Lombok Marathon: Berlari dengan Kehangatan Penduduk Pulau Seribu Masjid

“Welcome to Lombok!”

Suara dari sebelah saya ketika pesawat berhasil mendarat di Bandar Udara International Lombok. Saat gate pesawat di buka saya pun bergegas keluar dengan menggeret koper kecil yang warnanya selaras dengan kaos yangs edang saya pakai. Di pintu kedatangan sudah ada bapak Heri dari pihak Travel yang bekerja sama dengan Lombok Marathon. Saya pun dikalungi selendang dari kain tenun khas Lombok sebagai tanda selamat datang. Pokonya is ti me wa!

Sambutan selamat datang di pintu kedatangan Bandar Udara International Lombok

Pulau Lombok menyambut manusia yang beru pertama kali ini menginjakan kaki di sana dengan hujan yang cukup deras. Saya pun menaiki mobil Avanza silver yang akan mengantarkan ke hotel di wilayah Mataram. Sambil memandangi ke arah jendela saya menjelajah satu persatu isi kota. Biarpun banyak juga yang terlewat karena perut mulai terancam kelaparan dan menagih alam taliwang. Kemudian mata mengarah ke arah satu bangunan berupa tugu yang berbentuk masjid. Meskipun hujan ada beberapa wisatawan yang mengambil gambar di tugu tersebut.

“Itu adalah simbol bahwa Lombok pulau seribu masjid.” Kata Edi, supir yang mengantarkan saya di sana. Jadi nanti saya akan berlari di daerah yang kaya akan bangunan masjid. Kalau sampai lupa salat sih ya ter la lu!

Dari penampakannya Edi ini dia masih lumayan muda. Edi ini bisa sekaligus menjadi tour guide. Sambil menyetir dia menceritakan budaya yang menjadi ciri khas Lombok. Tapi saya lapar mas. Boleh kita buruan ke tempat makan?

Tugu yang menajdi simbol Lombok Pulau Seribu Masjid

THE DAY OF LOMBOK MARATHON

Alarm 2.20 pagi hari sudah berbunyi. Dengan tubuh yang masih memiliki magnet kuat terhadap kasur saya pun agak malas-malasan untuk melepaskan selimut. Kelopak mata masih terasa lengket seperti pasangan yang baru satu bulan jadian. Tapi karena shuttle yang mengantarkan ke Senggigi maksimal pukul 3 pagi maka mau tidak mau saya mengakhiri mesra-mesraan dengan kasur.

Untuk pelari dengan jarak 42km dan 21km start di Senggigi. Pukul 3.30 waktu Indonesai Bagian Barat saya dan rombongan yang menaiki shuttle telah sampai. Masih bingung mencari-cari di mana garis start.

Ternyata…

Gerbang startnya baru mau dibuat!

Jadi karena posisi di jalan utama maka untuk membuat gerbang start menunggu jalanan telah steril. Karena masih lama mulainya maka saya pun memilih pemanasan dan berkali-kali buang air kecil. Penyakit langganan tiap mau race: beseran.

Peserta dari #KawanLari Run For Indonesia yang paling duluan sampai di garis start

Setelah bolak balik lari-lari kecil akhirnya kawan lari dari Run For Indonesia sampai. Suasana yang sebelumnya sunyi jadi ramai. Ketauan deh ini biangnya rame di setiap ajang lomba lari. Pokonya pantang mulai sebelum PB alias banyak photo.

Bersama #kawanlari dari Run for Indonesia yang mengikuti Lombok Marathon kategori Full Marathon dan Half Marathon di garis start

And the race is begin

5..4..3..2..1..

Go!

Saya mulai menggerakan kaki perlahan. Beneran pelan. Karena gebangnya sempit jadi saya dan beberapa pelari lain memulai lari dengan berjalan. Beda dengan race di Jakarta yang justru saat start adalah saat menacap gas secepat mungkin. Peserta tidak terlalu banyak tetapi cukup untuk event yang baru pertama kali digelar. Cuaca teduh menambah rasa santai.

Sehari sebelumnya Lombok hujan lumayan lama jadi cuaca pagi lumayan teduh. Ini yang membuat saya pun berat meninggalkan Kasur. Tapi kan ke Lombok mau lari!

Dari pelan semakin cepat dan semakin cepat lagi sampai target pace tercapai. Berusaha tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Kaki baru panas tiba-tiba berhadapan dengan tanjakan.

“Masya Alloh!”

Saya menelan ludah dan menguatkan lagi nyali. Akhirnya dari mulai lumayan cepat mulai melambat dan semakin lambat dan lambat banget.

“Ayo terus lari! Baru tanjakan pertama!”

Ada suara yang menegur. Siapa sih yang berani negur-negur?

Ricky. Pacer pribadi ceritanya. Lupa kalau buat Lombok marathon ini dia mau jadi volunteer biar saya dapet PB (Personal Best). Antara seneng sama ngeri sih. Kalau cape gak bisa seenaknya jalan karena pasti ada yang bawelin. Enaknya ya jadi ikutan ketarik. Serba salah emang.

Di fitnah jadi atlet

Tekad saya di race ini adalah berlari santai tapi ya gak santai-santai banget. Tapi lama-lama mulai meninggalkan rombongan yang lari bareng di awal-awal. Gayabet.

Lama-lama semakin semangat dan tanpa terasa larinya agak serius dikit. Niatnya kan mau lari santai sambil foto-foto. Tapi pas udah lari jadi agak sayang juga kalau banyak berhenti.

Beberapa kali berpapasan dengan teman yang mengambil full marathon. Sapa-sapaan tapi tetap berlari. Yang penting saling memberi semangat.

Sampai di kilometer 6 ada pria tinggi dan berkepala gundul menyapa “Mbak atlet ya?”

Karena takut salah dengar saya pun memberi ekspresi yang meminta dia mengulang lagi perkataannya. Ternyata benar dia menanyakan apakah saya atlet.

“Bukan lah mas. Saya pelari hore.” Jawab saya agak sedikit ngakak. Tapi ngakak yang sedikit ngos-ngosan. Saya melihat jam dan sudah di km 6 dengan pace 6.30. Kemudian dia bertanya lagi “Larinya kok cepet?”

Agak tersanjung gimana gitu. Memang pada saat itu tidak ada yang di depan saya. Ada sih tapi udah jauh banget di depan sampai gak keliatan haha..

Karena pesertanya sedikit jadi memang jarak pelari satu dan pelari lainnya lumayan jauh. Yang ada di kanan kiri saya rata-rata cowok. Beda dengan race half marathon saya seminggu sebelumnya di 2XU Compression Run Jakarta yang pesertanya sangat banyak dan kompetitif. Kalau di Jakarta pace segitu saya udah diasepin banyak pelari saking lambatya.

Ternyata pria tersebut warga asli Lombok. Saya ketahui setelah saya membalas pertanyaan dia yang menanyakan saya bersasal dari mana. Kami pun akhirnya ngobrol. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan dia karna kalau banyak ngobrol kapan sampenya?

Maap ya, Mas.

Masyarakat turut menyemangati pelari

Menyenangkan jika mengikuti race di suatu daerah dan penduduknya ikut mendukung. Lombok Marathon ini baru pertama kali digelar tahun ini. Tetapi dukungan pemerintah kuat karena menjadi materi wisata kota Lombok. Bahkan Bapak Zainul Majni yang merupakan Gubernur Nusa Tenggara Barat mengikuti ajang lomba lari ini dengan kategori half marathon.

Di bawah pukul 6 banyak masyarakat yang baru keluar dari masjid selepas subuhan turut menonton peserta lari Lombok Maratjon. “Ayo semangat!” hingga yel yel “In do ne sia!” menyambut para pelari yang melintas di jalanan. Bahkan kami pun diberi air mineral kemasan oleh para supporter.

Bukan hanya yel yel saja, tetapi beberapa pelajar memainkan mini drum band di tepi jalan untuk memeriahkan ajang lomba lari ini. Semakin siang memang semakin banyak jarak yang sudah ditempuh, semakin lelah juga kaki melangkah, tetapi semakin ramai penduduk yang meramaikan. Meskipun tidak semuanya berteriak memberi semangat, ada pula yang hanya foto-foto dan menonton. Tetapi membuat Lombok Marathon jadi meriah dan ramai.

Kram.. oh kram..

Pada kilometer 14 saya sudah merasa lumayan lelah tapi tekad untuk lekas finish masih kuat. Apalagi di depan Epicentrum Mall ada anak-anak yang mengibarkan bendera merah putih dan mengajak tos para pelari. Lumayan bikin senyum.

Di tengah semangat yang mulai naik lagi saya mulai merasakan signal gak enak di pangkal paha kiri. Duh.. jangan sampai kram..

Meski mulai melambat tetapi saya tetap melanjutkan lari.

Keep on the track! Kamu bisa under 2.30.” Kata Kak Pacer yang dari awal menemani lari. Bukan nemenin banget sih, tapi dia ada di depan. Kadang kajauhan di depannya. Pas tau saya masih jauh di belakang dia mulai melambat, bahkan lambat banget kalau versinya dia. Memang susah ya kalau pelari pace 4 harus nemenin lari pace keong.

Sampai di kilometer 15 saya masih bertahan lari tanpa jalan. Kecuali pas lari minum di WS ya. Signal di pangkal paha kiri semakin kuat tetapi saya tetap memaksakan berlari. Sampai akhirnya…

Kram!

Foto (agak) dramatis setelah saya menyiramkan air mineral ke kepala

Saat kram kaki lumayan aduh banget larinya. Saya pun terkeos-keos dan semakin keos. Jalan. Ya.. saya mulai jalan. Saat jalan terasa semakin nyeri. Tapi mau lari juga udah gak sanggup banget.

Keep running!” kata kak Pacer. Nyebelin banget ya pas udah sakit banget masih harus disuruh tetep lari. Kartanya tinggal 3 kilo lari. Seakan-akan cuma dia yang pake sportwatch.

EMPAT KILO LAGI PAAAAK!

Semakin dekat semakin berat

Jarak yang harusnya dekat dengan garis finish tetapi seperti jarak neraka bagi saya. Kaki semakin susah diangkat. Bahkan sempat gak bisa diangkat sama sekali. Kram semakin parah. Bahkan orang-orang yang menonton pada tau saya kram hanya melihat cara saya berjalan dan berlari: pincang.

Kepanikan muncul ketika saya tidak bisa mengangkat paha kiri. Lalu gimana saya bisa lari?

Saya harus mengambil ancang-ancang beberapa kali hingga akhirnya paha kiri bisa diangkat. Seperti roda, ketika sudah berguling maka dia bisa berjalan sendiri. Tetapi jika belum ada yang mendorong, dia pun tidak akan bergerak.

Dua kilo lagi. Saya berada di depan Masjid Islamic Center Mataram. Masjid dengan bagunan yang besar dan warna yang menarik mata. Saya sempat melihat malam sebelumnya. Masjid itu terlihat lebih indah di malah hari karena ada lampu-lampu yang membuatnya tampak lebih menarik.

Berlari di depan Masjid Islamic Center Mataram

Ironisnya di depan masjid yang indah saya justru sedang sangat tersiksa. Lari terpincang-pincang sedangkan jarak garis finish masih 2 kilo lagi. Jarak dekat jika membandingkan dengan 21km, tetapi jarak jauh jika kondisi berlarinya seperti anak satu tahun yang baru belajar berjalan.

“Ayo 500 meter lagi!” kata Kak Pacer yang kayanya makin  gemes sama saya yang makin kesini makin lambat sampai gak sampe-sampe garis finish. Saya pun semakin gemes sama dia sampai rasanya mau melempar botol air kemasan yang saya pegang sepanjang lari. NAMANYA JUGA SAKIT SIH KAK!

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Finish!

Finish!

And the games is over..

Urutan ke 13 kategori half marathon female. Wah, kayanya ini pertama kalinya sampai di angka ini. Terharu. Kalau race di Jakarta kayanya gak mungkin bisa segitu. Catatan waktu juga masih sama dengan race sebelumnya.

Our happy face after finish!

Tapi ada rasa bangga saat kita menyelesaikan sesuatu berdasarkan full effort. Apapaun hasilnya itulah hasil usaha maksimal yang saya mampu. Dengan kondisi kram mendadak di 4 kilometer terakhir. Terima kasih Kak Pacer dan terima kasih penduduk setempat yang udah ngasih semangat. Sampai jumpa di Lombok Marathon 2017!

Lari di Sentul Berakhir Basah di Curug Bidadari

Photo Credit: Luciane

Pukul 5.45 pagi hari saya membuka jendela mobil dan mengabadikan langit yang masih bersemu dengan kamera smartphone. Kemudian saya kembali menyesap hot coffee latte ukuran grande yang saya beli di Rest Area untuk sedikit menghangatkan tubuh. Udara dan pemandangan pagi di Sentul memang masih segar, jauh sekali dengan lingkungan rumah saya di Bekasi (Ya iyalah!). Pagi itu saya berencana berlari dengan teman-teman dari Run For Indonesia (RFI).

Lari Santai Asal Senang

Good Morning, Sentul!

Sebut saja saya pelari rekreasi. Lari untuk sehat dan bersenang-senang. Sentul merupakan tempat yang asik untuk berlari meskipun track-nya naik turun. Walaupun sampai pukul 5.45 di Gerbang Tol Sentul Selatan tapi harus muter-muter karena belum hapal venue-nya. Ternyata tempatnya yang sudah bolak-balik dilewati. Karena buta jalan jadi ya main lewat-lewat aja.

Pukul 6 pagi saya sudah sampai di Danau Sentul Nirwana yang merupakan start point-nya. Harusnya jam 6 sudah mulai tetapi karena yang sampai beda-beda waktunya jadi masih harus tunggu-tungguan sampai semua lengkap. Pesertanya dari berbagai tempat. Jakarta saja dari Barat, Utara, Selatan, dan Timur juga ada. Saya sendiri dari Bekasi. Kalau teman-teman Bogor pastinya lebih cepat sampai.

Danau Sentul yang dicari-cari.

Seperti biasa kita memulai lari dengan pemanasan. Pemanasan saat berlari sangat penting untuk menghindari cedera dan memberi kenyamanan saat berlari. Kemudian kita berlari dengan pace santai sambil ngobrol. Baru mulai saja saya sudah kewalahan karena track-nya nanjak. Padahal masih di sekitar jogging track dan di bawah pepohonan sih. Tapi kan tetap aja nanjak. Huft!

Pemanasan di tepi Danau Sentul Nirwana. (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Berlari di Sentul City ini saya rekomendasikan kalau ingin berlari dengan suasana baru. Udaranya masih segar dan belum terlalu banyak polusi. Pemandangannya juga memanjakan mata karena kita bisa melihat Gunung Salak dari jauh. Dari pukul 7.30 kami mulai berlari-lari kecil di joging track menuju ke jalan besar.  Dengan pemandangan danau dan dipayungi pepohonan yang rindang, berlari menjadi lebih menyenangkan. Apalagi kalau larinya gak sendirian. (Maaf ya, Mblo!)

Jogging track di tepi Danau Sentul.
Lari santai tapi nanjak.

Biarpun tepib danau ini teduh tapi cukup menantang karena jalannya nanjak. Namanya juga di bukit-bukit jadi memang harus beradaptasi dengan jalan yang tidak rata. Jadi kalau dianggap tidak mungkin jadi keringetan, kamu salah!

Setelah masuk ke jalan besar kami berlari di tepi jalan dengan tetap membentuk barisan. Langit sudah menunjukkan jati dirinya: terang dan menyengat. Jjadi biarpun jaraknya tidak terlalu jauh tapi bikin ngos-ngosan juga.

Tapi…

tantangan utamanya bukan jalan yang naik turun, tetapi ‘panggilan’ untuk foto-foto. Rugi banget kalau sudah ke sini tapi terlalu serius lari.  Nanti pulang malah sedih karena gak ada yang kenangan sama sekali di kamera henpon.

Lari di tepi kawasan Sentul Nirwana. Naik dan turun adalah tantangannya.

Latihan kami memang selalu ada banyak foto. Moment tidak bisa diulang tapi bisa dikenang. Untuk mengabadikan moment tentunya dengan mendokumentasikannya. Jangan lupa langsung posting di sosmed supaya gampang nyarinya. Sukur-sukur kalau dapat likes. Ya, gak?

Mandatory photo biar kaya pelari-pelari kebanyakan. Fokus pada view backgroundnya juga boleh.
You jump, i jump! (Photo credit: Willy Sanjaya)
Semua Peserta “Jemput kawan Lari ke Sentul”. (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Berkaitan dengan jalan yang naik turun jadi terkenang waktu Half Marathon di Bali Marathon 2016. Kaki sampai sengklek-sengklek karena harus menempuh medan tanjakan yang gak habis-habis. Paha belakang kram. Karena di sentul lari untuk fun jadi ya kalau cape yaudahlah jalan aja hehe..

Dari Danau ke Bukit berjarak 5 km. Lari bulak-balik total 10 km. Wah,  harusnya sudah dapat medali finisher nih!

Basah-Basahan di Curug Bidadari

Setelah keringetan kan paling seru itu basah-basahan. Langsung gak sabar ke air terjun. Biarpun jarak larinya hanya 10 km tapi lumayan bikin cape loh. Karena meskipun di sini lebih sejuk, jika sudah pukul 7 pagi ya sudah lumayan terik. Ditambah start-nya kan agak ngaret setengah jam dari rencana jadi finish-nya pun tentu lebih ngaret. Sedangkan mataharinya gak mau ikut-ikutan ngaret. Jadi lumayan lah bikin kulit semakin eksotis.

Setelah stretching untuk pendinginan kami pun istirahat sejenak dan langsung jalan lagi. Destinasi selanjutnya dalah Air Terjun Bidadari. Kalau menggunakan istilah setempat sih dinamakan Curug Bidadari. Kenapa dinamakan ini? Apakah karena yang datang banyak bidadari seperti akuhhh? (eh?)

Pernah dengar dongeng Jaka Tarub dan 7 Bidadari? Nah menurut legenda yang dipercaya masyarakat setempat ini adalah air terjun tempat 7 bidadari ini mandi. Tapi bukannya bidadari, kok saya malah ketemunya perjaka mandi!

7 (kurang 1) Bidadari? (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Kami sampai sini tidak terlalu lama dari Danau Sentul Nirwana. Jaraknya sekitar 5-7 km. Cuma 15-20 menit kok. Lari?

YA TENTU SAJA TIDAK!

Kalau kamu bukan anak trail mah ke sininya naik mobil aja. Yakin mau nanjak panjang banget? Meski jalannya gak semulus pipinya Syahrini dan tidak seluas badan saya waktu habis melahirkan, tapi ini termasuk yang gampang dijangkau meskipun mobilnya matic. Hidup itu sudah rumit masa mau jalan-jalan dibikin sulit? Marilah kita cari cara yang termudah!

Run For Indonesia has touch down at Curug Bidadari. Hello, Angel! (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Curug Bidadari ini gak terlalu besar dan tinggi. Jadi sebelum sampai tolong di-set dulu ekspetasinya ya. Tetapi untuk keperluan wisata memang sudah direnovasi jadi kita juga disuguhkan kolam buatan yang divariasikan dengan wahana ‘bebek-bebekan’ serta balon air. Tetapi air yang digunakannya tetap alami tanpa dicampur bahan kimia. Jadi kalau bermain air tidak akan tercium wangi kaporit yang biasa ada di lokasi waterpark.

Di bawah air terjun Bidadari. (Photo Credit: Willy Sanjaya)

Mungkin untuk menjaga kealamiannya, ternyata untuk bilas benar-benar outdoor. Hanya disediakan bilik untuk mengganti baju. Wow, kapan lagi mandi terbuka di tempat umum!

Bidadari mandi dulu ya!

Untuk tahun 2016, harga tiket masuk 30 ribu rupiah ini tidak terlalu mahal. Kita bisa main air di bawah air terjun dan gila-gilaan bersama teman. Saya sih memang niat untuk numpang mandi jadi sayang banget kalau gak nyemplung ke bawah air terjun. Airnya dingin tapi bagus untuk recovery setelah berlari. Apalagi sambil teriak-teriak dan tertawa, makin pol kan recovery-nya!

 

Buat kamu yang tergolong pelari rekreasi, yuk langsung masukin Sentul City ke dalam list destinasi yang wajib dikunjungi!

Sampai jumpa!

Melawan Diri Sendiri di Titan Run

Pukul 5.30, para peserta Titan Run 2016 sudah memadati garis start. Peserta 17.8K beriringan melaju melewat garis start. Tinggal lah kami yang berada di kategori 10K dan 5K. Entah mengapa saya merasa sedikit gugup. Mungkin karena sudah membuat target kepada diri sendiri untuk mencetak waktu lebih baik dari MILO Jakarta International 10K Run.  Ada juga target lebih besar: Berlari tanpa henti sepanjang race.

Setelah menunggu 15 menit, tiba giliran kami yang berada di kategori 10K. Harusnya rasa tegang sedikit berkurang karena latihan dua hari sebelumnya saya menyelesaikan 2x5K waktu latihan Kelabang di GBK. Tetapi jika mengingat latihan kemarin, saya lumayan ngos-ngosan dan takut di race ini akan seperti itu juga. Akhirnya saya membuat komitmen di race ini untuk bisa tetap stabil. Tidak perlu cepat tapi stabil.

Kenali diri sendiri dan berlari sesuai level

5..4..3..2..1..

Mulai!

Perserta 10K mulai berhamburan melewati garis start. Mereka melaju cepat dan satu persatu mulai meninggalkan saya, termasuk teman yang waktu itu bersamaan di garis start. Di sini pertarungan di mulai. Bukan pertarungan mereka, tetapi pertarungan dengan diri sendiri. Bagaimana bisa menahan diri untuk tetap stabil tanpa ikut bernapsu menjadi yang tercepat. Kembali mengingat kemampuan sendiri. Saat latihan pace santai saya di 8, terkadang di 7. Maksimal di 6. Tapi titik maksimal ini tidak mungkin saya lakukan di race 10K. Bisa-bisa 3K pertama sudah kehabisan napas.

Mulai mengingat lagi kenapa saya ada di sini? Mencari tahu kemampuan diri sendiri. Karena tahu pace maksimal dan minimal maka saya konsisten pada pace sendiri. Jika saya mengikuti pace orang lain, tamat. Kadang ego muncul untuk berlari cepat seperti yang lain, tapi buru-buru ditekan. Saya akhirnya tahu tantangan terbesar saat berlari itu memang diri sendiri. Saya kan bukan atlet yang berlari untuk mengejar podium. Saya adalah pemula yang ikut race untuk berlatih dan menambah pengalaman. Apalagi 3 minggu lagi sudah Maybank Bali Marathon (MBM) 21K. Kalau 10K saja tidak bisa mengendalikan diri sendiri, bagaimana nanti di race yang lebih panjang?

Menutup mata, mendengar tubuh

Untuk bisa fokus saya mencoba untuk bermain dengan pikiran sendiri. Biarkan orang lain melaju pada pace-nya. Jika saya ikut terbawa mereka saya tidak akan menyelesaikan target di awal, yaitu full lari 10K. Jujur saja, setiap berlari masa terberat saya justru di 2KM pertama. Ada teriakan “Gue resign!” atau “Ini terakhir!” di dalam hati. Ini tantangan terbesar. Kemudian kembali melawan tantangan ini dengan “Apapun yang mau dilakukan saya, selesaikan ini dulu!”. Hanya run..run..run..

Membuat target bisa mencapai 5K. Jika sudah berada di 5K boleh lah menginstirahatkan untuk berjalan. Saya melirik angka pada run apps dan sial sekali karena appsnya seperti error. Sudah 2K tapi masih tercatat 1K. Yasudah abaikan saja. Di akhir race juga kita bisa melihat catatan waktunya.

 

Akhirnya kaki ini mencapai di 3K. Ternyata di titik ini tubuh mulai panas dan kaki seperti bergerak otomatis. Langkah saya yang lambat mulai menyusul yang sudah mendahului di awal. Bukan karena lari saya cepat, tetapi mereka yang melambat. Tidak perlu cepat tapi stabil ternyata mulai membawa hasil.

Kemudian 5K. Target di awal saya mulai bisa melonggaran kaki di 5K tapi apa yang terjadi? Justru kaki sedang asik-asiknya. Kalau saya berhenti maka akan susah lagi untuk memulai. Saya mengingat saat tersulit itu ada di 2K pertama jadi akhirnya target 5K ini cancel..cancel..cancel..

Selesaikan apa yang sudah dimulai

Setiap mulai merasa lelah saya mendongak ke atas dan menghirup napas panjang. Ternyata ini lumayan membantu. Saat berpikir menyerah kemudian mengingat lagi: Selesaikan dulu apa yang sudah di mulai.

Di kilometer ke-8 kaki mulai terasa lebih lemah dan lari sedikit melambat (padahal larinya juga sudah lambat). Apapun yang terjadi lari. Biar lambat tapi lari. Saya kembali mengingat kata Ko Willy Sanjaya bahwa untuk tahu apakah kita masih sanggup lari yaitu dengan memperhatikan tangan. Jika tangan kita masih sanggup mengayun, tandanya kita masih sanggup berlari. Saya mencoba mengayunkan tangan dan ternyata masih dengan kuat mengayun. Beberapa kali ngomong ke kaki “Jangan manja, deh!”.

1K terakhir ternyata kaki ini masih sanggup melangkah meski makin goyah. Saat melihat garis finish saya berimajinasi ada sosok Brad Pitt dengan teriakan “Sayang, sini peluk!”. Saya pun berlari sekencang-kencangnya. Biar keren juga pas diliat yang dipinggir race. Tapi gak ada yang liat juga sih. Berani lari kencang karena di 100m terakhir, hehe..

Jujur saja saya puas. Puas banget karena berhasil berlari Full 10K. Meski catatan waktu di bawah Milo kemarin. Ini bukan soal angka tapi soal belajar mengendalikan diri sendiri. Akhirnya bisa melampaui tantangan hari itu dengan tetap berlari stabil. Tantangan berikutnya di 21K bagaimana? Saya juga belum tahu.

Kita tidak pernah tahu jika tidak memulai. Dan ketika memulai, selesaikan..

Para pelepas virgin full 10K tanpa jalan
Run For Indonesia di Titan Run

Target Finish Cepat di MILO 10K 2016 Karena Anak

FB_IMG_1469429781416-02

Sebenarnya hari ini niatnya mau nulis waktu minggu kemarin ikut workshop dan yoga festival di Bali. Tetapi gak sabar mau cerita pengalaman di dua race MILO kemarin: MILO Jakarta International 10K dan MILO Champ Squad 1,6K. Ibaratnya kue bolu yang baru keluar dari oven, mumpung masih panas-panasnya. Pagi ini akhirnya berhasil gagal mendapatkan medali. Tapi itu bukan yang utama, karena untuk pemula rasanya terlalu jauh. Catatan waktu saya belum kejar. Karena dari 15000 peserta, medali yang disediakan hanya 2000 saja. Sedangkan saya ini ya apalah. Anak baru sebulan lahir yang masih norak-noraknya bisa gerakin kaki.

Saya sendiri awalnya tidak tahu kalau di dalam satu hari ini ada dua event MILO yang berbeda. Ketika ditawari untuk ikut, saya sih sangat mau. Ternyata ajakan ini untuk MILO Champ Squad, yaitu family run. Bedanya dua jam. Kalau yang 10K itu jam 6 pagi, sementara yang kedua adalah jam 8 pagi.

Ini jadi tantangan sendiri, supaya larinya gak lambat-lambat banget biar bisa ikut di race yang kedua. Minimal saya harus di bawah 1.30 menit untuk 10K. Bisa gak ya?

Pukul 4 pagi saya langsung bangun dan segera bersiap untuk ke venue. Pas sesi bangunin Farrel adalah saat yang tersulit karena ya masih pagi banget juga. Jam 5 kami sudah sampai di pasar festival. Anaknya langsung menunjuk McD. Dipikir-pikir kayanya memang enak dia sarapan dulu. Pas pesan makan saya memutuskan untuk “drop” Farrel di sana dulu. Setidaknya ini tempat yang nyaman dan aman untuk dia menunggu lama.

DSC_0006
Mengamankan Farrel di McD biar tenang lari

Dia kan ikut larinya yang pukul 8. Anaknya pun setuju. Tentunya saya bekali dia dengan uang saku kalau dia mau pesan makan lagi, tablet untuk main game, dan smartphone supaya saya bisa menghubungi dia dan sebaliknya.

Setelah merasa anak aman, saya langsung mencari booth Sunpride karena racepack ada di sana. Kebetulan bisa ikut MILO 10K karena dibantu tim dari Sunpride (Makasih ya!). Setelah dapat BIB saya bertemu dengan teman-teman  yang biasa latihan bareng di GBK: Run For Indonesia (RFI).

IMG-20160724-WA0018
Bersama kawan lari RFI yang sudah semangat walaupun masih gelap

Kami berkumpul bersama di garis start dan menyempatkan foto-foto. Biarpun nantinya akan berpencar tetapi setidaknya bisa saling menyemangati.

Bersama ribuan kepala lainnya di garis start
Bersama ribuan kepala lainnya di garis start

Karena ini kan bukan acara latihan bareng, ada target yang mesti dicapat. Dan target saya adalah…

Jangan sampai anak nunggu lama.

Ternyata agak susah ya. Kemauan dan kemampuan berlawanan. Di kilometer pertama sih masih semangat banget. Hingga pertengahan pun kaki masih sanggup berlari. Kemudian mulai lemah di pertengahan. Setiap dalam jarak tertentu saya selalu melihat angka pada jam tangan. Saya kan harus buru-buru finish. Maunya gitu.

Awal-awal lumayan memuaskan karena pada 30 menit pertama sudah dalam pertengahan. Selanjutnya semakin lambat dan mulai banyak jalan. Tapi tiap lihat jam jadi mulai pengen lari lagi.

Di lari ini saya baru tahu kekuatan teman itu luar biasa. Ada kekuatan sendiri saat ada teman dari komunitas atau yang memakai jersey sama dari Ayo Lari. “Mbak Fitri.. ayo semangat!”. Duh itu seperti oasis dalam padang pasir. Atau teman-teman RFI yang mengenali dijalan kemudian menyapa. Tapi kembali lagi ke kemampuan. Paha semakin berat untuk diangkat. Terutama di DUA KILOMETER TERAKHIR.

Saya teringat ada jadwal brief pukul 7.30. Dan yang penting lagi…

Anak saya menunggu.

Setelah perjuangan 10K berlari akhirnya finish!

Finally!
Finally!

Langsung semangat meraih pisang dari Sunpride karena belum makan dari kemarin. Kemudian cek hape ternyata…

_20160724_094821
Pesan yang bikin sedih dan baru dibaca setelah lari

Duh, aku mulai panik dan merasa bersalah. Harusnya aku lari lebih cepat lagi apapun yang terjadi. Ya, namanya juga kemauan, tidak terbatas. Beda dengan kemampuan. Mencoba telepon tetapi susah sekali karena berebut signal dengan yang lain. Belum lagi karena jalan ditutup untuk sterilisasi area lari, dari Bakri Tower ke Pasar festival harus muter dulu melewati Gor. Jauh! 🙁

Dengan paha yang masih terasa kemeng-kemeng, akhirnya sampai McD dan bisa ketemu anak lagi. Rasanya pengen aku peluk. Ini ya rasanya jadi seorang ibu. Aku kebayang muka dia yang bosan dan mungkin bingung mau apa. Kita saja pasti gak suka menunggu, kan?

Tapi sesi romantis harus ditunda karena belum ambil racepack MILO Champ Squad yang diambil di VIP Tent. Dan peserta yang lainnya sudah bersiap untuk start. Wah, tertinggal nih!

Setelah buru-buru ganti baju dan pasang BIB, akhirnya kami pun ready untuk MILO Champ Squad. Walaupun sebenarnya ketinggalan karena yang peserta yang lain sudah mulai berlari. Farrel dengan semangat berlari dari garis start meski hanya 100m pertama. Selanjutnya mulai tergopoh-gopoh. Kemudian mengaku capek. Malahan minta saya gendong dia. Hadeuh..

Saya mendadak jadi pacer untuk anak sendiri. Biar dia lebih semangat berlari hingga garis finish. saya berlari sambil menghitung untuk memandu Farrel. Ilmu ini saya dapatkan waktu latihan berlari bersama Selabang Kelabang bersama Run For Indonesia (RFI). Lumaya berhasil sih. Setidaknya saya yang tadi merasa tidak berdaya di 10K, kini merasa gagah di 1.6K.

Run Farrel Run!
Run Farrel Run!

Dan anak ini memang juara gayanya. Saat lari menyiramkan air mineral kemasan ke kepalanya. Memang pelari gitu, ya?

Tapi lari kedua saya lebih santai karena tujuannya memang mau main bareng dengan anak. Sekaligus mau liat hasil aktivitas dan kalori yang terbatas hari ini via band MILO Champsquad. Jadi band ini bisa tracking aktivitas dan jumlah kalori yang dibakar, serta perbandingannya dengan jumlah kalori yang dimakan. Lumayan oke sih.

MILO Champsquad band and apps
MILO Champsquad band and apps

Balik lagi ke lari-larian ini. Akhirnya saya bisa menyelesaikan race kedua bersama Farrrel. Ini ya yang rasanya ikut event lari. Melihat wajah-wajah teman saya yang biasa latihan bareng memegang medali. Jadi makin semangat ikutan lagi. Tapi target saya untuk finish cepat memang bukan medali, tapi memang karena anak. Lari kedua sama Farrel pun terasa menyenangkan biarpun sangat santai. Karena sudah bersama anak.

We are finisher!
We are finisher!

Dalam tulisan ini saya juga mau mengucapkan selamat pada teman-teman yang berhasil mendapat medali MILO 10K. Kalian sumber motivasiku…

IMG-20160724-WA0006
Kawan Lari RFI ini memang selalu kompak. Yang dapat medali: Selamat ya!