Menjajal Triathlon di Belitung

Bahu sudah semakin kepayahan, namun ternyata belum sampai tepi pantai juga. Sisa tenaga untuk mengayuh sudah tidak banyak lagi. Ku coba melirik jam garmin di lengan kiri, ternyata jaraknya sudah jauh melebihi jarak yang ada pada brosur.

Belitung diambil dari nama sejenis siput laut. Dan cara berenangku di Belitung sama seperti nama tempatnya.

Karena berenang dengan gaya bebas, bahu dan lenganku terus mengayuh. Semakin lama semakin lemah. Kehabisan tenaga.

Ingatanku terlempar ke tiga minggu sebelumnya.

Pada pertengahan Juni, pertama kali menyentuh kolam renang lagi khusus persiapan untuk race triathlon di Belitung. Hanya jeda 3 minggu lagi. Tri-Factor Belitung berlangsung pada tanggal 7 Juli 2019.

Targetku bukan yang mau podium, yang selalu terdepan dari awal hingga akhir. Hanya ingin lebih menyatu dan terbiasa dengan air. Katanya kan kalau lebih terbiasa jadi lebih tenang.

Lelah juga menghadapi drama nangis dan panik menghadapi lautan. Jadi ku usahakan bertemu dengan air setiap hari. Walau kadang dua hari sekali.

Mager banget juga pernah. Apalagi mesti lari tiap hari juga (biarpun hanya easy jogs aja).

Tantangan terberat memang dari diri sendiri. Kekuatan terbesar juga dari diri sendiri. Karena kan ikut race-nya juga gak ada yang maksa. Semua kemauan sendiri.

Sadar diri.

Swim leg oh swim leg…

Biarpun pada jarak sprint distance jarak renangnya hanya 750m, namun berenang di air laut memang tidak ada jarak yang pasti. Masalahnya, jarak yang sudah ku tempuh ini mencapai 1000m, yang semestinya sudah tamat.

“Pantas saja lelah. Latihannya aja cuma sampai 1000 meter, lha ini udah segini!”

Ngomel sendiri.

Baru selesai berenang dan masih syok

Jadi kan aku latihan renang untuk race ini memang 1000m, dan dilakukan hampir setiap hari. Buat membiasakan badan.

Dan kalau sudah cape banget berarti sudah melewati limit kemampuan. Dan ternyata memang jarak yang ditempuh saat itu mencapai lebih dari 1000m.

Padahal aku geng yang start santai di belakang. Kalau bisa sih sambil ngopi-ngopi.

Tapi ya kalau cape mah, tetep aja. Latihan gak pernah bohong.

Triathlon sendiri terdiri dari tiga sesi: Swim Leg, Bike Leg, dan Run leg. Dari ketiganya itu yang paling sulit buatku adalah yang pertama. Selain memang secara teknis, renangku ini kurang.

Ditambah lagi aku penakut banget. Takut berenang di laut. Makanya foto-foto pantaiku paling di tepi pantai sambal main-main pasir. Atau sekadar duduk menikmati air kelapa muda.

Karena triathlon ini, semua kebiasaan ini berubah.

Sekarang sudah punya foto-foto bagus bermain air di dalam air laut. Ehe.

Pesona Laut Belitung

Dari beberapa race triathlon yang pernah aku ikuti, air laut di Belitung menjadi favorit. Lautnya tenang dan jernih. Di sekitar jam 8-9 pagi, airnya lebih surut. Iya, aku suka air laut yang dangkal.

Untuk aku yang penakut ini, masih bisa berenang di pantai Tanjung Tinggi bolak balik hingga 200m dari lepas pantai itu menyenangkan. Dasar laut masih terlihat. Lumayan bisa mengurangi sedikit rasa takut.

Kalau mautnya cantik begini sih gimana mau nolaknya, ya kan?

Sudah banyak hotel di sekitar lokasi pantai yang buatku cukup menyenangkan.

Untuk Trifactor Belitung, dari hotel ke venue dilalui dengan bersepeda. Karena kan memang mesti bawa sepeda juga. Jaraknya sekitar  7 kilometer, namun memang terasa lumayan jauh. Mungkin disebabkan oleh pemandangan di kanan kiri jalan yang monoton. Selain itu jalurnya pun rolling (tidak datar).

Hotel yang menyenangkan itu seperti apa, sih?

Hotel yang bagus biasanya punya kolam renang yang bagus. Jadi kalau lagi cari-cari hotel yang aku liat adalah: kondisi kamar tidur, kamar mandi, dan kolam renang.

Ya ini pendapat pribadi sih. Karena memang aku agak picky untuk urusan penginapan.

Apalagi kalau race triathlon kan harus bawa-bawa sepeda. Jadi ukuran kamar penting banget. Minimal muat untuk bongkar pasang sepeda. Peralatan yang dibawa juga lumayan banyak.

Dan di hotel yang saya tempati, sudah bisa menikmati keindahan laut Belitung hanya dari jendela kamar. Tiap kamar memiliki balkon untuk bersantai dan pemandangannya langsung ke kolam renang dan laut. Kenikmatan surgawi.

TRIATLON: BERAT TAPI NAGIH

Akhirnya saya bisa menempuh sesi Swim Leg dengan selamat. Biarpun waktunya masih di belakang.

Pas selesai berenang, saya lihat ke belakang…

Loh, kok tinggal dikit!

Padahal sudah biasa. Dari race sebelumnya, aku sering jadi nyaris yang terbelakang untuk sesi berenangnya ini.

Tapi tetep batu.

Tetep gak kapok.

Tetep daftar lagi.

Sambil mengatur napas, ku mulai lari-lari kecil dan sesekali jalan mencapai area transisi. Untuk memangkas waktu, jadi melepas swim cap dan kacamata renang pun pas lagi lari-lari kecil ini.

Jujur nih, aku udah CAPE BANGET!

Bonus jarak saat berenang bikin tenagaku terkuras.

Bahu terasa mau lepas. Napas juga sudah berantakan.

Sisa energi sepertinya tinggal 30 persen.

Akhirnya sampai juga di area transisi…

Ku raih helm, kacamata, dan bib number untuk dilekatkan ke tubuh. Kalau bib namber kan sudah terpasang di race-belt, jadi tinggal dipasang saja di pinggang.

Ketiga ini menjadi prioritas utama. Artinya yang paling penting, selain sepedanya ya.

Oiya, tak lupa ku seka-seka dulu sisa air laut dan pasir dengan handuk kecil. Walaupun dengan panasnya Belitung di pagi harti, kayanya akan kering sendiri sih.

Begini loh penampakkan area transisi. Ini waktu siap-siap sebelum ke area start.

Setelah ketiganya terpakai, lalu kupakai sepatu cleat.

Semua dilakukan secepat kilat karena waktu terus berjalan. Minum dan makan nanti saja dilakukan saat di atas sepeda.

Perjalanan berlajut…

Setelah semua sudah terpasang, ku raih sepeda dari bike rack dan berlari menuju area lepas landas sepeda (Mount/Dismount).

Setelah sepeda sudah bisa dinaiki, ku mulai  mengayuh sepeda yang balap-balapan dengan napas sendiri.

Matahari makin nyala aja, gengs!

Kayuhanku pun tak secepat seperti biasanya. Apakah tenagaku sudah sebegitu habisnya kah?

Tak lama dari lepas landas, akhirnya bertemu dengan peserta lain. Senang rasanya bertemu dengan teman sependeritaan. Apalagi kan aku selesai berenangnya bisa dibilang bontot ya.

Ku pandangi kayuhan kakinya yang tampak begitu berat, sama sepertiku. Yes, aku tak sendiri!

Ternyata medannya memang sedang menanjak halus. Rolling track.

Oke, saatnya isi bensin!

Bukan untuk sepeda, tapi buat badan. Ku raih botol air minum atau bidon yang sudah terselip di frame sepeda. Setiap tetesnya sangat berarti. Tingkatan semburan pancaran matahari sepertinya naik satu level. Dari yang panas, jadi panas banget.

Pukul 8 hingga 10 pagi, cuaca di Belitung saat itu memang sedang lucu-lucunya.

Sadar diri kalau tubuh tak akan cukup hanya diisi air, akupun meraih energi gel yang sudah kuselipkan di saku belakang trisuit dari sebelum race dimulai. Jadi, energi gel ini sudah bersamaku dari sesi berenang di laut tadi.

Saat mencoba merobek kemasannya di bagian leher, ternyata robekannya melenceng. Bungkus gel tidak mau terbuka. Akhirnya kugigit sajalah.

Ternyata isinya langsung menyembur ke area pipi dan lengan kiri. Ku coba menyekanya, namun sia-sia. Seperti lem, gel begitu pekat dan menempel pada kulit saat mengering.

Ya sudah. Ku kembali bersepeda. Yang penting bensin sudah terisi.

Lagipula muka sudah gak karuan juga. Antara keringat, napas, ultra violet, dan asa-dan-putus asa sudah melebur di wajah.

Senjataku hanya tetap tersenyum saat melintas di depan fotografer yang mejeng. Aku mesti pura-pura strong! Kesedihan biarlah kita sendiri yang tau!

Dan badai pasti berlalu, tapi bisa datang lagi!

Siksaan sepeda akhirnya berlalu. Lega rasanya sudah melewati tahap ini. Biarpun napas tampak sudah putus asa. Tapi akhirnya bisa sampai tahap run leg!

Run leg adalah sesi yang biasanya menjadi senjata pamungkasku. Dari ketiganya, sepertinya latihanku lumayan cukup untuk berlari 5K.

Biasanya kan balas dendam tuh di sini. Biarin deh bisa ketinggalan jauh di renang, tapi jangan sampai ketinggalan jauh di belakang saat lari.

Namun…

memang kita menjadi manusia tidak boleh sombong.

Saat semestinya aku bisa berfoya-foya di sesi ini, namun nyatanya semua itu tidak pernah terjadi. Aku capeeeee!

Panas terik dan kondisi jalan yang mesti menanjak beberapa kali bukan yang aku idam-idamkan!

Setelah kehabisan banyak tenaga saat berenang, ku pun mesti irit tenaga saat sesi sepeda. Medan yang naik turun, membuat pahaku bekerja ekstra. Apalagi latihanku lebih banyak di area komplek yang medannya cenderung datar.

Minimnya melatih tubuh untuk kedua sesi ini membuat tubuhku begitu kewalahan.

Kalau begini, neduhnya di mana?

Triathlon itu terdiri dari tiga olahraga dan latihannya juga mesti untuk tiga olahraga ini. Jangan mengandalkan hanya satu saja. Karena apalah gunanya kita latihan mati-matian untuk sesi run leg, kalau ternyata saat sampai di sesi ini sudah kehabisan tenaga.

Rute run leg di Trifactor Belitung juga bisa dibilang menantang. Bayangkan saja mesti panas-panasan berlati di jalur trek golf!

Gak ada pepohonan atau bangunan buat sedikit ngumpet dari sinar matahari yang menelanjangi sekujur badan. SEKUJUR BADAN SAMPAI DOSA-DOSANYA!

Jalur sempit dan kondisi rolling. Saat badan sudah letih, mesti lari menanjak bukan kondisi yang menyenangkan. Biarpun sambil membayangkan es campur, tetep gak ngaruh.

Katanya sih cuaca saat itu sekitar 35-37 derajat.

Akhirnya di sesi ini banyak kulalui dengan berjalan. Sempet papasan dengan teman-teman lain yang sudah lebih dulu start lari. Aku rapopo.

Kira-kira 500m menjelang finish, ku mau sedikit menancapkan gas. Yang semestinya sudah dilakukan dari kilometer sebelumnya namun gentar.

Akhirnya sukses selesai 5K saat di sesi ini dengan waktu 35 menit. Sepertinya menjadi waktu terburuk. Haha..

Tapi yang namanya finish itu tetap menyenangkan. Semakin berat perjalanan, semakin puas saat mencapai garis finish.

Lumayan lah bisa masuk 5 besar kategori age group (30-39). Padahal sudah ku putus ada bisa ada di peringkat itu. Sadar diri sudah ketinggalan jauh pas berenang dan pas sepeda juga sulit buat mengejar ketinggalan.

Finish cantik dengan yang ganteng. Di sebelah aku ini Nikko, Captain of Philippine Triathlon Team. Dia menjadi penamat pertama kategori Standard Distance (Olympic Distance).

Kalau ditanya “Apakah tahun depan mau ikut lagi?”, jawabnya…

Hmm..

Kayanya mau ikut lagi.

Siapapun yang menjadi penyelenggaranya nanti, semoga bisa melaksanakannya lebih baik lagi dari tahun ini. Yang kurang-kurangnya diperbaiki, dan yang sudah baik dipertahankan.

Belitung benar-benar memiliki kondisi alam yang cantik. Biarpun race kemarin ditempuh dengan lumayan berat, tapi banyak dihibur juga dengan pemandangan yang memanjakan mata.

Dua spot yang paling aku suka adalah di pantainya (tentu saja karena air lautnya yang tennag dan bersih) dan danau di tengan padang golf.

Sampai bertemu lagi, Belitung!

9 Hal Tentang Tampon yang Wanita Harus Tahu

Menstruasi dan olahraga bukan pasangan yang tepat. Saya merasakan banyak kendala yang dialami ketika harus latihan atau mengikuti race saat darah mens sedang banyak-banyaknya. Selain fisik yang suka agak ngedrop, ada rasa takut kalau “nimbus” gara-gara terlalu pecicilan.

Nah, gimana kalau harus renang pas mens? Ngerinya kan makin-makin.

Ini yang saya alami ketika pertama kali mengikuti ajang Mini Triathlon tanggal 28 Januari yang lalu. Ketika itu saya harus berenang sejauh 400 m, bersepeda sejauh 22 km, dan juga berlari sejauh 5 km. Untuk event triathlon, waktu transisi juga dihitung. Jadi mana sempat harus ganti pembalut dulu, kan!

Aktivitas kaya gini gak mungkin pakai pembalut biasa , kan?

Akhirnya saya mulai mencari cara bagaimana masa menstruasi ini tidak menjadi penghambat. Mulailah mencari tahu tentang tampon. Selama ini sudah tahu tapi kayanya ngeri aja gitu pakenya. Ada alat yang masuk ke dalam lubang vagina, gimana gak ngeri?

Kemudian saya tanya ke teman-teman yang pernah memakai tampon. Rata-rata dari mereka mengatakan bawa memakai tampon itu aman dan cukup nyaman. Nah, baru deh saya beneran beli hihihi..

APA SIH TAMPON ITU?

Tampon tuh fungsinya sama seperti pembalut, yaitu menyerap darah menstruasi. Jika pembalut biasa berupa pad yang ditempel di celana dalam, tampon dimasukan ke lubang jalur menstruasi.

Tampon berbentuk silinder dan sangat mungil

Ini yang membuat tampon ini banyak digunakan oleh wanita yang aktif dan para atlet, karena bagaimana pun kamu bergerak, tidak akan luber kemana-mana. Karena kan lubangnya ditutup dan darah mens-nya diserap oleh tampon.

Tampon terbuat dari kapas lembut yang dipadatkan. Bentuknya silinder untuk memudahkan dimasukkan ke dalam jalur menstruasi. Daya serap dari tampon pun beraneka rupa, tergantung masa menstruasi yang kita alami. Pas lagi banyak-banyakannya disarankan memakai takmpon dengan daya serap yang tinggi, begitu pun sebaliknya.

APAKAH TAMPON BISA MERENGGUT KEPERAWANAN?

Pertanyaan ini sebenarnya tidak dari saya karena saya sendiri ibu dari dua orang anak. Tapi ada teman latihan saya yang takut memakai tampon karena masih perawan. Hmm..

Berita baik buat teman-teman yang masih perawan:

TAMPON TIDAK AKAN MERENGGUT KEPERAWANAN!

Karena yang bisa merenggut keperawanan adalah pasangan kita, bukan tampon.

Selaput dara adalah jaringan kulit sangat tipis yang menempel pada dinding vagina, bukan menutupi seluruh bukaan vagina. Dalam selaput dara terdapat bukaan pada baguan tengah untuk jalur darah menstruasi kelua dan sifatnya elastis. Jadi saat tampon dimasukkan, kemungkinan akan robeknya sangatlah kecil. Maka itu saya sarankan saat memasukkannya harus tenang dan rileka.

Selain itu, selaput dara juga bersifat elastis sehingga jika bisa meregang mengikuti tampon ataupun penis. Jadi sangat kecil kemungkinannya selaput dara akan sobek ketika menggunakan tampon.

Tapi tampon ini kan hanya alat berentuk silinder yang mungil yang berfungsi menyerap darah menstruasi, sedangkan status keperawanan kita ditentukan dengan adanya penetrasi di vagina. Jadi, selama tidak ada Mr.P yang masuk ke dalam vagina, status kamu masih perawan. Kalau ada yang bilang udah gak perawan gara-gara memakai tampon, sini sini bawa ke tante Fitri nanti tante tampar.

Ehe.

BAGAIMANA MENGAPLIKASIKAN TAMPON YANG BENAR?

Dalam kemasan, biasanya ada petunjuk penggunaan. Ada jenis tampin yang menyertakan aplikatir dan ada yang tidak. Kebetulan saya mendapat tampon yang tidak menyertakan aplikator. Kalau kamu ragu bisa juga buka-buka youtube.

Kalau mau tau cara saya, begini ya…

  1. Cuci tangan dengan sabun dan jangan lupa dikeringkan lagi ya!
  2. Duduk dengan nyaman di closet dan bersihkan vagina dari sisa-sisa darah dengan air.

Proses nomer satu dan dua ini buat saya wajib agar minimalisir masuknya bakteri dan kuman ke dalam lubang vagina. Organ kewanitaan mesti dijaga kan, gaes!

Bentuk tampon setelah lapisan plastiknya dibuka. Terdapat benang yang menjuntai di ekornya.

  1. Buka plastik yang membungkus bagian tampon.
  2. Tarik benang yang menjadi bagia dalam tampon karena nanti benang ini yang akan memudahkan kamu saat ingin melepaskan tampon.
  3. Buka bagian labia dengan jari jempol dan jari manis dari tangan kiri.
  4. Masukkan tampon dengan tangan kanan dan dorong dengan jari tengah hingga seluruh permukaannya masuk ke dalam.
  5. Oiya, benangnya biarkan menjuntai ke luar biar kamu tetap[ yakin tampon masih tersimpan di area yang aman hehe..
  6. Jangan lupa cuci tangan dengan sabun setelahnya!

Percayalah bahwa prosesnya gampang banget!

Cuma memang kita harus rileks supaya proses masuknya ini lancar. Kalau misalnya gagal, ganti dengan tampon baru dan ulangi lagi. Jangan disayang-sayang demi alasan menghemat, ya!

BAGAIMANA CARA MELEPASKAN?

Prosesnya hampir sama, kok.  Harus dimulai dengan mencuci tangan dengan bersih, lalu bersihkan juga vaginanya dengan air. Biar lebih nyaman dan juga higienis.

Kalau saya sih selalu memilih posisi duduk di closet untuk memasang dan melepas ta,pon dari vagina. Karena posisi ini membuat saya lebih santai dan kalau ada darah mens yang keluar gak meluber kemana-mana (ya kalau jatuh ke closet kan tinggal di flush!).

Dalam posisi duduk, tarik benang yang menjuntai hingga seluruh permukaan tamponnya keluar dengan selamat.

Setelah itu bersihkan tampon dan buang pada tempatnya. Ada beberapa orang yang langsung dibuang tanpa membersihkan dahulu. Kalau saya agak jijik membuang pembalut atau tampon yang masih berisi darah mens. Selain baunya yang mungkin akan kemana-mana, banyak bakteri yang menempel di pembalut/ta,pon bekas pakai.

Selain tampon, vagina kita juga mesti dibersihkan lagi sebelum memasang tampon atau pembalut yang baru.

Setelah itu bersihkan kembali tangan dengan sabun dan…

CLING!

APAKAH TAMPON BISA HILANG DI DALAM?

Agak konyol sih, tapi sejujurnya saya juga sempet kepikiran gini juga. Gimana ya kalau dia nyasar ke dalem?

Ternyata kemungkinan ini sangat kecil dan sangat tidak mungkin. Jadi tampon itu akan tetap pada tempatnya karena himpitan otot vagina kita. Kalau pun nyasar ke dalem ya tinggal masukkan jari kita ke dalam dan tarik ke luar.

BERAPA LAMA TAMPON HARUS DIGANTI?

Saya tahu dan merasakan sekali malasnya saat menstruasi itu mesti ganti-ganti pembalut. Nah, saat memakai tampon pun sama dan justru harus lebih rajin lagi.

Biarpun malas, tapi harus mau maksain badan mengganti tampon dengan disiplin. Sebaiknya setiap 3-5 jam diganti, terutama saat sedang banyak-banyaknya. Saat race minitri kemarin sih saya bisa bertahan memakai tampon selama 7 jam. Itu digunakan untuk berenang, bersepeda, berlari, dan menyetir pulang ke rumah (Alam Sutera – Bekasi).

Tapi saat mengikuti ajang Mini Triathlon kemarin, masa menstruasi saya berada dalam hari ketiga, sedangkan masa deras-derasnya itu di hari pertama dan kedua. Walaupun begitu cara saya ini tetap salah sih. Memakai tampon yang sama sampai 7 jam itu sepertinya hanya sekali dalam seumur hidup. Saya tidak akan membiarkan memakai tampon yang sama lebih darii 6 jam.

Biasanya kalau sudah kena basah langsung saya ganti karena daya serapnya akan berkurang jika sudah terkena air. Dan jadi gak nyaman juga.

Saya menggunakan tampon hanya di siang hari, karena alasan aktivitas. Terutama saat olahraga. Jika aktivitas cenderung sedikit saya memilih menggunakan pembalut. Jadi, kalau tidur sih sebaiknya menggunakan pembalut saja.

Perlu diingat, tidak disarankan memakai tampon yang sama lebih dari 6 jam! Jadi kamu boleh tidur menggunakan tampon apabila rela bangun tengah malah untuk menggantinya.

APA RESIKO JIKA TIDAK DISIPLIN DALAM ATURAN PENGGUNAAN TAMPON?

Dari penjelasan di atas saya selalu menuliskan wajib mencuci tangan terlebih dahulu agar tangan kita saat memakai tampon tetap higienis. Selain itu juga saya menulis untuk disiplin dalam mengganti tampon.

Semua ini ya tentu saja untuk mengurangi resiko terkena penyakit yang aneh-aneh. Apalagi saat saya mencari tahu tentang tampon tertulis juga soal Toxic Shock Syndrome (TSS).

Apa sih TSS?

Menurut artikel yang saya baca di situs Hello Sehat, TSS ini semacam penyakit langka yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Umumnya sindrom ini disebabkan oleh racun yang diproduksi oleh bakteri Staphylococcus aureus (staph), tapi pada beberapa kasus penyebabnya adalah racun dari bakteri streptococcus (strep) grup A.

Walaupun penyebabnya bukan karena tampon, tapi TSS bisa terjadi pada wanita yang menggunakan tampon. Kok bisa?

Jadi..tampon tidak hanya menyerap darah menstruas, tapi juga berbagai cairan alami yang dibutuhkan oleh vagina. Apalagi kalau memakai tampon dengan daya serap tinggi padahal darah mens kita sudah tidak dalam keadaan deras, nah kemungkinan cairan lain di dalam vagina kan terserap juga.

Tampon kan bisa dikatakan sebagai alat serap, jadi dia gak milih-milih yang diserap darah mens atau cairan lainnya. Dalam kondisi basah bakteri kan mudah banget tumbuh dan berkembang, salah satu kemungkinannya ya TSS ini.

Tidak perlu jadi takut menggunakan tampon, karena sebenarnya kasus ini sangat jarang. Hanya 17 dari 100.000 wanita yang memiliki risiko terserang TSS setiap tahunnya.

Tapi mencegang lebih baik daripada mengobati. Jadi, disiplin itu memang sangat perlu buat menghindari terkena penyakit yang tidak diinginkan.

Sebaiknya mengenali tanda-tanda terkena TSS ini. Biasanya TSS ditandai dengan munculnyaa ruam pada kulit, demam tinggi, mual atau muntah-muntah, diare, kulit pucat, dan nyeri otot atau kepala.

DI MANA BISA MENDAPATKAN TAMPON?

Tampon ini memang sangat jarang ya beredar di pasaran. Saya diberitahu teman kalau tampon bisa dibeli di drug store, seperti Watson, Guardian, Century, dll. Tapi ternyata tidak ada di setiap store-nya mereka. Saya cari di toko-toko obat di FX ya gak dapet. Untungnya saya dapat juga di Watson yang berada di Sumarecon Mall Bekasi.

Kebetulan hanya ada 1 merek di sana, yaitu Natracare. Ada pilihan yang daya serap regular atau super. Karena saya memakai di saat deras, jadi saya pilih yang super. Kira-kira bentuknya seperti ini…

Untuk pasar online, ada dua merek yang beredar di pasaran:Natracare dan Tampax. Coba cek di Tokopedia, Lazada, dan Shopee. Hati-hati barang palsu ya. Kalau harga yang terlalu murah sebaiknya dihindari. Ya jaga-jaga aja kan..