Processed with VSCO with  preset

Catatan Lari Sepanjang Tahun 2017

Tahun 2017 menjadi tahun yang banyak warna. Banyak hal baru lagi yang dialami, salah satunya mencoba hal yang tadinya saya takuti: berlari full marathon.

Dari niat cuma nyicipin aja tapi akhirnya malah dua kali nyobainnya. Seneng banget sih nyiksa diri!

Kemarin saya sempat iseng menghitung berapa banyak medali lari yang diperoleh tahun 2017. Teryata totalnya ada 20 medali, khusus untuk satu tahun itu. Jadi pengen napak tilas perjalanan berlari di 2017. Boleh, kan?

Pecah Virgin Full Marathon

Niat pertama mendaftarkan diri untuk mengikuti full marathon (FM) adalah menebus rasa penasaran. Walaupun taku banget menghadapin jarak yang buat saya  tidak biasa (42KM), tetapi ada juga rasa penasaran. Dari pada cuma penasaran kan mendingan nyobain langsung. Ya, gak?

Ajang lari FM pertama sengaja saya pilih yang agak jauh dikit, tapi gak jauh-jauh banget: Kuala Lumpur.  Standar Chartered Kuala Lumpur Marathon (SCKLM) menjad tempat sya melepaskan keperawanan berlari marathon. Kebetulan banyak juga temen-temen yang ikut. Jadi kayanya bakalan seru.

Pengalaman menjalani FM Pertama sungguh luar biasa. Terharu aja ternyata saya bisa melaluinya. Biarpun malam sebelumnya saya susah tidur karena nervous.

Race course marathon pertama cukup menantang karena banyak menghadapi tanjakan. Kontur di sana kan memang lumayan hilly. Tapi akhirnya bisa dilalui dengan catatan waktu resmi 5 jam 27 menit.

7 Kali Half Marathon

Karena punya target mengikuti ajang lari FM, maka saya mencoba membiasakan berlari jarak jauh dengan mengikuti race berjarak half marathon (21,1KM).

Ini trik saya biar mau long run sih. Kalau gak ada race suka ada aja alasannya yang membuat larinya gak sesuai target. Bosen aja kayanya.

Tanpa terasa ternyata medali untuk jarak HM di tahun 2017 sebanyak 8 kali dengan  race 2XU Compression Run 2017 sebagai penutup. Dan dengan selesainya race terakhir tersebut maka total medali HM saya ada 11 buah. Lumayan lah ya,,,

Suprisingly, medali yang menjadi favorit didapatkan di race jarak half marathon ini. Dua medali full marathon saya kayanya biasa aja. Best medal versi saya: Superball Run, Pocari Run, 2XU Compression Run.

Full Marathon Kedua di Jakarta Marathon 2017

Pengalaman FM pertama rupanya membuat saya jadi penasaran mau mencoba lagi. Setelah menghitung jeda waktu untuk persiapan menghadapi FM berikutnya, Jakarta Marathon adalah ajang lari yang paling tepat.

Sebenarnya sempat goyah juga mau menjalankan FM kedua ini. Karena banyak teman -termasuk pelatih saya sendiri- agak kawatir saya mengikuti race FM di Jakarta Marathon. Kalau pelari tau lah ya kenapa alasannya..

Tapi saya kembali menguatkan tekad dan jalani aja tanpa target waktu.  Ya karena udah bayar juga. Race-nya kan lumayan muahal!

Akhirnya bisa juga sih. Hehe,,

Menjalani 2 Kali Race Half Marathon dan 1 Kali Race Full Marathon dalam Waktu 1 Bulan

Bulan Oktober kemarin saya mengikuti race Superball Run dan Combi Run dengan jarak masing-masing 21KM. Jeda waktu antara kedua race hanya satu minggu.

Masih kelelahan habis panas-panasan di Superball harus lanjut panas-panasan lagi di Combi Run. Saat di Combi Run kaki mulai terasa goyah. Mulai kelelahan di KM 10, padahal masih ada 11 kilometer lagi yang harus ditempuh. Masing-masing bisa finish dengan jarak 2 jam 17 menit. Lumayan sih ya.

Oiya, di Superball Run kemarin mendapat limited finisher tee untuk 200 orang pertama yang berhasil menerobos garis finish. Gak nyangka juga sih, Ternyata saya gak lambat-lambat banget hehehe..

Tapi belum bisa santai dulu, karena 2 minggu lagi saya harus lari lagi di Jakarta Marathon dengan jarak 42KM itu. Matik gak tuh?

Pertama Kali Naik Podium

Sebelumnya memang sudah pernah mendapat peringkat kelima putri dan nyobain dapat hadiah saat mengikuti Lombok  Marathon 2016 dengan jarak 21KM, tapi gak pernah merasakan naik podium!

Beberapa hari sebelum race tiba-tiba mendaftarkan diri secara kolektif untuk race Jakarta Midnight Marathon. Saya pikir karena lokasi di sekitar CFD kan jadi berasa latihan. Selain itu saya juga kangen mengikuti race dengan jarak 10KM.

Pas larinya sebenernya sedang gak mood. Karena pas berangkat grasak-grusuk. Malahan BIB sempat ketinggalan padahal sudah di jalan. Akhirnya balik lagi ke rumah buat ambil racepack yang tertinggal.

Pas sampai venue, seperti biasa: mules. Jadi harus lari-lari ke toilet padahal 15 menit lagi harus start. Entah kenapa penyakit saya ini selalu kebelet pipis atau pun menjelang race.

Karena buru-buru, glu-gel yang jadi bekal sarapan sebelum berlari pun ketinggalan. Padahal saya belum makan dan habis pup pula. Yasudah deh di bawa santai aja.

Ketika di KM 3, jam saya gak sengaja kepencet. Yang membuat catatan waktu dan jarak lari saya hilang. Makin bete dong!

Saat nyaris memutuskan untuk keluar dari race (DNF), teman saya berkata kalau di depan saya baru sedikit jumlah pelari wanitanya. Itu artinya peluang untuk mendapat podium lumayan besar. Jadi semangat dong! Kesempatan yang langka banget!

Di KM 5 saya mulai menyalip pelari wanita yang berada di urutan 3. Pertama kali dalam hidup ditemani marshal sepeda sampai garis finish. Oh.. gini toh rasanya..

Akhirnya di tahun 2017 saya bisa merasakan pertama kali diiringi marshal sepeda dan pertama kali naik podium untuk jarak 10K wanita. Pelari lambat seperti saya ternyata ada kesempatan juga ya..

Cedera Terparah dan Terlama

Sepanjang saya suka lari dan ikut race, memang beberapa kali mengalami cedera. Tapi yang terakhir ini lumayan lama.

Mungkin memang kaki saya terlalu cape dan belum kuat berlari full marathon, betis kanan saya terasa nyeri sekali. Ya mungkin memang harus istirahat.

Borobudur Marathon pun akhirnya saya lepas. Meskipun sebenarnya jarak yang saya ikuti hanya 21KM. Agak sayang sih karena  katanya bagus banget yang tahun ini. Tapi kalau lagi cedera juga percuma kan?

Beda cerita dengan 2XU Compression Run. Saya pikir karena sudah sebulan jeda dari Jakarta Marathon dan setelahnya saya istirahat jadi gapapa lah sekali lari di 2XU Run ini. Jadi biarpun kaki masih belum pulih saya memaksakan untuk tetap ikut.

Dengan menahan rasa ngilu saya tetap berlari di 2XU dengan jarak 21,1KM. Finish dengan waktu  2 jam 21 menit. Melorot jauh ya dari HM sebelumnya.

Tapi memang gak bisa untuk ngejar speed dulu. Daripada gak bisa lari, kan?

Waktu yang merosot ini sebenarnya karena jaraknya juga  lebih, jika berpatokan dengan waktu di garmin watch saya. Kalau dilihat dari total pace-nya sih tidak ada penurunan sama sekali.

Taoi sukup hepi karena bisa tamat race terakhir di 2017. Bahagianya ternyata cuma sementara. 3 jam kemudian kaki kanan saya terasa nyut-nyutan parah. Bahkan jalan ke kamar mandi aja susah.

Esok harinya saya kembali mendatangi Dr. Susetyo, spesialis sport akupuntur, buat terapi. Setelah diakupuntur ternyata tidak langsung pulih. Harus sabar banget buat bisa balik lari lagi.

Alhamdulillah ketika saya menulis ini (1 bulan kemudian), kaki ini sudah kembali bisa berlari biarpun belum sepenuhnya pulih. Katanya sih pelan-pelan aja dulu sampai kaki bisa beradaptasi lagi. Tapi sabar itu memang berat ya!

Mengumpulkan 20 Medali dengan Jarak Berbeda

Perasaan sih gak banyak race yang saya ikuti, karena saya mengambil full marathon. Saya pikir kan harus ada istirahatnya. Tapi ternyata lumayan juga jumlahnya. Jadi 20 medali yang didapatkan sebagai berikut:

42K – Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon

42K – Jakarta Marathon

21K – BFI Run

21K – Komando Run

21K – Pocari Sweat West Java Marathon

21K – Maybank Bali Marathon

21K – Superball Run

21K – Combi Run

21K – 2XU Compression Run

17,8K – Titan Run

16,8K – Anyo Run

12K – Puma Night Run

10K –  Dirgantara Run

10K – Halim Runaway

10K – BNI UI Half Marathon

10K – Milo Run (First 2000 10K Finisher)

10K – Jakarta Midnight Marathon

8K – Bulungan Run

7K – Run and Recuit

5K – Sky Run

Walaupun belum ada target apa-apa, tapi 2018 ini saya akan tetap berlari. Berlari gak harus jarak jauh atau mengejar kecepatan. Saya mau menikmati prosesnya.

Semoga tahun ini semakin banyak warna dan cerita. Amin!

3 Race Ulang Tahun di 2017: Milo Run, Titan Run, dan Maybank Bali Marathon

Ternyata begini ya rasanya kalau sudah menginjak satu tahun berlari. Bisa mengalami pengulangan di satu race yang sama dengan pengalaman dan cerita yang berbeda. Merasakan progress diri sendiri yang tanpa disadari semakin lama semakin meningkat.

Ini masalah waktu.

Ternyata jam terbang memang gak bisa bohong. Dengan kemampuan lari saya yang ala kadarnya, ternyata bisa melakukan perbaikan waktu juga.

Waktu setahun ini bukan tanpa cerita. Ada tawa, tangis, cedera, dan drama-drama lainnya.

Semakin lama semakin biasa. Mungkin ini juga yang terjadi pada kaki saya. Setahun yang lalu, setiap ikut race dan berlari di satu kilo pertama rasanya sudah mau menyerah saja. Sekarang, ya Alhamdulillah..

Tetep cape juga.

Gak mungkin gak cape. Namanya lari ya pasti cape. Tapi badan sudah bisa lebih berkompromi. Sudah bisa ngatur-ngatur pace di setiap jarak. (Gaya banget ya!)

MILO JAKARTA INTERNATIONAL 10K

Buat lomba lari 10K, event MILO Jakarta International 10K ini dianggap bergengsi. Masih diminati oleh para penggiat lari, baik yang pro maupun yang sekadar hura-hura. Event laridi Jakarta  ini sudah ada sejak tahun 2004. Yang menarik dari event ini adalah medalinya terbatas hanya untuk 2000 penamat pertama.

Fitri Tasfiah, muncul di tahun 2016. Dengan bermodalkan latihan lari yang baru sebulan dan belum pernah menginjak jarak 10K, mengikuti race ini sudah luar biasa nervous-nya.

Lari 3K aja rasanya udah cape, ini lagi mau lari 10 kilo. Jarak yang sama dari rumah saya di Bekasi ke Cibubur. Pada subuh itu saya datang dengan Farrel, anak sulung yang juga saya racunin ikut lari di Milo Run ini. Tentunya dengan jarak untuk anak-anak. Sejujurnya sekalian kerja sih. Ada campaign yang harus melibatkan anak, hehe..

Di Milo Run 10K ini saya berlari dengan perut yang masih kosong, jadi kesan-kesan di race pertama ini adalah: lapar. Kecepatan diatur sedemikian rupa supaya bisa tangguh menamatkan race 10K pertama dalam hidup. Sebenarnya memang pacenya segitu-gitu aja sih. Lumayan lah, bisa finish dengan waktu 1 jam 20 menit. Lumayan..

Waktu Finish unofficial di race 10K pertama

Meskipun pulang cuma bawa baju kotor tanpa ada medali apapun di tangan. Untung hepi.

Setahun kemudian, tepatnya 2 bulan yang lalu, saya kembali mengikuti MILO Run ini. dengan jarak yang sama ternyata bisa memperbaiki waktu. Dari 1 jam 20 menit ke 1 jam 5 menit. Dari yang tahun lalu gak dapat medali, sekarang bisa dapat medali limited editon untuk 2000 penamat pertama.

Akhirnya berhasil mendapat medali untuk 2000 penamat pertama di Milo Run 2017

Ahh.. terharuuu!

TITAN RUN

Titan Run adalah event lari pertama yang saya jalani selain di Jakarta. Kebetulan lokasinya di Tangsel, tepatnya di Alam Sutera.

Titan Run 2016 adalah race serius kedua saya. Kenapa serius?

Karena ini pertama kalinya saya menguji kemampuan dengan berlari 10K tanpa berhenti (Kecuali saat minum di Water Station). Race ini menjadi salah satu persiapan menghadapi Half Marathon pertama di Maybank Bali Marathon, yang diselenggarakan pada bulan yang sama.

Behasil sih.

Tapi waktu finish saya di 10K saya gak ada perubahan dari Milo 10K yang berlangsung 2 minggu sebelumnya. Kalau dipikir-pikir sih lumayan lama, hahaha..

Tapi waktu itu mah bangga-bangga aja. Seneng bisa lari 10K beneran pada akhirnya ya…

Langkahnya bener-bener diirit-irit biar gak ngos-ngosan. Ya tapi tetep ngos-ngosan juga!

Titan Run 2016: Lambat asal selamat

Di Titan Run tahun ini ceritanya mau upgrade jarak. Kalau tahun sebelumnya mentalnya cuma buat 10K, tahun ini mencoba di jarak 17,8K. Jarak ini memang unik karena memang untuk menyambut hari kemerdekaan RI di tanggal 17 bulan 8.

Tadinya mau turun ke 10K karena hanya beda seminggu dengan Pocari Run yang di Bandung. Di Pocari Run saya mengambil jarak 21K. Lumayan cape juga karena kurang isturahat. Dari Bali langsung ke Bandung demi bisa lari di event lari yang katanya mesti dicoba ini.

Karena sudah nanggung daftar dan gak ngejar PB juga, akhirnya tetap memilih jarak 17,8K. Benar-benar lari untuk recovery. Menikmati jarak demi jarak tanpa membuat target waktu yang bikin sakit kepala dan sakit hati.

Avg pace 6:19 pada Km 16 untuk jarak 17,8K di Titan Run 2017

Lari di Titan Run tahun ini ternyata masih seru seperti tahun sebelumnya. Habis lari bisa kulineran sekenyangnya dan gratis.

Sayangnya sempet ada drama mules pas mau start. Penyakit saya banget nih kalau mau race.

Malemnya habis makan mie instant pakai cabe rawit. Alhasil pas sampai venue langsung lari-lari nyari toilet. Mana start tinggal 10 menit lagi. Udah telat, pup pula!

Untungnya saya bisa finish tanpa kendor-kendor banget waktunya. Dibanding tahun lalu sih ini udah Alhamdulillah banget!

MAYBANK BALI MARATHON (MBM)

Kata teman-teman senior di dunia lelarian, MBM ini adalah lebarannya para pelari. Mau serius ataupun cuma wisata yang penting ikutan lari. Tapi bener sih. Saya melihat banyak wajah-wajah famous di dunia lelarian turun di event ini. Ya sebagian memang sudah ada sponsor yang daftarin sih. Enak ya..

Buat saya MBM 2016 menjadi sejarah dalam hidup. Pertama kali saya menginjak jarak 21K dan proses dari gak pernah lari ke event ini hanya berselang 2 bulan. Latihan fokusnya ya 3 minggu sebelum hari H. Bayangkanlah!

Gak heran kalau akhirnya lutut saya sampai sengklek karena persiapan yang kejar tayang ini. Tapi masih lumayan bangga karena virgin HM saya di track yang luar biasa menantang ini masih di bawah 3 jam.

Banyak drama yang dialami saat mengikuti virgin HM di MBM ini, salah satunya ya kebelet pup. Namanya juga masih newbie-super-newbie. Karena nervous, jadi sebelum lari saya minum air putih lumayan banyak. Hasilnya ya jadi kebelet pipis pas mau start.

Karena tidak tersalurkan akhirnya jadi kebelet pup. Repot juga kan pas lari nanya-nanya toilet ke penduduk setempat buat bisa dinumpangin setoran. Untung gak kebelet yang lain kan!

Dalam keadaan kaki yang sengklek dan track di Bali yang hilly, HM pertama saya lumayan terasa berat. Belum lagi Bali kan panasnya cantik banget. Target di bawah 3 jam jugaTapi untungnya mental mamak-mamak Bekasi ini ternyata lumayan tangguh. Niat bisa sampai finish begitu kuat, jadi pada akhirnya waktu finish sesuai yang ditargetkan.

HM pertama di MBM 2016 finish pada waktu 2 jam 49 detik

MBM tahun ini lain cerita. Lebih gak niat.

Mentang-mentang bukan HM pertama, jadi persiapan gak mateng-mateng banget. Gak punya persiapan khusus. Latihan juga seadanya. Malahan sempet break seminggu lebih.

Dibanding carbo-loading, saya malah berburu gelato.

Mental juga udah gak segugup yang pertama. Malahan terlalu santai.

Karena memang gak membuat target apa-apa di MBM tahun ini. Saya sadar jalur di Bali ini banyak naik turunnya, jadi merasa sia-sia kalau mengejar PB (Personal Best). Ya minimal bisa sub 2 jam 30 menit. Supaya gak terlalu merosot banget bedanya dengan HM di Pocari Run.

Ternyata memang benar. Tanjakan MBM tahun ini masih bikin betis menjerit.

Berusaha santai tapi ya cape juga. Untungnya dari KM 14 jalurnya sudah bersahabat. Sampai finish lancar banget tanpa kendala apa-apa.

Kebetulan waktunya masih sama dengan HM di Pocari Run, yaitu 2 jam 20 detik. Padahal lari HM di Bali lebih menantang dibanding saat di Bandung sebulan sebelumnya.

Half Marathon di MBM 2017 dengan perbaikan waktu dari tahun sebelumnya

Memang benar kata orang-orang: Jam terbang gak bisa bohong.

Semakin sering berlari maka tubuh kita juga semakin biasa. Ini yang mahal dan tidak bisa dibeli. Yang ingin saya pertahankan sekarang adalah tetap bisa menikmati lari.

Berlari bukan maslaah tujuan, tetapi bagaimana menjalani prosesnya. Dibanding terlalu obsesi trus nantinya cape sendiri dan jadi jenuh. Ya.. kan bukan atlet juga. Umur juga udah gak muda-muda banget.

Semoga masih bisa menikmati perjalanan berlari sampai tahun-tahun ke depannya. Tambah pengalaman, tambah cerita. Sangat-sangat menyenangkan!

velpicstitch20170718_140225

12 Perubahan Pada Diri Sendiri setelah 12 Bulan Berlari

Hari minggu nanti terdapat event Milo Jakarta International 10K 2017. Jadi ingat kalau pada tahun lalu, saat saya mengikuti race untuk pertama kali: Milo Jakarta International 10K 2016.

Saat itu gugupnya luar biasa karena bagi saya 10km adalah jarak yang jauh. Dari rumah saya di Bekasi, jarak segitu saya sudah bisa sampai ke Cibubur. Dan ini harus lari jarak segitu?

Milo Jakarta International 10K 2016 sebagai race pertama Fitri Tasfiah

Race pertama saya ternyata gak membuat ibu-ibu yang keras kepala ini kapok. Sebulan kemudian saya berngkat ke Bali hanya untuk lari semata di Maybank Bali Marathon (MBM) 2016,  jarak 21K (Half Marathon) pertama saya. Biarpun bisa finish, saya harus mengalami cerdera lutut di masa persiapannya. Katanya sih biasa untuk pelari baru.

Yang jelas ini bukan wajah kebelet pup, tapi kebelet pengen finish

Dari berbagai ketakutan menghasilkan berbagai kepuasan saat menginjak garis finish. Setelah mengikuti MBM 2016, seminggu kemudian saya sudah mengikuti race lagi untuk jarak 10K. Dan ini berlanjut ke minggu-minggu setelahnya.

12 PERUBAHAN NYATA SETELAH 12 BULAN BERLARI

Seorang bayi yang berusia 12 bulan biasanya sudah belajar untuk berjalan. Untuk sampai ke tahap berjalan, dia belajar untuk tengkurep, duduk, dan merangkak. Saya pun sama. Saat mengalami 12 bulan berlari, saya merasa seperti sedang berproses. Banyak banget hal-hal yang berubah setelah saya mulai berlari!

#1 Lebih rajin bangun pagi sekali saat weekend

Bangun pagi sudah biasa, tapi bangun pagi banget saat weekend ini yang membuat luar biasa. Entah harus bangga atau miris. Paginya bukan jam 5, tapi bisa jam 3 pagi. Bahkan saya sempat memasang alarm pukul 2 pagi untuk persiapan race.

Sungguh di atas rata-rata.

Pelari ini mirip satpam yang kebagian piket. Langit masih gelap malah ke luar rumah.

Pukul 4.30 pagi sudah wefie sebelum start 10K Herbalife Run di BSD

Event lari memang seringkali dimulai pukul  5 pagi. Saya memerlukan waktu minimal sejam sebelumnya di venue untuk mencari parkiran, buang air (kecil ataupun besar), ngobrol, foto, dan pemanasan. Biarpun beberapa kali saya gak sempat pemanasan karena harus ngantri untuk ke toilet selama setengah jam.

Dan karena rumah saya di Bekasi yang {ehm) kemana-mana jauh, jadi harus sadar diri berangkat lebih pagi. Kalau sampai terlambat kan sayang banget.

Anehnya, kok aktivitas di pagi buta ini bikin saya ketagihan. I feel so anti-mainstream!

#2 Gak terlalu takut sama hujan

Untuk orang yang selalu berlari outdoor, sudah gak terhitung lagi berapa kali saya lari sambil hujan-hujanan. Baik saat sedang latihan ataupun race.

Sudah bangun pagi buta -yang tentu saja jadi harus mandi pagi banget juga- dan kadang hujan-hujanan. Pengalaman paling seru sih saat mengikuti race Anyo Run di Alam Sutera. Saat peserta bersiap-siap untuk start, tiba-tiba turun hujan dan deras pula. Anehnya, saya malah bersorak.

Asik juga lari hujan-hujanan. Mengenang masa kecil yang terlalu bahagia, hehe..

#3 Jadi rajin belanja

Buat kaum hawa, mungkin saya termasuk orang yang gak suka-suka banget belanja. Bukan karena gak merasakan kenikmatan saat belanja, tapi ya karena faktor “ngirit adalah segalanya”. Mau beli legging yoga yang agak mahalan aja mikirnya bisa 1000 kali.

Kalau bisa beli yang murah, kenapa harus yang mahal?

Salah satu prinsip dompet saya. Di suatu pagi yang tanpa kesibukan saya mengisinya dengan mencuci semua sepatu. Saat  itu saya merasa satu sepatu lari saya bisa membeli legging yoga yang kaya seleb-seleb Instargram. Apalagi sepatu yang saya cuci saat itu ternyata banyak.

Belum lagi ketika harus merapikan lemari. Saya harus membeli satu lemari lagi untuk menampung baju dan celana lari. Dan ya.. celana compression itu sebenarnya harganya udah ngelebihin harga celana yoga yang premium. Tapi kok gak kerasa ya?

Tau-tau udah ada paket ke rumah yang isinya barang hasil belanja online.

#4 Badan akhirnya kurusan biarpun makan karbohidrat jalan terus

Selama bertahun-tahun berat badan saya cenderung stabil. Saking stabilnya sampai kayanya susah banget buat turun lagi. Saat sudah rajin lari pun berat badan sih tetep aja.

Di awal tahun 2017 saya mempunyai resolusi bisa finish full marathon. Saat itu saya akhirnya latihan dengan pelatih pro dan mengikuti program latihan. Saat menjalani program latihan, sering dibilang kurusan sama temen-temen.

Sekarang berat badan stabil sudah di angka 48. Kalau baru bangun pagi sih bisa di angka 47. Tentunya angka itu akan berubah saat ada makanan masuk ke dalam tubuh. Hahaha..

#5 Dari lari-untuk-kurus menjadi kurus-untuk-lari

Walaupun niat saya berlari bukan untuk menguruskan badan, tapi ada harapan bisa lebih kurus dengan melakukan olahraga ini. Semenjak rajin berlari dan mengikuti beberapa race, saya jadi ingin lebih kurus supaya bisa lebih ringan saat berlari.

Jadi kebalik ya? Hmm..

Semakin berkurang berat badan, maka semakin berkurang juga beban tubuh saat berlari. Sejujurnya dengan berkurangnya 3 kilo ini, kaki saya menjadi lebih enak saat berlari. Makanya semoga bisa lebih kurus lagi.

#6 Jadi punya banyak teman di Facebook

Saya pernah menghapus banyak teman di Facebook supaya privacy lebih terjaga. Ada rasa kebanggaan saat jumlah teman di Facebook berkurang hingga total menjadi 800 teman. Tentunya masih banyak yang harus difilter lagi.

Semenjak rajin berlari, teman di Facebook jadi lebih banyak. Rata-rata ya teman lari. Bahkan ada beberapa yang belum pernah ketemu. Aneh, ya? 😀

#7 Isi sosmed kebanyakan foto lari

Social media adalah wadah yang menaungi curhat dan pencitraan, jadi isinya mewakili aktivitas yang dijalani. Hampir setiap hari minggu saya berlari, baik hanya sekadar latihan ataupun ikut race. Belum lagi setiap hari selasa dan kamis ada jadwal latihan.

Dan saya lumayan rajin update status. Jadi gimana gak foto lari semua?

#8 Gak gampang sakit

Saya memiliki imun yang gak bagus-bagus banget. Dulu setiap bulannya ada aja masa teparnya. Biasanya karena kecapean dan badan “nagih” untuk istirahat.

Semenjak lari saya merasa jadi lebih kebal sama virus dan bakteri. Bukan berarti gak pernah sakit juga, ya!

Walaupun terkadang saya kehujanan saat sedang berlari, tapi alhamdulillah daya tahan tubuh lumayan terjaga. Malahan kalau udah agak gak enak badan, sedikit berlari ringat membuat tubuh jadi fit lagi.

#9 Cintai karbohidrat apa adanya

Di suatu pagi pukul 4, ketika rumah masih senyap, saya turun ke bawah untuk menyantap nasi tanpa lauk. Saya mengunyah sambil berjalan ke dalam mobil. Ya, saya ingin berlari di sebuah event lari dan merasa harus menyimpan karbo untuk dibakar.

Apakah enak hanya makan nasi? Tentu tidak!

Saya sudah gak mikirin rasa. Targetnya yang penting ada bahan bakar. Sebenarnya saya tidak setiap hari memakan nasi. Tapi jika ada jadwal berlari selalu menyempatkan mengisi perut dengan nasi atau karbo apapun. Kebetulan karbo memang makanan sahabat pelari, kecuali yang melakukan diet keto.

Kalau ada pasta saya lebih bahagia lagi. Lari membuat saya bisa mengonsumsi aglio olio tanpa merasa bersalah.

#10 Pergi jauh-jauh cuma buat lari

Kadang mesti jalan ke alfamart aja malesnya luar biasa, tapi saya bisa bolak balik Bekasi-BSD cuma untuk ikut race. Berlari di Bali, Lombok, dan Kuala Lumpur adalah pengalaman yang akan terekam sepanjang hidup.

Kumpul pukul 3 pagi dengan kawan lari dari Run For Indonesia untuk Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon

Harapan saya sih bisa banyak menjelajah Indonesia dengan berlari. Harapan yang agak ngarepnya lagi bisa berlari di berbagai negara. Namanya juga recreational runner.

#11 Lebih mengenal tubuh dari cedera

Lari itu memberi banyak pengalaman, salah satunya cedera. Dari mulai cedera lutut, cedera pergelangan kaki, cedera di betis, hingga yang sedang saya alami: piriformis syndrome.

Tapi dari berbagai cedera yang dialami, saya mencoba belajar dan mengenali tubuh lari. Mencoba melakukan terapi pada diri sendiri yang mudah-mudahan nantinya berguna untuk oranglain.

Berlari, walaupun kesannya sederhana tetapi banyak kejutan saat menjalaninya. Latihan penguatan otot dan menambah elastisitas merupakan salah satu cara untuk menghindari cedera. Jadi walaupun berlari, jenis latihannya lumayan variatif.

#12 Lebih banyak bersyukur

Kuku menghitam hingga lepas, kulit terbakar, tumbuh jerawat, dan blister adalah resiko yang tubuh saya harus terima. Tapi hal ini gak membuat saya mengeluh ataupun kapok. Semuanya disenyumin aja.

Dari perubahan fisik yang dialami, saya justru merasa bersyukur masih diberi kesehatan untuk bisa tetap lari. Karena ada banyak orang yang tidak bisa berlari karena kondisi fisiknya yang gak memungkinkan.

Ada teman yang mengatakan “Kuku lepas tandanya kita masih punya kaki.”. Paling jadi malu kalau mau manicure pedicure karena kukunya aja udah ringsek. Perawatan kuku terpaksa harus self-service.

Biarpun saya tahu lari itu membuat kulit lebih kering dan gelap, tapi menjaga kulit tetap perlu. Karena tahu akan terbakar, penggunakan sunscreen sebelum berlari adalah hal yang penting. Supaya gak kering, tidak lupa untuk memakai pelembab sebelumnya.

Biar kulitnya gak berontak juga diajak lari terus. Menjaga tubuh juga salah satu cara untuk bersyukur. Ya, gak?

12 bulan berlari membawa 12 pengalaman yang berharga untuk diri sendiri. Dari setahun, apakah saya bisa mencetak PB baru untuk kategori 10K? Doakan saya ya!

Processed with VSCO with  preset

Aneka Drama Pertama Kali Ikut Bali Marathon

 

1474349671186

Tidak terasa sudah 3 minggu Maybank Bali Marathon (MBM) berlalu. Dari rasa lelah hingga sakit efek cedera pun sudah hilang. Tapi saya masih ingat sekali drama-drama yang terjadi sepanjang ikut MBM. Pengalaman yang mungkin tidak akan terlupakan, apalagi ini adalah tempat saya lepas virgin half marathon.

Untuk kategori 21K, start mulai pukul 5.30. tetapi saya dan rombongan #kawanlari sampai di lokasi pukul 4.30. Karena lokasi race di Gianyar dan hotel saya di Kuta maka sudah dari pukul 3 Shuttle kami berangkat. Perkiraan finish adalah pukul 8.30, karena target saya di MBM ini adalah 3 jam. Drama-drama yang menjadi moment sepanjang Bali Marathon adalah:

KEBELET PIPIS

Ketika sampai venue hal pertama yang saya lakukan adalah mencari toilet. Dari masih di dalam shuttle menuju Gianyar pun sudah kebelet pipis. Entah kenapa saya kok jadi beseran banget menjelang MBM ini. Dalam langit yang masih gelap, kumpulan kepala sudah mengantri di depan toilet. Setelah ikut mengantri akhirnya saya menuntaskan segala urusan di dalam toilet. Napas lega ketika keluar dari bilik toilet. Saya pun langsung stretching dan pemanasan di dekat garis start. Tidka lupa untuk mengambil posisi yang terdepan di garis start. Ya gak depan-depan banget sih. Masih di baris kedua di belakang para pelari Kenya.

Ketika start dimulai, saya berlari lumayan bersemangat. Namanya juga masih baru-baru. Baru sekitar 100m mulai gelisah. Saya kebelet pipis lagi.

Oh. My. God.

PUP DI TENGAH RACE

Mules menahan pipis yang tak tersampaikan akhirnya berubah menjadi mules mau pup. Ketika itu sudah masih di KM3. Sisa kilometer masih panjang menuju 21. Awalnya masih mempunyai spirit untuk melanjutkan berlari, lama-lama kok semakin di ujung. Apalag tekanan saat berlari seperti terus mendorong hingga semakin tak tertahankan. Saya pun mulai bertanya ke setiap warung yang terbuka.

“Pak, ada toilet?”

“Bu, ada toilet?”

Setelah beberapa kali mendapat jawaban yang mengecewakan akhirnya mendapat titik terang. Ada penduduk yang memberi tumpangan rumahnya untuk saya melepas beban yang di tahan. Ya namanya rumah penduduk, saya tidak mungkin lari-lari dan melepas sopan santun. Saya sejenak melupakan target waktu dan melepas sepatu perlahan.

Yang jelas ini bukan wajah kebelet pup, tapi kebelet pengen finish
Yang jelas ini bukan wajah kebelet pup, tapi kebelet pengen finish

BERTEMU TANJAKAN CANTIK DAN PAHA TERTARIK

Saat di KM7 perjalanan pun semakin sulit. Tanjakan demi tanjakan mesti di lewati. Dengan kondisi lutut yang masih cedera ini lumayan sulit. Kelemahan saya memang pada tanjakan. Awal saya merasakan sakit pada lutut juga karena latihan di tanjakan. Jadi wajar kalau saya lumayan takut terhadap tanjakan.

Ternyata ketakutan ini terbukti. Ada yang terasa tertarik di paha belakang dan membuat saya kesulitan berlari. Oh, apakah ini yang namanya kram?

Saya harus berlari dengan kondisi kaki seperti ini sekitar 14KM lagi. HA HA HA!

LARI SAKIT, JALAN LEBIH SAKIT

Saya akui memang dari mulai rasa lelah hingga rasa sakit bercampur menjadi satu. Kadang saya sendiri tidak mau membayangkan karena takut malah menjadi lebih parah. Saya berlari dengan kaki sedikit pincang, kadang saya melonggarkan kaki kanan agar sedikit release dari ketegangan.

Lari-jalan-lari-jalan. Begitu lah cara saya bisa bertahan. Akan tetapi saat berjalan ternyata saya lebih terlihat aneh karena sudah tidak sanggup berjalan lurus. Lutut kanan seperti tidak bisa ditekuk saat berjalan. Belum lagi karena efek otot paha yang tertarik ini. Cara jalan saya sudah seperti anak monyet yang sedang mencari toilet atau anak kecil yang baru disunat: Ngangkang.

Saya pun akhirnya sempat melipir untuk mengantri mendapat cairan pereda rasa sakit dalam bentuk spray yang berada di tepi jalan. Entah ini memberi efek atau tidak yang jelas pasti akan memberi sedikit sugesti pada saya.

STRETCHING DULU DEH!

Selain lari dan jalan, yang saya lakukan sepanjang race adalah: stretching. Saat terasa sudah maksimal rasa sakitnya pasti saya melipir untuk stretching sejenak untuk release ketegangan otot. Biarkan otot yang mengendur, tapi semangat tetap kencang.

MULAI NGOMONG SENDIRI

Mungkin halu salah satu efek lari. Selama 21K berlari sendiri. Lelah, sakit, dan excitement dirasakan sendiri. Apalagi ini lari pertama saya di jarak 21K dengan track yang luar biasa menantang. Banyak tanjakan dan turunan yang harus dilalui. Yang banyak menghibur adalah kumpulan anak kecil yang berbaris dan memberi semangat.

“Run.. Fitri..Run..”.

Iya, ini Forrest Gump banget!

Makin lama makin ngoceh sendiri:

“Go Go Go!”

The finish line ahead!

“Lu mau sakit, mau ngeluh, mau jalan… nanti aja kalau udah finish!.”

Kadang juga begini:

“Fit, lu ngapain sih di sini!”

Drama-drama di atas justru menjadikan pengalaman MBM kemarin jadi penuh kenangan. Lebih seru lagi karena ramai-ramai dengan teman-teman.

Tapi belum selesai…

GAGAL PULANG DAN GAK BISA PULANG

Selain drama di race ternyata saya mengalami drama di Bandara. Senin pukul 11.00 WITA harusnya saya take off ke Jakarta. Karena telat check-in beberapa menit akhirnya tidak bisa ikut penerbangan sesuai jadwal.

Dan semua jadwal penerbangan sudah penuh hingga selasa sore. What a wonderful day!

DOMPET AKU KE MANA?

1474349789954
Touchdown Jakarta. Bye, Drama!

30 Agustus 2016 pulul 16.00 WIB. Turun dari pesawat dan menghirup udara Jakarta menjadi sangat menyenangkan. “Selamat tinggal drama di Bali” dengan tersenyum lega.

Sempat foto untuk terakhir kali dengan medali kemudian mencari toilet. Karena hari masih sore saya memutuskan untuk naik Damri saja ke Bekasi. Saat membayar tiket bus ternyata DOMPETNYA HILANG!

Mencoba tenang sambil menyusuri kembali yang di lewati termasuk toilet tapi hasilnya nihil. Kemudian melapor pada petugas. Makin pusing karena saya sendiri lupa kapan terakhir kali melihat dompet. Yang jelas terakhir kali ya di Bali.

Tapi rupanya Sang Penulis Skenario mulai tampak kasihan. Akhirnya saya mendapat kabar kalau dompet ditemukan di Lion Air, pesawat yang mengantarkan saya ke Jakarta. Setelah diingat-ingat, dompet itu keluar dari tas ketika saya mencoba foto medali di atas pesawat.

Oke.

Processed with VSCO with  preset

Persiapan Sang Newbie untuk Virgin Half Marathon di MBM 2016

1473158302864
.

NGERIIIIII!

Itu yang terlintas waktu harus berlari 21K. Belum terbayang bagaimana rasanya. Lari 10K juga rasanya sudah ampun-ampunan. Tapi akhirnya perasaan itu bisa dilawan dengan berhasil menginjak garis finish dengan official time result 2:49:22. Dari mulai melipir pup sampai kaki kram dari KM7 ini mewarnai perjalanan saya menuju garis finish.

Kalau mundur ke belakang, awalnya saya latihan lari itu karena tiba-tiba memutuskan ikut Maybank Bali Marathon (MBM). Mainstream?

I admit it.  Memang karena ikut-ikutan. Tapi ikut-ikutan ini bukan tanpa persiapan. Bulan Juni 2016, pas bulan puasa kemarin saya mulai lari di Gelora Bung Karno (GBK) dan disitu pertama kali mengenal teman-teman dari Run For Indonesia (RFI). Mereka punya program latihan Selabang Kelabang. Selasa Lari Bareng (Selabang) dan Kamis Lari Bareng (Kelabang) ini dimulai setiap pukul 18.30 di GBK . Ini saya jadikan untuk masa adaptasi. Minimal dari yang lari 3 saja masih dianggap jauh, ini mencoba berlari hingga di atas 5Km. Ternyata lari sendiri dan lari ada temannya memang beda, hehe..

Awalnya masih banyak bolong. Kadang hanya seminggu sekali latihan larinya. Kalau rajin bisa 2 hingga 3 kali. Setelah satu bulan akhirnya bisa ikut race pertama, yaitu Milo Jakarta International 10K tanggal 24 Juli 2016. Setelah itu baru kena kompor teman yang biasa lari bareng untuk langsung mengubah jarak dari 10K menjadi 21K. Pertimbangannya karena setelah Milo Run 10K saya juga ikut Titan Run 10K. Jauh-jauh ke Bali masa ambil 10K lagi?

Hmm..

Jadi jarak waktu saya dari baru rutin lari sampai menginjak Half Marathon adalah DUA BULAN. Satu bulan masa beradaptasi untuk berlari dan satu bulan latihan fokus untuk MBM. Maaf, koreksi: TIGA MINGGU!

Untungnya Rickyb – teman sekaligus kapten di RFI 5- mau membantu membuat program latihan. Untuk masalah latihan  malah dia yang lebih bawel. Mungkin ini bentuk membayar rasa bersalahnya karena udah nyemplungin anak baru ini ambil 21Km di MBM. :p

Hasil
Dari latihan bareng sampai sama-sama dapet PB di MBM 2016. Bersama Ricky Gandawijaya, coach saya yang baru pecah virgin Full Marathon dengan catatan waktu 4:24:08.

 

Persiapan Virgin Half Marathon MBM 2016: Latihan Fisik, Mental, dan Pikiran

Target awal saya bisa finish 3 jam. Itu juga sambuil menerawang karena takut belum mampu. Seminggu terakhir akhirnya memberanikan diri untuk menaikkan target waktu finish di 2:50. Lumayan takut-takut gimana gitu. Ya ini kan debut race 21K dari yang tadinya tidak pernah ikut event lari. Seperti halnya berlatih yoga, saat berlari bukan hanya membutuhkan persiapan fisik yang baik, tetapi juga mengandalkan mental dan pikiran.

Lari masalah mindset? Ya, saya setuju. Tetapi ini juga ada prosesnya. Saya sangat percaya saat fisik kita lebih siap maka kepercayaan diri pun lebih meningkat. Fisik yang baik membentuk mental yang baik juga, terutama saat race. Tanpa disadari berlatih fisik kita juga berlatih dalam menguatkan mental dan mengatur pikiran. Mental kita tidak mungkin terbentuk jika tidak mempersiapkan diri untuk berlatih. Untuk itu saya mencoba ikut race 10K di Milo run dan Titan Run sebagai bagian dari berlatih.

Bagaimana kita bisa siap secara mental jika fisik masih belum siap? Yang ada down duluan saat baru di kilometer pertama. Apalagi bagi saya 21K itu bukan jarak yang pendek. Butuh waktu untuk saya merasa yakin kalau bisa menghadapi jarak tersebut. Dan ini harus latihan.

Saya masih ingat ketika kaki sudah tidak mampu berjalan dengan baik karena cedera semakin parah, tetapi saya masih bisa berlari. Itu benar-benar didapatkan dari mengatur pikiran. Pikiran bersinergi dengan tubuh.

Jadi kira-kira begini persiapan fisik menghadapi virgin Half Marathon Maybank Bali Marathon 2016:

1. Menyempatkan latihan, bukan menunggu waktu

Banyak yang bilang “Saya mau sih latihan, tapi tidak punya waktu.”. Ya kalau waktu ditunggu sih gak bakal bisa ketemu. Ciptakan waktu untuk latihan. Memang pasti ada yang dikorbankan. Jika tidak sempat pagi, coba latihan sore atau malam. Tidak harus setiap hari, tetapi rutin, misalnya seminggu 2-3 kali. Awal-awal berlari memang target saya hanya membuat tubuh beradaptasi dan merasa nyaman. Jujur saja, masih ada perasaan “Duh, kok gue cape banget ya lari. Nyerah deh!” sampai kilometer kedua setiap lari. Iya, SETIAP LARI!

Stretching sebelum berlari di GOR Soemantri beberapa hari sebelum MBM 2016
Stretching sebelum berlari di GOR Soemantri beberapa hari sebelum MBM 2016

2. Berkenalan dengan Race dengan Mengikuti Event Lari

Saya memang buta banget event-event lari. Namanya juga pelari komplek. Dari group lari jadi lumayan update informasi soal event lari. AKhirnya saya memiliki pengalaman sendiri dalam menghadapi race. Dari pecah virgin 10K di Milo Jakarta International 10K Run dan berhasil berlari full 10K dengan stabil dan tanpa berjalan di Titan Run. Jadi banyakn mendapat ilmu baru. benar kata orang bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga.

Bersama sesama PB 10K di Titan Run. Ini Pertama kali saya berhasil berlari Full 10K tanpa berjalan.
Bersama sesama PB 10K di Titan Run. Ini Pertama kali saya berhasil berlari Full 10K tanpa berjalan.

 

3. Mengatur Pola Makan dan Menjaga Nutrisi

Untuk yang memiliki masalah perut ini harus digarisbawahi. Apalagi saya yang kadang asam lambung suka naik. Sejujurnya saya bukan orang yang setiap mau latihan harus makan. Apalagi kebiasaan saya kalau yoga memang membiarkan perut kosong. Ternyata cara ini tidak berlaku untuk lari. Saya pernah merasakanperut terbakar hingga lama-lama mual. Ini sangat tidak nyaman dan mengganggu ketika berlari.

Setelahnya asam lambung naik sampai muntah. Setelah itu mulai agak terpecut untuk lebih disiplin lagi. Asupan karbo itu memang perlu sebagai sumber energi. Makan sehari tiga kali, terutama saat mau lari. Jangan sampai perut dalam keadaan kosong dan kehabisan sumber energi. Sumpah ini gak enak banget!

4. Puasa Makan Pedas

Nah ini berat banget! Waktu dulu typus aja saya masih bandel makan pedas. Lebih baik gak usah makan daripada harus makan tanpa cabe. Tapi karena punya target maka saya lumayan menurut. Demi finish strong 21 kilo!

Dua minggu berjuang memaksa diri untuk meminimalisir makan pedas. Semacam detoks. Tapi saya akui setelah 2 minggu mulai sedikit bandel. Bandel dalam arti mulai pakai cabe tapi sedikit. Misalnya dari makan ketoprak biasa cabe rawit  butir, sekarang hanya 1 atau 2 cabe rawit. Karena sebelumnya sudah melakukan detoks maka lidah saya sudah mulai sensitif. Satu cabe pun sudah lumayan terasa pedas.

5. Latihan Interval

Jika sebelumnya berlari masih mengandalkan jarak, sekarang mulai mengatur pace. Berlari hanya sekitar 3K-5K tapi berusaha mengatur kecepatan. Diawali pemanasan dengan berlari 2K dengan pace santai, kemudian ditarik lebih cepat di kilometer ke-3. Awalnya SUSAAAH Banget! Saya hanya bisa berlari maksimal tercepat di pace 7. Kayanya susah kalau harus ditarik lagi. Tapi semua dijalani bertahap.

7. Simulasi Half Marathon

Apa-apaan sih half marathon pakai simulasi segala!

Itulah mungkin kalimat pertama yang mungkin keluar saat mendengar simulasi half marathon. Kata beberapa senior di RFI seperti Ricky dan om Andre, untuk berlari 21K minimal harus mencoba 14K-17K. Kalau kita sanggup berlari hinggal jarak itu maka tidak akan terlalu  berat menghadapi 21K. Proses latihannya juga bertahap. Awalnya saya hanya terbiasa berlari maksimal 10K. Kemudian ditambah menjadi 12K, tentunya dengan lumayan ngos-ngosan.

Proses latihan puncak persiapan Half Marathon. Dua minggu sebelum MBM 2016.
Proses latihan puncak persiapan Half Marathon. Dua minggu sebelum MBM 2016.

Di sini juga sudah belajar berlari interval, yang tentunya ada Ricky sebagai relawan pacer. Ketika latihan berikutnya tanpa disadari sudah banyak mengalami peningkatan. Ternyata saya bisa masuk ke pace 6. Ini baru sadar setelah selesai latihan dan mengecek running apps.

7. Yoga sebagai bagian dari Latihan

Kalau ini buat saya pribadi memang latihan wajib. Yoga merupakan melatih fisik termasuk pernapasan serta mental. Jika kitav rajin berlatih yoga dengan tepat maka kita juga berlatih dalam mengendalikan pikiran. Bagaimana kekuatan inhale dan exhale memberi kontribusi yang besar untuk tubuh.

Banyak gerakan yoga yang memang bagus untuk melatih otot buat berlari. Mungkin orang lebih banyak mengenal dengan “stretching”. Saat saya ikut worksop bersama Fee Foland di Sukaoutdoor dengan materi “5 Key Muscles Health Pre and Post Race”, beliau banyak menekankan untuk masalah stretching. Menurut Miss Fee, Untuk berlari kita memerlukan banyak latihan penguatan Core dan Psoas. Saya pernah menulis tentang yoga untuk Pelari dan Recovery otot Setelah Berlari dengan Yoga.

Fee Folland sedang memeragakan cara stretching dalam workshop di Sukaoutdoor.
Fee Folland sedang memeragakan cara stretching dalam workshop di Sukaoutdoor.

Untuk pemula mungkin  hanya menganggap latihan otot saat berlari hanya pada bagian kaki. Padahal upper body, perut, lowerback, tulang panggul, hingga hamstring juga perlu dilatih. Menurut Fee Foland bagian utama yang harus banyak dilatih adalah penguatan otot perut dan psoas. Ini kunci dari berlari. Latihan yoga secara fisik dapat membantu otot lebih kuat dan fleksibel, yang berguna untuk meningkatkan performa dan mengurangi cedera. Beberapa gerakan  yang diperagakan Fee Foland itu sama dengan latihan yoga yang saya rutin lakukan.

Ya saya akui saya masih mengalami cedera, itu mungkin terjadi karena kesalahan postur saat berlari. Ada kemungkinan memang tubuh saya masih dalam masa adaptasi. Ini menjadi PR utama buat saya cari tahu lagi.

8. Melatih Napas dan Endurance dengan Berenang

Berlari jauh memerlukan cara bernapas dan endurance yang baik. Kalau terus-terusan dihajar berlari mungkin otot juga akan merasa lelah. Apalagi untuk saya yang memang mengalami cedera. Berenang bisa dijadikan salah satu latihan ketika saya merasa jenuh dlaam berlari. Apalagi saat cedera lutut kemarin, durasi berlari sedikit dikurangi dan beristirahat. Ini saya ganti dengan berlatih di dalam air> Karena dalam air kita bisa kebih bebras bergerak tanpa mengalami tekanan yang terlalu keras.

Saat berenang, rongga dada lebih terbuka dan otot pernapasan juga terlatih. Untuk yang memiliki masalah pernapasan latihan ini perlu masuk ke dalam list.

Saat berenang saya menganggap seperti berlari. Saya lebih memilih berenang memutari pool dibanding harus bulak balik. Saya berenang tanpa jeda, mengambil dilakukan hanya sepanjang renang sampai target tercapai. Jika saya hanya menargetkan 500M maka saya berenang keliling kolam selama 30 menit. Jika 1Km maka saya berenang keliling selama 1 jam. Tapi tiap orang pasti berbeda. Kalau saya yang versi renang santai.

Berenang mengitari pool lebih nyaman dilakukan dilakukan saat kolam sepi
Berenang mengitari pool lebih nyaman dilakukan dilakukan saat kolam sepi

Cara ini juga berguna untuk melatih endurance.  Jika terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kram atau tersedak maka bisa lekas memilipir. Kalau mau cara seperti ini pilih waktu di saat kolam tidak terlalu ramai.

9. Recovery

Tubuh juga butuh istirahat. Semakin giat istirahat harus semakin benar juga istirahatnya. Minimal jangan sampai kurang tidur. Selain itu juga lebih memperhatikan nutrisi untuk tubuh. Makin mendekati hari H maka semakin harus menjaga badan.

Saat semingu sebelum race mulai mengurangi latihan, jika mau berlari tidak lebih dari 5K. Ini pun  saya lakukan hanya 2 kali dalam seminggu. Karena memang dipengaruhi cedera juga. Kalau saya hajar terus dengan berlari maka lutut tidak akan pulih dan pasti berbahaya untuk race nanti.

Dua latihan lari seminggu terakhir sampai akhirnya race half marathon MBM 2016.
Dua latihan lari seminggu terakhir sampai akhirnya race half marathon MBM 2016.

Otot tetap dilatih dengan yoga dan berenang. Setelah berlatih fisik tidak lupa untuk langsung kompres es. Sebelumnya saya kurang memperhatikan hal ini dan akhirnya lama untuk pulih. My bad.

Mnegompres lutut yangs edang cedera dengan es pasca berlari di latihan terakhir menjelang MBM.
Mengompres lutut yangs edang cedera dengan es pasca berlari di latihan terakhir menjelang MBM.

9 persiapan di atas berdasarkan pengalaman saya sendiri yang masih newbie ini. Mungkin kalau ada yang mau menambahkan bisa share di tab comment. Namaste!