan lama jadi cuaca pagi lumayan teduh. Ini yang membuat saya pun berat meninggalkan Kasur. Tapi kan ke Lombok mau lari!

Dari pelan semakin cepat dan semakin cepat lagi sampai target pace tercapai. Berusaha tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Kaki baru panas tiba-tiba berhadapan dengan tanjakan.

“Masya Alloh!”

Saya menelan ludah dan menguatkan lagi nyali. Akhirnya dari mulai lumayan cepat mulai melambat dan semakin lambat dan lambat banget.

“Ayo terus lari! Baru tanjakan pertama!”

Ada suara yang menegur. Siapa sih yang berani negur-negur?

Ricky. Pacer pribadi ceritanya. Lupa kalau buat Lombok marathon ini dia mau jadi volunteer biar saya dapet PB (Personal Best). Antara seneng sama ngeri sih. Kalau cape gak bisa seenaknya jalan karena pasti ada yang bawelin. Enaknya ya jadi ikutan ketarik. Serba salah emang.

Di fitnah jadi atlet

Tekad saya di race ini adalah berlari santai tapi ya gak santai-santai banget. Tapi lama-lama mulai meninggalkan rombongan yang lari bareng di awal-awal. Gayabet.

Lama-lama semakin semangat dan tanpa terasa larinya agak serius dikit. Niatnya kan mau lari santai sambil foto-foto. Tapi pas udah lari jadi agak sayang juga kalau banyak berhenti.

Beberapa kali berpapasan dengan teman yang mengambil full marathon. Sapa-sapaan tapi tetap berlari. Yang penting saling memberi semangat.

Sampai di kilometer 6 ada pria tinggi dan berkepala gundul menyapa “Mbak atlet ya?”

Karena takut salah dengar saya pun memberi ekspresi yang meminta dia mengulang lagi perkataannya. Ternyata benar dia menanyakan apakah saya atlet.

“Bukan lah mas. Saya pelari hore.” Jawab saya agak sedikit ngakak. Tapi ngakak yang sedikit ngos-ngosan. Saya melihat jam dan sudah di km 6 dengan pace 6.30. Kemudian dia bertanya lagi “Larinya kok cepet?”

Agak tersanjung gimana gitu. Memang pada saat itu tidak ada yang di depan saya. Ada sih tapi udah jauh banget di depan sampai gak keliatan haha..

Karena pesertanya sedikit jadi memang jarak pelari satu dan pelari lainnya lumayan jauh. Yang ada di kanan kiri saya rata-rata cowok. Beda dengan race half marathon saya seminggu sebelumnya di 2XU Compression Run Jakarta yang pesertanya sangat banyak dan kompetitif. Kalau di Jakarta pace segitu saya udah diasepin banyak pelari saking lambatya.

Ternyata pria tersebut warga asli Lombok. Saya ketahui setelah saya membalas pertanyaan dia yang menanyakan saya bersasal dari mana. Kami pun akhirnya ngobrol. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan dia karna kalau banyak ngobrol kapan sampenya?

Maap ya, Mas.

Masyarakat turut menyemangati pelari

Menyenangkan jika mengikuti race di suatu daerah dan penduduknya ikut mendukung. Lombok Marathon ini baru pertama kali digelar tahun ini. Tetapi dukungan pemerintah kuat karena menjadi materi wisata kota Lombok. Bahkan Bapak Zainul Majni yang merupakan Gubernur Nusa Tenggara Barat mengikuti ajang lomba lari ini dengan kategori half marathon.

Di bawah pukul 6 banyak masyarakat yang baru keluar dari masjid selepas subuhan turut menonton peserta lari Lombok Maratjon. “Ayo semangat!” hingga yel yel “In do ne sia!” menyambut para pelari yang melintas di jalanan. Bahkan kami pun diberi air mineral kemasan oleh para supporter.

Bukan hanya yel yel saja, tetapi beberapa pelajar memainkan mini drum band di tepi jalan untuk memeriahkan ajang lomba lari ini. Semakin siang memang semakin banyak jarak yang sudah ditempuh, semakin lelah juga kaki melangkah, tetapi semakin ramai penduduk yang meramaikan. Meskipun tidak semuanya berteriak memberi semangat, ada pula yang hanya foto-foto dan menonton. Tetapi membuat Lombok Marathon jadi meriah dan ramai.

Kram.. oh kram..

Pada kilometer 14 saya sudah merasa lumayan lelah tapi tekad untuk lekas finish masih kuat. Apalagi di depan Epicentrum Mall ada anak-anak yang mengibarkan bendera merah putih dan mengajak tos para pelari. Lumayan bikin senyum.

Di tengah semangat yang mulai naik lagi saya mulai merasakan signal gak enak di pangkal paha kiri. Duh.. jangan sampai kram..

Meski mulai melambat tetapi saya tetap melanjutkan lari.

Keep on the track! Kamu bisa under 2.30.” Kata Kak Pacer yang dari awal menemani lari. Bukan nemenin banget sih, tapi dia ada di depan. Kadang kajauhan di depannya. Pas tau saya masih jauh di belakang dia mulai melambat, bahkan lambat banget kalau versinya dia. Memang susah ya kalau pelari pace 4 harus nemenin lari pace keong.

Sampai di kilometer 15 saya masih bertahan lari tanpa jalan. Kecuali pas lari minum di WS ya. Signal di pangkal paha kiri semakin kuat tetapi saya tetap memaksakan berlari. Sampai akhirnya…

Kram!

Foto (agak) dramatis setelah saya menyiramkan air mineral ke kepala

Saat kram kaki lumayan aduh banget larinya. Saya pun terkeos-keos dan semakin keos. Jalan. Ya.. saya mulai jalan. Saat jalan terasa semakin nyeri. Tapi mau lari juga udah gak sanggup banget.

Keep running!” kata kak Pacer. Nyebelin banget ya pas udah sakit banget masih harus disuruh tetep lari. Kartanya tinggal 3 kilo lari. Seakan-akan cuma dia yang pake sportwatch.

EMPAT KILO LAGI PAAAAK!

Semakin dekat semakin berat

Jarak yang harusnya dekat dengan garis finish tetapi seperti jarak neraka bagi saya. Kaki semakin susah diangkat. Bahkan sempat gak bisa diangkat sama sekali. Kram semakin parah. Bahkan orang-orang yang menonton pada tau saya kram hanya melihat cara saya berjalan dan berlari: pincang.

Kepanikan muncul ketika saya tidak bisa mengangkat paha kiri. Lalu gimana saya bisa lari?

Saya harus mengambil ancang-ancang beberapa kali hingga akhirnya paha kiri bisa diangkat. Seperti roda, ketika sudah berguling maka dia bisa berjalan sendiri. Tetapi jika belum ada yang mendorong, dia pun tidak akan bergerak.

Dua kilo lagi. Saya berada di depan Masjid Islamic Center Mataram. Masjid dengan bagunan yang besar dan warna yang menarik mata. Saya sempat melihat malam sebelumnya. Masjid itu terlihat lebih indah di malah hari karena ada lampu-lampu yang membuatnya tampak lebih menarik.

Berlari di depan Masjid Islamic Center Mataram

Ironisnya di depan masjid yang indah saya justru sedang sangat tersiksa. Lari terpincang-pincang sedangkan jarak garis finish masih 2 kilo lagi. Jarak dekat jika membandingkan dengan 21km, tetapi jarak jauh jika kondisi berlarinya seperti anak satu tahun yang baru belajar berjalan.

“Ayo 500 meter lagi!” kata Kak Pacer yang kayanya makin  gemes sama saya yang makin kesini makin lambat sampai gak sampe-sampe garis finish. Saya pun semakin gemes sama dia sampai rasanya mau melempar botol air kemasan yang saya pegang sepanjang lari. NAMANYA JUGA SAKIT SIH KAK!

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Finish!

Finish!

And the games is over..

Urutan ke 13 kategori half marathon female. Wah, kayanya ini pertama kalinya sampai di angka ini. Terharu. Kalau race di Jakarta kayanya gak mungkin bisa segitu. Catatan waktu juga masih sama dengan race sebelumnya.

Our happy face after finish!

Tapi ada rasa bangga saat kita menyelesaikan sesuatu berdasarkan full effort. Apapaun hasilnya itulah hasil usaha maksimal yang saya mampu. Dengan kondisi kram mendadak di 4 kilometer terakhir. Terima kasih Kak Pacer dan terima kasih penduduk setempat yang udah ngasih semangat. Sampai jumpa di Lombok Marathon 2017!