20180330_164005(0)-01

Memuji Keindahan Bukit Merese dengan Meditasi

Akhir bulan di tahun yang telah berlalu lagi gemas-gemasnya dengan salah satu grup wa masalah pelecehan agama. Seakan-akan kita langsung dipaksa terpecah karena memiliki pendapat yang beda. Malahan saya secara tidak langsung dianggap kaum yang munafik karena tidak mendukung agama yang saya anut.

Makin bingung karena saya jelas-jelas mengatakan tidak mau ikut berkomentar dan berusaha tidak memihak siapapun karena kurang paham. Masa sya dipaksa untuk berkubu pada hal yang saya sendiri kurang mengerti. Masalahnya jadi merembet kemana-mana. Ditambah info-info hoax yang menjadi bensin pada api yang sedang berkobar. Makin kusut.

Untungnya semua kekusutan lumer dari kepala saya saat saya menginjak Bukit Merese awal Desember. Berdiri di bukit yang terbentang di atas gradasi hijau dan biru dari air laut. Sore yang tidak terlalu cerah tetapi tetap menampakkan kecantikan semesta.

Bukit Merese tinggal di area Pantai Tanjung Aan. Setelah menjalani lari di Mataram dan mampir ke Desa Sade akhirnya saya mampir ke sini dulu sebelum ke hotel yang akan disinggahi di hari terakhir.

“Beautiful!”

Pujian pertama kepada tempat ini. Untuk mencapai bukit perlu menapaki tanah lembab karena sisa hujan. baru beberapa langkah udah “Whoaaaaaa….” setelah memandang sekumpulan kerbau yang sedang bermain di bukit. Posisinya masih jauh sih. Tapi berasa di New Zealand. Well.. saya juga belum pernah ke sana juga sih.

Eh, kerbau ngapain ya biasanya di bukit? Main? Makan?

Tik. Tok. Tik. Tok.

Sampai akhirnya menginjak tempat tertinggi bukit. Ya ampun kaya surga. Biarpun (lagi-lagi) saya juga belum pernah ke surga. Tapi tempat ini memang cantik.

Hening dan hanya suara ombak yang riuh. Saya berbisik pada Tuhan untuk menghentikan putaran waktu. Saya mau lebih lama di tempat ini.

MEDITASI CARA TERINDAH UNTUK MENYAPA ALAM

Bagi saya ini tempat yang sangat mahal. Mengajak untuk tidak banyak berpikir dan seolah-olah resah tidak diijinkan masuk ke sini. Saat di sini sayang sekali jika tidak menyempatkan memejamkan mata untuk meditasi.

Meditasi. Memejamkan mata dan merasakan serapan panca indera dengan sadar. Melepaskan segala beban dipikiran untuk mengontrol segala atribut-atribut pikiran. Saat memejam maka saya lebih mudah untuk menyadari bahwa saya memang benar-benar bernapas. Hal sesederhana itu bahkan seringkali diabaikan.

Wahai semesta yang begitu pandai membuat saya jatuh cinta

Pencipta sepertinya sedang dalam suasana senang saat melukismu

Izinkan saya yang kecil ini menyapa dalam hening

Tetaplah menjadi indah

Indah bukan hanya karena saya menyukai tarian ombak dalam bentangan gradasi hijau biru

Indah bukan  hanya karena saya menyukai warna langit yang seksi di sore hari

Indah bukan hanya karena bentangan rumput yang masih segar

Kalian indah karena kalian berdampingan

Percayalah..

Meditasi dan asana memang dua hal yang membantu saya untuk tetap waras di dunia yang bising ini. Kalau biasanya saya bersyukur bisa yoga di rumah atau dalam studio, saat di bukit ini saya melipatkan rasa syukur karena “bonus akhir tahun” ini dari Sang Pemilik. Di tempat seindah ini.

 

Saat saya sedang berdiskusi dengan suara ombak, tiba-tiba tetesan air menyentuh wajah. Rupanya langit belum puas menuangkan hujan di siang hari. Mungkin juga ingin mengingatkan saya untuk ingat pulang.

Saat menuju dasar bukit dan kembali ke pantai, di tengah perjalanan kembali bertemu dengan kumpulan kerbau yang juga ingin turun. Saya mencoba berlari untuk mendekat supaya bisa menambah koleksi foto untuk Instagram. Saat mendekat ada satu wajah yang rupanya kurang suka dengan kehadiran saya.

Gerakannya seperti mengambil ancang-ancang menyeruduk.

LARIIIIIIIIIIIIII!

20180330_164005(0)-01

Lari Pagi di Kuta Banyak Untungnya

DSC_0235_1

Lari biar sehat?

Saya lari biar ngirit. Begitulah yang terjadi saat akhir pekan kemarin di Bali. Sengaja membawa running gear agar dapat menikmati pagi di sekitar Seminyak dan pantai Kuta tanpa harus membayar ongkos taksi. Tentu saja sehat itu bonus. Eh, atau kebalik?

Sehari sebelumnya saya harus mendekam di balik selimut kamar hotel karena fisik yang kurang bagus. Kepala agak berat dan suara parau karena sedang terkena flu. Malam sebelumnya masih ikut Birthday Run Yuli di sekitar FX dengan badan yang tidak terlalu fit.

Birthday Run Ibu Yuli di FX beberapa jam sebelum berangkat ke Bali
Ikut Birthday Run Ibu Yuli di FX  sebelum berangkat ke Bali

Saya mendarat di Bali sekitar pukul 14.30 WITA dan langsung segera ke Hotel Fave Sunset di Seminyak. Karena memang hanya sendiri jadi memang mencari hotel yang murah tetapi lumayan ramai. Iya, saya penakut. Hotel yang memberikan sensasi seperti di kamar kosan. Karena setiap suara yang keluar masuk dari kamar sebelah pun terdengar. Tapi fasilitas lumayan oke. Tempatnya bersih, ada water heater, dan service room untuk makanan. Di lobby ada Circle K yang kalau mau beli makanan atau minuman tinggal turun ke bawah. Bisa juga menikmati mocktail atau kopi di pinggir kolam renang.

DSC_0242-01

Maaf jadi melebar ke hotel. Balik lagi ke lari. Pada sabtu paginya saya menilik ke arah jendela, tampak hanis hujan. Sepertinya saat yang bagus untuk berlari. Sedikit stretching agar badan enak untuk diajak lari. Apalagi kondisi badan sedang kurang oke.

Morning stretching before running
Morning stretching before running

Saya nyalakan dua aplikasi, yaitu Nike + dan Google Maps. Untuk orang yang tidak hapal jalan ini sangat penting. Saya arahkan ke Pantai Kuta. Minimal mandatory foto dengan background pantai tercapai. Jalan agak basah karena sisa hujan tidak menyurutkan semangat saya untuk sampai pantai. Saya berlari di trotar, terkadang harus melambatkan  dan agak keluar trotoar karena ada….

Anjing.

Saya lumayan takut anjing. Trauma karena waktu kecil beberapa kali dikejar anjing. Dan sepanjang jalan saya harus beberapa kali bertemu hewan ini. Saya tau anjing hewan yang ramah, apalagi di Bali. Tapi ya namanya juga sudah penakut mau diapain lagi. Tapi saya sangat suka saat berpapasan dengan orang di jalan. Masyarakat setempat sangat ramah. Setiap berpapasan mereka menyapa “Selamat Pagi!”. Jarang sekali ditemui di tempat saya tinggal. Hehe..

_20160720_121116(1)
Dari app Nike+ diketahui pembakaran kalori sebanyak 498cal

Dengan berlari kita bisa berkeringat dan irit ongkos. Lumayan ongkos taksinya bisa dipakai untuk uang makan siang. Duh, maaf saya memang perhitungan. Tapi ada lagi manfaat yang didapat kalau kita jalan-jalan pagi di Kuta dengan berlari: Banyak bule cakep dengan badan oke yang pada lari. Tapi gak sempat saya foto. maaf.

DSC_0237-02
Istirahat sejenak sambil stretching di pantai Kuta

Selain pemandangan pantai yang indah kita juga bisa menikmati pemandangan bule yang berkeringat. Tapi ya memang gak sempet difoto sih. Saya yakin kamu yang baca tulisan ini juga sudah sering liat kalau lagi ke Bali. Ya, kan?

Tapi pagi itu memang tidak terlalu cerah. Saat berlari dari pantai Kuta menuju hotel ditemani oleh gerimis. Untung baru gerimis ya. Kalau sudah begini berlari harus lebih hati-hati karena rawan tergelincir. Atau pilih-pilih jalan yang gak becek. Ingat, sepatunya mahal. (Gak gini juga sih, kak!)

Banyak yang bertanya kenapa saya bisa foto diri sendiri padahal larinya sendiri? Kan bisa minta tolong. Pas di Kuta saya meminta bapak yang mmebersihkan pantai untuk mengambil gambar. Jadi, manfaat lainnya kalau kita lari sendiri di Bali adalah: Lebih akrab dengan orang baru.

Foto dengan background pantai adalah mandatory kalau ke Bali
Foto dengan background pantai adalah mandatory kalau ke Bali

Ini baru di Kuta, apalagi di tempat-tempat lainnya yang pantai nya lebih indah. Pasti lebih asik lagi. Kalau bisa sama teman sih sebenernya lebih menyenangkan. Tapi lari sendiri pun bisa jadi sangat menyenangkan asal kita menikmatinya.