velpicstitch20170718_140225

12 Perubahan Pada Diri Sendiri setelah 12 Bulan Berlari

Hari minggu nanti terdapat event Milo Jakarta International 10K 2017. Jadi ingat kalau pada tahun lalu, saat saya mengikuti race untuk pertama kali: Milo Jakarta International 10K 2016.

Saat itu gugupnya luar biasa karena bagi saya 10km adalah jarak yang jauh. Dari rumah saya di Bekasi, jarak segitu saya sudah bisa sampai ke Cibubur. Dan ini harus lari jarak segitu?

Milo Jakarta International 10K 2016 sebagai race pertama Fitri Tasfiah

Race pertama saya ternyata gak membuat ibu-ibu yang keras kepala ini kapok. Sebulan kemudian saya berngkat ke Bali hanya untuk lari semata di Maybank Bali Marathon (MBM) 2016,  jarak 21K (Half Marathon) pertama saya. Biarpun bisa finish, saya harus mengalami cerdera lutut di masa persiapannya. Katanya sih biasa untuk pelari baru.

Yang jelas ini bukan wajah kebelet pup, tapi kebelet pengen finish

Dari berbagai ketakutan menghasilkan berbagai kepuasan saat menginjak garis finish. Setelah mengikuti MBM 2016, seminggu kemudian saya sudah mengikuti race lagi untuk jarak 10K. Dan ini berlanjut ke minggu-minggu setelahnya.

12 PERUBAHAN NYATA SETELAH 12 BULAN BERLARI

Seorang bayi yang berusia 12 bulan biasanya sudah belajar untuk berjalan. Untuk sampai ke tahap berjalan, dia belajar untuk tengkurep, duduk, dan merangkak. Saya pun sama. Saat mengalami 12 bulan berlari, saya merasa seperti sedang berproses. Banyak banget hal-hal yang berubah setelah saya mulai berlari!

#1 Lebih rajin bangun pagi sekali saat weekend

Bangun pagi sudah biasa, tapi bangun pagi banget saat weekend ini yang membuat luar biasa. Entah harus bangga atau miris. Paginya bukan jam 5, tapi bisa jam 3 pagi. Bahkan saya sempat memasang alarm pukul 2 pagi untuk persiapan race.

Sungguh di atas rata-rata.

Pelari ini mirip satpam yang kebagian piket. Langit masih gelap malah ke luar rumah.

Pukul 4.30 pagi sudah wefie sebelum start 10K Herbalife Run di BSD

Event lari memang seringkali dimulai pukul  5 pagi. Saya memerlukan waktu minimal sejam sebelumnya di venue untuk mencari parkiran, buang air (kecil ataupun besar), ngobrol, foto, dan pemanasan. Biarpun beberapa kali saya gak sempat pemanasan karena harus ngantri untuk ke toilet selama setengah jam.

Dan karena rumah saya di Bekasi yang {ehm) kemana-mana jauh, jadi harus sadar diri berangkat lebih pagi. Kalau sampai terlambat kan sayang banget.

Anehnya, kok aktivitas di pagi buta ini bikin saya ketagihan. I feel so anti-mainstream!

#2 Gak terlalu takut sama hujan

Untuk orang yang selalu berlari outdoor, sudah gak terhitung lagi berapa kali saya lari sambil hujan-hujanan. Baik saat sedang latihan ataupun race.

Sudah bangun pagi buta -yang tentu saja jadi harus mandi pagi banget juga- dan kadang hujan-hujanan. Pengalaman paling seru sih saat mengikuti race Anyo Run di Alam Sutera. Saat peserta bersiap-siap untuk start, tiba-tiba turun hujan dan deras pula. Anehnya, saya malah bersorak.

Asik juga lari hujan-hujanan. Mengenang masa kecil yang terlalu bahagia, hehe..

#3 Jadi rajin belanja

Buat kaum hawa, mungkin saya termasuk orang yang gak suka-suka banget belanja. Bukan karena gak merasakan kenikmatan saat belanja, tapi ya karena faktor “ngirit adalah segalanya”. Mau beli legging yoga yang agak mahalan aja mikirnya bisa 1000 kali.

Kalau bisa beli yang murah, kenapa harus yang mahal?

Salah satu prinsip dompet saya. Di suatu pagi yang tanpa kesibukan saya mengisinya dengan mencuci semua sepatu. Saat  itu saya merasa satu sepatu lari saya bisa membeli legging yoga yang kaya seleb-seleb Instargram. Apalagi sepatu yang saya cuci saat itu ternyata banyak.

Belum lagi ketika harus merapikan lemari. Saya harus membeli satu lemari lagi untuk menampung baju dan celana lari. Dan ya.. celana compression itu sebenarnya harganya udah ngelebihin harga celana yoga yang premium. Tapi kok gak kerasa ya?

Tau-tau udah ada paket ke rumah yang isinya barang hasil belanja online.

#4 Badan akhirnya kurusan biarpun makan karbohidrat jalan terus

Selama bertahun-tahun berat badan saya cenderung stabil. Saking stabilnya sampai kayanya susah banget buat turun lagi. Saat sudah rajin lari pun berat badan sih tetep aja.

Di awal tahun 2017 saya mempunyai resolusi bisa finish full marathon. Saat itu saya akhirnya latihan dengan pelatih pro dan mengikuti program latihan. Saat menjalani program latihan, sering dibilang kurusan sama temen-temen.

Sekarang berat badan stabil sudah di angka 48. Kalau baru bangun pagi sih bisa di angka 47. Tentunya angka itu akan berubah saat ada makanan masuk ke dalam tubuh. Hahaha..

#5 Dari lari-untuk-kurus menjadi kurus-untuk-lari

Walaupun niat saya berlari bukan untuk menguruskan badan, tapi ada harapan bisa lebih kurus dengan melakukan olahraga ini. Semenjak rajin berlari dan mengikuti beberapa race, saya jadi ingin lebih kurus supaya bisa lebih ringan saat berlari.

Jadi kebalik ya? Hmm..

Semakin berkurang berat badan, maka semakin berkurang juga beban tubuh saat berlari. Sejujurnya dengan berkurangnya 3 kilo ini, kaki saya menjadi lebih enak saat berlari. Makanya semoga bisa lebih kurus lagi.

#6 Jadi punya banyak teman di Facebook

Saya pernah menghapus banyak teman di Facebook supaya privacy lebih terjaga. Ada rasa kebanggaan saat jumlah teman di Facebook berkurang hingga total menjadi 800 teman. Tentunya masih banyak yang harus difilter lagi.

Semenjak rajin berlari, teman di Facebook jadi lebih banyak. Rata-rata ya teman lari. Bahkan ada beberapa yang belum pernah ketemu. Aneh, ya? 😀

#7 Isi sosmed kebanyakan foto lari

Social media adalah wadah yang menaungi curhat dan pencitraan, jadi isinya mewakili aktivitas yang dijalani. Hampir setiap hari minggu saya berlari, baik hanya sekadar latihan ataupun ikut race. Belum lagi setiap hari selasa dan kamis ada jadwal latihan.

Dan saya lumayan rajin update status. Jadi gimana gak foto lari semua?

#8 Gak gampang sakit

Saya memiliki imun yang gak bagus-bagus banget. Dulu setiap bulannya ada aja masa teparnya. Biasanya karena kecapean dan badan “nagih” untuk istirahat.

Semenjak lari saya merasa jadi lebih kebal sama virus dan bakteri. Bukan berarti gak pernah sakit juga, ya!

Walaupun terkadang saya kehujanan saat sedang berlari, tapi alhamdulillah daya tahan tubuh lumayan terjaga. Malahan kalau udah agak gak enak badan, sedikit berlari ringat membuat tubuh jadi fit lagi.

#9 Cintai karbohidrat apa adanya

Di suatu pagi pukul 4, ketika rumah masih senyap, saya turun ke bawah untuk menyantap nasi tanpa lauk. Saya mengunyah sambil berjalan ke dalam mobil. Ya, saya ingin berlari di sebuah event lari dan merasa harus menyimpan karbo untuk dibakar.

Apakah enak hanya makan nasi? Tentu tidak!

Saya sudah gak mikirin rasa. Targetnya yang penting ada bahan bakar. Sebenarnya saya tidak setiap hari memakan nasi. Tapi jika ada jadwal berlari selalu menyempatkan mengisi perut dengan nasi atau karbo apapun. Kebetulan karbo memang makanan sahabat pelari, kecuali yang melakukan diet keto.

Kalau ada pasta saya lebih bahagia lagi. Lari membuat saya bisa mengonsumsi aglio olio tanpa merasa bersalah.

#10 Pergi jauh-jauh cuma buat lari

Kadang mesti jalan ke alfamart aja malesnya luar biasa, tapi saya bisa bolak balik Bekasi-BSD cuma untuk ikut race. Berlari di Bali, Lombok, dan Kuala Lumpur adalah pengalaman yang akan terekam sepanjang hidup.

Kumpul pukul 3 pagi dengan kawan lari dari Run For Indonesia untuk Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon

Harapan saya sih bisa banyak menjelajah Indonesia dengan berlari. Harapan yang agak ngarepnya lagi bisa berlari di berbagai negara. Namanya juga recreational runner.

#11 Lebih mengenal tubuh dari cedera

Lari itu memberi banyak pengalaman, salah satunya cedera. Dari mulai cedera lutut, cedera pergelangan kaki, cedera di betis, hingga yang sedang saya alami: piriformis syndrome.

Tapi dari berbagai cedera yang dialami, saya mencoba belajar dan mengenali tubuh lari. Mencoba melakukan terapi pada diri sendiri yang mudah-mudahan nantinya berguna untuk oranglain.

Berlari, walaupun kesannya sederhana tetapi banyak kejutan saat menjalaninya. Latihan penguatan otot dan menambah elastisitas merupakan salah satu cara untuk menghindari cedera. Jadi walaupun berlari, jenis latihannya lumayan variatif.

#12 Lebih banyak bersyukur

Kuku menghitam hingga lepas, kulit terbakar, tumbuh jerawat, dan blister adalah resiko yang tubuh saya harus terima. Tapi hal ini gak membuat saya mengeluh ataupun kapok. Semuanya disenyumin aja.

Dari perubahan fisik yang dialami, saya justru merasa bersyukur masih diberi kesehatan untuk bisa tetap lari. Karena ada banyak orang yang tidak bisa berlari karena kondisi fisiknya yang gak memungkinkan.

Ada teman yang mengatakan “Kuku lepas tandanya kita masih punya kaki.”. Paling jadi malu kalau mau manicure pedicure karena kukunya aja udah ringsek. Perawatan kuku terpaksa harus self-service.

Biarpun saya tahu lari itu membuat kulit lebih kering dan gelap, tapi menjaga kulit tetap perlu. Karena tahu akan terbakar, penggunakan sunscreen sebelum berlari adalah hal yang penting. Supaya gak kering, tidak lupa untuk memakai pelembab sebelumnya.

Biar kulitnya gak berontak juga diajak lari terus. Menjaga tubuh juga salah satu cara untuk bersyukur. Ya, gak?

12 bulan berlari membawa 12 pengalaman yang berharga untuk diri sendiri. Dari setahun, apakah saya bisa mencetak PB baru untuk kategori 10K? Doakan saya ya!

IMG-20180604-WA0030

Lari Pagi di Kuta Banyak Untungnya

DSC_0235_1

Lari biar sehat?

Saya lari biar ngirit. Begitulah yang terjadi saat akhir pekan kemarin di Bali. Sengaja membawa running gear agar dapat menikmati pagi di sekitar Seminyak dan pantai Kuta tanpa harus membayar ongkos taksi. Tentu saja sehat itu bonus. Eh, atau kebalik?

Sehari sebelumnya saya harus mendekam di balik selimut kamar hotel karena fisik yang kurang bagus. Kepala agak berat dan suara parau karena sedang terkena flu. Malam sebelumnya masih ikut Birthday Run Yuli di sekitar FX dengan badan yang tidak terlalu fit.

Birthday Run Ibu Yuli di FX beberapa jam sebelum berangkat ke Bali
Ikut Birthday Run Ibu Yuli di FX  sebelum berangkat ke Bali

Saya mendarat di Bali sekitar pukul 14.30 WITA dan langsung segera ke Hotel Fave Sunset di Seminyak. Karena memang hanya sendiri jadi memang mencari hotel yang murah tetapi lumayan ramai. Iya, saya penakut. Hotel yang memberikan sensasi seperti di kamar kosan. Karena setiap suara yang keluar masuk dari kamar sebelah pun terdengar. Tapi fasilitas lumayan oke. Tempatnya bersih, ada water heater, dan service room untuk makanan. Di lobby ada Circle K yang kalau mau beli makanan atau minuman tinggal turun ke bawah. Bisa juga menikmati mocktail atau kopi di pinggir kolam renang.

DSC_0242-01

Maaf jadi melebar ke hotel. Balik lagi ke lari. Pada sabtu paginya saya menilik ke arah jendela, tampak hanis hujan. Sepertinya saat yang bagus untuk berlari. Sedikit stretching agar badan enak untuk diajak lari. Apalagi kondisi badan sedang kurang oke.

Morning stretching before running
Morning stretching before running

Saya nyalakan dua aplikasi, yaitu Nike + dan Google Maps. Untuk orang yang tidak hapal jalan ini sangat penting. Saya arahkan ke Pantai Kuta. Minimal mandatory foto dengan background pantai tercapai. Jalan agak basah karena sisa hujan tidak menyurutkan semangat saya untuk sampai pantai. Saya berlari di trotar, terkadang harus melambatkan  dan agak keluar trotoar karena ada….

Anjing.

Saya lumayan takut anjing. Trauma karena waktu kecil beberapa kali dikejar anjing. Dan sepanjang jalan saya harus beberapa kali bertemu hewan ini. Saya tau anjing hewan yang ramah, apalagi di Bali. Tapi ya namanya juga sudah penakut mau diapain lagi. Tapi saya sangat suka saat berpapasan dengan orang di jalan. Masyarakat setempat sangat ramah. Setiap berpapasan mereka menyapa “Selamat Pagi!”. Jarang sekali ditemui di tempat saya tinggal. Hehe..

_20160720_121116(1)
Dari app Nike+ diketahui pembakaran kalori sebanyak 498cal

Dengan berlari kita bisa berkeringat dan irit ongkos. Lumayan ongkos taksinya bisa dipakai untuk uang makan siang. Duh, maaf saya memang perhitungan. Tapi ada lagi manfaat yang didapat kalau kita jalan-jalan pagi di Kuta dengan berlari: Banyak bule cakep dengan badan oke yang pada lari. Tapi gak sempat saya foto. maaf.

DSC_0237-02
Istirahat sejenak sambil stretching di pantai Kuta

Selain pemandangan pantai yang indah kita juga bisa menikmati pemandangan bule yang berkeringat. Tapi ya memang gak sempet difoto sih. Saya yakin kamu yang baca tulisan ini juga sudah sering liat kalau lagi ke Bali. Ya, kan?

Tapi pagi itu memang tidak terlalu cerah. Saat berlari dari pantai Kuta menuju hotel ditemani oleh gerimis. Untung baru gerimis ya. Kalau sudah begini berlari harus lebih hati-hati karena rawan tergelincir. Atau pilih-pilih jalan yang gak becek. Ingat, sepatunya mahal. (Gak gini juga sih, kak!)

Banyak yang bertanya kenapa saya bisa foto diri sendiri padahal larinya sendiri? Kan bisa minta tolong. Pas di Kuta saya meminta bapak yang mmebersihkan pantai untuk mengambil gambar. Jadi, manfaat lainnya kalau kita lari sendiri di Bali adalah: Lebih akrab dengan orang baru.

Foto dengan background pantai adalah mandatory kalau ke Bali
Foto dengan background pantai adalah mandatory kalau ke Bali

Ini baru di Kuta, apalagi di tempat-tempat lainnya yang pantai nya lebih indah. Pasti lebih asik lagi. Kalau bisa sama teman sih sebenernya lebih menyenangkan. Tapi lari sendiri pun bisa jadi sangat menyenangkan asal kita menikmatinya.