Menjajal Triathlon di Belitung

Bahu sudah semakin kepayahan, namun ternyata belum sampai tepi pantai juga. Sisa tenaga untuk mengayuh sudah tidak banyak lagi. Ku coba melirik jam garmin di lengan kiri, ternyata jaraknya sudah jauh melebihi jarak yang ada pada brosur.

Belitung diambil dari nama sejenis siput laut. Dan cara berenangku di Belitung sama seperti nama tempatnya.

Karena berenang dengan gaya bebas, bahu dan lenganku terus mengayuh. Semakin lama semakin lemah. Kehabisan tenaga.

Ingatanku terlempar ke tiga minggu sebelumnya.

Pada pertengahan Juni, pertama kali menyentuh kolam renang lagi khusus persiapan untuk race triathlon di Belitung. Hanya jeda 3 minggu lagi. Tri-Factor Belitung berlangsung pada tanggal 7 Juli 2019.

Targetku bukan yang mau podium, yang selalu terdepan dari awal hingga akhir. Hanya ingin lebih menyatu dan terbiasa dengan air. Katanya kan kalau lebih terbiasa jadi lebih tenang.

Lelah juga menghadapi drama nangis dan panik menghadapi lautan. Jadi ku usahakan bertemu dengan air setiap hari. Walau kadang dua hari sekali.

Mager banget juga pernah. Apalagi mesti lari tiap hari juga (biarpun hanya easy jogs aja).

Tantangan terberat memang dari diri sendiri. Kekuatan terbesar juga dari diri sendiri. Karena kan ikut race-nya juga gak ada yang maksa. Semua kemauan sendiri.

Sadar diri.

Swim leg oh swim leg…

Biarpun pada jarak sprint distance jarak renangnya hanya 750m, namun berenang di air laut memang tidak ada jarak yang pasti. Masalahnya, jarak yang sudah ku tempuh ini mencapai 1000m, yang semestinya sudah tamat.

“Pantas saja lelah. Latihannya aja cuma sampai 1000 meter, lha ini udah segini!”

Ngomel sendiri.

Baru selesai berenang dan masih syok

Jadi kan aku latihan renang untuk race ini memang 1000m, dan dilakukan hampir setiap hari. Buat membiasakan badan.

Dan kalau sudah cape banget berarti sudah melewati limit kemampuan. Dan ternyata memang jarak yang ditempuh saat itu mencapai lebih dari 1000m.

Padahal aku geng yang start santai di belakang. Kalau bisa sih sambil ngopi-ngopi.

Tapi ya kalau cape mah, tetep aja. Latihan gak pernah bohong.

Triathlon sendiri terdiri dari tiga sesi: Swim Leg, Bike Leg, dan Run leg. Dari ketiganya itu yang paling sulit buatku adalah yang pertama. Selain memang secara teknis, renangku ini kurang.

Ditambah lagi aku penakut banget. Takut berenang di laut. Makanya foto-foto pantaiku paling di tepi pantai sambal main-main pasir. Atau sekadar duduk menikmati air kelapa muda.

Karena triathlon ini, semua kebiasaan ini berubah.

Sekarang sudah punya foto-foto bagus bermain air di dalam air laut. Ehe.

Pesona Laut Belitung

Dari beberapa race triathlon yang pernah aku ikuti, air laut di Belitung menjadi favorit. Lautnya tenang dan jernih. Di sekitar jam 8-9 pagi, airnya lebih surut. Iya, aku suka air laut yang dangkal.

Untuk aku yang penakut ini, masih bisa berenang di pantai Tanjung Tinggi bolak balik hingga 200m dari lepas pantai itu menyenangkan. Dasar laut masih terlihat. Lumayan bisa mengurangi sedikit rasa takut.

Kalau mautnya cantik begini sih gimana mau nolaknya, ya kan?

Sudah banyak hotel di sekitar lokasi pantai yang buatku cukup menyenangkan.

Untuk Trifactor Belitung, dari hotel ke venue dilalui dengan bersepeda. Karena kan memang mesti bawa sepeda juga. Jaraknya sekitar  7 kilometer, namun memang terasa lumayan jauh. Mungkin disebabkan oleh pemandangan di kanan kiri jalan yang monoton. Selain itu jalurnya pun rolling (tidak datar).

Hotel yang menyenangkan itu seperti apa, sih?

Hotel yang bagus biasanya punya kolam renang yang bagus. Jadi kalau lagi cari-cari hotel yang aku liat adalah: kondisi kamar tidur, kamar mandi, dan kolam renang.

Ya ini pendapat pribadi sih. Karena memang aku agak picky untuk urusan penginapan.

Apalagi kalau race triathlon kan harus bawa-bawa sepeda. Jadi ukuran kamar penting banget. Minimal muat untuk bongkar pasang sepeda. Peralatan yang dibawa juga lumayan banyak.

Dan di hotel yang saya tempati, sudah bisa menikmati keindahan laut Belitung hanya dari jendela kamar. Tiap kamar memiliki balkon untuk bersantai dan pemandangannya langsung ke kolam renang dan laut. Kenikmatan surgawi.

TRIATLON: BERAT TAPI NAGIH

Akhirnya saya bisa menempuh sesi Swim Leg dengan selamat. Biarpun waktunya masih di belakang.

Pas selesai berenang, saya lihat ke belakang…

Loh, kok tinggal dikit!

Padahal sudah biasa. Dari race sebelumnya, aku sering jadi nyaris yang terbelakang untuk sesi berenangnya ini.

Tapi tetep batu.

Tetep gak kapok.

Tetep daftar lagi.

Sambil mengatur napas, ku mulai lari-lari kecil dan sesekali jalan mencapai area transisi. Untuk memangkas waktu, jadi melepas swim cap dan kacamata renang pun pas lagi lari-lari kecil ini.

Jujur nih, aku udah CAPE BANGET!

Bonus jarak saat berenang bikin tenagaku terkuras.

Bahu terasa mau lepas. Napas juga sudah berantakan.

Sisa energi sepertinya tinggal 30 persen.

Akhirnya sampai juga di area transisi…

Ku raih helm, kacamata, dan bib number untuk dilekatkan ke tubuh. Kalau bib namber kan sudah terpasang di race-belt, jadi tinggal dipasang saja di pinggang.

Ketiga ini menjadi prioritas utama. Artinya yang paling penting, selain sepedanya ya.

Oiya, tak lupa ku seka-seka dulu sisa air laut dan pasir dengan handuk kecil. Walaupun dengan panasnya Belitung di pagi harti, kayanya akan kering sendiri sih.

Begini loh penampakkan area transisi. Ini waktu siap-siap sebelum ke area start.

Setelah ketiganya terpakai, lalu kupakai sepatu cleat.

Semua dilakukan secepat kilat karena waktu terus berjalan. Minum dan makan nanti saja dilakukan saat di atas sepeda.

Perjalanan berlajut…

Setelah semua sudah terpasang, ku raih sepeda dari bike rack dan berlari menuju area lepas landas sepeda (Mount/Dismount).

Setelah sepeda sudah bisa dinaiki, ku mulai  mengayuh sepeda yang balap-balapan dengan napas sendiri.

Matahari makin nyala aja, gengs!

Kayuhanku pun tak secepat seperti biasanya. Apakah tenagaku sudah sebegitu habisnya kah?

Tak lama dari lepas landas, akhirnya bertemu dengan peserta lain. Senang rasanya bertemu dengan teman sependeritaan. Apalagi kan aku selesai berenangnya bisa dibilang bontot ya.

Ku pandangi kayuhan kakinya yang tampak begitu berat, sama sepertiku. Yes, aku tak sendiri!

Ternyata medannya memang sedang menanjak halus. Rolling track.

Oke, saatnya isi bensin!

Bukan untuk sepeda, tapi buat badan. Ku raih botol air minum atau bidon yang sudah terselip di frame sepeda. Setiap tetesnya sangat berarti. Tingkatan semburan pancaran matahari sepertinya naik satu level. Dari yang panas, jadi panas banget.

Pukul 8 hingga 10 pagi, cuaca di Belitung saat itu memang sedang lucu-lucunya.

Sadar diri kalau tubuh tak akan cukup hanya diisi air, akupun meraih energi gel yang sudah kuselipkan di saku belakang trisuit dari sebelum race dimulai. Jadi, energi gel ini sudah bersamaku dari sesi berenang di laut tadi.

Saat mencoba merobek kemasannya di bagian leher, ternyata robekannya melenceng. Bungkus gel tidak mau terbuka. Akhirnya kugigit sajalah.

Ternyata isinya langsung menyembur ke area pipi dan lengan kiri. Ku coba menyekanya, namun sia-sia. Seperti lem, gel begitu pekat dan menempel pada kulit saat mengering.

Ya sudah. Ku kembali bersepeda. Yang penting bensin sudah terisi.

Lagipula muka sudah gak karuan juga. Antara keringat, napas, ultra violet, dan asa-dan-putus asa sudah melebur di wajah.

Senjataku hanya tetap tersenyum saat melintas di depan fotografer yang mejeng. Aku mesti pura-pura strong! Kesedihan biarlah kita sendiri yang tau!

Dan badai pasti berlalu, tapi bisa datang lagi!

Siksaan sepeda akhirnya berlalu. Lega rasanya sudah melewati tahap ini. Biarpun napas tampak sudah putus asa. Tapi akhirnya bisa sampai tahap run leg!

Run leg adalah sesi yang biasanya menjadi senjata pamungkasku. Dari ketiganya, sepertinya latihanku lumayan cukup untuk berlari 5K.

Biasanya kan balas dendam tuh di sini. Biarin deh bisa ketinggalan jauh di renang, tapi jangan sampai ketinggalan jauh di belakang saat lari.

Namun…

memang kita menjadi manusia tidak boleh sombong.

Saat semestinya aku bisa berfoya-foya di sesi ini, namun nyatanya semua itu tidak pernah terjadi. Aku capeeeee!

Panas terik dan kondisi jalan yang mesti menanjak beberapa kali bukan yang aku idam-idamkan!

Setelah kehabisan banyak tenaga saat berenang, ku pun mesti irit tenaga saat sesi sepeda. Medan yang naik turun, membuat pahaku bekerja ekstra. Apalagi latihanku lebih banyak di area komplek yang medannya cenderung datar.

Minimnya melatih tubuh untuk kedua sesi ini membuat tubuhku begitu kewalahan.

Kalau begini, neduhnya di mana?

Triathlon itu terdiri dari tiga olahraga dan latihannya juga mesti untuk tiga olahraga ini. Jangan mengandalkan hanya satu saja. Karena apalah gunanya kita latihan mati-matian untuk sesi run leg, kalau ternyata saat sampai di sesi ini sudah kehabisan tenaga.

Rute run leg di Trifactor Belitung juga bisa dibilang menantang. Bayangkan saja mesti panas-panasan berlati di jalur trek golf!

Gak ada pepohonan atau bangunan buat sedikit ngumpet dari sinar matahari yang menelanjangi sekujur badan. SEKUJUR BADAN SAMPAI DOSA-DOSANYA!

Jalur sempit dan kondisi rolling. Saat badan sudah letih, mesti lari menanjak bukan kondisi yang menyenangkan. Biarpun sambil membayangkan es campur, tetep gak ngaruh.

Katanya sih cuaca saat itu sekitar 35-37 derajat.

Akhirnya di sesi ini banyak kulalui dengan berjalan. Sempet papasan dengan teman-teman lain yang sudah lebih dulu start lari. Aku rapopo.

Kira-kira 500m menjelang finish, ku mau sedikit menancapkan gas. Yang semestinya sudah dilakukan dari kilometer sebelumnya namun gentar.

Akhirnya sukses selesai 5K saat di sesi ini dengan waktu 35 menit. Sepertinya menjadi waktu terburuk. Haha..

Tapi yang namanya finish itu tetap menyenangkan. Semakin berat perjalanan, semakin puas saat mencapai garis finish.

Lumayan lah bisa masuk 5 besar kategori age group (30-39). Padahal sudah ku putus ada bisa ada di peringkat itu. Sadar diri sudah ketinggalan jauh pas berenang dan pas sepeda juga sulit buat mengejar ketinggalan.

Finish cantik dengan yang ganteng. Di sebelah aku ini Nikko, Captain of Philippine Triathlon Team. Dia menjadi penamat pertama kategori Standard Distance (Olympic Distance).

Kalau ditanya “Apakah tahun depan mau ikut lagi?”, jawabnya…

Hmm..

Kayanya mau ikut lagi.

Siapapun yang menjadi penyelenggaranya nanti, semoga bisa melaksanakannya lebih baik lagi dari tahun ini. Yang kurang-kurangnya diperbaiki, dan yang sudah baik dipertahankan.

Belitung benar-benar memiliki kondisi alam yang cantik. Biarpun race kemarin ditempuh dengan lumayan berat, tapi banyak dihibur juga dengan pemandangan yang memanjakan mata.

Dua spot yang paling aku suka adalah di pantainya (tentu saja karena air lautnya yang tennag dan bersih) dan danau di tengan padang golf.

Sampai bertemu lagi, Belitung!